Games Online

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 27 March 2019

Pagi Hari telah tiba, aku mulai bersiap untuk pergi ke sekolah seperti biasa. Ayahku telah menungguku di depan rumah untuk mengantarku dengan sepeda motornya.

“Makan nak..!” ibuku memanggil pertanda bahwa sarapan sudah siap, aku langsung menuju ke meja makan dan mengisi perutku yang kosong.
“Masakan ibu memang yang terbaik” gumamku,
“Cepat nak! Sebentar lagi telat!” kata ayahku dari luar,
“Iya Pakk, sebentar lagi” balasku, dengan terburu-buru aku langsung menghabiskan makanan dan memasang sepatu
“Bu, saya pamit ya,” kataku sambil mencium tangan ibu
“Iya, belajar yang rajin ya nak.. buat orangtuamu bangga” kata ibuku sambil memberiku uang jajan
“Iya bu, doakan saya agar bisa menjadi orang yang sukses” balasku,
Aku mengingat kata-kata ibuku dan menjadikan bekalku untuk di sekolah.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, aku turun dari motor dan berpamitan dengan ayahku untuk belajar, setelah itu aku mulai melangkahkan kakiku melewati gerbang sekolah pertanda bahwa aku sudah siap untuk belajar. Aku memasuki ruangan kelas dan menaruh tasku, aku berbincang terlebih dahulu dengan teman-teman sebelum jam pelajaran dimulai.

Guru mulai memasuki ruangan kelas dan para murid mulai duduk di tempatnya masing masing. Sang ketua kelas memberikan aba aba untuk berdoa bersama sebelum memulai pelajaran dan memberikan salam kepada guru. Pelajaran pun dimulai, aku dengan serius memperhatikan penjelasan guru, kebetulan hari ini adalah pelajaran yang sangat kusukai yaitu bahasa inggris. “Apakah ada yang bisa menjawab soal yang ada di papan tulis?” tanya sang guru, “Aku..!” seruku dengan penuh semangat sambil mengacungkan tangan, tidak peduli jika aku mengajukan diri atau tidak, pasti ujung-ujungnya aku yang akan mengerjakannya.
Di sekolah aku selalu mendapatakan ranking 5 besar, dan ibuku memberiku hadiah setiap aku mendapatkan ranking walaupun hanya sebuah beng-beng.

Hari demi hari kulewati, tiba dimana aku sangat terobsesi dengan yang namanya games online, hal ini aku pelajari dari temanku, dia sangat hobi bermain game apalagi bersama teman-temannya, berawal hanya melihatnya bermain games, aku mulai ketagihan dengan yang namanya games. Siang dan malam aku selalu bermain games bahkan sampai lupa makan dan juga beribadah. Ketika bermain game aku sangat lupa akan waktu yang telah kuhabiskan dengan sia sia, tetapi aku tidak menghiraukannya dan terus bermain game, saat itu di pikiranku hanyalah game dan game. Prestasiku pun menurun, dari 5 besar menjadi 20 besar, tetapi parahnya aku tidak peduli akan hal itu. Orangtuaku sudah memperingatkanku berkali kali supaya jangan terlalu sering bermain games, tetapi semua itu percuma, games sudah meracuni otak dan juga akal sehatku.

Tidak puas akan waktu yang terbatas, aku pun rela begadang demi bermain game padahal umurku baru 11 tahun tetapi semua itu kuhantam dengan obsesi burukku untuk bermain game. Aku rela bolos sekolah hanya untuk bermain game.

Sampai tiba waktunya, dimana aku bangun dari tidurku dan hanya melihat suasana yang gelap, aku berkali kali mengkedipkan mataku tetapi hanya warna hitam yang kulihat, jantungku berdebar memikirkan apa yang sedang terjadi, pikiranku kacau, mulutku bergetar, semuanya menjadi kacau, aku panik, “IBUUU… IBUUUU!” aku memangil ibuku sekeras-kerasnya, ibuku sontak langsung menghampiriku
“Apa yang terjadi nak..?” tanya ibuku dengan penuh khawatir,
“Aku tidak bisa melihat buu..!!” teriakku dengan sedikit isak tangis,
“Pak! tolong pak!” kata ibuku untuk meminta bantuan ayahku,
“Ada apa bu..?” tanya ayahku dengan suara yang penuh kebingungan,
“Anak kita pak.. anak kita.. tidak bisa melihat!” ibuku berkata dengan bercucuran air mata,
“Cepat kita bawa ke rumah sakit!” ujar ayahku, orangtuaku pun langsung membawaku ke rumah sakit untuk memeriksa mataku.

Dokter pun mulai memeriksa mataku, aku bisa merasakan hawa yang tegang berada di sekitarku. Setelah beberapa menit, aku mendengar pintu terbuka dan kurasa dokter keluar dari ruangan,
“Maaf pak, bu, retina anak anda dua duanya sudah tidak bisa berfungsi lagi, mungkin ini akan menyebabkan kebutaan permanen pada sang anak” Ujar sang dokter dari luar, aku bisa mendengar percakapan mereka, aku bisa mendengar tangisan kedua orangtuaku dari luar,
“Apakah tidak ada cara untuk menyembuhkan mata anak saya dok..? Apapun itu, saya sanggup membayarnya berapapun itu, Tolong dok..” kata ibuku sambil memohon kepada sang dokter.
“Maaf bu, mungkin hal seperti itu tidak bisa dilakukan, karena sampai sekarang belum ada cara untuk menyembuhkan retina yang sudah benar benar rusak, donor mata pun sepertinya mustahil dilakukan karena anak ibu baru berumur 12 tahun, masih sangat muda untuk melakukan operasi, takutnya kegagalan selama proses akan membuat keadaan bertambah parah” Ujar sang dokter.

Aku pun di dalam ruangan kosong itu berpikir, apa yang telah kulakukan selama ini, aku hanya bisa merepotkan kedua orangtuaku, aku mengorbankan segalanya yang penting hanya untuk bermain game, aku sadar akan apa yang telah aku lakukan selama ini, melakukan hal hal yang tidak ada manfaatnya bagiku, bahkan merugikanku. Badanku menjadi kurus karena makan yang tidak teratur dan pikiranku dipenuhi dengan hal hal yang tidak bermanfaat dan menjadikanku orang yang malas.

Aku sampai sekarang hanya bisa terbaring, menulis cerita ini, cerita yang kutinggalkan sebelum aku memutuskan untuk meninggalkan dunia yang sangat berarti bagiku.

Cerpen Karangan: Khrisna Daniswara
Facebook: facebook.com/krisna.d.wara

Cerpen Games Online merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selalu di Hati

Oleh:
Siang itu di sekolah aku dan teman–temanku sedang asyik duduk di tangga sekolah. Teman–temanku asyik ngobrol dengan sendirinya, namun aku malah bermain game di laptop dan sesekali melihat pemberitahuan

Kemunafikan Hati

Oleh:
Aku mencoba untuk tidak mengenal cinta kembali, rasa perih yang masih tertinggal membuat aku merasa malas jika harus membahas tentang cinta. Namaku Ina, kisah ini berawal ketika aku masih

Sebuah Penyesalan

Oleh:
Bogor, Rumah Sakit PMI, Selasa 18 September 2012, 03.25 WIB “Mah, bangun Mah…! Jangan tinggalkan Angga sendiri! Angga belum siap ditinggal Mamah! Angga janji kalau Mamah bangun, Angga akan

Yang Terlupakan

Oleh:
Tak ada yang abadi di dunia ini. Seoring berjalannya waktu semua pasti akan berubah. Karena harapan tidak akan selalu sesuai dengan kenyataan. Itulah yang terjadi pada diriku, selalu ada

Martini

Oleh:
Ada seorang wanita tua dan miskin terbaring lemah di rumahnya yang jelek. Tatapan matanya kosong hanya ada bulir-bulir air mata penyesalan yang jatuh dari kedua matanya. Wanita ini hidup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *