Growing Pains

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Korea, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 November 2017

Cinta tak pernah mengenal kata lelah, tak pernah ada keingin untuk mendapatkan imbalan karena cinta tak pernah mengenal kata pamrih. Cinta sangat hangat saat kita mampu meresakan betapa lembut setiap detik dari sentuhan cinta. Cinta walaupun terkadang membuat kita menangis dan merasakan luka yang begitu perih, dibalik kerasnya cinta di situlah kita akan menemui kekuatan cinta yang akan membuat hati kita menjadi lebih tegar dalam menghadapinya.

Hyorin masih sibuk dengan notebook di tanganya. Jemari-jemari cantiknya itu tengah asyik mengotak atik dunia maya, menyusuri setiap kata yang terdapat di dalamnya. Entah berapa lama ia tengah duduk di bangku semen itu. Bahkan saat ini suasana di taman itu mulai sepi. Hanya beberapa orang yang masih duduk santai bersama kekasihnya.
Bagaimana dengan Hyorin? Apakah ia tidak bersama kekasihnya?. Inilah Garden of Love penuh dengan cinta dan kasih sayang. Tentu saja mereka yang datang ke sini tidak sendiri seperti Hyorin.

“Hyorin… mau sampai kapan kamu di sini?” Tanya seseorang yang sudah berdiri di hadapannya. Hyorin mengangkat pandangannya, dilihatnya seorang cowok yang tak lain adalah sahabat dekat dari kecil. Hyorin meletakkan notebooknya di atas bangku, lalu dilirik jam tangan pink yang tengah menunjukkan pukul 16.30, ia membuka tas jinjingnya dan mengambil ponsel putih itu. Berharap ada pesan masuk di sana. Dengan penuh harap ia membuka ponsel, tetapi sayang tak ada satupun pesan dari kekasihnya.
“Dia tidak akan datang kemari, pulanglah.” Perintah Jae Hyun. Hyorin tetap bersikukuh akan menunggu kekasihnya sampai ia datang. Bukan Hyorin namanya, kalau ia menyerah begitu saja. “Aku yakin dia akan datang… kamu saja yang pulang.” Ucap Hyorin sembari menundukkan kepalanya. Wajah Hyorin terasa panas. air matanya terasa sudah penuh dan tak mampu untuk dibendung lagi. Hyorin tak ingin kalau Jae Hyun melihatnya menangis untuk kesekian kalinya. Hanya untuk menangisi seorang cowok dingin, yang entah sampai kapan ia akan bertahan untuk mencairkan gunung es di hati cowok itu.

“Kenapa kamu sangat mencintai Hyun Seung? Padahal belum tentu dia akan membalas cintamu dengan hangat.” Ucap Jae Hyun dalam hati. Hati Jae Hyun terasa perih saat ia lihat perlahan air mata Hyorin mulai turun membasahi wajahnya. Dengan cepat Hyorin menghapus air mata itu. Dan Jae Hyun pura-pura tidak meliatnya agar Hyorin tidak bertambah sedih.

Jae Hyun sangat mencintai gadis di depanya itu namun? Cinta Hyorin hanya untuk Hyun Seung seorang. Walaupun Hyun Seung selalu bersikap dingin terhadapnya. Tak membuat cinta Hyorin luntur sedikitpun. Hyorin selalu teringat saat pertama kali mereka bertemu hingga akhirnya Hyun Seung menyatakan cinta di taman ini. Walaupun Hyorin menolak cinta Jae Hyun bukan berarti semua akan berakhir. Justru mereka menjadi semakin dekat dan menjadi sepasang sahabat. Persaan cinta di hati Jae Hyun tentu saja tak mudah untuk dihapus begitu saja. Namun Jae Hyun berusaha keras akan merubah perasaan cinta itu menjadi perasaan sayang pada seorang sahabat.

“Hyorin… kamu baik-baik saja?” Jae Hyun mendekati Hyorin. Kini isak tangis Hyorin pecah dan membuka lembaran pahit yang baru dalam hati Hyorin maupun Jae Hyun. Jae Hyun duduk di sebelah Hyorin yang tengah menunduk menyembunyikan wajahnya. Jae Hyun ingin sekali memeluk Hyorin. Namun ia takut jika persaan cinta di hatinya akan bertambah besar. Ia mengangkat tangan kanannya, bermaksud akan menusap lembut kepala Hyorin.tapi lagi-lagi rasa takut itu datang. Ia menarik tangannya kembali. Ia hanya bisa memadangi Hyorin yang masih terus menangis.

Hati Hyorin terasa sangat sesak, terasa ratusan batu menghimpit hatinya. Tubuhnya terasa mulai melemah. Pandangannya mulai kabur ia menoleh ke samping dan tak dilihatnya apapun yang ada hanya buram. “Hyorin… kau baik-baik saja?” Tanya Jae Hyun mulai khawatir melihat wajah Hyorin yang tiba-tiba pucat. Ia segera memapah Hyorin dan membawanya ke rumah sakit. Namum Hyorin menolaknya. Hyorin ingin langsung istirahat di rumah saja.

Dalam perjalanan pulang Hyorin sudah tertidur dalam taksi. Jae Hyun membuka ponsel Hyorin, ia ingin tahu apakah Hyun Seung mengirim pesan di sana.
Ternyata tak ada satupun pesan masuk dari Hyun Seung. Jae Hyun menggeser pesan masuk dan membacanya satu persatu. Jae Hyun tersentak saat membaca pesan dari dokter Park Ji Sang. Yang menyuruh Hyorin untuk memberitahu keluarganya tentang kanker yang ia derita. Dan lebih mengejutkan lagi dokter Ji Sang mendianogsa Hyorin akan bertahan selama seminggu saja. Dilihatnya tanggal penerimaan pesan tersebut dan ternyata pesan itu dikirim enam hari yang lalu berarti hari ini adalah…

Hyorin sadar dari tidurnya. Dan ternyata taksi sudah berhenti lama di depan rumahnya. Ia bingung kenapa Jae Hyun tidak membangungkan atau menggendongnya ke dalam. Jae Hyun bilang kalau ia tidak mau membangunkan Hyorin, karena Hyorin terlihat sangat lelah.

Hyorin mengajak Jae Hyun masuk, namu Jae Hyun menolaknya. Ia mengembalikan ponsel Hyorin dan mengatakan kalau ia meminjanya untuk menelpon Yoona adik Jae Hyun, memberitahu jika Jae Hyun akan pulang sedikit terlambat. ”Oh.. maaf ya gara-gara aku kamu… jadi pulang terlambat.” Ucap Hyorin sembari memeriksa apakah benar Jae Hyun menelepon Yoona. Ternyata nama Yoona tidak ada dalam daftar panggilan keluar. Hyorin mulai curiga.

“Hyorin… ” Tanya Jae Hyun, kemudian Hyorin menatapnya dalam. “Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?” Tanya Jae Hyun pada sahabatnya. “Oh.. tidak ada.” Ucap Hyorin singakat, namun ia tidak menatap Jae Hyun saat menjawabnya. Kecurigaan Hyorin memuncak. Dan Jae Hyun menemukan jawabannya jika memang Hyorin menyembunyikan sesuatu. “Apa benar tadi kamu menelepon adikmu?” Tanya balik Hyorin. Jae Hyun tidak menjawabnya. Dan ia langsung berpamitan pulang. “Apa mungkin… Jae Hyun membaca pesan masuk di ponselku?” Tanya Hyorin sambil menatap punggung Jae Hyun yang mulai menjauh.

Dalam perjalanan pulang Jae Hyun mengirim pesan pada Hyun Seung. Dan memberitahunya jika Hyorin sedang sakit. Hyun Seung tidak membalas pesan dari Jae Hyun. Berulang kali ia menelepon Hyun Seung, tetap saja ada jawaban dari sana.

Sesampainya di depan rumah ia kaget mendengar Yoona yang sedang menangis. Jae Hyun berlari menuju kamar Yoona. Dan bertanya apa yang sedang terjadi. “Tadi orangtua kak Hyorin menelepon dan memberitahu kalau kak Hyorin meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.”
Kemudian Jae Hyun menelepon Hyun Seung dan akan memberi tahu kalau Hyorin meninggal. Tetapi seperti sore tadi. Tak ada jawaban dari Hyun Seung.
Berulang kali Hyun Seung ditelepon, karena merasa terganggu akhirnya ia mencopot baterai dari ponselnya. Kemudian Hyun Seung, pergi ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.

Saat ia memejamkan matanya tiba-tiba ia mendengar suara Hyorin menangis. Hyun Seung duduk lalu menatap ke arah sumber suara. Suara itu berasal dari depan pintu kamar Hyun Seung. Ia berjalan menuju pintu saat ia berhasil memegang gagang pintu. Suara itu berpindah dari luar jendela. Dibukanya tirai jendela itu, namun Hyun Seung tak mendapati siapa pun di luar sana.
Hyun Seung berpikir saat ini mungkin pikirannya kacau gara-gara Jae Hyun yang terus menelponya dari tadi sore. Akhirnya Hyun Seung memutuskan untuk menhubungi Hyorin lewat video call, agar ia bisa memastikan keadaan Hyorin saat ini baik-baik saja.

Setelah beberapa detik menunggu akhirnya Hyun Seung tersambung dengan Hyorin. “Oppa..” Sapa Hyorin sembari melambaikan tangan kanannya. Hyun Seung tampak ragu dengan yang ia lihat saat ini. Bagaimana tidak dalam video call tersebut Hyorin berada di Garden of Love pada siang hari, padahal ini sudah malam. Hyun Seung juga melihat bungan di belakang Hyorin tampak berwarna putih semua. Berbeda dengan bunga yang ada di Garden of Love, penuh dengan warna. “Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Hyun Seung gugup. Hyorin mengerucutkan mulutnya dan menganggukan kepala. “Apa kau juga baik-baik saja Hyun Seung? kamu tampak lelah, kamu pasti banyak melakukan kegiatan hingga terlihat pucat seperti itu… kamu harus jaga kesehatan oppa… kamu tidak boleh sakit seorang aktor tampan sepertimu harus selalu sehat agar dapat menghibur fansmu…” Hyung Seung mulai bosan mendengarkan kata-kata Hyorin. Kemudian ia menutup sambunganya. Hyun Seung membuang ponselnya. “Arggg.. ini semua gara-gara Jae Hyun aku jadi setres awas kamu Jae Hyun.”

Keesokan harinya ia membaca majalah yang ada di ruang tengah, sambil meminum segelas susu. Hyun Seung kaget dan tersedak saat membaca halaman pertama dari majalah tersebut. “Majalah busuk.. siapa yang berani membuat artikel semacam ini!!!”. Hyun Seung naik darah saat ia membaca isi dari halam pertama tersebut. “Ada apa ini?” Tanya menejer Yunho. “Lihat ini, berani sekali majalah ini nyumpahin pacarku mati!”. “Apa maksud mu? Siapa yang menyumpahin Hyorin mati, Hyorin memang meninggal tadi malam… aku pikir kamu tadi malam menginap di rumah Hyorin… lalu tadi malam kamu ke mana?”

Hyun Seung segera ganti pakaian lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikiran Hyun Seung tidak fokus pada jalanan ia masih memikirkan Hyorin yang ia telepon tadi malam. Bagaimana mungkin saat ini ia sudah dikuburkan. Cittt Brakkk!!! Mobil Hyun Seung menabrak pohon di tepi jalan.

Orang-orang yang melihat kejadian tersebut segera menghentikan mobilnya dan berlari untuk menolong Hyung Seung. Kepala Hyun Seung berlumuran darah. Tetapi ia tidak mau dibawa ke rumah sakit, ia minta diantar ke rumah Hyorin terlebih dahulu. Ia ingin memastikan jika Hyorin baik-baik saja. Atau jika benar Hyorin meninggal ia ingin melihat Hyorin untuk yang terakhir kalinya.

Sesampainya di rumah Hyorin, ternyata sudah sepi karena Hyorin baru saja selesai dimakamkan. Tubuh Hyung Seung terkulai lemas saat mendapati kenyataan bahwa pacarnya benar-benar meninggal.

Karena tak segera dibawa ke rumah sakit keadaan Hyun Seung menjadi kritis. Di bawah alam sadarnya ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang tengah duduk di bangku semen sembari memegang bingkai foto. Hyun Seung mendekati gadis tersebut. Dan ia melihat dalam bingkai itu terdapat fotonya yang tengah tersenyum sembari merangkul seorang gadis yang kini duduk di depannya. “Hai Hyun Seung… aku Hyorin penggemar beratmu, apa kamu ingat aku?” Hyorin berdiri mendekati Hyun Seung. Rupa nya Hyung Seung tidak ingat pada Hyorin. Kemudian Hyorin tersenyum manis pada Hyun Seung. Diangkatnya tangan Hyun Seung lalu ia menggerakan tangan Hyung Seung membentuk tulisan Hyorin Love Hyun Seung dia udara seketika itu Hyun Seung pun ingatan Hyun Seung kembali.

Hyun Seung memeluk Hyorin erat dan membisikan ke Hyorin “Hyorin I Love You Forever…” Hyorin melepas pelukan Hyun Seung dan menghapus air mata Hyun Seung. “Saat kamu mulai lelah mencintai seseorang, mulailah mencitainya dari awal, karena saat pertama kamu mencintainya kamu tidak akan mengenal kata lelah…” Kemudian Hyorin mengusap lembut kepala Hyung Seung. Secara perlahan ingat Hyung Seung hilang kembali.

Dan semenjak saat itu dokter memvonis Hyung Seung hilang ingatan permanen. Ia kehilangan semua kenangan indah dan pahit yang telah ia ukir selama ini. Setiap ia mendengar kata Hyorin atau saat ia melihat apapun yang berhubungan dengan Hyorin ia tidak akan ingat sesuatu. Ia hanya merasakan sakit hati yang mendalam.

“Jangan pernah meninggalkan cinta sejati yang selama ini menemani hidupmu karena, sekali kau membuatnya pergi cinta itu tak akan pernah kembali lagi untukmu”

Cerpen Karangan: Irene Puspita

Cerpen Growing Pains merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Terakhirku

Oleh:
Diagnosa dokter membuat Silvi menjadi bersedih dan takut akan kematian sebab ia didiagnosa menderita sakit kanker otak stadium akhir dan umurnya tak akan lama lagi. Silvi menerima cobaan dan

Dalam Bus Malam

Oleh:
Kuangkat tas ranselku yang hanya berisi beberapa helai pakaian. Kunaiki bus malam yang akan membawaku ke kampung tempat dimana aku dilahirkan. Ya, kampung halamanku. Aku ingin pulang sejenak, melarikan

Sebelum Cahaya Temaram

Oleh:
Cahaya, sebuah sinar terang yang selalu ada di sekitar kita. Entah itu cahaya matahari, cahaya bulan, maupun cahaya lampu pijar. Cahaya begitu penting bagi semua orang. Karena tanpa cahaya,

Cinta dan Akustik

Oleh:
Di Vanya’s Cafe “jreeeng”. Dawai sang akustik mendengung merdu. Itu adalah petikan terakhir dari gitar akustik yang kumainkan pada parade musik solo malam di Vanya’s Cafe. Akhir dari lagu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *