Hello, Goodbye (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 July 2014

“APA kamu mau jadi pacar aku?” tanya Kevin, dengan mimik gugup. Tiba-tiba, secuil keraguan tersirat dari ekspresi wajah Zenna.

“Jadi, apa jawabanmu atas pertanyaanku tadi, Zen?” kembali tanya Kevin, pada Zenna.

“Apa kamu akan menerimanya? Atau, malah menolaknya?” lagi-lagi Kevin mengajukan pertanyaan, setelah dua pertanyaan sebelumnya hanya terjawab dengan diam.

“Aku butuh waktu untuk menjawabnya,” akhirnya, Zenna berbicara juga.

“Mengapa demikian? Apa tak bisa langsung saja kamu jawab?”

“Aku sudah menjawab. Dan jawabanku adalah; aku butuh waktu.”

Tiba-tiba, Kevin melepepaskan sendok dan garpu dari kedua tangannya, menyedot minumannya dengan cepat, mengelap bibirnya dengan secarik tisu, menaruh selembar uang kertas berwarna merah di atas meja, lalu berdiri, dan meraih tangan Zenna, menariknya masuk ke dalam mobil.

“Kita mau ke mana?” tanya Zenna, dengan raut wajah yang diselimuti bingung. Kevin hanya diam, dan memacu mobilnya dengan cepat.

SETIBANYA di sebuah tempat, Kevin keluar dari mobil lebih dulu, dan berjalan beberapa langkah menjauh dari mobilnya. Zenna pun menyusul tak berapa lama kemudian.

“Ada maksud apa kamu membawaku ke sini?” tanya Zenna, sembari berjalan perlahan mendekati Kevin.

“Aku tahu..,” balas Kevin.

“Maksudmu?”

“Kamu hanya butuh diyakinkan, kan?” ucap Kevin, lantas menatap mata Zenna. Namun Zenna membalasnya hanya dengan membuang pandangan ke arah berlawanan. Di dalam hati, Zenna mengiyakan perkataan Kevin barusan. Respon Zenna membuat Kevin menghela nafas panjang, lalu melanjutkan kembali perbincangan.

“Baiklah kalau begitu. Besok, jam delapan pagi, temui aku di tempat kita berdiri sekarang ini. Dan, tolong.. tolong jangan terlambat,” tambah Kevin.

“Maksud kamu apa, sih?” ketus Zenna, mewakili ribuan tanda tanya yang berserakan di dalam kepalanya.

“Sudah malam, mari kuantar kamu pulang,” tutup Kevin, tanpa menghiraukan pertanyaan Zenna yang terakhir. Lantas ia masuk ke dalam mobil duluan. Zenna tak bisa berbuat banyak. Berbagai macam prasangka mengiringi langkahnya masuk ke dalam mobil, pun menemani diamnya di sepanjang perjalanan pulang.

KEESOKAN paginya, setelah Zenna tiba di tempat yang malam tadi dijanjikan oleh Kevin; nafas Zenna bertarik-ulur, beberapa butir keringat kecil terlihat menggumpal di wajahnya.

“Sial! Aku terlambat!” ketusnya dalam hati. Belum lagi nafasnya kembali stabil, lagi-lagi jantung Zenna dipaksa berdetak kencang.

Plok!

Seseorang menepuk pundak Zenna dari belakang. Zenna pun bergegas membalikkan badannya.

“Eh?! Kamu mengagetkanku saja!” ucap Zenna.

“Maaf, Mba, saya cuma mau menyerahkan titipan ini,” ucap seseorang, sembari menyodorkan sebuah kotak kepada Zenna.

“Dari siapa?” tanya Zenna, seraya meraih kotak tersebut.

“Saya juga kurang tahu, Mba. Hanya saja, pria itu berpesan, kalau ada wanita yang sebaya dengannya, yang datang ke sini dengan nafas ngos-ngosan, saya diminta untuk memberikan barang yang Mba pegang itu.”

Mendengar perkataan lawan bicaranya itu, kening Zenna mengerut, dan bergumam dalam hati;

“Sialan itu anak! Tahu saja kalau aku ini orang yang lelet!”

“Lalu, sekarang di mana pria itu?” tanya Zenna, kembali melanjutkan perbincangan.

“Sepertinya ia sudah terbang bersama pesawat yang berangkat sekitar duapuluh menit yang lalu, Mba,” ucap orang itu, yang tak lain adalah salah satu petugas bandara.

“Hah?!” Zenna kaget mendengar ucapan petugas bandara tersebut.

“…ng, baiklah kalau begitu. Terima kasih, ya, Mas,” ucap Zenna, menutup perbincangan. Setelah itu, Zenna bergegas masuk ke dalam mobilnya, dan pulang ke rumah.

“JIKA saja, malam tadi aku tidur lebih cepat, tentu pagi ini aku tidak akan terlambat,” gumam Zenna dalam hati, sembari melihat jam dinding yang kedua jarumnya menunjuk ke angka sembilan.

“…tapi, ya, mau bagaimana lagi? Tadi malam aku menjadi susah tidur karena menerka-nerka apa yang dimaksud oleh Kevin,” kembali Zenna bergumam dalam hati. Kali ini, dengan kedua tangan yang mengusap-usap sebuah kotak yang tidak begitu besar, yang terbungkus oleh kertas kado berwarna cokelat muda, dan dibalut dengan pita berwarna cokelat tua.

Tak berapa lama kemudian, Zenna membuka kotak pemberian Kevin itu. Ia temui sebuah buku diary, yang terbalut oleh pita berwarna putih. Tak hanya itu; sebuah cincin dengan ukiran nama Kevin, juga sebuah surat, turut berada di dalam kotak tersebut. Zenna membuka lipatan surat itu, dan membacanya.

Zenna Adinda Kurniasari,
Maaf telah pergi tanpa pamit terlebih dulu.
Dan, maaf atas telah membuatmu menjadi susah tidur malam tadi.

Kamu pasti bertanya-tanya, apa maksud dari semua ini..
Sederhana saja, Zen;

Kamu pun tahu, masih ada sesuatu yang masih belum kamu lunasi padaku.
Iya, sebuah jawaban yang aku tunggu-tunggu. Jawaban atas pertanyaan yang sudah lama sekali ingin aku ajukan padamu. Namun, baru kemarin malamlah kutemui waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu padamu. Sebab Ibu berpesan padaku, bahwa; waktu tak akan menunggu mereka yang menunggu.

Zen, di bawah kotak ini, tertera sebuah alamat. Itu adalah alamat keberadaanku sekarang. Jika kamu benar-benar memiliki rasa yang sama denganku, aku ingin kamu menemuiku, dengan cincin pemberianku yang melingkar di jari manis kirimu. Temui aku di hari di mana Centaur Archer bernama Thirteen lahir.

Namun, jika kamu tidak memiliki rasa yang sama denganku, kamu boleh mengabaikan surat ini, dan membuang seluruh yang telah kuberikan kepadamu.

Satu lagi!
Kamu baru boleh melepaskan pita putih yang membalut diary itu, kalau nanti kamu telah tiba di alamat yang kumaksudkan.

Tertanda,
Yang teramat sangat mencintaimu
Kevin Julisman

Jambi,
30 November

TIGA hari setelah membaca surat itu, Zenna pun memutuskan untuk mengiyakan permintaan Kevin. Ia tak ingin berlama-lama menerka-nerka apa yang ada di dalam kepalanya.

Seluruh barang telah rapi dikemas, pesawat pun sudah siap lepas landas. Dengan keyakinan yang telah sepenuhnya bulat, mengantarkan kepergian Zenna menyusul Kevin.

Keputusan Zenna itu bukan untuk sekadar mencari tahu apa yang selama ini menjadi tanda tanya besar baginya, melainkan; ia juga memiliki rasa yang sama dengan Kevin.

DUA hari lamanya Zenna telah berada di kota yang sama dengan Kevin. Dan kini, penampilan Zenna terlihat sangat rapi. Berdiri di depan hotel, seraya menunggu kedatangan taksi. Tak lama Zenna menunggu, taksi pun tiba.

Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dimaksudkan Kevin, Zenna hanya berdiam diri. Melamun menatap ke luar jendela. Sesekali ia tatap kotak pemberian Kevin itu, sembari membolak-balikannya.

Setibanya Zenna di tempat yang dimaksudkan, spontan, pikirannya menjadi kacau, dadanya terasa menyusut, jantungnya berdetak cepat sekali. Butir keringat kecil satu per satu lahir dari wajah cantiknya. Langkah kakinya terasa amat berat ketika telah melewati gerbang masuk. Semakin Zenna menjauh dari gerbang masuk, apa yang ia rasakan semakin jadi.

Hingga sampailah ia di sebuah tempat; di mana apa yang ada di hadapannya, membuat kedua kakinya tak kuasa menopang tegaknya. Detak jantung seolah dipaksa berdegub lebih cepat dari sebelumnya. Nafas berduyun-duyun keluar masuk. Mata yang tadinya hanya berkaca-kaca, kini menuai air mata.

“Aku masih belum mengerti apa maksud dari semua ini, Vin,” ucap Zenna, dengan nada bergetar.

“APA MAKSUD DARI SEMUA INI, VIN?! APAAA?!” ketus Zenna. Emosi dalam diri Zenna hilang kendali. Air mata jatuh lebih banyak lagi.

“Vin, jawab, Vin.. jawab..,” ucap Zenna, dengan suara pelan dan nada bergetar, sembari mengusap sebuah batu nisan di hadapannya, menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya, mengurai tumpukan rupa-rupa kembang yang masih segar, yang tertumpuk tumpang tindih di atas tanah menggunung berwarna cokelat yang sedikit lebih pekat dari warna tanah sekitarnya. Nisan yang mana telah terukir nama Kevin, dengan jelas.

Sesak pun telah menjadi isak. Segala prasangka kini berubah menjadi air mata. Hanya menangis yang dapat Zenna lakukan. Meski ia tahu, dengan menangis, atau berteriak sekali pun, tak akan mampu membalikkan keadaan.

“Kevin sangat mencintaimu, Zen,” ucap seseorang, yang berdiri di belakang Zenna. Zenna pun kaget. Ia seperti mengenali suara itu. Masih dengan pipi yang dibasahi air mata, Zenna membalikkan badannya.

“Tante…” ucap Zenna, dengan ringkih.

“Tak usah memanggil Tante, panggil saja Ibu,” ucap seseorang, yang tak lain adalah Ibunya Kevin.

“…ng, Baiklah, Bu,” balas Zenna. Ibu Kevin pun perlahan mendekati Zenna, dan berjongkok tepat di sebelahnya.

“Apa kamu memakai cincin pemberian Kevin itu, Zen? tanya sang Ibu, membuka perbincangan. Zenna hanya membalas dengan sebuah anggukan kecil.

“Beruntungnya kamu dicintai oleh Kevin, Zen,” lanjut sang Ibu. Zenna hanya terlihat diam. Sesekali ia tersedak oleh isak tangisnya itu.

“Kevin sempat cerita pada Ibu, bahwa banyak perempuan yang mencoba menarik perhatiannya, tapi ia tidak menghiraukannya. Karena yang ia mau cuma kamu, Zen. Cuma kamu.. Ia selalu bertanya-tanya pada Ibu, kapan waktu yang tepat untuk ia nembak kamu. Ibu tak bisa memberikannya kepastian. Ibu hanya berpesan padanya, bahwa; waktu tak akan menunggu mereka yang menunggu.

Kevin telah lama terkena penyakit kanker. Tepatnya, kalau tidak salah, setelah satu bulan ia mengenalmu. Makin hari, penyakitnya makin parah. Ia dibawa kemari karena untuk penanganan lebih lanjut. Meski ia telah tahu, ia tak memiliki cukup banyak waktu untuk tetap hidup. Dokter pun membenarkannya.

Ia merahasiakan ini padamu, karena ia tak ingin membuatmu merasa terbebani. Ia tak ingin membebani seseorang yang sangat ia cintai. Cukuplah keluarga dan dirinya sendiri yang ia bebani.

Ibu masih ingat; ia pernah bercerita pada Ibu, bahwa ia akan menggunakan sisa hidupnya untuk mencintai seorang wanita. Dan, wanita itu adalah kamu, Zenna..

Sepertinya, Kevin sudah tahu pasti kapan ia akan dipanggil Sang Ilahi. Itulah sebab ia merencanakan semua ini. Ia pun memberi tahu Ibu atas apa yang telah ia rencanakan itu. Itu mengapa Ibu bisa hadir di sini.

Ternyata benar, seperti apa yang pernah dikatakan Kevin beberapa waktu yang lalu, bahwa kamu adalah sorang perempuan yang cerdas. Itu terbukti dari mampunya kamu mengartikan maksud dari kalimat ‘…hari di mana Centaur Archer bernama Thirteen lahir,’ yang tertera dalam surat pemberian Kevin. Lalu, isi diary itu, adalah cerita yang ia tulis setiap sebelum tidur, tentang apa-apa saja yang telah kalian lakukan bersama. Tak sedikit pula ia menuliskan tentang isi hatinya di situ. Nanti kamu akan tahu sendiri, setelah kamu membacanya.

Dari kejadian ini, Ibu harap kamu mempelajari banyak hal, Zen. Tidak selalu, sesuatu yang dipendam berlama-lama itu baik. Memendam sesuatu berlama-lama itu; seperti merakit sendiri sebuah bom waktu, yang sewaktu-waktu dapat meledak, dan menghancurkan diri sendiri. Di sisi lain, kesempatan kedua tak akan selalu ada. Jika saja kesempatan kedua itu ada, tentu tak akan lebih baik dari kesempatan pertama. Ingatlah selalu, Zen; waktu tak akan menunggu mereka yang menunggu,” jelas sang Ibu, lalu menghela nafas panjang.

Haaahhh…

“Ibu tahu, kamu masih ingin berlama di sini. Baiklah, Ibu akan menunggu di mobil saja. Nanti kita pulang serempak, ya,” tutup sang Ibu, lalu beranjak meninggalkan Zenna.

MASIH seperti tadi, isak tangis Zenna belum juga berhenti. Air matanya berlomba-lomba untuk jatuh.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu punya penyakit kanker, Vin.. kenapa?” pekik Zenna, dari dalam hati. Ia peluk dengan erat nisan Kevin itu, merebahkan kepala di atasnya, dan menangis seraya melontarkan pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya. Seolah-olah ia sedang menghakimi dirinya sendiri.

Lama ia lakukan hal itu. Tanpa sadar, petang akan segera menghilang, dan gulita telah siap untuk datang. Zenna pun membuka kotak pemberian Kevin, mengambil sebuah buku diary yang terbalut dengan pita putih, lalu melepaskannya, membuka, dan membacanya. Ternyata benar apa yang telah dikatakan Ibu tadi; diary itu berisi apa-apa saja yang telah dilakukan Kevin bersama Zenna. Zenna juga menemui bermacam-macam kegalauan Kevin tentang bagaimana ia akan menyatakan cintanya pada Zenna. Spontan, Zenna seperti tertampar setelah membaca tulisan yang ditulis oleh Kevin untuk terakhir kalinya;

Zen,
Akhirnya, malam ini, aku telah berani untuk menyampaikan kepadamu, mengenai apa yang selama ini aku pendam. Iya, tentang perasaanku terhadapmu.

Aku puh tahu, kamu tidak akan langsung menjawabnya. Melainkan, butuh diyakinkan terlebih dulu.

Zen,
Ketahuilah; cinta itu tidak perlu diyakinkan, sebab; cinta itu sendiri yang akan meyakinkan dirinya, juga yang akan meyakinkan kita. Kamu bukannya tak yakin terhadap cinta, Zen, kamu hanya ragu atas apa yang akan kamu jalani nantinya. Barangkali, kamu masih takut untuk patah hati kembali. Saat sebelumnya; oleh seseorang sebelum aku, hatimu telah dipatahkan berulang kali.

Zen,
Tak perlu menunggu hingga hatimu benar-benar kembali utuh, untuk memulai cerita baru denganku. Sebab, hatikulah yang akan mengutuhkan hatimu.

Lagipula, waktu tak akan menunggu mereka yang menunggu.

Tertanda,
Yang diutuhkan olehmu
Kevin Julisman

Jambi,
29 November

Seperti tak kuasa sebab diserang rasa bersalah yang bertubi-tubi, tiba-tiba, Zenna menggesekkan jari telunjuk kanannya di batu nisan Kevin yang kasar, hingga berdarah. Pada beberapa baris yang tersisa di bawah tulisan terakhir Kevin tadi, Zenna menuliskan jawaban yang ditunggu-tunggu oleh Kevin, dengan darah dari jari telunjuk kanannya itu;

Aku menerimamu
Jkt
5 Des

Tak berapa lama kemudian, Zenna memutuskan untuk meninggalkan makam Kevin. Ia tak ingin berlama-lama diserang rasa bersalah. Dan, sebelum Zenna benar-benar pergi, ia mendekatkan wajahnya pada batu nisan Kevin, lalu memejam, seraya berbisik;

“Selamat ulang tahun, Vin. I love you.”

Note: Centaur Archer bernama Thirteen, memiliki arti: Centaur dalam Mitologi Yunani Kuno, adalah manusia setengah kuda (berwujud manusia dari kepala sampai pinggang, dan bagian pinggang ke bawah berwujud kuda). Sementara Archer, adalah bahasa Inggris dari Pemanah. Secara keseluruhan, Centaur Archer adalah pemanah bertubuh manusia setengah kuda. Di sisi lain, pemanah bertubuh manusia setengah kuda adalah ilustrasi dari simbol zodiak Sagittarius. Di sini, yang dimaksud dari Thirteen, adalah urutan. Thirteen adalah bahasa Inggris dari tigabelas, sedangkan zodiak Sagittarius dimulai dari tanggal 23 November. Maka, urutan ke-13 dimulai dari tanggal 23 November, adalah tanggal 5 Desember.

Dengan kata lain, Kevin meminta Zenna menemuinya di hari ulang tahunnya.

Cerpen Karangan: Adhe Imam Shaalihiin
Blog: catatankepala.wordpress.com

Cerpen Hello, Goodbye (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jerit Tak Puas

Oleh:
Empat tahun sudah lamanya waktu. Ku tinggalkan tempat ini. Di belakang halaman kelas 7b. Dimana tempat ku nongkrong sama berandal anak sekolah waktu itu. Banyak cerita tawa bersama teman

Rembulan Tanpa Cahaya

Oleh:
Aku bagai lilin kecil tanpa cahaya. Berlari-lari dari kenyataan yang begitu kelam ku rasakan kini. Dulu kau bagai madu yang terucap manis sekali di telingaku. Namun kini kau adalah

Dalam Lamunku

Oleh:
Saat ini aku terdiam dan terpaku, tak tau apa yang harus aku lakukan.. Saat itu ketika aku berkata nafas dan hidupku adalah kamu dan aku bisa mati tanpa kamu..

Tentang Aku dan Rasa ini

Oleh:
Aku hanya terdiam di bawah senja. Warnanya yang mulai meredup membuat siluet tubuhku di rerumputan ini. Sudah hampir 3 jam aku hanya terduduk disini, menikmati kesendirianku, menikmati segala hembusan

Baba dan Lala

Oleh:
Di suatu taman bunga, hiduplah seekor laba-laba bernama Baba yang memiliki kemampuan merajut jaringnya dengan indah. Tidak hanya itu, Baba juga mampu membuat sarangnya menjadi berlapis-lapis. Tidak seperti laba-laba

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *