Hilang Permataku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 March 2017

Tisya berjalan melintasi koridor sekolah dengan wajah yang murung. Seharian ini ia tak melihat Jian yang sudah 2 tahun ini menemani hidupnya. Tutt!!! dering teleponnya membuyarkan lamunannya.
“Halo kakak di mana?” tanyanya dengan penuh cemas.
“Maaf ya sya aku nggak bisa anterin kamu pulang. Soalnya aku ada les.”
“Iya nggak papa.”
Tisya tampak kecewa. Namun ia tak boleh egois. Jian sudah kelas 3, jadi ia harus bisa memaklumi kesibukan Jian.

“Tisya!” suara mama mengejutkan Tisya yang sedang mengamati foto dirinya bersama Jian. “Ada Jian tuh!”
“Iya ma!” Tisya pun tampak kebingungan dengan kedatangan Jian yang secara tiba-tiba. Dengan penampilan yang apa adanya, ia memutuskan untuk menemui Jian.
“Ada apa kak kok tiba-tiba ke sini?”
“Keluar yuk! suntuk di rumah mulu!”
“Tapi…” belum sempat meneruskan bicaranya, Jian sudah menarik tangan Tisya dengan kasar.

Bukan restoran atau tempat lainnya, Jian mengajak Tisya ke lantai paling atas sekolah mereka. Di sanalah mereka dapat tertawa lepas, saling sharing, dan satu hal lagi yang selalu rutin mereka lakukan adalah, melihat bulan dan menghitung bintang. Bukan apa-apa. Menurut Tisya menghitung bintang sama halnya dengan menghitung cinta mereka. Akan selalu banyak dan tak akan pernah berkurang.
“Tisya! bukan kecantikan parasmu yang aku sukai. Melainkan kecantikan hakiki yang keluar dari hatimu. Aku mencintaimu sya!”
“Aku juga mencintaimu kak.” mereka pun larut dalam kesyahduan senja.

Hari ini Tisya ada janji dengan Jian. Sejak sore tadi, ia sibuk memilih-milih baju mana yang akan ia kenakan nanti.
“Ma! aku cocok gak pake baju ini??”
“pakai baju apapun kamu tetap terlihat cantik nak.” ucap mama sembari mengusap pipi Tisya yang lembut.

Dalam perjalanan, Tisya tampak kebingungan. Pasalnya, ia tak pernah melewati jalan ini dan mengenal tempat ini.
“Kak kita mau ke mana sih?” tanyanya dengan penuh kebingungan. Bukannya menjawab, Jian malah mengacuhkan Tisya dan tetap fokus menyetir.

Mobil Jian berhenti di sebuah tempat yang tampak asing bagi Tisya. Jian mengajak Tisya masuk ke dalan sebuah rumah.
“Kak, ini dimana? aku takut kak”
tanpa mempedulikan ocehan Tisya, Jian secara tiba-tiba memepet tubuh Tisya dan mencoba untuk mencium bibir Tisya. Namun Tisya terus mencoba untuk menghindar.
“Aku mencintimu sya.” bisik Jian di telinga Tisya yang dengan seketika membuat Tisya merinding.
“Jangan kak, aku takut!” pintanya dengan memelas. Wajah Tisya tampak pucat pasi. Keringat dingin terus mengucur dari dahinya.
Tiba-tiba Jian menghentikan aksinya. Ia menatap mata Tisya dalam-dalam. Nafasnya tampak memburu. Matanya sayu.
“Sya! kamu sayang kakak nggak?”
“Aku sayang kakak, tapi…”
“Plis sya! kalo kamu sayang sama kakak, tolong jangan kecewakan kakak. kakak pasti akan tanggung jawab.” potong Jian sambil melancarkan aksinya lagi. Kini, Tisya hanya bisa pasrah. Tenaganya sudah terkuras habis. Kakinya bergetar seakan tak mampu lagi untuk menopang tubuh mungil Tisya. Akhirnya Tisya larut dalam permainan Jian. Cinta telah membukakan mata Tisya.

3 hari berlalu tanpa kabar dari Jian. Di sekolah pun Tisya juga tidak melihat Jian. Tisya hanya bisa menyesali perbuatannya tempo hari. Sejak kejadian malam itu, Tisya menjadi lebih emosional dan pendiam. Di sekolah Tisya yang biasanya ceria, kini tampak murung dan lebih sering melamun.

“Sya, kakak sayang kamu. Berdo’alah semoga semuanya akan baik baik saja.” 1 sms masuk di hpnya Tisya. Tisya membacanya dengan penuh hati-hati. Dengan tangan yang gemetar Tisya membalas sms Jian.
“Aku juga sayang kakak. Kakak ke mana aja kok gak ada kabar? kakak jangan menghilang. aku takut kak. kakak akan tanggung jawab kan?”
Dengan disertai rasa cemas, Tisya mengirim sms tersebut. 2 jam tlah berlalu, namun hp Tisya masih tetap sepi tak bersuara. Ia terus menunggu hingga ia larut dalam keheningan malam.

1 bulan telah berlalu. Jian mengajak Tisya untuk ketemuan di tempat biasa mereka sering bertemu. Tepat pukul 13:00 Tisya sudah sampai namun ia tak melihat Jian. Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya pun Jian datang.

“Sya, sebelumnya aku minta maaf harus ngomong ini ke kamu. Aku rasa hubungan kita cukup sampai disini. Kita jalan sendiri sendiri, kita urus kehidupan kita masing-masing. Maafin kakak sya.”
“Apa mahsud kakak? ingat kak! ingat kalo kakak akan tanggumg jawab! katanya cinta, katanya sayang. semua milikku telah kuserahkan pada kakak! bahkan hartaku yang paling berharga!” jawab Tisya dengan air mata yang mengalir deras dari sela-sela mata bulatnya.
“Kakak ingat sya! kakak nyesel udah ngelakuin itu ke kamu. kakak minta maaf. Tapi kamu terlalu baik buat kakak. Aku ini bukan orang baik-baik. aku ini laki-laki bejat!”
“Kakak gak boleh gitu! aku tetep cinta kakak bagaimanapun keadaan kakak! kakak jangan tinggalin aku!”
“Maaf sya! aku gak bisa. aku harus pergi.”
Jian berlalu begitu saja dari hadapan Tisya. Jian tetap melangkah menjauhi Tisya tanpa mempedulikan tangisan Tisya yang menyayat hatinya.
Tisya tampak shock dengan perkataan Jian yang begitu melukai hatinya. Ia menangis sesengukan hingga tak mampu berbicara. Tisya tak mampu manahan emosinya. Ia menjerit sekencang kencangnya.

Dear Allah SWT:
Terima kasih! engkau telah mengirim malaikat yang telah menganiaya jiwa dan ragaku. Kini, ku terperangkap dalam lubang yang membawaku ke dalam dasar kerak neraka.
Terima kasih! engkau telah mengirim malaikat yang telah membuatku tenggelam dalam lautan kenistaan.

Cerpen Karangan: Nisak Ainun Q
Facebook: inun kaelo

Cerpen Hilang Permataku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malaikat Tak Bersayap

Oleh:
Ketika kau datang dengan membawa beribu warna, dan pergi meninggalkanku dengan jutaan luka. Sore itu, langit sudah mulai gelap. Tapi, seorang gadis berambut hitam legam tersebut masih duduk dengan

Wanita Penumpuk Gerimis

Oleh:
Aku takkan menangis. Kau sendiri yang menyuruhku agar jangan menangis. Awalnya aku memang cengeng. Teramat malah. Air mataku begitu saja menetes jika perasaanku terguncang. Tapi sejak saat itu, aku

Mengenang Mu

Oleh:
Adrian dia adalah cinta pertamaku di dunia ini. Dia laki-laki yang tampan dan dari keluarga berada, selain itu banyak sekali yang berusaha mendekatinya tapi ia tidak pernah menghiraukannya, baginya

Maaf Untuk Rena

Oleh:
“horeee.. kita lulus, gengs…”. teriak anna, anisa, rere dan Rena. Mereka berteriak histeris saat amplop kelulusan sudah di buka. Mereka berempat merupakan satu geng. geng itu mereka namai GENG

Sepasang Album Kembar (Part 2)

Oleh:
Malam itu, ketika sedang makan mie rebus dan minum kopi di ruang makan asrama, Agus menghampiriku. “Juno, aku perhatikan suara mesin tikmu tidak pernah terdengar lagi. Selama beberapa bulan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *