I Never Know

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 10 April 2017

Aku berpikir hari ini adalah waktu yang tepat untuk aku katakan. Terlalu lelah hatiku dengan keadaan seperti ini. Kamu pria yang baik, yang selalu aku kagumi. Kamu adalah seseorang yang selalu aku rindukan saat kamu tak berada di sisiku.

Aku ingat saat dimana kita pertama kali bertemu. Saat itu aku merasa kamu sangatlah menyebalkan. Entah dengan sengaja atau tidak, kamu membuatku terjatuh dan membuat semua tugasku berantakan.
“Hey… Tanggung jawab dong. tugas gue berantakan nih!” Ucapku dengan rasa kesal yang teramat sangat.
“Kok lo nyalahin gue sih? salah lo sendiri jalannya ngalangin gue. Udah gue buru-buru.” Kalimat menjengkelkan yang keluar dari mulutmu dengan berlari menjauhiku.
Tanpa bisa berbuat apa-apa, aku membiarkanmu pergi. Aku tidak menyangka kalau kejadian itu membuat kita menjadi teman yang perlahan membuatku merasakan hal yang lain.

Sejak saat itu kamu selalu iseng menggangguku dengan celotehan dan tindakan yang membuatku selalu merasa jengkel dan membencimu. Seperti saat dimana aku duduk di bawah pohon dengan earphone yang terpasang di telingaku, menikmati udara segar di taman kampus. Tiba-tiba kamu datang dan mengagetkanku dengan ular mainan, yang membuatku lari ketakutan. Aku tidak tahu kalau saat itu kamu mengikutiku. Tiba-tiba kamu berdiri di sampingku dan menyodorkan ice cream. Aku merasa sangat marah saat itu, namun dengan tulus kamu meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Dan sejak saat itu hubungan kita berubah menjadi sebuah pertemanan yang lebih akrab. Kita selalu berbagi cerita, berdebat hal-hal yang aku rasa itu tidak penting, dan banyak kegiatan yang sering kita lakukan bersama.

Hari terus saja berlalu. Hatiku pun perlahan berubah, aku selalu merasakan hal-hal aneh saat berada di sisimu. Entahlah aku tidak suka dengan keadaan ini. Aku takut, perasaanku ini benar-benar akan membuatku sakit. Hingga aku tersadar bahwa aku menyukaimu. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menutupi perasaanku itu. Terlebih lagi, saat kamu bercerita tentang seseorang yang sedang kau dekati.

“Sey, lo tau gak, gue lagi suka nih sama cewek. Tapi gue gak tau tuh cewek suka juga atau enggak sama gue. Menurut lo dia suka gak?” kaliamat itu terucap dari bibirmu. Membuatku merasakan sesak di dadaku.
“Eh, mana ada cewek yang suka sama cowok nyebelin kaya lo ahaha.” Ucapku dengan sedikit tertawa.
“Yehh gitu banget sih lo…” Ucapmu dengan rasa kesal.
“Emangnya tuh cewek siapa sih? satu kampus?” Tanyaku.
“Mmm.. ada deh. Yang pasti dia spesial buat gue. Dia beda dari yang lain.” Penjelasan simple darimu yang membuat dadaku semakin sesak dan membuatku tak kuasa untuk menahan tangis.
“Ohh gitu. Ya udah buruan deketin, tar kalo jadi jangan lupa traktir gue. Pajak Jadian oke.. gua mau pergi dulu. Semangat.” Kalimat yang kuucapkan sambil berlari meninggalkanmu.

Saat itu aku berlari ke tempat dimana kamu tidak akan bisa menemukanku. Tanpa kuminta, air mataku saat itu jatuh dengan sangat derasnya. Ternyata dugaanku benar. Perasaanku ini perlahan akan membunuhku dengan rasa sakit yang terus menerus.

Sejak kejadian itu, aku tidak pernah punya pikiran sedikitpun untuk menjauh darimu. Tapi karena aku tahu kau sedang mendekati seseorang, aku lebih menjaga jarak karena aku takut keberadaanku membuat semua rencanamu gagal. Kamu bercerita tentang hubunganmu dengan perempuan itu semakin dekat bahkan kamu bilang kalau perempuan itu sepertinya memiliki perasaan yang sama. Sejak saat itu aku mulai menyadari kalau aku harus menjauh darimu. Namun, usahaku untuk menjauh darimu selalu gagal karena kamu selalu datang kepadaku lagi dan lagi.

Dan, malam ini kau memintaku untuk menemanimu pergi ke butik untuk membeli baju yang kamu inginkan dipakai perempuan yang kau sukai di perayaan valentine besok. Kamu asik memilih pakaian yang sangat cantik. Tidak pernah kamu sadari seberapa sakit hatiku saat melihat kamu, seseorang yang sangat aku sayangi memilih pakaian untuk perempuan lain.

“Yang ini gimana Sey? bagus kan?” pertanyaan darimu yang kulihat dengan wajah yang sangat bahagia.
“Mmm… Bagus tuh. Cocok kayanya. Eh tapi kalo gak muat gimana? atau kegedean?” Ucapku memberikan pendapat.
“Mmm gimana yah… Naaahh badannya sama ni kaya lo. Lo cobain deh, kalo di lo muat pasti di dia juga muat. Buruan cobain.” Pintamu sembari membawaku ke ruang ganti.

Aku keluar dan menunjukan pakaian yang kamu pilih saat dipakai di badanku.
“Tuh kan bagus. Udah sana copot lagi, gue ambil yang ini.” Kalimat yang semakin membuatku tak mampu lagi untuk menahan air mata ini.

Dengan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis, aku menurutimu untuk selanjutnya ke toko perhiasan. Kamu bilang, kamu ingin membeli cincin untuk perempuan itu. Sesungguhnya aku sudah tak sanggup menahan perasaan yang semakin sakit ini. Tapi demi kebahagiaanmu, aku akan lakukan ini untukmu.

“Gas, kalo lo mau beliin cincin ajak ceweknya lah. Kalo lo beli sendiri kaya gini, gimana lo tau tuh cincin muat atau enggak.” Saranku.
“Gue gak beli sendiri kok, kan sama lo. Kalo gue ajak dia, ya bukan surprise namanya. Lo aja deh yang coba, pasti muat deh.” Ucapmu dengan sedikit wajah jail yang menjengkelkan itu.
Andai kau tahu, untuk mencoba barang yang kamu beli untuk perempuan lain itu sangatlah menyakitkan hatiku.

Kamu mengajaku untuk makan terlebih dahulu di sebuah restaurant sebelum kita pulang. Tapi aku rasa aku tak sanggup lagi menahan rasa sakit ini. Mungkin ini saatnya aku mengatakannya.

“Bagas, ada yang mau gue omongin.” ucapku memulai niatku.
“Yaelah tinggal ngomong aja kali, pake minta izin segala.” Balasmu dengan canda.

Aku mengambil sebuah benda dari dalam tasku, dan kuberikan padanya. Aku melihat ada kebingungan di wajahnya.
“Minggu depan, gue tunangan Gas. Itu undangan buat lo. Sorry gue harus pergi, Mario udah nunggu gue.” kalimat terakhir yang aku ucapkan padamu.

Aku tak pernah mampu untuk mengucapkan bahwa aku mencitaimu, bahwa aku menyayangimu. Aku tidak akan mengucapkannya karena sekarang ucapan itu sudah tak berguna lagi. Seseorang telah memilihku untuk mengisi hari-harinya. Walaupun dia bukan orang yang aku sayangi tapi aku yakin dialah orang yang akan membawaku pergi jauh darimu dan membuat perasaan ini menghilang. Begitu juga dengan dirimu yang mungkin akan bahagia dengan perempuan yang kau pilih itu. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih karena kamu sudah menjadi bagian terindah dalam hidupku…

Aku terlalu lambat untuk mengungkapkan semuanya. Hingga pada akhirnya, seseorang telah lebih dulu datang untuk memiliki hatimu. Maaf karena aku terlalu lama membuatmu menunggu. Maaf karena aku terlalu banyak membuatmu menangis dengan rencana-rencana yang pada akhirnya harus hancur. maaf karena selama ini aku selau membuatmu jengkel dan kesal.

Maaf karena aku telah membuatmu menangis saat pertama kali aku menceritakan siapa perempuan yang aku suka. Saat itu aku mengikutimu dan aku melihatmu menangis. Sejak saat itu aku merasa bahwa kamu memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman kepadaku. Selama ini aku selalu menceritakan tentang perempuan yang aku sukai. Apakah kau tidak menyadarinya bahwa itu adalah dirimu. Aku sangat menyayangimu.

Pakaian yang aku beli malam ini bersamamu, itulah yang aku inginkan untuk kau kenakan di acara valentine besok. Dan cincin yang aku beli itu juga untukmu. Aku telah menyiapkan diri untuk memintamu menjadi miliku di acara Valentine besok. Namun semuanya hancur. Kau telah bersama seseorang yang bisa membuatmu lebih bahagia. Kini aku tak mampu berbuat apapun. Perasaan ini akan aku simpan sendirian. Juga pakaian dan cincin yang telah aku persiapkan untukmu, akan aku simpan dengan baik. Mulai sekarang aku akan pergi dari kehidupanmu agar kamu bisa hidup dengan tenang dan bahagia bersama seseorang yang kamu cintai.

Terima kasih atas kebahagia yang telah kau berikan. Terimakasih untuk semuanya. Selamat tinggal…

Cerpen Karangan: Rosdiana
Facebook: Rosdiana Rosdiana
Rosdiana, 17 th. Bandung

Cerpen I Never Know merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friendship or Love (Part 3)

Oleh:
Beberapa hari berlalu. Keno berencana untuk mengajak Nawala bertemu hari ini setelah beberapa hari sebelumnya ia sibuk dengan pekerjaan. Keno membuat pertemuan dengan Nawala dengan alasan untuk kesempatan bisnis

Kupu Kupu Musim Semi

Oleh:
Hari ini seperti biasa. Semua berjalan begitu saja. Aku menemukan diriku terlelap di meja, bersama tumpukan buku-buku tebal yang berada di depan mukaku. Suara gemericik air hujan yang semakin

Da Aku Mah Apa Atuh

Oleh:
Namaku Aprilia Putri Handayani. Aku biasa dipanggil April. Inilah yang membuat aku bingung mengapa orangtuaku memberikan aku nama April? Sedangkan aku sendiri lahir di bulan Oktober? Ah sudahlah, da

Sebatas Kabut

Oleh:
Brakk! Pyaar! “Aku tidak mau tau…!” Dengan dada mendidih telah aku empaskan semua yang ada di dekatku. Amarahku terus memuncak hingga tidak bisa kukendalikan lagi. Meja kayu di ruang

Sandiwara Oh Sandiwara

Oleh:
Semburan cahaya keemasan dari mentari yang disanjung-sanjung menusuk mata bulat kehijauan yang aku miliki, memperjelas tubuhku yang tinggi semampai, hidung mancung, yang berpadu manis dengan wajah bulat ovalku. Gorden

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *