I’m Sorry

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 March 2016

Dia hanyalah seorang insan biasa yang berusaha mengejar cintanya. Namun salahkah bila dia mencintai seorang gadis sepertiku? Aku tak tahu jika dia sangat mencintaiku dengan penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Aku selalu memberi sikap datar, dingin, dan tidak memberikan respon sedikit pun padanya, tidak mempunyai rasa sama sekali dengannya, dan aku tidak ingin menjalin hubungan dengannya. Tapi dia terus saja berusaha mati-matian untuk mendapatkan cintaku dan siap menerimaku apa adanya.

Di pagi hari ini cuaca sangatlah cerah, seakan memberi semangat dan senyum yang indah. Di perumahan mewah dengan mobil yang sudah siap untuk mengantarku ke sekolah. Hari ini aku sangat bersemangat sekali untuk berangkat sekolah. Tapi tak lama, seorang yang mengejar cintaku datang, dia adalah Ega yang selalu saja berhenti di depan rumahku ‘di situ terkadang aku merasa malas untuk sekolah’ tapi sepertinya kali ini Ega ingin memberi sesuatu untukku.

“Hai La, selamat pagi,” aku tak mempedulikan kehadirannya. Aku langsung masuk mobil tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Dia memang tampan tapi aku tak percaya bahwa dia tulus mencintaiku sepenuh hatinya. “Hati-hati di jalan La.” ucap Ega sedikit berteriak. Aku sudah di dalam mobil dan aku sama sekali tidak mempedulikannya. Aku merasa sangat terganggu dengan Ega yang selalu mengejar-ngejar cinta dariku. Padahal aku tidak tertarik sama sekali dengannya. Siang hari aku sedang istrahat di kantin sekolah sambil menunggu teman-temanku. Tapi malah Ega yang datang menghampiriku dengan senyumnya.

“Selamat ulang tahun ya La.” ucap Ega tersenyum sambil memberikan kado untukku. Sejenak aku menatapnya dan aku tidak menerima kado itu. Aku malah memutuskan pergi meninggalkannya. Tapi Ega malah teriak padaku, “Meski kamu selalu menghindariku, aku akan tetap berusaha agar kamu mencintaiku, aku tulus mencintai kamu.” Semua murid di kantin mendengar teriakan Ega. Aku juga mendengar teriakan itu tapi aku hanya menghentikan langkahku sejenak tanpa mempedulikan ucapan bodoh itu. Tak terasa malam pun sudah tiba. Seperti biasanya aku menatap laptopku sambil online di salah satu sosial media dan aku melihat Ega ternyata dia sedang online juga.

“Selamat malam La,” Aku hanya membaca pesan darinya tanpa menghiraukannya. Tapi Ega malah mengirim pesan lagi. “Ya udah jangan lupa makan ya? Dan semoga mimpi indah ya La, maaf kadonya aku taro di tas kamu, kadonya dibuka ya La dan semoga kamu menyukainya.” Setelah aku membaca kembali pesan dari Ega, aku langsung offline dan memeriksa tas sekolahku. Aku terkejut, ternyata benar kado dari Ega ada di dalam tasku. Tapi aku tak membuka kado itu dan aku langsung menaruhnya kembali ke dalam tasku untuk aku buang di hadapannya nanti. “Enak aja, dengan kamu ngasih kado seperti ini kamu kira aku akan menerima cinta kamu.” ucapku dalam hati.

Pagi hari aku baru saja terbangun dari lelapnya mimpi. Aku melihat ponselku ternyata ada pesan dari Ega.
“Selamat pagi La? hari ini aku gak sekolah, aku mau pergi ke rumah sakit,” kali ini aku langsung membalas pesannya. “Siapa yang sakit? Kamu? Sakit apa?” Tak lama Ega pun membalas pesan dariku.
“Hari ini aku sangat senang sekali karena kamu membalas pesan dariku, gak ada yang sakit kok, aku hanya ingin ke rumah sakit aja, hehe,”

Setelah membaca pesan dari Ega, aku tidak membalasnya lagi karena agak kesal merasa dikerjai olehnya. Aku sudah siap untuk berangkat sekolah tapi ponselku kembali berdering karena pesan dari Ega lagi. “Apa kamu marah? Maafin aku ya? Aku gak ada niat untuk ngerjain kamu, aku tahu kamu marah, mulai besok aku janji gak akan ganggu kamu lagi, maafin aku ya La, jaga diri kamu baik-baik, aku akan selalu merindukanmu.” aku tak menghiraukan pesan darinya, aku masih merasa kesal karena dikerjai olehnya. Tak lama aku sampai di sekolah. Aku melihat kursi yang biasa diduduki Ega ternyata kosong. Aku bertanya pada Anggi teman sebangku Ega.

“Kenapa Ega gak masuk sekolah?”
“Kalau gak salah hari ini dia sedang periksa,”
“Emang sakit apa?”
“Emang lo gak tahu La tentang cidera di punggungnya?”
“Kenapa?”

“Ya ampun lo beneran gak ingat La? cidera di punggung Ega itu kan gara-gara nyelametin lo dari preman yang mau malak lo, terus Ega dateng nyuruh lo cepat-cepat pergi, pas lo pergi Ega itu berantem sama tiga preman itu, punggungnya dihajar balok kayu oleh salah satu preman itu sampe jatoh, terus Ega dipukuli preman itu hingga babak belur La.” Aku yang mendengarkan cerita itu langsung teringat tentang pemalakan lima bulan yang lalu. Aku merasa bersalah dan sadar bahwa Ega berkorban sangat besar untukku.

“Kamu di mana?” aku langsung mengirim pesan pada Ega lewat ponsel. Lama sudah aku terus menunggu balasan pesan dari Ega, tapi belum juga ada balasan. Aku mulai resah, hatiku gelisah dan aku berencana untuk menghubungi Ega. Tapi tak lama aku ingin menghubunginya, ponselku berdering karena sebuah balasan pesan dari Ega. Aku tersenyum sangat senang dan langsung membuka pesan dari Ega.

“Ega di rumah, Ega sudah meninggal, sore ini pemakamannya, kalau kamu bisa, dateng ya (dari kakaknya Ega)” Aku tersentak kaget. Ponsel yang ku genggam jatuh ke lantai. Aku tidak percaya bahwa Ega meninggal. Bergegas aku langsung pergi menuju rumah Ega. “Hei lo kenapa? mau ke mana La?” ucap Anggi. Aku tergesa-gesa tanpa menghiraukan ucapan Anggi. Gerbang sekolah hampir saja ditutup oleh satpam. Tapi aku berhasil melewatinya dan bisa ke luar dari sekolah. Aku langsung naik taksi yang kebenaran lewat pas aku lari.

Hampir saja aku tertangkap oleh satpam penjaga sekolah. Tak ada waktu aku untuk menjelaskan ke satpam, jadi lebih baik aku melarikan diri saja. Setibanya di rumah Ega. Aku tak percaya Ega ternyata benar-benar sudah meninggal. Tubuhku mulai lemas untuk melangkahkan kaki ke dalam rumahnya. Perlahan seorang wanita cantik yang mengusap air matanya menghampiri aku dengan memEgang seikat bunga mawar merah.

“Apa kamu Lala?” ucap wanita cantik itu padaku. Aku mengangguk pelan dan wanita cantik itu langsung menamparku sangat kencang. Aku kaget kenapa ia tiba-tiba menamparku?
“Apa yang kamu rasakan? apa sakit?” ucap wanita cantik itu. Aku hanya hanya terdiam sambil menundukkan kepalaku dan menahan sakit bekas tamparan wanita cantik itu.
“Rasa sakit tamparan di pipi kamu tak sebanding dengan rasa sakit hati Ega yang benar-benar tulus mencintai kamu,” ucap wanita cantik itu dan ia memberikan seikat bunga mawar merah itu padaku, “ambillah, ini untuk kamu, ini bunga yang dibeli Ega untuk kamu sebelum ia meninggal.” Aku tersentak kaget.

Air mataku sudah tak bisa terbendung lagi dan tanganku gemeteran seakan tak sanggup untuk menerima seikat bunga mawar itu. Perlahan aku mencium harumnya seikat bunga mawar dari Ega dan aku melihat sepucuk surat di dalam seikat bunga mawar itu. Aku membukanya. “Lala, maafkan aku yang selama ini aku selalu mengganggu hidup kamu. Mulai hari ini dan seterusnya aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi. Besok aku akan pergi ke singapore untuk berobat di sana, dan aku akan pindah sekolah di sana juga, sekali lagi aku minta maaf ya la. Aku akan merindukan kamu Lala dari Ega.” Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya isak tangisku penuh penyesalan telah menyia-nyiakan seorang yang telah tulus mencintai aku.

“Aku Silvi Kakaknya Ega”. ucap wanita cantik itu padaku dan dia kembali bercerita tentang kejadian Ega. “Ega seusai berobat ia membeli bunga mawar itu dan ia langsung bergegas pergi dengan mengendarai motor sangat kencang untuk mengejar waktu agar bisa menemui kamu di depan gerbang sekolah, tapi di pertengahan jalan ia tak sadar ada tikungan yang terdapat mobil sedang melaju kencang, Ega panik berusaha menghindari mobil itu, tapi takdir berkata lain. Ega menabrak mobil itu sangat kencang, dan kamu tahu La? Ega terpental sangat jauh tapi ia masih menggenggam seikat bunga mawar itu seakan ia mempertahankannya agar tak rusak demi kamu.”

Tubuhku sangat lemas mendengar cerita dari Kak Silvi, aku hanya bisa menangis dengan rasa penyesalan yang mulai hadir menghantui. Aku sadar tak pernah menghargai usaha Ega yang selalu memberi perhatian, ketulusan cinta dan kasih sayang sepenuh hatinya. Aku juga menyesal karena berniat membuang kado yang ia berikan padaku dan aku merasa sangat bersalah atas kejadian lima bulan yang lalu karena aku lebih memilih berlibur ke bali daripada menjenguknya di rumah sakit.

“Ega, maafkan aku, aku menyesal telah menyia-nyiakanmu.” ucapku dalam hati dan perlahan aku menghampiri jasad Ega. Tapi aku tak tahu setelah itu apa yang terjadi padaku, semuanya menjadi gelap dan aku hanya melihat setitik cahaya menghampiriku. Langkahnya semakin dekat dan wajahya semakin terlihat jelas. Aku melihatnya, itu adalah Ega yang membawakan kalung liontin berbentuk bintang yang memancarkan cahaya. Ia memberikan liontin bintang itu di telapak tanganku dengan tersenyum padaku dan perlahan ia juga mengusap air mataku. Tapi kenapa setelah itu dengan sekejap ia menghilang? Entah aku tak tahu berada di mana tadi, yang ku tahu dan ku lihat sekarang aku sedang berbaring di kamar tidur dan di sampingku adalah Kak Silvi.

“Syukurlah kamu sudah sadar.” ucap Kak Silvi padaku. Aku langsung duduk bersandar dan memandangi telapak tanganku yang kosong. “Ke mana liontin bintang yang bercahaya tadi?” ucapku dalam hati.

Aku teringat kado yang diberikan Ega, bergegas aku mengambil kado itu yang berada di dalam tasku. Perlahan aku membuka kado itu. Aku langsung menangis ketika melihat isi kado yang berniat aku buang di hadapannya. Isi kado itu adalah kalung liontin mewah berbentuk bintang yang tak sempat aku beli minggu lalu dengan kisaran harga 39.000.000. Aku terus menangis menatap liontin bintang itu. Tak lama Kak Silvi langsung memelukku untuk menenangkan hatiku yang benar-benar sudah tak karuan. Ega maafkan aku yang telah menyia-nyiakanmu. Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku Ega.

Cerpen Karangan: Muhammad Sugianto
Facebook: Muhammad Shalehudin Al Ayubi

Cerpen I’m Sorry merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Salahku

Oleh:
Karin melangkahkan kakinya ke sekolah dengan tatapan matanya yang seperti biasa. Tatapan mata yang seakan tak ada kebahagian di hidupnya. “Tuhan, kenapa kau begitu tega mengambil kebahagiaanku selama ini?”

Embun dan Senja

Oleh:
“Berakhir dengan sebuah Teddy Bear dan Mawar Merah” Sang surya menyinari pagi yang cerah ini dengan sembunyi-sembunyi. Mungkin sang surya masih sedikit engan untuk bersinar cerah di pagi ini,

Endless Love

Oleh:
Sudah 5 bulan berlalu, kesedihanku belum juga terobati setelah aku putus dari pacarku Sandi dan sudah hampir 5 bulan juga aku tidak pulang ke kampung halamanku di Banten. Nah!

Kembali

Oleh:
Langkahku mengarah lurus pada sebuah gitar tua yang tengah bersender di lemari kayu. Teringat meriahnya suara tepuk tangan yang sering kudengar dulu. Lama memang, sudah dua tahun sejak kali

Diary Elza

Oleh:
Lembar demi lembar buku diary milik Elza sudah terisi deretan tulisan Elza yang begitu rapi. Entah apa jadinya jika lembar demi lembar itu sudah penuh oleh kata-kata ungkapan dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *