iRIS

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 31 March 2016

Tidak ada kata yang harus diucapkan lagi mulut ku terasa terbungkam. Tak berdaya menerima kenyataan jika pertemuan begitu cepatnya berakhir. Keegoisan yang menghancurkan cinta yang pernah dirajut sepasang kekasih. Rasa jenuh merasuki hati di salah satu pemilik hati. Menjadikan suatu perpecahan. Hari ini aku sebisa mungkin tersenyum di depan mereka yang memandangku yang terlihat tampak di wajahku yang tidak bergairah.

“Putus?” Tanya Reandra padaku. “Ii..Yaa..” Jawabku dengan nada kusut sehabis orang yang jatuh dari ketinggian menahankan dan merasakan sakitnya jatuh dari ketinggian, tapi ini jauh lebih sakit ketika harus jatuh dari ketinggian. “Kamu yakin putus? Tiga tahun udah loh, padahal kalian tampak cocok. Kenapa bisa?” Reandra bertanya seperti ingin menginterogasi penjahat. Apa aku seperti penjahat? Aku bukan penjahat! Gerutuku dalam hati. Aku hanya tersenyum untuk mewakilkan jawabanku lalu pergi meninggalkan Reandra tanpa berbalik sedikit pun ketika ia memanggilku.

Patah hati itu menyakitkan. Sel otakku sudah terkontaminasi oleh cinta. Ketika terkena virus patah hati secara sadis menghancurkan cinta mendadak semuanya padam. Yang tadinya terprogram dengan baik, sekarang berantakan. Hatiku hampa tanpa cinta. Aku sudah mematikan perasaanku untuk yang lain dan memilih cintanya. Tapi mengapa dia memilih pergi? Di mana cintanya yang dulu? Masihkah kau mencintaiku? Aku ingin dia kembali padaku.

“Jam 11.00 wib kafe dedago aku menunggumu di sana.” ku kirimkan pesan singkat dari ponselku. Tidak ada balasan darinya. Akhirnya aku memutuskan tetap menunggunya di sana. Tepat jam 11.00 wib aku tiba di kafe dedago dan langsung memesan minuman sembari menuggunya. Dua jam menantikan seseorang yang tak kunjung datang. Ini udah minuman yang kedua gelas. Haruskah ku pesan satu gelas untuk menunggunya? Apa mungkin dia udah enggan bertemu denganku? Apa mungkin dia sudah melupakan semua kenangan? Ketika hendak aku memesankan minuman yang ketiga kalinya ada suara seorang pria di belakangku.

“Maaf telah membuatmu menunggu lama..” Kata seorang pria yang ada di belakangku.
Aku melirik ke belakang, ternyata orang yang ku tunggu mau datang juga ke mari. Aku pikir penantianku akan percuma.
“Tidak, duduklah aku juga baru sampai.” Bohongku dalam hati.
“Kita langsung aja ke topik pembicaraan. Sebenarnya apa yang ingin kamu bertemu di sini?” Katanya seakan ingin cepat mengakhiri pertemuan hari ini. Mulutku terasa keluh tapi akhirnya ku paksakan untuk berbicara.

“Reza aku mau turuti kemauanmu. Tapi tolong jangan siksa aku dengan perasaan seperti ini. Aku janji aku tidak akan egois Za. Aku janji akan berubah bukan seperti Vanessa yang dulu.” akhirnya kata-kata ini bisa terucapkan dari mulutku. “Kamu yakin Vanessa? Aku tidak ingin diatur. Kamu yakin bisa berubah?” Jawab Reza.
“Iya Za,” kataku dengan nada yang lirih.
“Baiklah aku mengerti. Aku mau kamu bisa memahamiku.”

Dua tahun berlalu. Ku jalankan kehidupan ini dengan kebohongan pahit. Kebahagiaan yang ku katakan pada mereka jauh dengan hal yang terjadi. Hatiku sakit dan teramat sakit. Biarpun berada di dekatnya kehampaan yang hanya ku rasakan malah semakin mendalam. Tidak terlihat lagi keseriusan di wajahnya untukku. Ku atur pertemuanku dengannya seperti dua tahun yang lalu. Di sini sama saja. Seperti hal yang lalu aku menunggunya. Hanya saja yang berbeda sapaan yang berbeda terdengar.

“Maaf, kamu menungguku lama sayang.” ucapnya. “Tidak, duduklah. Ada yang ingin ku bicarakan kepadamu ini tidak akan lama.” Kataku lalu mempersilakan dia duduk di depanku.
“Apa yang mau kamu katakan Vanessa?” tanya Reza melihatku tidak sabar menunggu dengan apa yang ingin aku katakan.
“Maaf, jika aku harus mengatakan ini. Aku akan pergi ke jakarta untuk melanjutkan pendidikan S2 di sana. Selama ini aku sudah mempersiapkan semuanya. Maaf aku sudah sembunyikan ini darimu.” Sambil merogoh sesuatu yang ada di dalam tasku dan mengeluarkannya dari dalam. Sebuah amplop yang indah bertuliskan namaku dan nama seorang pria yang akan mendampingiku di pelaminan. Aku langsung memberikan surat undangan itu kepadanya.

“Vanessa apa ini? Apa ini sebuah pengkhianatan yang kamu perbuat? Setelah kebohongan yang kamu ciptakan selama bertahun? Katakan Vanessa apa maksud semua ini?” Tanyanya seolah tidak bisa menerima kenyataan apa yang telah ku perbuat. “Aku berpikir selama ini kau tak serius dengan cintaku. Sejak pertemuan dua tahun yang lalu di tempat yang sama. Semua berubah. Perlahan perasaanku hampa meskipun aku bersamamu. Aku bungkam. Bungkamku meyayat hatiku. Aku bisu. Kebisuanku membuatku tak berdaya. Aku tak lagi merasakan cintamu.”

“Perasaanku mengatakan kamu menyia-nyiakanku dua tahun ini. Membiarkanku dengan perasaan seperti ini. Kamu katakan aku harus kuat. Sekuat apa wanita mempertahankan kecemburuannya? Ada batas untuk semua itu. Aku membatasinya. Aku bukan wanita yang tangguh dengan terpaan gelombang air laut. Maafkan aku jika ku kalah dengan hatiku. Aku goyah dengan cintaku. Andai saja jika memang benar arti cinta ada di hatimu untukku seharusnya kamu tidak membiarkan itu semua berlanjut dari dahulu. Aku minta maaf aku seperti ini. Selamat tinggal.” Aku pergi meninggalkan Reza setelah aku mengatakan kebohongan yang ku perbuat tanpa menoleh ke belakang untuk melihatnya terakhir kalinya. Maaf semua ini harus berakhir. Maafkan aku. Aku ingin kamu melupakanku agar tidak sulit jika nanti waktunya datang.

Perkataan itu menyakitkan buat Reza. Tapi tidak membuat Reza menjadi lemah. Dia harus terlihat fair menerima kenyataan. Kehidupan cinta sudah ada yang mengaturnya. Dia pasrah. Meskipun harus melihat kekasihnya menikah dengan yang lain. Hari ini Reza akan menghadiri undangan pernikahan Vanessa. Reza berpikir semoga kekasihnya akan bahagia dengan pria pilihannya. Tapi setiba di sana semua berbanding terbalik. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda pernikahan. Papan bunga tidak ada di sepanjang jalan. Bahkan tak ada janur kuning sebagai tanda adanya pernikahan. Dilihatnya lagi undangan itu. Alamat lokasi pestanya benar. Lalu apa yang salah. Tapi kenapa ada tenda dan bendera merah yang terlihat olehnya. Apa yang terjadi. Apa maksud semua ini? Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Reza. Hanya satu cara yang bisa menjawab semua pertanyaan tersebut. Mencari tahu kebenarannya. Dilihatnya ada seorang pria setengah tua duduk di teras rumahnya Vanessa. Lalu ku beranikan bertanya kepadanya. Dan betapa terkejutnya aku mendengar jawaban dari pria tersebut.

“Permisi Pak, saya boleh bertanya. Apa benar apa pesta pernikahan di sini? Tapi kenapa sepi ya pak?” tanya Reza sambil menunjukkan undangan kepada pria tersebut.
“Maaf Mas di sini tidak ada pernikahan, di sini semua pada berduka. Setelah kemarin anak bungsu dari Ibu surmiah meninggal karena kanker yang diderita selama 3 tahun..” Jawab pria tua itu menjelaskan apa yang terjadi di sini.

“Apa kanker Pak? Maksud Bapak 3 tahun? Bisa Bapak jelaskan kepada saya?” Tanya Reza yang tidak percaya apa yang dikatakan pria tersebut. “Iya.. Keluarganya juga baru tahu seminggu yang lalu Dek. Katanya dia tidak sama sekali memberitahukan siapa pun. Sampai dokter mengatakan keadaannya sudah stadium empat. Tidak bisa tertolongkan dan hanya menunggu ajal menjemputnya. Permisi Dek saya masih ada kerjaan,” Jawab pria itu.
“Terima kasih Pak.” Ucap Reza dengan nada yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa selama ini Vanessa berjuang sendiri melawan kanker yang deritanya.

Dia enggan menceritakan kepada siapa pun. Karena dia takut akan melukai perasaan yang lainnya. Mungkin ini maksud dari perkataannya. Kebohongannya sangat luar biasa. Undangan yang dia berikan ternyata tipuan yang ia ciptakan untuk pergi meninggalkanku. Vanessa sudah merencanakan semua ini. Maafkan aku Vanessa aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Aku ingin kamu bahagia tapi sebaliknya keegoisanku yang membuatmu menyimpan penderitaanmu. Aku sangat menyesal. Aku tidak bisa memaafkan diriku Vanessa. Semoga kamu tenang di sana. Aku berjanji tidak akan mengkhianati ucapan yang pernah terucap oleh mulutku. Aku akan menepati janjiku meskipun kamu berada jauh di sana. Tak akan ku berikan cintaku kepada siapa pun selain dirimu. Kekasihku.

Cerpen Karangan: Ade Julia Sari
Blog: http://adejuliasari31.blogspot.co.id
Facebook: Ade Julia Sari Dan Adek Add Aja 🙂

Cerpen iRIS merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Don’t Go

Oleh:
Seorang perempuan menggulurkan tangan… “Taksi…!!!” Sebuah taksi berhenti tepat di depan selvi. “Pak Ke Bandara ya…!” “Oke neng…” Taksi itu melaju menembus jalanan kota bandung, yang jalannya lumayan ramai.

Biasanya Putih

Oleh:
Udara panas menyelimuti kota siang itu, matahari bersinar sangat terik tanpa penghalang awan di langit, dan angin seakan-akan tak berhembus yang membuat cuaca semakin panas dengan sempurna. Terlihat Deni

Adik

Oleh:
Kenalkan, namaku Naura Citralia Azzahra. Aku biasa dipanggil Azzahra. Aku mempunyai adik tiri yang usianya jauh lebih muda dariku dan aku sangat membencinya. Namanya Lidya Fitriani. Aku biasa memanggilnya

Because I Love You (Part 2)

Oleh:
Aku, adalah cowok yang selalu kau sebut sahabat. Namun, tidak untukku. Bagiku, ku menyebut dirimu “belahan jiwaku”. Cukup aneh bukan? Namun inilah kata hatiku. Aku mencintaimu. Namun, ku tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *