Janji Setia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 3 January 2015

“Melati aku ingin ngomong sesuatu sama kamu” ucap Bima dengan kedua matanya memandangi bening indah mata kekasihnya itu.
“kamu mau ngomong apa sih sayang?” jawab Melati sembari membalas tatapan Bima dengan mesra.
Bima terdiam sejenak mendengar jawaban dari melati. Otaknya berfikir apakah ini waktu yang tepat untuk menyampaikan berita ini. Tangan Bima tiba-tiba menjulur menyentuh tangan Melati, ia mengegam erat tangan Melati seakan tak ingin melepaskannya. Dari mata Bima, Melati dapat melihat ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Bima kepadanya. Tapi Melati tak tau apa yang akan disampakan kekasinya itu, fikiranya belum bisa menerjemahkan sesuatu yang masih gelap ini.

“Apa kamu masih ingat dengan janji kita dulu” ucap Bima.
“Janji yang mana yang kamu maksud sayang…?”.
“Janji setia kita, janji dimana kita akan terus bersama dan tak akan berpisah selamanya walaupun diterpa dan dihempas seribu goda dan hanya tuhan yang mampu memisahkan kita”
“Ingat dong sayang..!, emangnya ada apa..?”.
“Aku… aku akan pergi”.
“Pergi..?, kamu mau pergi kemana”.
“Ayahku dipindah tugaskan ke Jepang dan kelurgaku juga akan pindah ke Jepang. Mungkin setelah pengumuman kelulusan ini kami akan segera berangkat ke sana”.
“Ta-ta-ta-tapi… tapi”
“Aku ngerti apa yang kamu rasakan, aku pun juga ngerasain apa yang kamu rasakan saat ini. tapi mau bagaimana lagi” ucap Bima sembari memeluk tubuh.
Tanpa mereka sadari pipi mereka telah basah dibanjiri oleh air mata. Pelukan mereka sangat erat, seakan itu adalah pelukan terakhir mereka berdua. Mereka berpelukan begitu lama seakan meraka tak ingin untuk saling melepas. Tiba-tiba gemercik kata-kata Bima memecahkan keheningan hati mereka.
“aku hanya ingin kamu berjanji tuk menjaga cinta ini, menjaga cinta kita berdua dan hanya kita berdua dan tak ada yang lain, janji saling setia”.
“Aku berjanji akan menjaga cinta ini, tapi kamu pasti akan kembali kan..?”. ucap Melati
“Aku berjanji pasti akan kembali untukmu dan hanya pada hatimu”.

Tak terasa 6 tahun telah berlalu sejak perpisahan mereka berdua dan 6 tahun pula Bima hanya bisa merindukan bayang Melati, tanpa pernah mereka bertatap muka untuk sekalipun. Walaupun 6 tahun telah berlalu namun gejolak asmara di hati Bima masih berkobar hebat hanya untuk Melati. Tak bisa ia melupakan sedikitpun bayang-bayang Melati, kerena di dalam jiwanya hanya Melati-lah yang terindah dan meski 6 tahun telah berlalu tetap hanya Melati yang ada di hatinya dan tak akan pernah tergantikan. Cinta yang tertanam dalam hati Bima pada Melati tak pernah terusik meskipun diterpa seribu goda tuk selingkung, sering muncul dalam hatinya untuk ingkari janji setia mereka berdua.
Kini kaki-kaki Bima kembali menjamah mesra tanah luas sang ibu pertiwi yang pernah ia tingalkan 6 tahun silam. Dalam hati dan benaknya kini telah meluap rasa cinta dan kerinduannya pada sang kekasinya hatinya Melati seorang. Kini isi fikiran Bima hanya terpaku pada rumah Melati dan tak ada tempat lain yang ingin ia kunjungi, setelah sakembalinya dari Jepang. Hatinya tak sabar lagi untuk kembali menatap senyuman manis indah Melati, tak sabar lagi untuk melihat sinaran wajah Melati, tak sabar lagi untuk kembali mendengar lembut kata-kata Melati, dan tak sabar lagi untuk merasakan kembali ketulusan hati yang abadi. Sejenak khayalan Bima terbang tinggi menembus dunia fatamorgana tuk tengelam termanja-manja oleh rasa di dalam hatinya, yang tak sabar lagi untuk memeluk Melati lagi. Melati, Melati, Melati dan hanya Melati sajalah angan-angan Bima tertuju, tak ada nama lain lagi dalam banaknya. Seakan nama itu telah terukir abadi di dalam hatinya tuk selamanya, terukir dengan indah dan pasti, yang tak akan mungkin terhapus meski dengan air mata sekalipun.

Bima kini sudah tiba di dekat rumah Melati dengan mengendarai taksi, tapi Bima bingung dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat sebuah bangunan cinta berdiri megah di depan rumah Melati dengan dihiasi janur kuning yang melengkung dan suara-suara lagu cinta yang berkumandang dengan lembut.
“Mungkin kakaknya Melati sedang menikah” pikinya dalam hati.

Bima keluar dari mobil taksi yang ia tumpangi, kakinya bersiap menapak berjalan menuju rumah Melati. Tetapi sesampainya ia di depan rumah Melati sendi-sendi kakinya tiba-tiba terasa begitu lemas, tubuhnya terasa ingin terjatuh menghampas aspal hitam pekat. Namun sisa-sisa tenaganya seakan memaksanya untuk tetap berdiri.
“Ini pasti mimpi…!” gumamnya dalam hati.
“Ini pasti tak nyata, pasti kini aku sedang tertidur”.
“Pasti aku sedang bermimpi”.
“Tidak… tidak… tidak mungkin, ini pasti mimpi”.
Dengan kedua bola matanya Bima melihat secara langsung sang kekasinya duduk bersanding di kursi pelaminan bersama lelaki lain yang tak pernah dilihatnya. Seketika air matanya meluncur keluar tak terbendung membasahi pipinya. Hatinya seakan lebur terbawa angin saat melihat hal itu. Jiwanya terkoyak, tercabik-cabik, tersebar ke segala arah kala ia mencoba melihatnya lagi. Kaki-kakinya seakan-akan menggajanya berlari pergi meningalkan rumah Melati. Tapi kaki-kakinya tak dapat ia gerakan bagaikan terpaku ke dalam tanah dan tak bisa ia gerakan sedikitpun. Harapan kini tinggal harapan apa yang ia harapkan tak seperti kenyataan yang terjadi saat ini.

Mata Melati melihat sesosok lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya, sesosok lelaki yang dulu pernah menjadi kekasih yang paling ia cintai, sekarang berdiri terdiam di depan bangunan cinta yang ia bangun. Melati tiba-tiba berdiri, melangkah maju dan berlari menuju ke sesosok lelaki yang berdiri di kejauhan itu, meninggalkan sang suami yang duduk sendiri di kursi pelaminan.

“Bima…!” teriak Melati menghampiri Bima.
“Ngak.. ngakk. kamu ngak mungkin” ucap Bima tak percaya.
“Maafin aku Bim.. aku nggak nyangka kamu akan kembali”.
“Tapi… tapi bagaimana dengan janji kita sayang”. ucap Bima sembari mengenggam tangan Melati.
“Aku kira itu hanya janji–janji manis anak SMA”.
“Tapi… tapi aku masih memegang janji kita dulu”.
“Bila saja ku tahu bahwa kesetiaanmu begitu dalam padaku tak akan aku menginkari janjiku padamu” ucap Melati dengan pipi yang telah dibanjiri air mata.
“Tapi kini kau telah berdua”.
“Maafin aku Bim, maafin aku”

Ini akhir cinta mereka, cinta dan kerinduan Bima yang dalam selama ini harus berbalas dengan luka yang dalam pula. Hanya rasa bersalah yang kini mendera hati Melati dan betapa ia sesali apa yang telah terjadi, kekasih yang paling dicintainya kini harus terluka hati. Kini telah terlarang bagi mereka untuk saling mencinta. Kini semua telah terlarang bagi mereka.

Cerpen Karangan: Gaddang Arief
Facebook: gaddangarief

Cerpen Janji Setia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dirimu

Oleh:
Kau adalah sosok angkuh, dingin dan sejuta ego. Selalu kau ciptakan batas yang membuat orang ragu untuk mendekatimu. Entah terbuat dari apa dan kenapa batas itu ada? Dalam diam,

Liliput (Part 3)

Oleh:
Morning world.. seneng deh, satu persatu kebaikan Lili mulai kelihatan. Usahaku ngerubah dia selama ini rupanya nggak sia-sia. “Senyum-senyum neng? Udah mulai naksir nih sama musuh bebuyutan?” sindir Alvin

Awan Itu Kamu

Oleh:
Hampir setiap pagi aku tak dapat melihat senyuman mentari. Awan hitam selalu sibuk untuk menutupi cahayanya. Membuatku harus menggunakan payung untuk melindungiku dari tusukan air yang berjatuhan dari langit.

Mantanku Tercinta

Oleh:
Namaku Nadia aku duduk di bangku SMP, yah kebetulan kelas 9. Aku punya sahabat namanya Dewi, dan Anisa. Awalnya aku polos gak tau apa apa, bahkan yang namanya cowok

Mutiara Hitam

Oleh:
“tidak nduk. Bapak tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi ke kota”, ujar lelaki setengah tua itu sambil menegguk kopinya. Pak Mardi namanya. “tapi Pak, Sekar ingin sekali memperbaiki perekonomian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *