Kaca Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 27 August 2016

“Fel, salah melulu dari tadi!,” bentak Bram saat Felly salah memetik senar gitarnya untuk kunci G.
“Maaf, Bram gue nggak sengaja,” jawab Felly cemas setelah ia teringkat dari bentakan Bram.
“Ada masalah, Fel?,” tanya Riska yang tengah memperhatikan Felly dengan raut wajah yang bercampur aduk. Antara bingung, cemas, kawatir dan juga takut.
“Cerita kenapa, Fel? Daripada kayak begini. Jadi masalah juga kali buat kita semua. Lo nya jadi nggak konsen,” sahut Billy dengan memetik senar bazznya perlahan.
Felly menatap rekan-rekan bandnnya satu-persatu. Menatap mereka dengan sendu. Mengeryitkan dahinya. Seakan, memebri tahu mereka bahwa hatinya tengah perih merasakan kehidupannya.

Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis dengan tallent vokal dan juga kemampuannya untuk bermain gitar. Disertai wajah ayu, berfasilitas mata bersudut lancip, bulu mata yang lentik, alis yang samar, hidung mancung dengan standart, serta bibir yang bergaris tipis antara atas dan bawah. Masalah tinggi, ideal dengan bentuk tubuhnya.

“Bram, Bil, menurut kalian, gue cantik nggak?” tanya Felly konyol kepada rekan temannya.
Bram dan Billy dan bertatapan. Mengedikkan bahunya. Menggeleng menanda tak mengerti.
“Tumben ngurusin masalah kecantikan, Fel? Abis kena setan mana, lo?,” tanya Riska dengan mengangkat salah satu alisnya dan tetap bertumpu pada pianonya.
“Kalau menurut gue, cantiknya enggak. Imut yang iya. Kenapa? Karena giginya taring lo, dan lesung pipi lu, serta bibir lu yang mungil tipis itu,” jawab Billy.
“Kalau gue sih, yang menarik mata lu Fel. Lirikannya, seksi-seksi gimana gitu? Emangnya ada apaan sih sama lo, tiba-tiba nanya begituan. Perasaan, lo paling ogah sama yang begituan!,” jawab Bram dengan melipat kedua tangannya di depan dada setelah meletakkan stik drumnya.
“Arka selingkuh! Sama temen sekelasnya! Gue kurang apa sih sama dia? Kurang cantik? Gaul? Kurang sispres (Siswa Berprestasi)? Maunya dia apaan sih?”
“Mungkin karena tomboy!,” jawab Riska.
“Kalau masalah begituan, udah basi. Tahu gitu ngapain nembak dan mau ngejalanin hubungan selama ini?!”
“Mungkin, karena lo kurang perhatian sama dia, atau mungkin lo sibuk dengan dunia dan urusan lo sendiri. Padahal, di saat itu, Arka butuh sentuhan lo! Bisa juga, lu nya terlalu mengekang dia. Over Ptotect gitu. Padahal, lo sendirinya juga nggak begitu. Mungkin aja karena faktor begituan!,” sahut Bram manggut-manggut.
Felly terdiam setelah mendengar perkataan teman-temannya. Memandang gitarnya beberapa detik. Lalu, melangkahkan kakinya ke luar studio. Berjalan menuju atap sekolah. Menghirup angin yang menerpa dirinya. Dalam kesunyian senja ia berdiri. Menatap keramaian kota dengan yang penuh dengan lampu pijar. Menengadah pada senja. Berkata dalam bisu. Berteriak dalam tangis, dan menyesal dalam sendu.

Mengingat semua perkataan rekannya, Felly merasa mereka benar. Selama ini, Felly selalu mengabaikan Arka. Padahal, di waktu itu Arka membutuhkan Felly. Saat Arka mengucapkan kata manja kepadanya, Felly selal menampisnya dengan kata olokan. Saat Arka menghubungi Felly dan menyatakan rindunya, Felly sering mengabaikannya. Menganggap, hal itu adalah kata gombal semata. Padahal sebaliknya.

Tangis yang begitu berderu bersama angin, membayangkan wanita itu. Yah… wanita yang bersama dengan Arka sekarang. Perbandingan fisik dan kemampuan mereka memang jauh berbeda. Sangat jauh. Akan tetapi, saat melihat mata wanita itu, Felly merasakan rasa kasih sayang seorang ibu di dalam sana. Teduh, damai dan penuh kehangatan. Jauh dengan dirinya yang hanya memiliki bentuk mata yang indah, dan lirikan mata yang seksi.

Felly terus berfikir tentang Arka. Ia merasa sangat bersalah saat mengingat perbuatannya terhadap Arka. Menyia-nyiakan cinta dan kasih sayang arka yang begitu tulus. Mengingat namanya dan juga suaranya, Felly bertekad untuk pergi. Meski, hal itu menyiksa dan juga menyakitinya. Ia sadar, cinta yang sesungguhnya tidak memandang berdasarkan fisik, kemampuan atapun hal yang lainnya. Melainkan, memandang kelemahannya. Mengorbankan kebahagiaan untuk orang tercinta, adalah bukti dari cinta ketika sedang mencintai. Dengan begitu, Felly bertekad pergi dan memberikan kebahagiaan kepada mereka. Dengan, menyerahkan hubungan cinta kepada wanita itu dan dia. Yah… Arkana Aditya. Laki-laki telah menggores seribu kisah dan pelajaran hidup untuk Felly.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) atau E-mail pratiwinurzamzani@yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085 – 852 – 896 – 207. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM serta berbagai buku antologi lainnya.

Cerpen Kaca Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semuanya Berwujud Kamu

Oleh:
Hujan, Di bawah kanopi halte bus di pinggiran taman kota denggung yogyakarta.. Tak ada yang spesial sebenarnya, Jogja masih sama seperti beberapa bulan yang lalu, lampu warni-warni di pinggiran

Buku Diary Yona (Part 2)

Oleh:
Sudah dua bulan ini Deka dengan Yona semakin akrab. Mereka sering melakukan kegiatan bersama-sama. Apalagi ujian nasional sudah semakin dekat membuat mereka sering melakukan kegiatan belajar bersama. Pagi ini

Kau Hancurkan Aku Berulang Kali

Oleh:
Ini salah, memang salah dari awal. Kenapa dulu aku izinkan kamu masuk ke dalam hidupku lagi. Padahal aku telah bersamanya, bersama dengan orang yang telah aku pilih. Tapi kamu,

Semoga Ibu Memaafkanku

Oleh:
Saat malam benar-benar dingin karena tertiupnya angin malam yang mengenai pepohonan dan rumah-rumah semuanya bergerak senada dengan angin yang berhembus itu, orang-orang berlindung di balik selimut mereka yang hangat,

Ayahku (bukan) Ustaz Badut

Oleh:
“Ayah lucu kayak badut!” ujar adikku yang terkecil. Sakit hatiku mendengar kalimat itu meluncur deras dari bibir mungil adik bungsuku yang belum mengerti apa-apa. “Bagaimana kalau kita panggil saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kaca Cinta”

  1. Algi Azhari says:

    Mantep Pratiwi, udah ahli nih kayanya di bidang literatur, kata2nya pas dan kosakatanya juga bagus,,,semoga semakin rajin bikin karya literatur (cerpen, novel, puisi dll), dan mantap sekali nih, udah bikin puluhan cerpen!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *