Kamu, Waktu Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 August 2021

Kejadian itu sudah 10 tahun berlalu. Namun aku masih menyimpannya dengan jelas di dalam memori ingatanku. Namaku Irene, Airin, atau apalah itu. Pada saat itu, ketika aku masih duduk di bangku SMA, tepatnya kelas 2. Seseorang selalu menungguku sepulang sekolah di depan gerbang, dengan gugupnya dia memberikan aku surat setiap harinya. Namun sayangnya surat-surat itu tidak pernah mau kubaca. Aku hanya menerimanya saja, namun setelah itu hanya tertumpuk di laci meja belajarku. Bahkan tak jarang langsung kubuang.

Hingga tiba saatnya aku merasa kesal. Bukan hanya setiap hari memberiku surat, dia juga pernah ngasih cokelat, bahkan seikat bunga. Aku tidak suka, seketika anak-anak yang lain mulai menggodaku. Mengatakan bahwa pria itu adalah kekasihku. Mulai hari itu, aku membencinya. Tak jarang kumaki-maki dia di depan umum. Ketika aku bersama Wati sedang jajan bakso di kantin, lagi enak-enaknya makan, dia datang membawa sebatang cokelat lagi. Kusuruh dia pergi, tapi dia diam saja. Dia tidak mau pergi jika aku belum menerima cokelat itu. Aku muak! Kurebut cokelat itu dari tangannya, ku buang ke lantai, lalu kuinjak-injak sampai cokelat itu hancur dan kotor karena sepatuku.

“Pergi! Aku gak mau lihat wajah kamu lagi!” kata-kata itu terlontar dari mulutku dengan lantang. Seketika semua orang yang ada di sana menatap ke arahku. Aku benar-benar malu, tapi aku emosi. Kulihat pria itu menundukkan kepalanya, sebelum amarahku semakin jadi, dia bergegas pergi dengan tubuhnya yang terlihat lemas.

Wati bilang, aku sudah keterlaluan, aku tidak bisa menghargai perasaannya. Menurutku, sih, itu bagus. Biar dia tidak lagi suka kepadaku. Saat itu, Wati sepertinya tidak mengerti, betapa aku merasa terganggu karena kehadirannya. Sejujurnya, aku juga sama sekali tidak tertarik oleh pria itu, ditambah lagi sikapnya yang begitu agresif. Kulihat, dia hanyalah anak yang berpenampilan biasa-biasa, berpakaian terlalu rapi menurutku itu cupu, culun dan kolot. Meski dia tidak menggunakan kacamata tebal seperti kutu buku lainnya, tapi aku yakin, dia orang yang sangat rajin pergi ke perpustakaan.

Kalian harus tahu, tipe idealku itu bukan seperti dia. Aku suka pria yang jago olahraga, dan memiliki posisi yang cukup baik di sekolah. Seperti Barga. Ya, aku memang sudah menyukai Barga cukup lama. Harusnya pria itu sadar, jauh sekali penampilan dia dengan Barga. Dasar tidak tahu diri.

Semenjak kejadian di kantin beberapa waktu yang lalu, aku jadi tidak pernah melihatnya lagi. Bahkan kehadirannya tidak bisa aku rasakan di tempat yang sama. Entah dia ada dimana, saat itu aku jadi sadar, untuk apa aku mencarinya? Toh, harusnya aku senang, tidak ada lagi yang menggangguku.

Namun entah apa yang aku rasakan, setiap pulang sekolah, biasanya ada yang menungguku tepat di depan gerbang hanya untuk memberikan secarik kertas yang berisikan untaian-untaian kata yang tidak pernah kubaca sama sekali. Rasanya ada yang kurang. Rasanya, aku mulai berpikir bahwa aku benar-benar keterlaluan waktu itu. Pasti pria itu marah padaku, dia membenciku, dan berpikir bahwa aku adalah wanita yang kasar, seperti tidak pernah diajari sopan santun oleh kedua orangtuaku. Tapi sungguh, aku tidak seperti itu. Dan mulai besok, sepertinya aku harus meminta maaf pada pria itu. Kuakui, ini semua salahku.

Keesokan harinya, pada tanggal 13 Oktober 2009 aku datang menemuinya di kelas 2 Ipa B. Kulihat tidak ada di sana, bahkan tasnya saja tidak ada di bangku tempat dia duduk. Kutanya Ihsan, yang kutahu dia yang paling dekat dengan pria itu.

“Ihsan, ya?” tanyaku pada saat itu memastikan.
“Iya, ada apa, ya?” katanya.
“Lihat Haris gak?” kuharap namanya benar, karena selama ini, aku sama sekali tidak tahu nama pria itu.
Kulihat Ihsan kebingungan, kemudian dia sepertinya mengerti. “Oh, Oris, ya?” ah, aku tidak tahu kalau namanya itu Oris.
“Ada apa?” tanya Ihsan lagi. “Oh, jangan-jangan kamu Irene, ya?” Ihsan tahu namaku.
“I-iya,” aku jadi gugup.
“Oris sudah lama gak masuk sekolah. Sudah sering dia begitu.”
Aku terkejut bukan main. Jadi selama ini dia tidak sekolah? Pantas saja aku tidak pernah melihatnya.

“Ke-kenapa sering gak masuk sekolah?” aku takut itu karena dia marah kepadaku.
“Dia sakit.”
“Sakit apa?”
“Kurang tahu,” Ihsan menjawab singkat, kemudian dia pergi meninggalkanku. Jantungku berdesit, entah apa yang aku khawatirkan, padahal bisa saja Oris hanya sakit batuk pilek.

Aku tidak pernah tahu, bahwa sorenya sepulang sekolah ketika aku sampai di rumah, Wati tiba-tiba meneleponku. Terdengar suara tangis di sambungan telepon, aku bertanya pada Wati, ada apa? Wati cukup diam, dan menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah itu, Wati bilang jika Oris sudah tiada. Dia meninggal dunia. Sekitar pukul 1 siang, karena penyakit yang dideritanya. Kanker darah atau leukimia yang sudah stadium akhir. Dimana sel kankernya sudah menyebar ke seluruh tubuh Oris.

Pada saat itu, aku tidak tahu harus bagaimana, yang kulakukan hanyalah menangis larut dalam perasaan bersalah yang teramat dalam. Mendengar kabar tersebut, layaknya tersambar petir di siang bolong. Lututku lemas, aku merasa hancur, aku seakan membenci diriku sendiri. Dalam hati, kuucapkan beribu-ribu maaf untuk Oris.

Setelah pulang dari pemakaman, tempat dimana peristirahatan terakhir Oris, aku bergegas mengurung diri di dalam kamar. Masih dalam kesedihan, kubuka laci meja belajarku yang penuh dengan surat-surat pemberian Oris waktu itu. Kuambil salah satu surat itu yang berwarna biru, kulihat bait-bait tulisan tangan yang terlihat begitu rapi tersusun membentuk untaian-untaian kata yang mampu membuatku semakin terisak.

Untuk Irene Pradipta
Kamu lucu. Mari kita berkenalan. Tapi, aku sudah tahu namamu. Namaku Oris. Oris saja, tidak pakai kepanjangan. Biar apa? Biar irit.
Jika sudah berkenalan, bolehkah kita berkencan? Kenapa ngajaknya lewat surat? Karena, aku tidak berani.
Aku suka padamu. Jadilah wanitaku, di sisa-sisa akhir hidupku. Mau?

Dan kalian harus tahu, setelah aku membaca surat itu, aku jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta pada pria biasa itu, pada pria yang selalu menungguku sepulang sekolah di depan gerbang hanya untuk memberiku surat, pada pria yang pernah memberiku cokelat dan seikat bunga, pada pria yang sudah ku maki-maki di depan umum, pada pria yang kini sudah tiada.

Tiada penyesalan seumur hidupku jauh sebelum aku mengenalnya. Akupun memutuskan untuk menikah pada tahun 2017 dengan pria yang usianya lebih tua 5 tahun dariku, dan kini aku sudah dikarunia seorang putri.

Terimakasih, Oris. Kamu sudah mengajarkanku bagaimana aku harus mencintai suamiku setulus hati, aku akan selalu menghargai apa-apa yang telah dia beri untukku. Maafkan aku, Oris.

END

Cerpen Karangan: Dinda Cahya Rizkita
Blog / Facebook: Dinda Cahya Rizkita

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 19 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Kamu, Waktu Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Buta, Dia Tiada (Part 1)

Oleh:
Pagi ini cuacanya mendung. Mentari saja enggan menampakkan wajahnya. Tubuhku masih terbaring di kasur kamarku karena suasananya cocok sekali untuk tidur, hehe. Kelopak mataku tidak mau melek. Aku kecapekan

Perjalanan Pertama, Sang Dokter (Part 1)

Oleh:
4 perjalanan kisah cinta dari 4 orang yang sama sekali tidak mengenal satu sama lain, bersamaan dengan detik-detik terakhir dengan nyawa, bagai telur di pinggir curamnya jurang, taruhannya. 4

Putri Buta dan Pangeran Lemah

Oleh:
Di salah satu rumah di kota Jakarta, terdapat seorang putri cantik yang selalu tinggal dalam istananya yang megah. Di dalam istana itu banyak sekali perabotan yang mewah dan mahal,

Setia (Part 1)

Oleh:
Deras hujan yang turun Mengingatkanku pada dirimu Aku masih disini untuk setia Selang waktu berganti Aku tak tahu engkau dimana Tapi aku mencoba untuk setia Sesaat malam datang Menjemput

Janji Sehidup Semati

Oleh:
“yang, aku kangen sama kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Apa kamu ingat 3 bulan yang lalu, tepatnya saat hari ulang tahun ku yang ke 16? Kita telah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *