Kangen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 19 April 2016

Dalam gelapnya malam, dalam kesendirian yang akhirnya membuat Aldo larut dalam kesedihan yang mendalam. Hembusan angin malam menyeruak masuk ke dalam tubuhnya. Hidupnya kini terasa hampa dan sepi. Senyum yang terukir di bibirnya, kini tak nampak lagi. Kenangan indah yang pernah terukir bersama sang pacar selalu terbayang dalam pikirannya. “Oh Tuhan. Aku belum siap hidup tanpanya, tanpa Tyas!” teriak Aldo dalam hati.

Tyas pacar yang sangat dicintai Aldo, yang telah pergi lebih dulu meninggalkannya untuk selamanya. Kenyataan yang begitu pahit dalam hidup Aldo. Tidak mudah bagi Aldo untuk bisa melupakannya dan bisa bangkit kembali dalam keterpurukan ini. Kembali membuka hatinya untuk menerima cinta kembali dalam hidupnya. Mungkin ini perlu waktu dan proses yang lama. Ya, Aldo perlu waktu untuk memulihkan semuanya kembali. Perlu waktu untuk bisa bangkit kembali dari keterpurukan yang berlarut ini. Kenangan-kenangan yang pernah mereka lalui kini terekam kembali di memori Aldo. Di saat pertama kali bertemu. Aldo mulai menyusuri lorong waktu, mengingat kembali kenangan kala itu.

“Tolong… tolong… copet,” teriak wanita dari arah parkiran.
“Hei! kurang ajar tuh orang!” Aldo yang tak sengaja melihat kejadian itu langsung berlari menghajar habis-habisan sampai pencuri itu babak belur. Pencuri tersebut langsung berlari kencang. Sedangkan wanita itu hanya bersandar di samping mobilnya, dia ketakutan. Dan sekarang sudah ada yang menolongnya.
“Makasih ya, Mas,” ujar wanita itu, masih berdiri kaku.
“Iya sama-sama, nih tasnya,” ujar Aldo sembari memberikan tas wanita yang hampir dicuri oleh pencuri tadi.
“I-iya,” Ujar wanita itu. Masih kaku.
“Panggil saya Aldo,” Aldo mengulurkan tangannya.
“Emm, saya Tyas,” Tyas menyambut uluran tangan Aldo. Dia tersenyum.

Pertemuan mereka waktu itu memang sangat berkesan. Aldo yang tak sengaja bertemu dengan Tyas dengan menolongnya dari pencuri yang berusaha mencuri tas miliknya. Mulai saat itu mereka berkenalan dan kisah cinta mereka baru dimulai. Aldo sangat merindukannya. Sangat. Baginya Tyas terlalu cepat pergi meninggalkannya. Selamanya. Aldo kemudian menatap foto Tyas yang sengaja dia simpan di dompetnya. Foto waktu mereka sedang makan setelah selesai menonton di bioskop. Aldo teringat kembali ketika mereka tak sengaja bertemu di bioskop di salah satu Mall. Kebetulan mereka sama-sama ingin menonton film yang baru dirilis tahun itu.

“Eh, kamu.. Aldo kan? Yang waktu itu nolongin aku?” ujar Tyas memastikan orang yang bertemu dengannya ini adalah orang yang pernah menolongnya.
“Iya, kamu Tyas kan? Masih ingat aja sama aku?” Aldo tertawa kecil.
“Hehe iya ingat lah,” Tyas ikut tertawa.
“Yuk masuk! Udah mau mulai tuh filmya,” ajak Aldo. Dia dan Tyas segera masuk ke dalam bioskop. Tyas duduk di samping Aldo. Kebetulan mereka sama-sama menyukai film horror, namanya juga film horror pasti ada adegan yang membuat penonton kaget dan terkejut. Tak heran ketika pas di adegan itu Tyas kaget dan langsung memeluk lengan Aldo yang berada di sampingnya. Aldo hanya tersenyum.

“Katanya suka film horror tapi kok takut?” Aldo menggoda Tyas.
Tyas langsung melepaskan pelukannya. “Eh, maaf. Aku cuma kaget kok!” ujar Tyas sedikit mengelak
“Kalau takut juga gak apa-apa sih,”
“Eh dasar! enakkan kamu!” Tyas langsung mencubit lengan Aldo.
“Aw, sakit tahu,”
“Biarin,”

Mereka berbicara sedikit berbisik, jadi tidak akan mengganggu penonton lain. Setelah itu mereka hanya terdiam dan fokus pada filmnya. Pertemuan mereka yang kedua itu juga sangat kebetulan. Setelah mereka menonton, mereka langsung mencari tempat untuk mengganjal perut mereka. Obrolan dari keduanya semakin akrab dan hangat. Sebelum berpisah lagi, mereka sempat bertukaran nomor hp masing-masing.

Malam ini adalah malam pertama mereka jalan bersama ketika mereka sudah resmi berpacaran. Setelah melalui beberapa tahap, akhirnya mereka memutuskan untuk resmi berpacaran. Aldo mengajak Tyas ke sebuah tempat. Sebuah danau.
“Ini udah nyampe sayang, awas hati-hati! jangan buka dulu ya!” Aldo menuntun Tyas menuju ke sebuah danau, dia sengaja menutup mata Tyas untuk kejutan.
“Ini lagi di mana sih?” Tyas hanya mengkuti perintah dari Aldo.
“Hehe, masa iya aku jawab, gak surprise lagi dong. Nih udah nyampe sayang,” Aldo hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Tyas. “Hitungan ketiga matanya dibuka ya! 1..,2..,3!”

Tyas langsung membuka matanya, rasa penasarannya kini terbayarkan dengan pemandangan yang begitu indah di hadapannya. Sebuah danau, dengan pantulan sinar dari sang rembulan. Aldo kemudian mengajak Tyas duduk di pinggiran danau tersebut. “Makasih yah sayang,” Tyas tersenyum simpul, kemudian memeluk Aldo yang duduk di sampingnya.
“Sama-sama sayangku,” Aldo hanya mengelus kepala Tyas.

Malam ini terasa sangat romantis, hening, tenang. Hati keduanya terasa damai. Peristiwa ini langsung tersimpan rapi di memori Aldo. Bahkan mereka tak lagi menghiraukan tiupan angin yang menerpa mereka. Mereka telah siap menghadapi segala tantangan dan hambatan yang akan menimpa hubungan keduanya.
“Sayang,” ujar Aldo, masih dengan mengelus lembut kepala Tyas. Kemudian Aldo memegang kedua tangan Tyas. Saat ini mereka sedang berhadapan.
“Iya,” ujar Tyas lembut.

“Aku milikmu..kamu milikku, tak akan ada yang pisahkan kita, ini cinta kita dan aku berjanji tidak akan meninggalkanmu,” Aldo berhenti sejenak. Dia kemudian mengecup lembut kedua tangan Tyas. “I love you Tyas. Aku sayang banget sama kamu dan cinta banget,” Ujar Aldo mantap. Tanpa disadari air matanya menetes, air mata yang begitu tulus. Tyas pun sangat terharu dengan kata-kata pacarnya, Aldo. Bahkan tangisnya lebih daripada Aldo. “Iya I love you too sayang, aku juga sayang banget sama kamu,” Seketika mereka berpelukan kembali. Mereka menangis terharu dan bahagia.

“Woy, bro! ngelamun aja kerjaannya,” seseorang yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Aldo.
“Eh, bikin gue kaget aja lo!”
“Makan gih! dari tadi dah siap makanannya tuh,”
“Sip. Nanti gua nyusul kok ke dalam,”
“Bener ya? Entar makanannya dingin loh, gak enak lagi buat dimakan,”
“Iya iya, cerewet banget lo, kayak cewek aja,”

Seketika mereka hanya tertawa. Kemudian terdiam kembali, Rio kembali masuk ke dalam rumah, dia melanjutkan tugas skripsinya. Rio sahabat Aldo. Aldo kini tinggal bersama Rio di kos-kosan sederhana, lumayan lah kos-kosannya. Setelah kedua orangtua Aldo resmi bercerai, dia pergi dari rumahnya dan tinggal bersama sahabatnya ini. Bicara soal orangtuanya yang bercerai, Aldo teringat akan satu kejadian, yang membuat dia harus berpisah dengan Tyas. Kejadian yang begitu memilukan buatnya.

Malam ini Aldo memang sangat stres. Mengingat kedua orangtuanya yang sudah bercerai, dia begitu terlihat frustasi. Hidupnya seakan hampa, dia belum siap menerima ini. Dia sengaja lebih memilih untuk pergi ke suatu disk*tik, untuk melampiaskan stresnya ini. Dia kini tak terkendali, bahkan sudah setengah sadar. Dia tidak peduli lagi dengan yang di sekitarnya, wanita-wanita yang bekerja di diskotik ini mulai menggodanya, dia bahkan sama sekali tidak peduli. Dan dia belum sadar, bahwa ada yang melihatnya dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan Tyas. Pacarnya. Ketika Aldo hendak pergi ke toilet, dia melihat Tyas di sana. Tyas langsung berlari sembari menangis. Aldo segera mengejarnya, walaupun masih dalam keadaan setengah sadar.

Aldo berhasil meraih tangan Tyas. “Ini bukan yang seperti kamu lihat!”
“Cukup!” ujar Tyas membantah. Dia menepis tangan Aldo, dan langsung berlari kembali. Dia hendak menyeberangi jalan tapi… Ada mobil yang sedang melaju kencang. Dan, BRUK!! Seketika pandangan Tyas terasa gelap. Aldo yang melihat hal itu langsung berlari menuju Tyas yang telah tertabrak mobil. Darahnya begitu banyak bercucuran. “Arrgghhh!!” Aldo berteriak histeris. Orang-orang berdatangan menghampiri kejadian kecelakaan itu. Tak lama ambulans datang. Entah siapa yang memanggil ambulans. Aldo tak peduli lagi. Dia ikut masuk ke dalam mobil ambulans.

Tyas yang masih setengah sadar, “Aldo…,” suaranya serak.
“Sayang maafin aku, itu semua karena aku lagi stres karena orangtuaku bercerai. Please maafkan aku. Aku gak mungkin berbuat itu sama kamu,” jelas Aldo.
“I-iya gak apa-apa. A-aku udah maafin kamu kok,” air mata Tyas langsung menetes.
“Jangan tinggalin aku, ya,”
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Tyas langsung dibawa ke ruang UGD, Aldo hendak ikut masuk tapi suster tidak mengizinkan. Aldo kini tambah stres dan frustasi. Setelah beberapa jam dokter kemudian ke luar.
“Dok, bagaimana keadaan pacar saya Dok?” Aldo bertanya tak sabar, wajahnya kelihatan begitu kacau.
“Maaf, pacar Anda tidak dapat tertolong. Dia kehilangan banyak darah. Sekali lagi saya minta maaf,” jelas Dokter tersebut yang kemudian pergi berlalu.
Deg!!! Lengkap sudah penderitaan Aldo.

“Woy! Makan gih! Dari tadi gua nungguin, malah ngelamun kembali,” lagi-lagi Rio membuyarkan lamunan Aldo. “Gue tahu lo lagi sedih, tapi jangan begini juga. Ikhlasin aja semuanya, masih ada masa depan nungguin lo!” lanjut Rio yang kemudian duduk di sampingnya.
“Gua cuma kangen aja bro,”
“Ya udah masuk gih, udah malem banget!” ajak Rio lagi.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah. Aldo masuk, dan meninggalkan sepenggal kenangan bersama Tyas di luar rumah, yang kemudian terbawa angin hingga ke angkasa. Dalam hatinya berkata, “Aku kangen kamu. Kangen banget. Kangen, kangen, kangen!”

The End

Cerpen Karangan: Dandriyanto Gani
Facebook: Dandri Gani
Dandriyanto Gani, lahir di Marisa, Gorontalo, 7 November 1998. Anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini duduk di bangku SMA kelas XII dengan jurusan MIA. Suka membaca novel, cerpen, dan puisi.

Cerpen Kangen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Yang Ku Sayang

Oleh:
Waktu pertama kali aku kenal dia waktu aku baru menjejakan kaki di smp 5.. Waktu itu aku tak tau mengapa aku sebenci itu pada seorang lelaki yang bernama avan

Zafran

Oleh:
“tagihan listrik, tagihan kartu kredit, surat penerbit, surat dari papa, undangan reunian, brosur kosmetik, brosur ayam goreng” semua itu surat yang kuterima hari ini dari pak pos. Aku menghela

Kisah Cinta Remaja

Oleh:
Pada suatu hari seorang pria bernama Tio sedang berjalan di halaman sekolahnya, saat itu ia melihat sesosok cewek yang menurutnya cantik sebut saja namanya sinta. Tio terpana melihat kecantikan

Aku Sayang Kamu Sandy

Oleh:
Tak lama lagi aku akan melangsungkan pertunangan bersama Sandy, aku sangat menyayangi Sandy memang sudah lama kami berpacaran, sekitar hampir empat tahun lamanya, tapi sebulan sebelum pertunangan itu mulai

Rintihan Senja

Oleh:
Hujan yang turun membasahi bumi tak mampu menyirami hati ku, sejenak aku berfikir tentang rasa sakit dimana kekasihku pergi dan tak pernah melihat kembali pada kekasih yang dulu dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *