Karma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 15 June 2013

“Tett… tett…”

“Siapa Rai? Kok nggak di angkat?” Tanya Ray padaku mengomentari handphoneku yang berdering.

“Oh, ini Mama Ray, tunggu ya aku angkat dulu.” Aku sedikit berbohong padanya dan sedikit berjalan menjauhinya untuk mengangkat panggilan.

“Anton ada apa?” Tanyaku sedikit berbisik pada Anton, pacarku. Sebenarnya Anton adalah pacar keduaku, atau bisa disebut selingkuhanku. Tentu saja, Raylah pacarku. Sudah dua tahun aku bersamanya. Namun, sekarang aku merasa bosan dengannya. Maka dari itu, aku berselingkuh saja. Lagi pula dia tak akan tahu. Buktinya, sudah lima bulan aku menjalani hubungan ini, dia tak tahu.

“Kamu lagi sama si Ray itu ya?” Seru Anton menjawab pertanyaanku.

“Iya, iya. Sekarang aku ke sana ya. Tutup dulu teleponnya. Entar Ray tahu.”

“Ya udah.” Jawabnya menutupi telepon. Akupun kembali mendekat ke arah Ray. Dia tampak tersenyum tulus padaku.

“Mama bilang apa Rai? Kamu udah baikan sama Mama?” Tanyanya padaku. Memang, kemarin aku sedikit ada masalah dengan Mamaku. Biasalah, soal aku yang nakal. Akupun terduduk di sampingnya.

“Iyalah. Masa nggak? Eh Aku mesti pulang dulu Ray, nggak papa ya?”

“Kamu mau pulang ya?” Tanyanya, aku hanya mengangguk pelan. Wajah Ray tampak sedikit resah.

“Kenapa? Nggak boleh ya? Padahal tadi Mama nyuruh jagain rumah dulu bentar. Katanya dia mau pergi. Mbok Naninya lagi ke pasar.” Mohonku pada Ray. Akhirnya, Raypun menyuruhku untuk pulang. Tapi, sepertinya dia sedikit berat hati.

“Ya sudah, kamu pulang aja. Aku cuma khawatir terjadi sesuatu sama kamu.” Desahnya dengan wajah sedikit murung. Entah mengapa dia tak seperti biasanya, jika aku meminta izin pergi, dia selalu mengiyakan biasanya. Tapi yang kali ini, seperti terpaksa.

“Kamu nggak usah khawatir. Nggak bakalan terjadi apa-apa kok. Itu cuma karena kamu terlalu sayang aja sama aku, hahah.” Candaku padanya. Kini, dia terlihat tersenyum.

“Ya udah, aku pergi dulu ya sayang, bye.” Ucapku berpamitan padanya. Diapun melambaikan tangannya padaku walau ada raut gelisah di matanya. Aku hanya tersenyum dan segera memasuki mobilku. Setelah itu, segera ku tancap gas menuju cafe di mana aku dan Anton janjian. Memang, kami sering datang ke cafe ini. Bahkan, sebelum aku bertemu Raypun, aku ke cafe itu terlebih dahulu. Waktuku memang ku habiskan dengan Anton dari pada dengan Ray. Itu karena, aku sudah jenuh dengan Ray. Dua tahun bersamanya itu membuatku sangat bosan memandangnya. Jika aku sedang pergi dengan Anton, aku hanya berbohong padanya. Alasannya sih banyak, ngerjain tugas kuliah kek, lagi beresin rumah, atau ada acara keluarga, pokoknya banyak yang bisa ku jadikan alasan. Ray tak pernah marah akan hal itu. Setiap kali aku bertemu dengannya, dia selalu menyambutku hangat. Dulu, sambutan itu berharga sekali untukku. Tapi, sekarang biasa saja. Lebih berharga sambutan dari Anton. Aku memang lebih mencintainya, entah dia telah memberiku apa. Yang jelas, dia sudah bisa menaklukan hatiku yang dulunya hanya untuk Ray saja. Sekarang, apa yang Anton katakan selalu aku turuti.

Kehidupanku memang seperti ini. Hari-hariku aku habiskan untuk menyenangkan diri sendiri saja. Aku jarang berada di rumah jika siang hari. Orang tuaku juga tak terlalu mencemaskanku. Mereka memang mengaburkanku. Mereka lebih sayang pada Riana adikku. Dari pada sayang padaku. Jadi, beginilah hidupku. Hanya sebatas kuliah, main, makan, tidur. Apalagi?

Akupun telah sampai di tempat yang aku tuju. Cafe dekat sungai. Segera ku parkirkan mobilku di sana. Seketika ku masuk, seseorang yang aku cari sudah terduduk menungguku. Akupun tersenyum dan segera menghampirinya.

“Anton,” Panggilku padanya. Dia hanya tetap memandang meja.

“Anton kamu marah?” Tanyaku polos. Kini, dia memalingkan wajahnya padaku.

“Kamu marah? Ya, aku marah. Sudah beberapa kali aku bilang, jangan datangi si Ray itu! Kalo kamu nggak mau mutusin dia, jauhin dia!” Anton membentakku. Aku hanya terdiam menunduk. Memang, dia tak terlalu keras berbicara. Tentu saja dia malu.

“Sekarang, kamu pilih! Putusin dia, atau putusin aku?!” Tanyanya padaku. ‘Apa? Dia bilang pilih, bagaimana nih?’ Batinku. Aku benar-benar tak bisa memilih yang mana. Aku memang sayang padanya. Tapi, akupun sayang pada Ray.

“Tuh, kamu nggak bisa jawabkan? Udahku duga. Kamu tuh lebih sayang sama dia dari pada sama aku. Ya, udah never mind. Kita putus aja!” Dia berucap sambil berjalan keluar. Aku pun segera mengejarnya yang tengah menaiki motornya.

“Tunggu Anton!” Selaku seketika dia menyalakan mesin motornya. Diapun segera turun dan membuka helm.

“Apa lagi?” Tanyanya sedikit cuek padaku. Aku hanya menunduk.

“Aku sayang sama kamu.” Lirihku padanya. Dia hanya memutarkan bola matanya.

“Kalo kamu sayang sama aku, ya putusin dia!” Gumamnya sedikit nyaring. Aku hanya menelan ludah, memikirkan apa yang harus aku lakukan.

“Ya sudah, aku akan memutuskannya sekarang.” Akupun segera masuk ke dalam mobilku. Arghh. Rasanya bosan hidup aku. Masalah saja. Kemarin, masalah antara kedua orang tuaku. Sekarang, pacar. Arggh. Sudahlah.
Akupun kembali tancap gas menuju Ray. Aku benar-benar frustasi akan semua ini. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Memang ngebut apabila bukan di jalan tol seperti ini. Itu karena, aku benar-benar stres.
Tetap ku lajukan mobilku dengan kecepatan yang sama. Terlihat, seorang pria bermotor hendak menyusulku dari belakang. Enak saja, akan ku lajukan lagi kecepatanku. Akupun semakin melajukan kecepatanku. Aku hanya terfokus pada pria tadi yang akan menyusulku. Sekarang, tampaknya dia sudah tertinggal jauh. ‘Aku bilang apa?! Jangan macam-macam sama Raina!’ Batinku bahagia. Sejenak, akupun kembali menfokuskan pada jalan. Seketika, aku melotot kaget ketika ternyata mobilku oleng. Akupun segera membelokkan mobilku ke arah kiri, namun tak bisa. Akupun berteriak dan yang jadinya, mobilkupun terjatuh entah kemana, dan seketika Gelap.

Perlahan, aku mulai mengedip-ngedipkan mataku. Sedikitku menguceknya perlahan. Rasanya, sekujur tubuhku terasa sakit dan hampa. Aku tak tahu ada di daerah mana. Yang jelas, sepertinya aku terdampar di sebuah pulau. Tidak tunggu, inikan di sungai dekat cafe itu. Ya.
Akupun mulai bangkit dari tidurku. Aku memang berada di sana. Tampaknya, badanku tak ada luka ataupun lecet dan semacamnya. Tubuhku masih utuh. Tapi, ada sedikit sakit di kepalaku. Biarlah.
Akupun mulai berjalan dan mendaki pagar pembatas. Rasanya, baru pertama kali aku memanjat. Mulai ku naik dan berpegangan pada tiang pembatas itu. Walau cukup tinggi, rasanya aku dapat sampai ke sana. Tunggu, dari pada panjat tebing ini, lebih baik naik tangga di sana. Bodoh sekali aku.
Mulai ku naiki tangga itu satu per satu. Rasanya, tubuhku ringan sekali. Setelah sampai di ujung tangga, segera aku mencari taksi. Aku ingin cepat pulang. Badanku terasa bau sekali.
Di depan cafe, aku melambaikan tanganku sembari berucap ‘taksi’ setiap ada taksi yang lewat di depanku. Dan anehnya, sudah tiga taksi menolakku. Mengapa ya? Mereka enggan berhenti di depanku. Ahh ya sudah.
Akupun berniat untuk jalan kaki saja dari pada lama menunggu seperti ini.

Mulai ku lajukan langkah menuju rumahku. Tampaknya, hari ini keadaan cukup padat. Kendaraan dan orang-orang banyak berlalu lalang menambah ke hiruk pikukkan jalanan pagi ini. Entah sudah pukul berapa sekarang. Biasanya, jika terlalu pagi tak akan seriuh ini.
Akupun masih melangkahkan kakiku dengan sedikit gontai. Aku merasakan badanku lemas sekali. Terlihat, aku tak memakai alas kaki. Tapi, tak terasa panas sedikitpun jalanan ini.
Tiba-tiba saja langkahku terhenti melihat seseorang yang melambaikan tangan padaku. Anton. Ya, dia melambai dan tersenyum manis ke arahku. Akupun langsung menghampirinya dan tersenyum hangat padanya. Diapun sedikit berlari dengan senyum sumringah di wajahnya. Akupun ikut berlari menghampirinya namun,

“Devi, lama tak bertemu sayang.” Ucapnya menghampiri dan menjabat tangan gadis yang tepat ada di belakangku. Tadi dia bilang sayang? Arghh.

“Akupun merindukanmu sayang,” Ucap gadis itu. Aku terkejut mendengar mereka. Ada apa sebenarnya ini? Dan mengapa Anton berpura-pura tak melihatku? Argghhh…

“Anton! Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kau bilang kau tidak punya pacar. Maka dari itu, kau mau menjadi yang kedua juga!” Ucapku sedikit membentaknya. Dulu memang dia memohon padaku. Dia rela menjadi yang kedua. Dan akupun, menerimanya. Seketika, diapun memalingkan wajah memandangku dengan cuek sambil menaik turunkan bola matanya. Lalu kembali memandang gadis tadi.

“Kita pergi saja dari sini Dev. Ayo.” Ajaknya. Merekapun langsung tancap gas dan meninggalkanku sendirian.

‘Dasar playboy! Aku membencimu Anton!’ Batinku.

“Aduhh, ehh.” Tiba-tiba seseorang menabrakku. Diapun berlalu tanpa membantuku bangun sedikitpun. Arrgghh… Hari ini aku benar-benar sial. Pagi-pagi sudah begini.
Ya sudah, sekarang aku pulang saja ke rumah. Nampaknya tak terlalu jauh lagi. Walaupun kemarin-kemarin aku pernah marah pada mereka dan bermaksud kabur, tapi aku tetap saja tak mau meninggalkan mereka.

Akupun telah menginjakkan kakiku di tanah rumahku. Aku mulai memasuki rumahku yang kebetulan gerbangnya terbuka. Segera, akupun pergi ke rumahku. Rasanya seperti nyaman sekali tinggal di rumahku yang megah ini. Ya sudah, santai-santai nanti saja. Sekarang mandi dulu saja, badanku sudah mulai bau.

“Mbok Nani! Mbok! Bawain Raina makan. Laper ni Mbok!” Aku memanggil-manggil Mbok Nani sambil tiduran di kamarku. Aneh, Mbok Nani tak datang-datang juga. Jika sudah datang begininya, menyebalkan sekali.
Mulai ku turuni tangga dan menghampiri Mbok Nani yang sedang memasak.

“Mbok, Raina pengen makan.” Pintaku padanya. Dia hanya tetap di posisi awal dan tak menghiraukanku.

“Mbok! Raina lapeeerrrr!” Aku berteriak, namun dia hanya memandangku kosong dan kembali ke posisi awal. Arghh… Mengapa hari ini sangat menyebalkan?

Akupun berjalan ke luar ingin mencari udara segar. Tadinya, aku akan mengendarai mobilku. Tapi, mobilku hilang atas kejadian kemarin. Biarlah, berjalan lebih baik. Sudah lama aku tak berjalan lagi. Baru tadi saja aku berjalan sedikit jauh.
Tak seperti biasa, siang ini hawa terasa sedikit dingin. Padahal, orang lain terlihat merasa kegerahan dengan suasana sekarang. Tapi aku? Dingin.
Akupun merapatkan sweater yang ku pakai. Rasanya aku berendam di air es saja.

Hari ini memang hari yang sangat sial dan menyebalkan. Pertama, soal aku terdampar tadi, lalu soal Anton. Juga orang yang menabrakku tanpa minta maaf, tadi di rumah, sekarang, orang-orang yang lewat dan ku sapa, tak satupun menjawab sedikitnya dengan senyuman padaku. Argghhh.. Ini hari terburuk yang pernah ada.

Aku masih berjalan di jalanan ini tanpa melirik seorangpun. Aku masih sebal dengan mereka semua. Sebenarnya ada apa? Mengapa mereka tiba-tiba cuek seperti itu padaku. Padahal, aku menyapa dan tersenyum pada mereka dengan tulus. Ahh..
Seketika aku sedang berjalan, tiba-tiba ada seseorang memperhatikanku. Dia terus memperhatikanku dengan saksama. Jadi canggung begini.

“Maaf mbak.” Aku memalingkan wajah padanya. Diapun terkaget.

“Ada apa ya mbak sama saya?” Tanyaku padanya.

“Tak ada. Bisakah kamu ikut saya sebentar?” Tanya dia padaku. Akupun mengiyakan ajakkannya. Baru kali ini ada orang yang berbicara padaku hari ini. Aku terus mengikutinya dari belakang. Dia masuk ke dalam lorong sempit dan sedikit gelap. Juga agak sedikit bau busuk. Hingga akhirnya, kami berdua sampai di sebuah pondok kecil di ujung lorong tadi. Pondoknya mirip sekali dengan bangunan pada zaman dahulu. Diapun mengajakku duduk di sampingnya.

“Nak, apakah kau merasakan sedikit aneh?” Tanyanya membuatku heran. ‘Mengapa dia bisa tahu hari ini sedikit aneh?’ Batinku.

“Ya begitulah. Orang-orang tiba-tiba bersikap aneh padaku. Mereka seolah-olah tak melihatku. Tapi, aku beruntung kau masih mau berbicara denganku.” Ucapku sambil tersenyum padanya. Wanita itupun mengajakku untuk masuk pondok.

“Ayo, ikut saya sebentar.” Ajaknya. Seketika aku masuk, ruangannya sedikit menakutkan. Di ruangan itu hanya diterangi dengan obor-obor kecil saja. Aku sedikit memperhatikan ruangan itu. Rasanya semakin dingin saja. Akupun tiba di sebuah pintu yang sepertinya menuju sebuah ruangan. Ketika di buka, ruangannya cukup terang. Tampaknya ruangan ini satu-satunya ruangan yang memakai lampu neon. Sebelum masuk, dia bertanya terlebih dahulu padaku.

“Oh ya Nak, namamu siapa?” Tanyanya.

“Raina, Mbak.” Ucapku singkat.

“Kamu pernah jatuh atau semacamnya?” Tanya dia lagi. Aku jadi sedikit takut terhadapnya. Dia tiba-tiba mengiterogasiku.

“Aku kecelakaan kemarin. Mobilku hilang entah kemana. Tahu-tahu, aku sudah tergeletak di pinggir sungai. Dan anehnya, tak ada luka sedikitpun padaku.” Ucapku. Diapun hanya manggut-manggut. Aku semakin heran dengannya.

“Ayo masuk, Nak.” Ajaknya. Akupun ke sana.

“Kau punya pacar, Nak?” Tanyanya menginterogasiku lagi. Aku hanya mengangguk. Diapun menarik sebuah pintu lagi di sana. Dia menyuruhku untuk masuk ke sana. Di sana, ada seseorang yang seluruh tubuhnya ditutupi kain putih.

“Bukalah.” Titahnya padaku.

“Siapa dia?” Tanyaku padanya.

“Bukalah, maka kau akan tahu.” Perintahnya lagi. Perlahan, akupun mulai mendekati tubuh itu. Sejenak, aku memperhatikan tubuh yang dibaluti helai putih. Akupun mulai sedikit demi sedikit membuka kain itu. Seketika ku tarik helai itu, aku terkaget. Saat itu juga tubuhku melemas. Aku menggigit ketiga jariku. Badanku bergetar hebat. Aku hanya terduduk lemas dan menangis di sana. Aku benar-benar tak percaya melihat siapa yang terbaring di sana. Perlahan, air mataku mulai meleleh.

“Apakah.. itu diriku?” Tanyaku gemetaran dan sesenggukan. Dia hanya mengangguk pelan.

“Aku menemukan jasad itu di dasar jurang. Saat itu, aku melihat mobilmu hancur. Maka dari itu, aku memperhatikanmu tadi. Tadinya, aku ingin mencari tahu orang ini. Tapi ternyata, itu adalah kau.” Ucapnya lirih. Diapun ikut terduduk bersamaku. Dia melihatku dengan tatapan sendu. Aku hanya terus menangis tak percaya akan hal ini. Pantas saja, Anton tadi tak melihatku, begitupun orang yang menabrakku. Mbok Nani dan orang-orang yang lalu-lalang tadi. Tapi, mengapa Mbak ini bisa mengetahuiku?

“Mbak kenapa bisa lihat saya?” Tanyaku walau masih sedikit terisak.

“Aku bisa merasakan dan melihat makhluk ghaib. Termasuk kau.”

“Ta.. tapi, mengapa hal ini terjadi padaku?” Tanyaku sambil menyeka bulir air mataku.

“Mungkin kau pernah berbuat buruk pada seseorang, pernahkah?” Tanyanya. Aku sedikit berfikir, kapan ya aku pernah berbuat buruk?

“Aku rasa tak terhitung.” Ucapku sedikit meredakan tangis.

“Mungkin itu karma untukmu.” Gumamnya.

“Apakah karma masih berlaku?” Tanyaku polos. Wanita setengah baya itupun tersenyum ke arahku.

“Tentu saja. Karma akan berlaku selamanya. Walaupun kau sudah mati. Setiap kesalahan, pasti akan diberikan balasan. Dan balasan itulah yang bernama karma.” Ujarnya memberi tahuku. Akupun sedikit terdiam. Ternyata, begitu banyak kesalahan yang telah ku lakukan.

“Jika kita berselingkuh atau memarahi orang tua, apakah itu akan mendapatkan karma?” Tanyaku polos lagi. Wanita itu masih tetap tersenyum.

“Tentu saja, apa lagi pada orang tuamu. Karma itu sangat besar.” Ujarnya lagi. Aku tambah murung. Tangisku yang mulai reda kini meledak lagi. Aku terisak. Aku sungguh menyesal dengan segala yang telah aku lakukan.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku terlalu banyak berbuat kesalahan. Dosaku terlalu menumpuk. Aku mungkin akan langsung dihempaskan ke dalam neraka. Aku takut akan itu.” Lirihku padanya. Dia hanya tetap memasang senyumnya.
“Belun tentu itu akan terjadi. Aku yakin, kau adalah anak yang baik.”
“Itu tak seperti yang aku kira. Bisakah aku meminta maaf pada mereka?”
“Tak ada kata terlambat untuk semua ini.” Jelasnya.
“Tapi, aku tak mungkin bisa mereka lihat.” Ucapku.
“Tapi, mereka bisa merasakanmu. Mereka bisa merasakan kasih sayangmu.” Ujarnya. Mengingat itu, aku jadi ingat Ray. Dia begitu tulus padaku. Tapi, ketulusan itu aku balas dengan sebuah pengkhianatan. Ray, maafkan aku. Aku sungguh merindukanmu, Ray.
“Mbak, aku mau pergi dulu sebentar.” Ujarku sambil bergegas pergi. Aku terus berlari menuju rumah Ray. Memang, aku tak menapak di tanah. Aku memang melayang. Tapi, sebisa mungkin aku mencepatkan gerakkanku. Hingga akhirnya, aku sampai di sebuah bangunan yang tak asing bagiku. Rumah Ray. Perlahan, akupun mulai memasuki ruangan itu. Aku baru sadar, bahwa aku bisa menembus apapun. Tentu saja, aku kan hanya sebatas ruh. Sedikit demi sedikit, aku mulai mencapai ujung rumah Ray. Yaitu, taman tempat aku dan Ray bersama. Di tempat ini, menyimpan berjuta kenangan yang manis dan terlalu manis untukku lupakan. Dan di sini juga, aku dapat melihat Ray terduduk di meja taman sambil terus menunggu sesuatu. Entah apa.

“Ray..” Desahku lembut memanggil namanya. Tiba-tiba, dia yang ada di depan dan membelakangiku melirik ke arahku sambil tersenyum.

“Raina?” Serunya. Aku melotot, ‘Dia bisa melihatku?’

“Kau dapat melihatku?” Tanyaku heran. Diapun tersenyum simpul.

“Begitu jelas.” Ucapnya. Akupun segera menghampirinya yang tengah terduduk di bangku taman.

“Kau sedang apa sendirian di sini?” Tanyaku.

“Menunggu kamu. Aku khawatir sama kamu. Tapi, syukurlah kamu baik-baik aja.” Ujarnya sambil terus tersenyum padaku. Akupun ikut membalas senyumannya semanis mungkin. Aku tak tahu, bagaimana ekspresi Ray yang saat ini ada di depanku, ketika mengetahui, bahwa aku punya simpanan lain.

“Ray?” Lirihku memanggil namanya. Namanya yang indah dan elok, persis seperti kepribadiannya.

“Ya,” Ucapnya singkat. Aku masih sedikit gugup untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Aku boleh cerita sama kamu?” Tanyaku dengan hati dag dig dug.

“Boleh, biasanya juga sering blak-blakkan.” Ujarnya. Aku masih canggung untuk berbicara padanya.

“Sebenernya.. aku..”

“Oh, aku tahu.” Ucapnya membuatku kaget. Dia tahu? Tahu apa?

“Maksudmu?” Tanyaku heran. Diapun sedikit murung.

“Sudah lima bulan kau menjalani hubungan gelap dengan Anton kan?” Ucapnya semakin mengejutkanku. Jantungku memang tak berdegup kencang. Bagaimana bisa? Aku sudah mati.

“Maafkan aku tak memberi tahumu terlebih dahulu. Sebenarnya aku adalah seorang yang indigo Raina. Maaf tak memberi tahumu.” Ujarnya. Aku langsung melotot, jadi, jadi dari dulu dia sudah tahu?

“Kalau begitu, kau sudah tahu itu dari dulu?” Tanyaku. Ray hanya tersenyum.

“Iya, aku sudah mengetahuinya. Telepon-teleponmu itupun aku mengetahuinya. Bahkan, semua yang kau ucapkan di telepon itu aku mengetahuinya, tahu Raina.” Ucapnya semakin membuatku gemetaran. Dia tahu bagaimana aku?

“Ma.. maafkan aku.” Lirihku. Kali ini, dia malah heran.

“Mengapa kau minta maaf?” Tanyanya. Aku hanya terdiam.

“Jika kau tak salah, kau tak usah minta maaf.” Lanjutnya lagi. Aku masih terdiam sambil menggigit bibir menahan tangis.

“Aku salah.” Ucapku sendu.

“Kau tak salah Raina.” Ucapnya.

“Bagaimana kau bisa membenarkan sesuatu di jalan yang salah? Seharusnya aku tak melakukan itu.” Lirihku sedikit terisak.

“Bukan seperti itu.”

“Mengapa? Mengapa kau masih saja mencintaiku? Jika seseorang mengetahui pacarnya selingkuh, dia pasti akan marah. Tapi kau, mengapa?” Isak ku padanya. Dia sedikit mendekatkan tangannya pada telapak tanganku. Namun aku menjauh darinya.

“Kau adalah kekasihku. Tak baik aku menyakitimu.” Ucapnya.

“Tapi aku menyakitimu, aku tak baik bagimu. Mengapa kau tetap tersenyum tulus padaku. Padahal aku sudah merasa bosan padamu saat itu. Aku salah. Aku minta maaf.”

“Sebelum kau minta maaf pun, aku sudah memaafkanmu. Kau bukan tak baik bagiku. Tapi itu ujian dari hubungan kita. Kau tak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Aku mencintaimu, itulah alasan mengapa aku tak ingin menyakitimu.” Ujarnya. Aku tak pernah menyangka jika Ray seperti ini. Sebelumnya, aku tak pernah melihat Ray seperti ini. Ternyata, bercinta dengannya selama dua tahun belum bisa menemukan bagaimana seluk-beluk sifat aslinya. Ternyata, inilah dia yang sebenarnya. Seseorang yang tulus.

“Kau tetap tersenyum padaku, walau kau tahu aku orang yang buruk?” Tanyaku. Dia hanya tersenyum tipis.

“Tak ada manusia yang diciptakan dengan buruk. Aku mencintaimu karena kau yang terbaik.”

“Aku yang terbaik? Aku sudah mengkhianatimu, kau masih menganggap aku yang terbaik?”

“Kau tahu, mengapa aku tak pernah ingin membuatmu tersakiti?” Tanyanya. Aku hanya menggeleng.

“Karena aku mencintaimu. Aku ingin kau tetap mencintaiku, maka dari itu, aku tak ingin kau tersakiti olehku. Sekarang, aku serahkan semuanya padamu. Jika kau ingin tetap di sini, di sinilah bersamaku. Tapi, jika kau lebih mencintai Anton, aku bisa merelakanmu. Setelah itu, aku akan menunggu seseorang sepertimu yang bisa ku jadikan kekasih, walau tak sepenuhnya seperti dirimu.” Lirihnya. Akupun segera memeluk Ray, walau dia tahu, pelukanku tak nyata.

“Ra.. ina?” Lirihnya sedikit kaget. Akupun melepaskan pelukanku dan berdiri di hadapannya.
“Jika kau bisa merelakanku kepada Anton, berarti kau bisa merelakanku jika aku seperti ini juga kan?” Tanyaku penuh isak. Dia terus menatapku dengan pandangan nanar. Aku masih berdiri di hadapannya tanpa menapak sedikitpun. Dia sadar, aku sudah mati.

“Apa yang terjadi padamu?”

“Inilah, yang kau lihat, itu yang terjadi, Ray.” Gumamku padanya. Dia semakin heran.

“Kau telah mati? Mengapa kau tega melakukan ini padaku?” Ujarnya. Akupun mengahampirinya.

“Ray, aku mohon. Tetaplah seperti ini. Aku tak tahu, apakah ada lagi orang sepertimu atau tidak. Yang aku tahu, kau adalah orang terbaik yang pernah aku temui. Aku tak pernah sadar dengan segala yang telah kau lakukan padaku. Semua yang kau lakukan adalah yang terbaik untuk ku. Tapi, aku memberikan yang terburuk bagimu. Maafkan aku.” Aku terisak sambil menatap matanya dalam-dalam. Dia hanya menatapku hampa.

“Kau tahu, aku tak pernah ingin ada laki-laki lain mencintaimu. Aku ingin, hanya aku yang mencintaimu, dan hanya kau yang aku cintai. Aku tak pernah ingin. Maka dari itu, aku selalu ingin memberikan yang terbaik untukmu. Walau sebenarnya, itu tak pernah ada. Kau jangan menyalahkan dirimu yang terburuk. Itu tak baik. Semua yang kau lakukan, adalah semua yang terbaik yang bisa kau laksanakan.” Ujarnya.

“Tapi, yang sudah ku lakukan selama ini hanyalah mendosa. Aku tak tahu, bagaimana kehidupanku nanti. Aku tak pernah sadar, akan orang-orang yang menyayangiku. Orang tuaku, aku sering marah dan melawan pada mereka. Kau, aku mengkhianatimu, aku orang yang jahat.” Lirihku. Dia hanya mencoba meraih tanganku walau dia tahu, dia tak bisa.

“Aku mencintaimu. Aku tak suka melihatmu menangis. Yang sudah kau lakukan, itu yang terbaik yang kau bisa. Jangan pernah menyesali, jika itu memang keputusanmu. Aku mencintaimu. Jangan buat aku mencemaskanmu.”

“Aku sudah mati. Carilah wanita lain yang bisa mencintaimu lebih baik dari pada aku. Aku buruk untukmu.”

“Tak ada lagi orang yang bisa menggantikan posisimu, Raina. Kau orang terbaik yang aku punya. Kau orang terbaik yang pernah aku cintai. Aku tak akan mencari lagi orang lain, sebelum ku temukan orang sepertimu. Aku mencintaimu lebih dari segalanya. Aku tulus mencintaimu.” Ucapnya menatapku. Aku hanya tetap terisak. Aku bodoh, sangat bodoh. Aku membiarkannya tanpa mengetahui, dia amat sayang padaku. Betapa banyak aku berdosa padanya. Aku malu padanya, aku malu pada-Mu Tuhan. Kau menciptakan manusia yang baik untuk ku, walau aku manusia yang buruk baginya.

“Ray, seburuk inikah aku di mata Tuhan-Ku. Aku tak pernah sadar. Anugerah terindah itu adalah dirimu. Aku tak pernah sadar, kau adalah orang yang sangat menyayangiku dengan tulus. Apakah aku buruk? Katakan iya, katakan!” Aku semakin tak bisa menahan air mataku. Ray terlalu baik padaku. Aku tak mampu membalas semua yang telah dia lakukan. Ku tatap dia sayu, dia hanya diam menunduk.

“Apa balasan yang harus aku lakukan padamu? Adakah cara untuk membalas semua kebaikanmu?”

“Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Maka dari itu, aku bisa bahagia melihat senyuman terakhirmu yang begitu manis. Lebih manis dari apapun. Yang termanis dari yang paling manis. Tersenyumlah, maka kau sama dengan telah membalas semua yang ku lakukan padamu. Tapi, aku ingin senyuman yang tulus. Yang bisa membuatku tenang, damai.” Ucapnya menatapku nanar. Aku terdiam, bisakah kali ini aku tersenyum tulus padanya?

“Ayo, tersenyumlah. Senyum yang manis. Yang paling indah bagiku.” Dia tersenyum padaku, walau ku lihat matanya sedikit berkaca.

“Ray,” Lirihku memanggil namanya. Dia hanya tetap tersenyum.

“Tersenyum, tersenyumlah sepertiku. Ayo.” Pintanya. Aku sedikit mengembangkan senyumku walau dalam keadaan menahan tangis. Aku terus tersenyum manis padanya, walau air mataku hampir berlelehan lagi.

“Aku tenang. Senyummu itu, adalah sesuatu yang paling berharga bagiku. Tak akan lagi aku menemukan senyum semanis itu.” Ucapnya. Akupun langsung memeluknya erat, erat dalam ketidak nyataan. Aku terus memeluknya dalam pelukan hampa. Air mataku berleleh berjatuhan seraya ku lepaskan pelukanku.

“Selamat tinggal, Ray. Kau akan selalu ku ingat. Jangan lupakan aku, aku ingin kita, akan tetap saling cinta. Cinta seperti, pertama kali kita pacaran.” Perlahan, akupun meninggalkannya. Dapat ku lihat jelas, gambaran raut wajahnya yang teduh. Matanya yang indah, seakan-akan memberikan kedamaian di kehidupanku yang berkelanjutan kelak. Ku dapati senja ini, tubuhku semakin transparan. Angin menembus begitu dalam. Masih ku tujukan diriku, menuju pondok Mbak tadi. Setelah sampai di sana, aku persis melihatnya terduduk.

“Sudah selesai dengan tugasmu? Ini hari terakhirmu di sini.” Ucapnya. Akupun ikut menghempaskan bokongku di sampingnya.
“Mbak, aku boleh minta permintaan terakhir di dunia ini?” Tanyaku. Diapun mengangguk seraya tersenyum padaku.

“Aku minta, tolong kirimkan jasadku kepada keluargaku. Mbak tahukan di mana rumahku?”

“Saya tahu Nak,”

“Ya, satu lagi, tolong katakan pada mereka, aku sayang banget sama mereka. Aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku lakuin. Tolong ya, Mbak. Maaf sebelumnya, aku merepotkan Mbak.” Ucapku. Mbak itupun hanya tersenyum manis padaku.

“Tidak apa-apa, sebenarnya ini adalah tugasku. Menjaga dan memata-mataimu adalah tugasku selama kau hidup di dunia. Kau memang banyak berbuat kesalahan, Nak. Tapi, kau juga menyadari kesalahan itu. Aku ditugaskan untuk membenarkanmu. Dan tugas itu telah selesai. Kau berhasil, Nak. Sebelum aku membawamu ke kehidupan sana, aku akan mengantar jasadmu ini terlebih dahulu. Kau tunggu di sini sebentar ya, Nak.” Ucapnya tak ku mengerti.

Diapun berlalu dari padanganku. Kini, kehidupanku di dunia sudah selesai. Aku sudah tak di tugaskan lagi untuk menginjak tanah bumi ini. Kini, aku akan memulai kehidupan baru. Entah bagaimana, entah. Apakah aku akan senang? Atau aku akan tersiksa? Semuanya, akan ku lihat, berdasarkan segalanya yang telah aku lakukan di muka bumi ini. Dan ingatlah, Karma masih berlaku mulai dari kemarin, hari ini, esok dan selamanya.

Cerpen Karangan: Selmi Fiqhi
Facebook: http://www.facebook.com/selmifiqhikhoiriah/
Twitter: @SelmiFiqhi

Cerpen Karma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akibat Cinta Tapi Gengsi

Oleh:
Siang ini mentari menyembunyikan sinarnya di balik awan cumulus. Kejayaannya di gantikan oleh cumulus cumulus tebal di langit. Rinai hujan mengiringi waktu yang berjalan. Gadis berambut pendek sebahu ini

Misteri Malam Renungan

Oleh:
Hari ini adalah hari yang paling menegangkan buat kami semua, tepatnya semua yang ada di SMK Negeri 1 Bakti Terpadu. Di SMK Bakti Terpadu ini aku menuntut ilmu. SMK

Untuk Terakhir Kalinya

Oleh:
Malam ini udara ikut merasakan kebisuan diriku. Hingga aku tak mampu lagi merasakan dinginnya angin malam. Perasaan bersalah dan gelisah kembali menghantui diriku. Kuakui diriku memang pantas menerima karma

Lelaki di Penghujung Jalan

Oleh:
Pagi buta ini menyiratkan berbagai kata-kata yang tak sanggup aku suratkan untuknya. Bintang juga mengisyaratkan hal yang sama, seperti tak bisa lagi membendung kesedihan dan menampung air mata yang

Penyesalan

Oleh:
Toni dan Jenny adalah dua orang sahabat yang serasi. Kemana pun Toni pergi, Jenny selalu ada di sampingnya. Jika Toni sakit, Jenny tidak pernah lupa untuk menjenguk Toni. Begitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Karma”

  1. Roberto febriand millano says:

    Cerita yang kau buat bagus sekali..

  2. siti nursofiana says:

    waw…,,sangat keren baget cerpen nya
    i like this

  3. queen of'the magiciian ip-op says:

    perfeeeeeeect……. 🙂

  4. puput says:

    cerpennya keren… Semua kategori yg aku suka ada.. Jempol deh buat penulisnyaah..

  5. rendy says:

    bagus sekali aku membaca nya sempat menangis dan itu juga membuat aku sadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *