Kata Untuk Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

Entah sejak kapan pandanganku ini hanya melihat ke salah satu sudut ruangan. Sesosok laki-laki yang sejak tadi asyik mengobrol dengan teman-temannya. Ya… Laki-laki itulah yang selama 2 tahun ini mengisi hatiku. Laki-laki yang pernah membagi bahagia dan sedihnya bersamaku. Laki-laki yang pernah membuatku bahagia berada di sekolah ini. Laki-laki yang demi untuk membahagiakanku akhirnya melepasku.

“Apa sih yang dari tadi kamu lamunin Al? Dipanggil-panggil gak denger-denger.” Teriak Rini sahabatku yang sejak tadi duduk di sebelahku memanggil-manggil namaku dengan suara cemprengnya.
“Ehhh… apa? Kamu manggil toh?” Jawabku dengan senyum polos. Padahal aku tau ia dari tadi meneriaki namaku, suaranya saja sudah berbalapan dengan suara speaker yang ada di sekolah kami, jadi mana mungkin aku tidak mendengarnya.
“Rencana kita hari ini jadi kan?” Tanyanya lagi.
“Rencana apa?”
“Kamu gak usah berlagak sok gak tau gitu deh.. kita kan setelah ini harus rapat untuk membahas acara perpisahan kelas kita. Kamu kan sekretaris kelas, jadi harusnya kamu kan yang nyiapin semuanya. Tempat, acara, biaya pokoknya banyak banget deh, biar nanti kita rapatnya gak kelamaan. Kamu tau sendiri kan kalo mereka itu tergantung ma kita, jadi kita harus buat acara ini seperfect mungkin. Dan Tadi aku sudah tanya ama Ari, katanya kita rapat setelah acara perpisahan ini selesai.” celotehannya sudah seperti jalan tol yang tidak berujung.
Kembali aku memandang sosok laki-laki itu, Agera. Hari ini adalah hari terakhir kami berada di sekolah ini yang juga berarti hari terakhir aku bisa betemu dengannya. Setelah memutuskan untuk berpisah, kami sama sekali tidak pernah bicara, menyapa pun tidak. Entah kenapa aku pun tak tau kami menjadi canggung satu sama lain. Padahal sebenarnya aku ingin sekali… aku ingin sekali mengatakan kepadanya. Mengatakan kepadanya tentang … perasaanku…

“Hello? Al? ALEIKA? ALEIKA RAESHA? Kamu dari tadi dengerin aku gak sih?” Teriaknya sambil melambai-lambaikan tangannya diwajahku.
“Iya-iyaa.. beres deh semuanya, tenang aja.”
“Hehee… nah gitu donk?” Jawabnya dengan melontarkan senyum khasnya dengan kedua lesung pipitnya.
Setelah serentetan rangkaian acara perpisahan selesai, para siswa pun kemudian berjabat tangan dengan semua dewan guru dan juga seluruh siswa kelas XII.
“Kali ini kesempatanku, aku harus bisa mengajaknya bicara. Aku harus bisa. Ini adalah pertemuan terakhir dengannya. Setelah ini, kemanapun aku mencari sosoknya, kemanapun aku mencari wajah itu sudah tidak akan lagi. Aku tidak akan pernah bisa lagi menemukan bayangan itu.” Gumamku dalam hati.

Pandanganku mencari sosok bayangan itu ke segala arah di dalam ruangan, tetapi aku tak bisa menemukannya. Aku tak bisa menemukan sosok Agera. Kemana dia? Apakah ia sudah pergi? Mana mungkin ia pergi di tengah acara seperti ini?
Dengan langkah lemas akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Bola mataku dengan sigap melihat sosok yang sejak tadi sedang aku cari. Ia sedang duduk termenung di bangku itu, ya aku mengenal bangku itu. Agera, laki-laki itu, karena keegoisanku, kami tidak bisa mempertahankan hubungan kami. Sosok laki-laki yang Tanpa berpikir panjang selalu menghampiriku ketika aku memanggilnya… dan kali ini aku harus berhasil mengatakan kepadanya tentang perasaanku. Selama ini aku tidak pernah bisa memberitahukan dengan benar perasaanku terhadapnya.

“Agee… agee..”
“AGERA!!!” Teriak seseorang dari arah yang berlawanan. Aku pun sontak langsung menghentikan arahku dan berbalik. Aku terdiam. Beku seperti es. Seluruh kakiku kaku. Aku hanya bisa terdiam seperti itu.
“Duh.. apa yang harus aku lakukan? Aku malu sekali… kalau dia menemukanku di sini bagaimana? Aku harus bereaksi seperti apa? Apa yang harus aku lakukan?”
Di tengah kebingunganku, dua sosok laki-laki berlalu ke arahku dan berjalan melewatiku. Aku hanya bisa memandangi punggungnya. Ia sama sekali tidak menengok ke arahku. Dia.. sama sekali tidak melihat ke arahku. Apakah ia tidak melihatku? Apa aku harus memanggilnya sekali lagi? Tiba-tiba keraguan menghampiriku dan akhirnya aku pun mengurungkan niatku.
“Dimanakah keberanianku? Kenapa hanya memanggilnya saja aku tidak bisa? Dasar pengecut, kau sangat pengecut sekali, AL..” gerutuku dalam hati sambil menghentak-hentakkan sepatuku.

“Apa yang kamu lakukan disini, Al,”
Tiba-tiba sesosok laki- laki sudah berdiri tepat di hadapanku. Perlahan kuberanikan diri melihat ke arah suara itu. Aku sangat mengenali sosok itu. Suaranya, aroma parfumnya. Ya.. aku sangat mengenali aroma parfum ini. Kulihat senyum manis dari wajahnya yang lama tidak kulihat.
“Ehhhh… akuuu… akuuu…” jawabku terbata-bata. Aku tidak mengerti diriku. Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Aku hanya bisa terdiam tanpa berkata apa-apa.
“Apakah ada yang ingin kamu sampaikan padaku? Dihari dan di tempat ini?” Tambahnya lagi.
Apaa? Kenapa ia malah berkata seperti itu? Apa mungkin ia sedang menungguku untuk mengatakan sesuatu? Kesempatan yang aku tunggu-tunggu selama ini untuk berbicara dengannya akhirnya datang, tetapi apa yang terjadi padaku? Aku malah gugup seperti ini. Kenapa aku jadi pengecut begini? Ketika tidak ada respon dari cewek di hadapannya, ia pun akhirnya pamit untuk pergi.
“Hemmm… sepertinya tidak ada ya?. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu.” Pamitnya sambil membalikkan tubuh. Ia pun berjalan pergi menjauhiku. Perlahan-lahan hilang dari pandanganku.

“Kau adalah cewek paling bodoh di dunia ini… bodoh.. bodohh… kau baru saja menghilangkan kesempatanmu… susah-susah kau mencarinya, ketika ia ada di hadapanmu, kenapa kau malah tidak melakukan apa-apa?” gerutuku. Sambil mengacak-ngacak rambut kudaku.
Aku tak tau kenapa aku malah menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata. Padahal ada banyak sekali hal yang ingin aku sampaikan padanya, tetapi kenapa mulut ini terkunci dan tubuhku tidak berhenti bergetar… aleika.. kau memang benar-benar bodoh…

“Al, apa yang kau lakukan disini? Teman-teman mencarimu. Rapat akan segera dimulai.” Ujar seseorang menghampiriku.
Aku pun langsung melihat ke arah laki-laki itu sambil menutupi kekacauan diriku.
“oh… ari… maaf aku tadi keluar sebentar.” jawabku sambil mengusap bekas butiran-butiran halus dari mataku. “Ayo.. kita rapat”.

Kami pun pergi ke ruang rapat dan pikiranku sama sekali tidak berada di sini. Aku tidak bisa begini. Bagaimana mungkin aku berada di sini sedangkan ini adalah kesempatan terakhirku bisa bertemu agera. Tadi aku sudah melewatkan kesempatanku di depannya. Kali ini aku harus bisa. Hari ini dan harus sekarang aku harus bisa menyampaikan perasaanku selama 2 tahun ini kepadanya. Perasaan yang aku rasakan ketika kita berpisah. kali ini Aku tidak bisa menundanya. Aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Tiba-tiba kepercayaan diri dan keberanianku timbul kembali. Kali ini aku harus berani menghadapinya.
“Al, kamu mau kemana? Rapat belum selesai?” Tanya rini.
“Maaf rin, ari, dan teman-teman semua, aku keluar sebentar. Kalian bisa melanjutkan rapat tanpa aku. Oke.” pamitku dan kemudian berlalu meninggalkan ruangan kelas.
“Al… al… aleika?.” teriak rini yang suaranya hampir memenuhi ruangan. “Tuh anak emang ya?” Gerutunya.
Semua orang hanya dapat melihat kepergianmu tanpa banyak berkata-kata.
Aku tak mempedulikan terikan Rini. Sekarang yang ada di pikiranku adalah mencari agera dan memberitahukan perasaanku kepadanya. Apa yang aku rasakan ketika kita putus dan bagaimana perasaanku yang sekarang terhadapnya. Aku tidak butuh jawabannya. Aku hanya ingin mengungkapkan semuanya… aku ingin minta maaf, aku ingin berterima kasih dan aku ingin mengatakan padanya kalau aku… kalau aku…

Tiba-tiba langkahku terhenti. Kulihat kristal-kristal halus jatuh membasahi bumi. Kristal-kristal yang dulu juga pernah menjadi saksi bisu perpisahan kami. Makin lama makin bertambah banyak.
Kulihat sosok lelaki yang sedari tadi aku cari. Aku melihatnya di balik bayangan kristal-kristal lembut. Ia berlari bersama teman-temannya dan langsung memacu motor mereka di bawah derasnya hujan, sampai akhirnya bayangannya pun hilang bersama dengan hujan yang membasahi pipiku. Hujan kali ini sepertinya memang dikirimkan hanya untukku… hujan kali ini sangat menyakitkan… dan benar-benar menyakitkan…
“Mungkin aku tidak akan pernah bisa untuk mengatakannya… kata-kata yang selama ini aku pendam untuk sekian lama. Kata-kata itu… hanya bisa kusimpan …kata- kata itu… hanya bisa kumiliki sendiri… kata-kata itu… hanya untukmu…
I’m still loving you, Agera…”

THE END

Cerpen Karangan: Etika Sunja
Blog / Facebook: etikasenja.blogspot.co.id / etika sunja

Cerpen Kata Untuk Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love Season: Regret

Oleh:
Suatu pertemuan yang tak terduga Pada akhirnya akan menimbulkan suatu perpisahan Yang tak terduga pula. Aku berlari menyusuri etalase sebuah café. Sebuah café yang menjadi tempat favoritku di segala

Akibat Bercanda Di Jalan

Oleh:
Siang ini matahari begitu terik membuat anak anak SD yang baru pulang sekolah serasa ingin cepat sampai rumah. Dengan bercengkrama bersama teman teman mereka sambil mempercepat langkah kaki menyusuri

Terimakasih

Oleh:
Kisah fiksi dari buku kusam yang berdebu Aldo dan Dini adalah sepasang kekasih yang sangat berbahagia, hubungan mereka dimulai sejak mereka kelas 2 SMA, Dini jatuh cinta kepada Aldo

Alasan Untuk Bahagia

Oleh:
Jadi, dia kerja di sini? Tanya seorang laki-laki dalam hatinya sambil memegang kertas kecil bertuliskan alamat sebuah bangunan yang ada di depannya sekarang. Ia tersenyum, lalu melihat kertasnya lagi.

Kembalilah Seperti Setahun Lalu

Oleh:
Aku rindu tatapannya, aku rindu senyumnya, aku rindu suaranya, aku merindukan semua tentangnya. Dia yang tak akan merindukan ku, dia yang tak mengenalku. Aku hanyalah bagian ingatan yang telah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *