Ketika Mentari Menghangatkan Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 16 January 2016

Aldo menghembuskan kepulan asap yang cukup tebal dari mulutnya, yang dia hisap dari benda putih kecil yang menemaninya satu tahun terakhir. Dia terpikir tentang kejadian enam bulan lalu, kesalahan yang amat besar ia lakukan, mungkin kesalahan yang tak termaafkan.

PLAKK!!
Sebuah tamparan jatuh di pipi gadis mungil berperawakan cantik. Zahra namanya. Zahra memegang bekas tamparan yang baru saja dilontarkan oleh Aldo. Laki-laki yang sudah ia pedulikan. Aldo kepergok olehnya sedang menggunakan Nark*ba jenis h*roin yang ia gunakan bersama teman-temannya. Karena Aldo malu dengan teman-temannya, akhirnya dia melontarkan tamparan tersebut.

“Seegois itukah kamu Do?” Tanya Zahra menahan tangisnya, dadanya terasa sesak. “Seegois itukah kamu sama orang yang mempedulikan hidupmu? Apa aku salah peduli denganmu? Kamu orang yang cerdas, kamu tampan! Kenapa kamu sia-siakan itu semua?” Tanya Zahra dengan suara serak. “Aku sayang sama kamu, tapi, rasa sayangku bukan perasaan cinta. Tapi perasaan sayangku karena aku peduli denganmu, jelaskan kenapa kamu egois seperti itu. JAWAB Do!!” Tegas Zahra kembali sembari memukul dada Aldo, Aldo membiarkan Zahra melakukan hal itu, lalu dia memegang kedua bahu Zahra.

“Denger yah! Gue makasih banget lo udah peduli sama gue! Tapi, sayangnya gue gak perlu kepedulian lo itu! NGERTI! Dan satu hal lagi lo tahu apa tentang hidup gue hah? Lo gak tahu apa-apa! Dasar CEWEK SOTOY!!!” Ucap Aldo tanpa merasa bersalah. “Lo sayang sama gue? Gak salah? Orangtua gue aja gak peduli sama gue! Malah mereka hidup bahagia tanpa gue! Siapa lo yang ngaku-ngaku sayang sama gue? GUE GAK PEDULI!!” Lanjut Aldo dengan senyuman miris.

Mendengar perkataan Aldo tadi membuat Zahra hancur, dia berlari menjauhi Aldo sambil memegang bekas tamparan tadi, pipinya mulai membengkak. Tekad Zahra mulai saat itu dia tidak akan pernah mempedulikan Aldo lagi. Dan yang lebih penting dia tidak akan hadir lagi di kehidupan Aldo. Dan Zahra pun memutuskan untuk pindah ke kota lain.

Aldo hisap kembali benda putih tersebut. Semenjak kejadian itu Zahra tidak lagi mempedulikannya. Ada rasa senang sekaligus mengganjal di dalam hatinya. Ada yang hampa di dalam kehidupannya. Dia menyesal melakukan hal itu. Dia sadar, bahwa Zahra satu-satunya perempuan yang mempedulikan kehidupannya. Dia bertekad mencari Zahra di mana pun dia berada. “Aku harus menemukanmu Zahra!” Lirih Aldo.” Maaf..” Lanjutnya dengan suara yang serak.

Pencarian pun dimulai, yang Aldo tahu Zahra pindah ke Yogya. Dia mencari ke sana ke mari. Badannya mulai lelah dan dengan putus asa dia memutuskan untuk pergi ke pantai Parangtritis. Ketika sampai, pemandangan pantai itu berhasil menenangkan pikiran Aldo. Sejak enam bulan terakhir pikirannya kacau. Ia merentangkan tangannya, menutup kedua matanya. Mencoba merasakan hembusan angin. Ia mencoba menenangkan pikirannya.

“Pergilah..” bisiknya.

Dia merasa ada yang aneh dengan hatinya, perasaan yang sangat kuat. Dia mencoba membuka kedua matanya. Dia terbelalak dengan gadis yang ada di sana yang familiar baginya. Gadis itu juga sedang duduk di antara pasir-pasir putih, angin yang menerpa tubuh mungilnya berhasil membuatnya menawan. Dia sesekali tersenyum melihat ke arah pantai tersebut. “Ternyata kamu bahagia tanpa aku Ra.” Gumam Aldo miris. Dan seketika dia melihat ke arah Aldo. Aldo tersentak, Zahra melihat ke arahnya. Dengan wajah penuh ketakutan Zahra berlari menjauhi Aldo.

“Zahra Tunggu!!” Teriak Aldo yang dengan refleks mengejar Zahra. Aldo mencoba meraih lengan Zahra. Dan akhirnya tertangkap.
“Lepasin Do… Lepasin!!” Ronta Zahra.
“Zahra ku mohon dengarkan aku!” Pinta Aldo. Zahra merasa ada yang aneh.
“Aku? Sejak kapan dia menggunakan kata-kata itu?” Batin Zahra dan Zahra mencoba menuruti permintaan Aldo.
“Ra… Aku minta maaf.” Ucap Aldo lirih. Tapi, Zahra hanya diam. “Maafkan aku sudah menyia-nyiakan kepedulian kamu.” Pinta Aldo dengan nada sedih. Zahra mulai muak dengan perkataan Aldo. Zahra mencoba berlalu dari Aldo.

“Ra… Makasih sudah jadi mentari yang menghangatkan hati ini.” Ucap Aldo. Sejurus Zahra berhenti. “Ra… ku mohon maafkan aku Ra, aku sakit!” Ucap Aldo kembali.
“Sakit?” Gumam Zahra. Dia mencoba acuh pada Aldo dan mulai berjalan kembali menjauhi Aldo. Tapi dadanya terasa sesak. Dia tidak bisa dan tidak akan pernah bisa.
“Aku sakit HIV.” Perkataan Aldo berhasil membuat Zahra berhenti lagi. Zahra mencoba menahan air matanya ke luar, mencoba menutup matanya tapi, air mata itu tetap mengalir dengan deras, sekali lagi dia tidak bisa acuh pada Aldo.

“Ra…” Panggil Aldo lemah. Dan, “Brukkkk…” Aldo terjatuh dia memegangi kepalanya yang sakit. Zahra langsung berhambur ke arah Aldo, air matanya terus mengalir deras. Dia mencoba memangku kepala Aldo.

“Aldo kamu kenapa? Apa yang sakit?” Tanya Zahra cemas.
“Aku gak apa-apa!” Balas Aldo lemah.
“Ra… Makasih sudah menjadi mentariku dan selamanya kamu akan menjadi mentariku.” Ucap Aldo.
“Maaf aku selalu menyusahkanmu dan selalu menangis karena perbuatanku..” Ucap Aldo tersenyum sambil menghapus air mata Zahra.

“Udah yah! Jangan nangis lagi karena aku! Aku ini gak pantas kamu pedulikan.” Ucap Aldo tersenyum.
“Kamu ini ngomong apa?” Balas Zahra serak dan karena omongan Aldo sudah tidak masuk akal. Dan akhirnya Aldo tidak sadarkan diri lagi. Zahra panik dia mencoba menepuk pipi Aldo dan mengecek denyut nadi Aldo. Dan akhirnya Aldo sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi Aldo yang ia pedulikan. Air mata Zahra mengalir dengan deras. Dia menangis sekencang-kencangnya.

“ALDO…!!!” Teriak Zahra.

Tamat

Cerpen Karangan: Sinta Nabila
Facebook: https://www.facebook.com/ashilla.2001
Hai salam kenal kalian semua! saya penulis amatiran, maaf kalau ada penulisan kata yang salah 🙂

Cerpen Ketika Mentari Menghangatkan Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mematung Sepi

Oleh:
“Masih terngiang akan suara manjanya, kepintarannya, kecantikannya, dan semua hal yang istimewa itu aku sia-siakan ketika aku memilikinya, kini aku hanya mematung sepi, ditemani penyesalan yang teramat dalam, akankah

Four Leaf Clover

Oleh:
Saat rasa cinta dan kesetiaan diuji. Saat separuh hati yang disayang tak lagi mempunyai harapan hidup. Kita harus tetap tegar menjalani setiap hari Setiap detik, menit, jam atau bahkan

Karena Orangtuaku Sayang Padaku

Oleh:
“Di mana aku?” kanan-kiriku tak ada seorang pun, pada siapa aku bertanya? “Ah, mungkin di sana,” kataku pada diriku sendiri. Dalam gelap aku menyusuri lorong gelap yang lembab ini.

Ku Goreskan Luka di Binar Matanya

Oleh:
Dalam hidup ini kita pasti punya cinta. Tentunya cinta yang mengajarkan kita banyak hal menuju kebaikan, bukan cinta yang membawa kita terjerumus pada kesesatan. Cinta adalah bagaimana kita menghargai

Growing Pains

Oleh:
Cinta tak pernah mengenal kata lelah, tak pernah ada keingin untuk mendapatkan imbalan karena cinta tak pernah mengenal kata pamrih. Cinta sangat hangat saat kita mampu meresakan betapa lembut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *