Kiran & Bian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 21 August 2013

Nada Kirania
Mimpi itu lagi. Aku beranjak dari tempat tidurku dan membuka tirai jendela kamarku. Di luar masih gelap, belum ada tanda-tanda matahari mau menampakan sinarnya. Aku menghela nafas panjang. Rasa kantukku lenyap bersamaan dengan mimpi yang selama seminggu terakhir ini mengganggu tidurku.

Selalu orang itu yang ada di mimpiku. Sosok yang sama, yang detail wajahnya nggak mungkin pernah aku lupa. Sosok yang dulu pernah begitu dekat denganku. Aku memejamkan mataku. Kenapa sulit sekali ngelupain dia.

Entah kenapa aku benci sekali dengan hujan. Aku benci rintik hujan yang membuatku basah. Aku benci dengan hawa dinginnya yang membuatku menggigil. Aku benci hujan karena akan membuatku ingat dengan dia.

“Ayo pulang, hujannya bakal lama,” Seseorang menepuk pundakku pelan. Aku menoleh dan tersenyum.

“Duluan aja, Ra,” Kataku. Rara, teman kantorku kemudian berlari-lari kecil menembus hujan, suaminya sudah menunggu di seberang jalan.

Aku mengedarkan pandanganku. Benar kata Rara, hujannya awet. Langit sudah tambah menggelap.

[“Kasi tau aku sebenarnya apa yang kamu mau dari hubungan kita?”

“Aku belum bisa, Ran. Jangan paksa aku,” Dia menggeleng lemah. Tangisku nggak bisa kutahan lagi.

“Aku nggak maksa kamu. Aku cuma minta kejelasan soal hubungan kita. Kenapa kamu selalu aja gantungin perasaanku?”]

Suara guntur menggelegar. Aku tersentak kaget dan merapatkan tubuhku di dinding.

“Kok belum pulang?” Pak Fadil menghampiriku.

“Hujannya masih deras, pak” Jawabku.

“Sama saya aja pulangnya,” Tawarnya.

“Nggak usah pak. Nanti saya telepon taxi aja,” Tolakku.

“Rumah kita kan searah. Ayo pulang sama saya aja,” Tawarnya lagi. Akhirnya aku mengganguk mengiyakan. Sebenarnya aku agak segan dengan kepala bagianku yang satu ini. Biasanya di kantor dia jarang ngobrol dengan karyawan, tapi aku harus cepat pulang hari ini.

“Tapi tunggu sebentar ya, Ran. Mobil saya lagi dipakai buat jemput adik saya di bandara,”

“Adik kandung, pak?” Tanyaku.

“Iya, adik saya yang paling kecil. Baru selesai S2 di Jerman,”

“Eh… ayo, itu mereka udah datang,” Pak Fadil menunjuk sebuah sedan hitam yang berhenti tepat di depan kantor. Aku mengikuti langkah pak Fadil.

Pak Fadil dan aku duduk di belakang. Di depan duduk adiknya pak Fadil. Aku nggak bisa melihat mukanya dengan jelas karena dia mengunakan topi dan hampir sebagian mukanya ditutupi syal.

“Dari bandara tidur terus, pak,” Kata supir waktu pak Fadil mengajak adiknya bicara. Pak Fadil mengguman nggak jelas, aku cuma tersenyum.

“Adik saya yang satu ini pikirannya masih kaya’ anak kecil. Di pikirannya cuma senang-senang, nggak pernah mau mikir gimana masa depannya nanti. Nggak pernah sekalipun saya dengar dia punya rencana buat ke masa depannya,” Cerita pak Fadil.

“Namanya juga anak muda, pak. Nanti ada waktunya pasti bisa sadar kok,” Balasku. Pak Fadil tertawa.

“Saya pun mikir gitu, tapi buat orang yang satu ini kaya’nya nggak deh. Tapi mudah-mudahan aja beberapa tahun ini bisa buat dia lebih dewasa,”

“Mungkin gara-gara anak bungsu ya, pak,”

“Iya, gara-gara dari kecil selalu dimanja,” Pak Fadil menghela nafas panjang.

“Oya, rumah kamu dimana?”

“Dua blok lagi, pak,” Jawabku.

Aku diberhentikan tepat di depan rumahku. Hujan masih turun dengan derasnya dan sesekali suara guntur menggelegar. Dingin sekali dan perasaanku tambah nggak menentu. Aku benci sekali dengan hujan.

[“Ayolah, Ran. Apa sih bedanya dua atau tiga tahun ke depan dibanding sekarang. Masih sama aja kan,”

“Maksudnya, aku harus nunggu dua atau tiga tahun lagi?”

“Belum pasti juga sih,”

“Kalau sekarang kenapa?”

“Aku belum siap aja. Kamu lihat aja sendiri, sekarang kerjaanku belum tetap, apa-apa masih minta orang tua. Makanya aku bilang aku belum siap buat hubungan yang lebih serius. Aku belum siap berkomitmen, Ran,”

“Aku nggak minta dinikahi sekarang kok! Aku cuma minta kejelasan,”]

Siapa orang yang paling ingin kuhapuskan dari ingatanku? Jawabannya pasti dia. Dulu aku terlalu berharap akan kelanjutan hubunganku. Lima tahun tanpa pernah ada kepastian apa-apa, selama itu aku cuma bisa berharap dia bisa berubah.

Kata orang, aku dan dia pacaran. Tapi nggak kaya’ gitu yang kurasa. Sedikitpun dia nggak pernah anggap aku hal penting dalam hidupnya. Ya sudah, semuanya berjalan begitu saja, aku digantung tanpa pernah ada kepastian apa-apa.

Katanya dia sayang sama aku, tapi nggak pernah sekalipun dia ngerti perasaanku. Dia selalu buat aku nangis tanpa pernah mau menenangkanku. Dia selalu menutup mata dan perasaannya setiap ku tanya apa arti aku buat dia. Buat dia, aku adalah prioritas kesekian setelah hal-hal lain yang dianggapnya penting.

Sampai suatu hari aku baru sadar kalau ternyata mungkin aku yang terlalu erat menggengam tali yang digantungnya. Kenapa nggak kulepasin saja tali itu?

Biandra Raspati
Kota ini menyambutku dengan hujan. Tiga tahun lalu, hujan juga yang mengantarkan aku meninggalkan kota ini.

Tiba-tiba aku jadi kangen dengan dia. Apa kabarnya dia sekarang ya?

Aku masih bisa mendengar rintik hujan di luar sana, tapi aku terlalu malas membuka mataku. Kepalaku berat dan badanku pegal-pegal. Saat ini yang kubutuhkan cuma tidur.

Rasanya aku masih mimpi ketika samar-samar kudengar suara yang begitu akrab di telingaku. Aku tetap memejamkan mataku sambil menajamkan pendengaranku. Nggak salah lagi, itu suaranya.

Sampai sosok itu terlihat dengan jelas di hadapanku, itu memang dia. Rintik hujan nggak mungkin membuatku salah. Sosok itu selalu kurindukan sampai hari ini.

Matanya membesar ketika melihatku. Dia terdiam. Aku menghampirinya sambil tersenyum. Baru kali ini aku merasakan perasaanku berdebar-debar, mirip seperti saat pertama kali bertemu dengannya.

“Apa kabar?” Sapaku. Dia masih terdiam. Mungkin nggak habis pikir kenapa aku bisa tahu tempat kerjanya. Padahal kalau dia sadar, dari kemarin dia sudah bertemu denganku.

Wajahnya kelihatan gelisah. Aku semakin mendekat. Rasanya ingin kupeluk dia.

“Kamu… kamu ngapain disini?” Dia mundur beberapa langkah saat aku mendekatinya.

“Pengen ketemu kamu,” Sahutku.

“Aku lagi banyak kerjaan,” Cetusnya.

“Kutunggu sampai kamu pulang,” Balasku.

“Apa maumu?” Tanyanya.

“Kiran, aku pengen ngobrol banyak sama kamu,” Aku tahu, dia mulai nggak suka dengan kehadiranku.

Dia menghela nafas panjang, memandangku dari ujung kaki sampai kepala.

“Aku lagi nggak pengen ngobrol sama kamu,” Katanya. Aku tahu dia bohong. Aku tersenyum.

“Tapi aku bakal tetap nunggu disini sampai kamu pulang,”

Dia langsung beranjak meninggalkanku dan nggak bicara apa-apa lagi. Aku terus memandangnya sampai hilang dari pandanganku.

Mungkin dipikirnya aku nggak serius. Itu kata-kata yang sering diucapkannya dulu. Aku nggak pernah serius dengan dia, aku nggak pernah mikirin dia.

Bodoh, padahal semua itu nggak benar. Cuma, waktu itu aku memang masih takut berkomitmen yang lebih serius. Tapi itu bukan artinya aku mempermainkan dia. Menurutku, waktunya belum tepat.

Setelah Kiran mutusin buat ninggalin aku, rasanya nggak ada lagi yang aku kejar, semuanya hampa. Sampai akhirnya aku nurutin kemauan orangtuaku buat ngelanjutkan S2 ke Jerman. Padahal sebelumnya itu sama sekali nggak terpikir di otakku. Kupikir dengan begitu, bakal bisa ngelupain dia. Tapi ternyata aku salah.

Aku sadar, mungkin memang salahku. Saat ini, dipertemukan lagi dengan dia seperti isyarat kalau dia memang jodohku.

Nada Kirania
Dia tiba-tiba muncul di hadapanku. Rasanya seperti melihat hantu. Mirip seperti mimpi-mimpiku beberapa hari terakhir ini.

Sebenarnya aku sudah mengubur keinginanku dalam-dalam buat bisa bertemu lagi dengan dia. Biarpun sulit rasanya kulupain, tapi sudahlah aku nggak mau nyakitin hatiku lagi. Tapi tadi tiba-tiba saja kenangan-kenangan masa laluku satu persatu membentuk puzzle yang hampir sempurna.

Apa maksudnya dia datang lagi? Ya Tuhan, kenapa perasaanku jadi nggak menentu. Apa ini masih boleh aku rasain?

Rasanya aku belum siap buat bertemu dia.

Biandra Raspati
Aku mengetuk pintu rumahnya. Aku tahu, mungkin dia belum siap bertemu denganku. Tapi, aku nggak bisa menunggu lebih lama lagi. Cukup kesalahan yang dulu pernah aku lakuin.

Pintu terbuka perlahan. Tanganku sudah lebih dulu menahan pintu sebelum dia menutupnya kembali.

“Kita harus bicara, Ran!” Pintaku. Wajahnya ketakutan. Apa aku begitu menakutkannya buat dia?

“Dari mana kamu tahu rumahku?” Tanyanya. Aku nggak menjawab, tapi langsung masuk dan duduk di ruang tamunya.

“Aku cuma pengen ngobrol dengan kamu, nggak bermaksud buruk kok,” Kataku. Dia menatapku tajam dan kemudian setengah terpaksa duduk di hadapanku.

“Apa kabarmu?” Tanyaku berusaha mencairkan suasana.

“Seperti yang kamu lihat,” Sahutnya pendek.

“Aku baru pulang kemarin,” Ceritaku. Entahlah, apa dia masih mau mendengar ceritaku.

“Dari mana?” Aku tahu, itu cuma basa basi.

“Jerman. Tiga tahun aku disana,” Dia cuma diam, mungkin pura-pura tertarik.

“Pulang kesini, dipikiranku pasti udah nggak mungkin bisa ketemu kamu lagi. Tapi ternyata kamulah orang pertama yang kutemui kemarin. Dan aku rasa, aku nggak mau ngelepasin kamu lagi,”

Dia diam dan terus menatapku. Aku nggak tahu kenapa wajahnya gelisah dari tadi.

“Kiran, aku memang bodoh. Tapi aku mohon, untuk kali ini percaya padaku, aku mau kita bersama lagi. Bukan seperti dulu, kali ini lebih serius,”

Suara tangisan mengejutkanku. Sesosok tubuh mungil muncul dan berjalan tertatih menuju Kiran. Kiran langsung memeluknya. Aku terhenyak.

“Biyan kenapa?” Tanyanya sambil mengelus kepala anak itu. Namanya mirip dengan namaku.

“Kamu sudah menikah?” Tanyaku ragu. Dia diam dan anehnya malah menangis.

“Kamu pulang aja, udah malam,” Dia mendorong tubuhku. Walaupun sebenarnya enggan, tak urung aku beranjak juga.

Aku menatap mereka berdua. Biyan kecil bersembunyi di pelukan Kiran sambil sesegukan.

“Dia anakmu?” Tanyaku lagi. Kiran nggak menjawab, dia malah mendorong tubuhku keluar dan mengunci pintu rumahnya.

Aku tertegun. Dunia kurasakan mau runtuh.

Nada Kirania
Aku memeluk Biyan sambil terus menangis. Seharusnya dia nggak usah kembali saja.

“Mama… ma…,” Rengek Biyan. Aku menghapus air mataku dan menatap matanya.

“Biyan mau bobo ya? Kita bobo sekarang ya,” Aku memeluk Biyan dan menahan tangisku.

Biyan sudah lelap tertidur. Aku menangis lagi. Kacau sekali rasanya, semua bertumpuk di kepalaku.

Satu persatu kenanganku bersama dia bermunculan. Rasanya langit-langit kamarku dipenuhi wajahnya.

Pintu rumahku diketuk perlahan. Pasti dia masih diluar. Serba salah rasanya. Ketukannya semakin keras. Ini sudah tengah malam, suaranya bisa mengganggu.

Akhirnya kubuka pintu rumahku. Dia mematung di depan pintu dan menatapku seolah minta penjelasan. Aku nggak kuat lagi.

Tangisku pecah. Dia langsung memeluk dan menuntunku masuk ke rumah.

Nafasku sesak dan sulit sekali buat bernafas.

Biandra Raspati
Aku memeluknya. Tubuhnya bergetar pelan karena tangisannya.

Hening sesaat setelah dia berhenti menangis. Aku menatap wajahnya dan menghapus sisa air mata di pipinya. Dulu, aku paling benci kalau dia menangis. Menangis itu tanda kelemahan, aku benci perempuan lemah. Sekarang, aku merasakan debaran aneh saat melihatnya menangis.

“Aku memang sudah menikah,” Katanya pelan. Aku menahan nafasku. Sakit sekali rasanya.

“Suamimu?” Tanyaku bingung. Aku sendiri nggak tahu apa maksud pertanyaanku. Dia menggeleng lemah. Sekilas matanya nampak berkaca-kaca.

“Kami sudah cerai waktu Biyan baru lahir,” Bisiknya lirih.

Aku memeluknya tambah erat. Entah kenapa aku merasa akulah penyebab semua ini. Andai saja dulu aku lebih berani mengambil sikap.

“Maaf, kalau aku terlambat,” Bisikku di telinganya.

Nada Kirania
Aku tahu, kali ini aku melanggar peraturan yang sudah lama aku buat. Aku selalu memaksa diriku buat bisa melupakan dia dan nggak pernah mau lagi membayangkan apa aku masih berarti buat dia.

Tapi hari ini, tatapan matanya, raut wajahnya dan juga pelukannya ternyata menyadarkan aku kalau selama ini aku cuma bisa membohongi diriku sendiri dan membuat seolah-olah aku begitu kuat tanpa dia. Ya, ternyata dia masih begitu berarti buatku.

Bagiku dia nggak terlambat, sekaranglah saat yang tepat.

END

Cerpen Karangan: Eva Kurniasari
Blog: vadeliciouslife.blogspot.com

Cerpen Kiran & Bian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Ibu Gajah

Oleh:
Pada suatu hari, Di hutan Afrika, ada sebuah keluarga gajah. Keluarga tersebut terdiri dari Ibu Gajah, Ayah Gajah, Dan seekor anak gajah yang bernama Olive. Esoknya, ibu gajah melahirkan

Apa itu Cinta?

Oleh:
Cinta itu adalah karunia terindah yang diberikan tuhan pada setiap makhuknya, cinta itu tidak bisa digambarkan lewat lisan, cinta itu tidak bisa dungkapkan lewat kata-kata, tapi cinta hanya bisa

Misteri Sebuah Perasaan

Oleh:
Matahari yang mulai tampak di belahan timur bumi, ditengah dingin yang menusuk kulit. Membuat hati tak bisa mengelak untuk menyapa dunia. Hari yang penuh dengan aktivitas, hari yang selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *