Klara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 28 June 2016

Hari itu hari minggu, 29 juli 2015. Hari yang paling berat dalam hidupku, hari dimana aku benar benar kehilangan orang yang mencintaiku dengan tulus. Hari yang akan selamanya ku ingat sepanjang perjalan hidup seorang klara.
Namaku klarita adrica natasya, namun aku lebih senang dipanggil klara, kenapa? Karena nama itu pemberian dari teman masa kecilku adri, pangeran kecilku yang entah dimana sekarang ia berada. Disini, aku akan menceritakan kisahku dengar seorang pria sederhana yang selalu berhasil membuatku jengkel dan muak dengannya. Namanya rian, tampan memang, tapi… Kere. Tentu jauh dari tipe pria idealku. Tiga tahun aku sekolah di sma ini dan tiga tahun pula ia mengejarku seperti orang yang tak tahu malu.

Siang itu, aku duduk bersama dengan teman temanku di depan kelas, pria tak tahu diri itu dengan pdnya berjalan ke arahku dan menyodorkan sebuah bingkisan kado. Aku menatapnya garang.
“Ini untuk kamu, klara” ucapnya terbata, aku tersenyum mengejek. Berani beraninya cowok kere ini memberikan bingkisan untukku. Apa dia tidak tahu seleraku seperti apa.
“Apa ini? Palingan juga isinya murahan. Hee denger yah, gue itu nggak selevel dengan lo… Lo… Lo sadar diri dong, lo siapa dan gue siapa. Ok gue akui lo tampan. Tapi buat apa tampan kalau kere” aku tersenyum mengejeknya, seketika ia menjadi pusat perhatian. Aku masih bisa mengingat bagaimana ekspresinya kala itu. Dia tersenyum, yah dia bahkan tidak menampakkan wajah kesal atau kecewanya, tak ada satu kata apapun darinya.

Kupikir setelah kejadian itu ia takkan menggangguku lagi, tapi bukan rian naamanya kalau tidak merecokiku dalam sehari, kali ini bukan bingkisan namun segelas minuman. Milk tea, yah dia bahkan tahu aku sangat menyukai minuman itu, namun dengan angkuh aku menolaknya.
“Kamu itu tidak tahu malu banget sih, kamu ngasih aku minuman murahan kayak gini. Hello.. Kamu fikir aku mau. Dasar kere” hujatku di depan teman temannya, semua orang hanya diam, tak ada yang berani angkat bicara
“Aku senang kamu memanggilku kamu. Aku tahu kamu lelah makannya kubawakan minuman ini untukmu. Murah memang, namun rasanya enak kok”
Dan lagi lagi dia hanya tersenyum lalu beranjak pergi, dasar idiot. Bisa kalian bayangkan bagaimana bodohnya pria itu, mengejarku selama 3 tahun dan yang didapat hanya cacian dariku. Aku sendiri kadang tak tega, namun aku juga tidak ingin memberikannya harapan. Aku tidak menyukainya dan tidak akan pernah menyukainya.

Semakin kesini aku semakin jenuh dengan sikap pria itu, aku merasa terganggu hingga aku membuat sebuah jebakan untuknya, bukan jebakan juga lebih tepatnya pelajaran agar dia bisa berhenti mengejarku. Yah hari itu aku sengaja pulang telat dan menunggu di perpus untuk menjalankan misiku, aku tahu setiap pulang sekolah rian akan tinggal di perpus untuk membaca buku. Dan ini dia, begitu ia masuk dengan sigap aku menarik tangan alex dan menciumnya, alex tak menolak tapi justru membalas ciumanku itu, aku tahu ia terkejut tapi dasar buaya, dia seperti sangat menikmatinya. Kulihat rian menatap ke arah kami, tak berkedip sedikit pun, tak jua beranjak dari sana. Sial kenapa aku justru merasa kasihan dengannya, dia terlihat sangat hancur. Aku melihat kekecewaan terpancar dari matanya. Pliss jangan melihatku seperti itu, aku merasa bersalah, sungguh aku tidak tega melihatnya sehancur itu.

Perlahan ia mundur dan mulai berbalik, selangkah.. Dua langkah.. Tiga langkah, tidak… Jangan pergi, kumohon, ini tidak seperti yang kamu lihat, siaal kenapa hatiku jadi bergejolak seperti ini, tidak aku tidak boleh begini. Aku adalah klarita dan aku … Perasaanku, tidak ini pasti salah. Dan rian benar benar pergi dari sana, dia benar benar pergi dan tak menengokku seperti hari hari sebelumnya. Itu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan.

Satu minggu berlalu, aku tidak pernah lagi melihat pria idiot itu. Tak pernah bahkan sekalipun, ada yang aneh rasanya. Ada perasaan tidak rela juga, aku menatap jam tanganku. Jam 12.45, biasanya ia akan datang memberikanku milk tea meskipun aku selalu menolaknya. Dan sekarang rasanya benar benar berbeda tak melihatnya seminggu ini.
“Lo kenapa kla?” tanya salah seorang temanku
“Nggak papa, lagi bosan aja”
“Jangan bilang lo kangen denga mr. Idiot itu, aduh kla lo udah gila ya”
“Nggak lah.. Ngapain kangen sama dia, gue justru bahagia nggak ada dia lagi. Kalau perlu dia meninggal saja supaya gue bisa tenang”
Kalimat yang keluar begitu saja dari mulutku dan sekarang, aku sangat menyesal telah mengatakannya.

Tak terasa sebulan telah berlalu, masih tak ada kabar dari rian, dia juga tidak pernah lagi masuk sekolah, aku semakin bingung dengan perasaanku, rasa rindu, bersalah, semuanya kurasakan. Apa mungkin aku telah jatuh hati dengan pria itu, tapi dimana sekarang dia, hilang bagai ditelan bumi. Hanya ada satu cara untuk mengetahui keberadaanya, nita. Yah nita adalah sahabat terdekat rian, mereka selalu jalan bareng dan sudah pasti ia tahu kemana rian sebulan ini.
Begitu jam pulang tiba, aku menunggu nita di parkiran, tak banyak basa basi
“Nit, lo tahu rian kemana sebulan ini?” tanyaku dengan nada sopan, namun gadis culun ini justru nyolot rasanya ingin kujambak rambut kuncirnya itu
“Emang apa pedulimu, bukannya kamu senang kalau rian menderita. Bukannya kamu bahagia jika dia terluka”
Nita pergi begitu saja, tapi satu yang kupastikan. Rian tidak dalam keadaan baik, tanpa berpikir panjang aku mengejar nita. Ini pertama kalinya aku mengejar seseorang dalam sejarah hidupku.
“Nit, tunggu dulu. Lo belum jawab pertanyaan gue. Apa yang terjadi dengan rian”
“Kenapa lagi kamu mencarinya, apa tidak cukup semua luka yang kau berikan untuknya, apa belum cukup semua hinaan yang rian terima. Kamu tahu dia sangat menyukaimu, dia mencintaimu setulus hatinya, tak pernah sedikitpun dia melirik gadis lain. Dia hanya melihatmu, baginya kamu satu satunya wanita yang akan ia cintai selamanya. Kamu ingin dia pergi kan. Sekarang kamu berbahagialah, dia benar benar telah pergi. Dan kamu, kamu gadis bodoh, kamu kehilangan orang yang telah mencintaimu dengan tulus. Kamu kehilangannya klara. Kamu kehilangan seorang pria yang mencintaimu sejak kalian berumur 13 tahun.”
Aku terdiam, perlahan air mataku menetes, sungguh ucapan nita benar benar mencabik abis hatiku. Aku kehilangannya? Apa maksudnya.
“Jangan bicara omong kosong nita, apa maksudmu aku kehilangannya?”
“Kalau kamu memang ingin tahu, ikut aku sekarang”

Aku bertambah bingung, kemana lagi gadis ini akan membawaku, hingga aku sadar ini adalah jalan ke pemakaman, pikiranku semakin tak karuan. Tidak, ini tidak seperti yang kamu pikirkan kla, tenanglah. Hingga semuanya terjawab.
Aku berdiri di sebuah makam, tubuhku bergetar hebat, rasanya lemas seperti tak ada tenaga untuk menopang tubuhku sendiri, aku terjatuh dan air mataku perlahan menetes, kudekati makam itu dengan sisa tenagaku, tidak… Ini tidak mungkin, ini salah, nama seorang pria yang telah kusia siakan selama ini tertulis rapi di batu nisan itu. Tak ada kata yang dapat kukeluarkan kala itu, aku menangis sejadi jadinya. Rian pandu winata. Dia benar benar pergi, dia benar benar meninggalkanku.

“Kamu tahu bagaimana cintanya dia kepadamu kla, kau tahu bagaimana bahagianya dia jika menceritakan tentang dirimu, kau tahu bagaimana dia berterimah kasih kepada tuhan saat kamu memanggilnya dngan sebutan kamu dan bukan lo, kamu tahu bagaimana dia menabung untuk membelikanmu milk tea setiap hari, membelikanmu roti setiap hari, dan kamu tahu saat sulit yang ia rasakan saat melewati masa kritisnya, dan apakah kamu tahu rasa kecewa yang ia rasakan saat melihatmu mencium alex, apakah kamu tahu bagimana ia berjuang mati matian mengejarmu, melindungimu tanpa kamu tahu.
Kamu ingat kla, siapa yang telah menolongmu saat seorang preman hampir merebut kegadisanmu dulu, dia adalah pria yang selalu kau sia siakan, pria yang selalu kamu pandang sebelah mata..
Apakah kamu tahu kla, siapa yang telah membuatkan tugas kala itu kamu lupa mengerjakannya. Kamu bahkan tidak tahukan siap pria berhati malaikat yang membantumu itu, kamu terlalu egois sehingga tidak bisa melihat itu semua.
Satu lagi, teman masa kecilmu yang selalu kamu cari cari itu, dia adalah rian, adrian. Pria yang tak pernah kau hargai hingga akhir hayatnya, pria yang selalu kau sakiti hingga akhir hidupnya. Pria yang selalu menyimpan cintanya untukmu hingga akhir nafasnya. Kamu benar benar gadis yang bodoh klara.”

Nita meninggalkanku sendiri, sebelumnya dia memberika sebuah bingkisan. Aku ingat, bingkisan itu adalah bingkisan yang sama yang ingin diberikan rian dulu namun kutolak. Sungguh aku benar benar menyesal, aku meruntuti diriku sendiri yang telah menyianyiakan rian, tuhan aku ingin melihatnya sekali lagi. Aku ingi bertemu dengannya walau sekali tuhan.

Perlahan kubuka bingkisan itu, aku terkejut melihat isinya. Buku tabungan beserta kartu atm, disana juga terdapat sepucuk surat. Isi surat itu sungguh menyayat hatiku. Dia selalu berusaha meembuatku bahagia hinggah akhir hayatnya.

Untukmu klara.
Ehemm, aku bingung mau nulis apa. Klara aku sungguh mencintaimu, tulus dari hatiku yang paling dalam. Aku tahu kamu tidak akan pernah menyukaiku, tak akan pernah bisa mencintaiku, tapi kumohon ijinkan cinta ini tetap tumbuh di hatiku.
Kamu ingat tidak awal kita bertemu, waktu itu kamu masih berusia 13 tahun. Kamu menangis karena jatuh dari sepeda dan aku menolongmu, dari situlah aku mulai jatuh hati padamu. Awalnya kupikir itu hanyalah cinta monyet namun sepertinya aku salah, aku benar benar mencintaimu hinggah sekarang ini.
Yahh aku adalah, adri. Pangeran masa kecilmu my klara
Dan karena telah meninggalkanmu dulu, aku minta maaf. Saat itu, ayahku bangkrut dan ibuku mengalami deprasi berat hingga mau tidak mau aku harus menemani ibuku untuk berobat, namun tak pernah sekalipun aku melupakanmu.
Kamu ingin ke pulau maladewa kan, disitu ada buku tabunganku. Tidak terlalu banyak memang tapi itu lebih dari cukup untukmu liburan kesana bersama pasanganmu. Jujurnya, dulu aku bermimpi akan kesana bersamamu, seperti janji kita berdua, namun sepertinya hal itu tidak mungkin. Aku tidak ingin memaksakan kehendakku.
Maaf jika selama ini aku selalu mengusik dan membuatmu jengkel. Itu kulakukan karena aku sangat menyukamu. Tak rela rasanya bila seseorang menyakitimu.
Maafkan aku klara
Beloved
Adrian pandu winata

Aku menangis sejadi jadinya, sunggih sakit rasanya tuhan. Tak sanggup lagi rasanya melewati ini semua.

Cerpen Karangan: Liliyana Amsir
Facebook: Liliyana Amsir

Cerpen Klara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nyanyian Pagi di Victoria

Oleh:
Dengan setengah berjongkok kuarahkan kamera “olympus” ku ke satu-satunya objek yang sudah lama kuincar selama tiga tahun terakhir. Tak cukup sekali, bahkan berkali-kali kupotret sosok seniman bela diri yang

Satu Keputusan Untuk Selamanya

Oleh:
Arlojiku menunjukkan waktu sudah jam 5:30 pagi, dimana anak-anak remaja seumuran denganku masih terlelap dalam tidurnya dan masih bersenang-senang di alam mimpi. Sedangkan aku sudah harus bangun untuk bersiap-siap

Telat

Oleh:
“Huh kenapa banyak banget pr sih” gumamku sambil malas-malasan. Aku pikir lebih baik aku tidur terlebih dahulu sekiranya untuk menyegarkan pikiranku dan meningkatkan konsentrasiku nantinya setelah aku bangun kembali.

Arti Kehilangan

Oleh:
Bilqis adalah seorang anak remaja berumur 18 tahun, dia seorang yang pekerja keras, ramah, dan penyabar dia memiliki seorang adik bernama Cha gadis cantik berumur 15 tahun. Sifat Cha

Just

Oleh:
Setelah mengalami kecelakaan yang hebat dan dirawat di rumah sakit untuk beberapa bulan akhirnya Rey bisa kembali bersekolah. Tapi, semenjak keluar dari rumah sakit itu, ada sosok makhluk gaib

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *