Lelaki dan Pohon Cemara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 3 November 2016

Di bahu jalan terdapat sebatang pohon cemara yang tumbuh rindang. Sudah dua puluh tahun pohon itu menemani Jalan Harapan. Di bawahnya terdapat beberapa bangku yang terbuat dari kayu. Walaupun sudah terlihat tua. Tapi kebanyakan orang selalu menemani bangku itu sambil menghirup udara segar di bawah pohon tersebut
Jika mentari mulai menyembur warna tubuhnya dengan kuning keemasan di ufuk timur. Maka siapapun yang berlalu lalang di jalan Harapan. Pastilah akan melihat sosok sepasang sahabat duduk di bawah pohon cemara.

Wanita itu terlihat sesekali duduk termangu. Menatap tajam di angkasa sore. Kadang-kadang titik kalbunya menetes di pinggiran pipi mulusnya. Orang-orang yang berlalu lalang banyak berfirasat. Kalau wanita itu sedang bertengkar ataupun kecewa dengan pria di sampingnya itu.
Namun apa yang orang-orang terjemahkan tentang pria itu. Ternyata tidaklah benar adanya. Lalu siapa? Adalah orang masa lalunya. Pria yang di sampingnya itu hanyalah sosok sahabat. Dimana mencoba menjelma menjadi sapu tangan untuk menyeka beningan air mata gadis itu.

Dulu Rahmat sempat meminang Aliska untuk menjadi orang yang terahkir dalam hidupnya. Seiring berjalannya waktu kisah mereka kandas di atas luka. Karena pria itu mendua badan dengan wanita lain. Itulah yang membuat gadis berambut pirang ini kecewa.
Kekecewaan membuat dirinya tidak lagi mendamaikan batinnya dengan masa lalunya. Walaupun pernah sekali Rahmat meminta mereka untuk saling mencintai seperti dulu lagi. Baginya sosok mantan hanyalah kepingan kaca yang tak mungkin disentuhnya lagi.

Semenjak saat itulah Aliska memilih Roy untuk menjadi teman curhatnya. Setiap pertemuan gadis itu selalu memunculkan nama Rahmat sebagai sosok yang amat dibencinya. Tiada bosannya gadis tersebut memuntahkan kisah pendihnya. Walaupun yang dia kisahkan seputar masalah cintanya yang gagal itu.
“Aku benci dengan pria sepertinya, aku tertikam dengan cintanya yang kian hari semakin tajam. Tanpa kusadari membuatku tersiksa dalam luka!” Sahutnya dengan nada emosi. Sambil Roy mengeluarkan secarcik tisu untuknya “Aku yakin suatu saat kau bisa melupakannya” balas pria itu.

Pohon cemara mengibas-ngibas daun-daunnya yang menjuntai bak lidi-lidi kecil. Mungkin saja pohon tua itu sedang menulis rangkaian luka gadis itu yang ditikam oleh dusta. Ehm, dusta yang tak mampu mendamaikan hatinya dengan sang mantan.

Kadang-kadang senyuman manisnya mengukir indah dari wajah Aliska. Roy tampak sedikit legah jika gadis di depan matanya itu tak mengingat sang mantan. Ya, bukan tidak suka dengan kisahnya yang terkadang menguras air mata. Melainkan dia ingin sekali wanita itu bisa melupakan kepedihan masa lalunya.

Senyuman itu hanya bertahan beberapa jam saja. Jika tatapannya mulai kosong dan menikam bentangan angkasa yang berwarna keemasan. Maka nama Rahmat akan terucap olehnya. Dan disusul dengan titikan air mata yang mulai menodai kecantikan wajahnya.

Entah sampai kapan Aliska berhenti untuk bercerita dan mengingat kisah pedihnya. Padahal mereka sudah berpisah selama enam bulan yang lalu. Tekad utamanya setelah berkisah tentang masa lalunya dengan Roy. Dia bisa melupakan sang mantanya itu.

“Lis, sampai kapan kau begini terus?” tanya Roy dengan mimik wajah separuh letih. Letih melihat episode kisah Aliska tak kunjung berending.
“Sampai aku bisa mencintai laki-laki lain” jelas Aliska.
“Mungkin dengan jatuh cinta lagi kau bisa mengobati lukamu” sahut Roy itu.

Suatu petang, angin berhembus kencang. juntain daun cemara gugur dan berserakan di bahu jalan Harapan. Sebentar lagi bumi akan segera menangis. Roy dan Aliska duduk berhadapan. Pria itu hendak mengungkapkan kata. Kata yang tersimpan setahun yang lalu. Dimana hendak diungkapnya. Tetapi Aliska pada waktu itu sudah berpunya kasih, yakni Rahmat.
Roy memang pernah mencintai gadis itu dalam diam. Walaupun dia tahu Aliska adalah milik Rahmat. Ahkirnya pria itu mencoba melupakan gadis yang sudah berpunya kasih. Pikirnya waktu itu; mustahil kalau dirinya bisa bersama dengannya. Karena cinta mati sudah membungkus raga Aliska.
Dan pada kesempatan ini Roy mencoba menghidupkan kembali benih cinta yang sudah terbuang. Nazar hatinya mencoba untuk menyakinkan bahwa dia juga mencintai Aliska. Jika dirinya bisa bercinta dengan gadis itu, satu niat yang hendak dia lakukan; mencoba untuk mengobati luka dan melupakan Aliska dari sang mantan.

“Lis, aku mencintamu” kalimat itu mengelegar di bawah mendung. Bagai kilat dan gemuruh yang sedang bersahutan di langit gelap dan pekat “Lupakan Rahmat, aku berharap kau bisa mencintaku dan menerimaku” sambungnya.
Dan Aliska lekas memeluk Roy. Dadanya berdegup kencang. Pikirannya masih teringat kata-kata segar sepekan lalu. Dimana dia sempat berkata “Sampai aku bisa mencintai laki-laki lain”. Mungkin inilah laki-laki itu. Laki-laki yang sedang berada dalam pelukannya.

Satu, dua, tiga dan sampai hari ketujuh. Roy merasa legah dimana Rahmat tak lagi hadir di bibir Aliska semenjak mereka berpacaran. Kali ini benar katanya “Mungkin dengan jatuh cinta lagi kau bisa mengobati lukamu”. Jiwanya menjadi obat yang mujarab. Dimana gadis itu seolah siuman dari luka yang pernah mencabik hatinya.
Jiwaku bertahan sebentar saja menjadi obatmu. Berlalunya waktu beningan kalbu menitik kembali dan menodai lembutnya pipi mulusmu. Dan itulah kalimat yang bersenandung di dalam jiwa Roy.
Nama Rahmat hanya membisu di bibir Aliska beberapa minggu saja. Setelah itu gadis tersebut pasti menitikan air matanya lagi. Kemudian mendekap di dalam pelukan Roy.

Entahlah, sampai kapan Aliska berhenti bercerita tentang Rahmat. Padahal Roy sangat berharap dirinya mampu menjadi pelangi selepas hujan. Tapi mungkin kadar jiwanya sebagai obat sudah kadaluarsa. Dan membuat gadis berambut pirang itu memilih untuk merindui luka lama. Ketimbang merindukan kehadirannya sebagai kekasih.

Roy menatap sedih di langit sore. Bukan dengan sepasang mata. Tapi menatap dengan kepingan hatinya. Mungkin Rahmat terlalu istimewa, sehingga Aliska sangat merinduinya. Tanpa tahu itu sangat mencabik hati Roy.
Berat bibir hendak berkata. Memilih untuk berkecamuk dalam jiwa yang kosong tanpa ada harapan. Dan mulailah dia bertanya dengan pengharapan itu “sampai kapan wanita ini berhenti untuk mengingat sang mantan?”

Ahkir-ahkir ini wajah Roy terlihat berubah disetiap pertemuan mereka. Sehingga Sontak mengundang tanya dari Aliska “Roy kau kenapa? Berceritalah kepadaku sebelum aku ingin mencurati kejamnya Rahmat yang melukaiku”
Apa yang harus dijelaskan oleh Roy? Sedangkan Aliska tetap saja tak bosannya membahas tentang mantannya itu dalam air matanya. Sepertinya sudah latah bibirnya dengan kalimat R A H M A T.
Dan kali ini Roy hanya terdiam. Menatap dengan senyum sambil menggelengkan kepalanya. Sebagai isyarat semuanya akan baik-baik saja. Memang dia harus berbohong sore itu. Tak merangkai kata untuk menjelaskan kalau dia sudah letih hanya untuk mendengar kisah asmara Aliska yang gagal itu. Dalam benaknya “Cobalah Aliska kau bercerita tentang masa depan hubungan kita yang baru seumur jagung ini. Tapi entahlahh…”

Aliska duduk menyendiri di bawah pohon cemara. Dalam empat hari berturut-turut Roy tiada datang menemaninya. Sudah beberapa kali dia coba menghubungi pria itu. Tapi dirinya tidak pernah mendapat jawaban dari kekasihnya itu.
Tampak gelisah mulai terpancar di rona wajahnya. Mungkin saja nama Rahmat sudah penuh dibenaknya. Karena Roy tak kunjung datang. Kepada siapa nama dan kisah pedihnya itu hendak dimuntahkannya lagi? Soalnya hanya kekasihnyalah yang paling setia mendengar. Walaupun terkadang juga merasa letih bercampur sedih dan kecewa.

Seorang pria berbaju orange membawa sepucuk surat. Setelah menerima surat itu, petugas kantor pos pun berlalu di hadapannya. Mulailah Aliska membuka surat itu. Sambil dia duduk menatap ke luar dimana jendelanya sedikit terbuka. Sehingga pada saat bersamaan angin yang berhembus sepoi-sepoi menyentuh kulit mulus dan rambut pirangnya itu.
Setelah membaca, kembali Aliska merelakan air matanya jatuh terurai dan menyentuh kertas itu. Surat itu kiriman dari Roy sang kekasih. Pria itu harus pergi ke luar kota. Sempat dia berkata pamit dari rangkaian tulis tangannya itu; kalau dia tidak akan pernah kembali. kemudian meminta Aliska mencari pria yang mampu mengobati dan melupakannya dari sang mantan.

Roy pergi dengan sebuah alasan. Seperti dia datang mempersembahan hatinya untuk Aliska dengan satu alasan. Agar gadis yang dicintainya itu bisa luput dari masa lalunya. Tapi waktu yang singkat mulai menyadarinya. Bahwa ketika cinta dan alasan itu tidak bisa berjalan searah, maka biarlah dirinya pergi. Karena alasan yang selalu diingin tidak terkabul. Buktinya Aliska masih saja mengurus masalalunya dan membahas Rahmat dengan air matanya di hadapan Roy.
Barulah Aliska menyadari dengan situasi yang terlanjur tak bisa diubahnya. Seorang yang benar-benar mencintainya pergi dari hidupnya. Dia telah kehilangan orang yang berharga. Karena telah menghabiskan waktu membahas masalalunya. Seolah dirinya berpikir masalalunya itu bisa diubah jalan ceritnya.

Kini tinggalah Aliska berdiri di seberang jalan sambil menatap dengan mata bersimbah kalbu. Pohon cemara yang konon tempat dia bersingah untuk berkisah duka di hadapan Roy. Kini harus ditembang para pekerja jalan. Karena pemerintah setempat ingin memperluas ruas jalan Harapan.

Roy dan pohon cemara itu hilang dalam sekejap. Jika pohon cemara itu tumbang karena pelebaran jalan Harapan. Maka lelaki itu pergi karena terusik dengan masa lalu Aliska. Yang mana selalu hadir di bibirnya. Tapi keduan-duanya memiliki sama arti. Bahwa pohon cemara dan lelaki itu sama-sama hilang di hadapan Aliska.

The End.

Cerpen Karangan: Yohanes Tuba
Facebook: Yohanes Tuba Matarau
Selamat malam teman-teman komunitas cerpenmu,
Nama saya Yohanes Tuba Matarau. Saya berdomisili di Batam. Hobi saya menulis dan mengarang.
Bagi teman-teman ingin berkomunikasi dengan saya bisa di hubungi facebook saya Yohanes Tuba Matarau. Salam kenal untuk pembaca sekalian.

Cerpen Lelaki dan Pohon Cemara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang

Oleh:
Malam itu, ketika malam mulai datang ditemani dinginnya bayu yang menyapa, termenunglah sesosok gadis bernama BINTANG. Dilihatnya seorang foto lelaki tampan yang terlihat indah di sebuah bingkai berwarna hitam

Patah

Oleh: ,
Malam itu Ibu menelepon dan memberitahu aku, tiga hari lagi mbak Fira kakakku yang paling tua mau pindah ke rumah barunya. Kebetulan aku memang lagi cuti kerja, Ibu memintaku

Pelangi Sederhana

Oleh:
Elsia adalah namaku Pagi buta.. bunyi kericikan air wudlu membangunankanku. Seperti biasa ibuku bangun lebih awal. Bahkan dia bangun sebelum suara adzan subuh berkumandang. rumah kecil ini hanya ada

Handphone Ajaib

Oleh:
Dina Angelina Marina, namanya. Ia sering dipanggil dengan nama Dina atau Lina. Tapi seringnya dipanggil Lina, sih. Pasti, semua orang mengira, ia adalah anak baik, sopan, dan rajin. Akan

Rindunya Tak Pernah Ada

Oleh:
Hari yang begitu cerah dipenuhi bunga bunga yang merebahkan dedaunan yang indah menebarkan semerbak semewangi di taman ini. Randi awali hari dengan senyuman yang indah seindah hati randi sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lelaki dan Pohon Cemara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *