Liker

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 29 February 2016

Jari-jari Petra berhenti menari di atas keyboard laptopnya, merangkai essay tentang hukum pidana sebanyak 2000 kata. Masih ada kurang lebih 500 kata lagi yang harus dia hasilkan agar tugasnya selesai, namun otaknya sedang lelah dan butuh pelumas. Ia me-minimize lembar kerjanya dan membuka Facebook. Sejatinya Petra bukan orang yang suka bermain media sosial, meski ia punya akun di hampir semua media sosial yang populer. Ada satu orang yang membuat Petra tidak lagi membiarkan Facebook dan kawan-kawan miliknya berkarat.

Cleo. Gadis itu baru saja mengunggah foto-foto liburannya di Jogja. Petra memperhatikan foto-foto itu sembari ingatannya kembali ke masa putih abu-abunya. Tanpa berpikir panjang, jarinnya menekan mouse, menekan tombol like di beberapa foto yang artistik. Petra dan Cleo adalah sahabat ketika SMA, meskipun mereka baru benar-benar akrab di tahun ketiga. Mereka selalu sekelas selama tiga tahun. Kemiripan-kemiripan yang mereka miliki membuat mereka sering disangka pacaran oleh teman-temannya. Nyatanya, hubungan Petra dan Cleo tidak lebih dari pertemanan. Meski sejujurnya, Petra sempat menyukai Cleo.

Mereka putus kontak begitu lulus. Petra sibuk dengan kuliahnya di jurusan hukum. Tak banyak yang ia ketahui tentang Cleo selain bahwa gadis itu mengambil program studi DKV di sebuah perguruan tinggi negeri yang jauh dari rumahnya, membuat jarak antara mereka berdua. Petra membangun kisahnya sendiri, berusaha melupakan Cleo. Hanya sesekali mereka saling mengirim pesan ketika salah satunya berulang tahun atau hari-hari besar. Sayang, usahanya tidak seratus persen berhasil.

Meski sudah sempat berpacaran dengan orang lain, tapi pada akhirnya kisah kasih Petra berakhir sekitar enam bulan yang lalu. Ia lalu mengobati kesepiannya dengan bermain media sosial. Dan di sanalah ia menemukan Cleo lagi, membaca status-statusnya, melihat foto-fotonya, menumbuhkan kembali memorinya. Cleo memang sudah berubah sejak terakhir kali mereka bertemu. Dia bertambah tinggi, semakin manis, dan semakin dewasa. Tapi, tidak semudah itu Petra menjalin komunikasi lagi dengan Cleo.

Sepertinya Cleo sudah punya seseorang istimewa. Karena itu, Petra hanya bisa melakukan satu hal untuk menyapa Cleo: menekan like, love, smile, laugh, frowned, apa pun stiker yang bisa mewakili perasaannya pada gadis itu. Untungnya, postingan-postingan Cleo tidak pernah dangkal. Semua kata-kata yang ia tuliskan begitu menarik, kadang menggelitik, kadang menarik pada sebuah perenungan. Petra bisa bersembunyi di balik alasan itu ketika memilih untuk menjadi liker setia Cleo. Tapi ia tahu, suatu saat ia harus keluar dari persembunyiannya.

You show me where I’ve been and that I’m not there anymore. That is what scars are for

Beberapa minggu belakangan intensitas update Cleo di media sosialnya meningkat. Dia mengunggah postingan yang wajar seperti biasanya, kecuali beberapa kalimat dan lagu-lagu yang menggambarkan tentang sakit hati, kehilangan, dan bangkit dari keterpurukan. “Hidup itu nggak selalu seperti cokelat yang manis. Kadang kita harus coba stroberi yang asem, jeruk yang kecut, kopi yang pahit, oatmeal yang hambar. Karena cokelat manis seenak apa pun bakal enek juga pada akhirnya.” Update Path itu diawali dengan foto Cleo sedang menyantap es krim rasa stroberi. Petra tahu Cleo penggemar cokelat nomor wahid. Dia tidak pernah melihat Cleo memesan rasa lain selain cokelat jika membeli susu, roti, es krim, dan dessert lainnya. Ketika punya nyali seperti saat ini, Petra akan meninggalkan komentar. “Tumben Miss Chocolate bosen cokelat.”

Lima menit kemudian…
“Pengen nyobain yang baru aja. Bukan berarti gue selingkuh sama si stroberi dan menduakan si cokelat ya, hehehe.” Petra tertawa singkat. Saling melemparkan komentar dengan Cleo seperti endorfin untuknya, selalu membuatnya senang dengan gejala senyum-senyum terkulum sampai terkikik-kikik sendiri. Yang jelas, keterlaluan bila komentar seorisinal itu mendapat balasan. “Kok gitu komennya? Abis patah hati, Non?” Sedetik kemudian, Petra menepuk dahinya, menyesali komentar cerobohnya yang sudah terlanjur terunggah itu. Keadaan Cleo kurang baik akhir-akhir ini. Bagaimana kalau Cleo tersinggung dan tidak mau lagi berkomunikasi dengannya?

“Bukan sakit hati, sakit gigi doang kok. Biasa kan, cokelat emang penyebab sakit gigi. Beda sama stroberi. Stroberi mah bagus buat gigi, malah bisa bikin putih.” Sial. Petra tidak bisa memikirkan umpan balik yang setimpal. Tapi ia tak pernah menyerah menjalankan aksinya memberikan like untuk pembaruan Cleo. Ia tidak pernah menemukan pernyataan bahwa seribu like yang ia berikan pada seseorang bisa membuka hati dan mata orang tersebut untuk melihat dirinya. Sama seperti ribuan peluru yang dilontarkan tentara penjajah, tidak menjamin pihak terjajah melihat dan tunduk kepada mereka.

Setiap orang memiliki ketidakberuntungan dalam satu hal. Jadi, seberapa keras pun dia mencoba melakukan hal tersebut, dia tidak akan berhasil. Orang yang tidak beruntung dalam hal olah raga akan selalu kehabisan napas ketika ia melatih fisiknya. Orang yang tidak beruntung dalam teknologi akan hidup dengan kegaptekan dan gadget yang tidak tahan lama. Tapi sama dengan ketidakberuntungan, setiap orang juga memiliki keberuntungannya masing-masing. Fokuslah pada kelebihanmu, jangan meratapi kekuranganmu, dan hidupmu akan lebih bernilai.

“Nice quote,” Petra bergumam sembari mengetik. Ia mendapatkan ‘thanks’ beberapa detik kemudian. “So, menurut lo apa ketidakberuntungan lo?”

Petra menunggu selama bermenit-menit. Ia mengerjakan tugasnya hingga mendapatkan lebih dari seribu kata. Ia menghabiskan secangkir besar kopi instan. Ia berhasil mengunduh dua album Coldplay favoritnya. Dan ponselnya menunjukkan notifikasi dari Cleo ketika Petra sudah bersiap tidur. Ia membatalkan perjalanannya ke alam mimpi dan terlibat percakapan larut malam dengan gadis impiannya.

“Musik,” Petra memulai. “Gue nggak bisa main alat musik apa pun, dan suara gue jelek,”
“Oh ya? Nggak percaya, hahaha. Tapi ya sudahlah. Terus apa keberuntungan lo?” Cleo bertanya.
Petra memiringkan kepalanya ke kanan. “Gue nggak bertambah gemuk meskipun makan gue kayak kuli,” ketiknya sambil tersenyum kecil. “Giliran lo,”
“Mulai dari keberuntungan, ya,”
“Oke,”

“Gue sering menang lotre kalau ada doorprize,”
Cowok itu mengangguk-angguk setuju. “Keberuntungan yang manis. Ketidakberuntungan?”
Cleo sedang mengetik. Lama sekali. Mungkin jawabannya berkalimat-kalimat, mungkin juga gadis itu tertidur dengan keypad ponsel aktif. Petra sabar menunggu sambil mendengarkan jarum jam berdetik. “Kulit gue gampang gosong kalau kena panas,”
“Well, lo ngetik lama banget. Gue yakin bukan cuma itu jawabannya,”

Cleo mengetik lagi. Waktunya tidak lebih singkat dari yang pertama. Tapi Petra pantang tidur sebelum membaca balasan gadis itu. “Actually… gue pikir gue nggak beruntung soal romance,”
Dahi Petra berkerut. “Kok bisa?” Bagaimana bisa gadis semanis, secerdas Cleo merasa tidak beruntung dalam hal yang, menurut Petra, milik semua orang itu?
“Lo beneran habis patah hati, kayaknya,”
“Udah lama, sih. Gue nggak mau bahas itu,” tegas Cleo.
“Oke. Tapi gue harap lo mau jelasin kenapa lo memutuskan hal itu adalah ketidakberuntungan lo,”

Cleo muncul lagi di media sosialnya setelah vakum selama seminggu. Waktu yang terlampau lama bagi Petra. Cowok: baik buat jadi teman, berengsek buat jadi yang spesial. Petra tidak bisa membayangkan cowok model apa yang sudah memecahkan hati Cleo sampai dia bisa membuat statement seperti itu di Twitter-nya. Setelah chat terpanjang mereka tempo hari, Petra tak berani mengusik Cleo. Dia sudah menunaikan keinginannya, mengatakan alasan di balik setiap like, love, smile, laugh, dan lainnya yang ia berikan. Keluarlah kalimat klise itu. Tapi hati Cleo sepertinya sudah berubah jadi benda keras, batu atau es. Dia tidak percaya, dan tiba-tiba saja ketakutan.

“Petra, I have bad memories with men that special for me,” akunya. “Dan gue paham sekarang. Ketika seorang laki-laki gue anggap istimewa, mereka berubah jadi makhluk yang berpotensi nyakitin gue. Bukan berarti gue tertutup dari mereka. Gue punya banyak temen cowok, dan mereka baik. Mereka akan selalu baik kalau gue hanya berteman sama mereka.”
“Begitu juga lo. Lo termasuk teman cowok gue yang paling baik. That’s why I liked you. Tapi ternyata lo nggak ngomong apa-apa dan tahu-tahu udah jadian sama cewek lain. Waktu itu gue sakit banget, jujur aja. Tapi sekarang, lihat, kita baik-baik aja kan sebagai teman? Just friend. Dengan begini gue nggak akan sakit lagi karena lo. Dan kalimat tadi… jangan pernah bilang itu lagi ke gue,”

Itu hanya ringkasan yang bisa Petra ingat dari penjelasan panjang Cleo. Semuanya masih tersimpan di history chat-nya, tapi ia tidak membukanya lagi sampai hari ini. “Gue harap kita masih bisa, dan akan selalu, berteman baik,”

Dia terlambat. Andai dia mengatakannya sejak dulu, mungkin Cleo tidak akan sedingin ini. Mungkin Cleo tidak akan ketemu dengan orang-orang baru yang akhirnya melukai perasaannya. Petra meremas ponselnya dan membuka media sosial lagi. Love. Like. Smile. Laugh. Retweet. Repath. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini, sebagai teriakannya untuk Cleo bahwa dia akan tetap menjadi liker setianya, karena tidak ada lagi jalan lain untuk menyampaikan perasaannya ke hati batu Cleo.

Petra Krismarianto @petra_kris
Setetes air tidak bisa merusak apa pun, tapi jika menetes ribuan kali, ia bahkan bisa menghancurkan batu.
23.35 04 Feb 15
Retweeted by Cleopatra Fransiska

Cerpen Karangan: Danisa
Facebook: Debora Danisa Sitanggang
Calon sarjana pecandu keyboard. Setelah selesai skripsi, maka apa lagi yang bisa membuatku akrab dengan keyboardku?

Cerpen Liker merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Batas

Oleh:
Aku pun tak pernah menyukai sebuah cerita sedih namun kusadari bahwa tidak akan ada cerita bahagia apabila cerita sedih itu tidak terjadi, dan barangkali dalam cerita ini Kebahagiaan adalah

Mr. Smile

Oleh:
Pagi itu, hujan membasahi kotaku yang membuat beberapa guru memutuskan untuk tidak mengajar. Begitu juga siswa dan siswinya yang mendadak meliburkan diri. Aku yang datang lebih awal sebelum hujan

Pengagum Rahasia

Oleh:
Namaku Galuh, aku bukan siapa-siapa di dunia ini. aku hanyalah Galuh Argaja, seorang laki-laki miskin dari sebuah desa yang sederhana yang mempunyai hobi fotografi dan mengembara. Saat ini aku

Lelaki dan Pohon Cemara

Oleh:
Di bahu jalan terdapat sebatang pohon cemara yang tumbuh rindang. Sudah dua puluh tahun pohon itu menemani Jalan Harapan. Di bawahnya terdapat beberapa bangku yang terbuat dari kayu. Walaupun

Peka

Oleh:
Kehidupanku sebagai seorang siswa pelajar sungguh membuatku pusing dan membosankan. Ingin sekali rasanya aku lulus dari tahap SMP dan meneruskan ke SMA. Jika aku lihat di sepanjang jalan banyak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *