Maaf Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 5 February 2018

Aku, Eva, Devi, Mia dan Sifa adalah sahabat karib. Kami bersahabat sejak kelas 2 SMA hingga sekarang kami duduk di bangku kuliah semester 2. Kami selalu berbagi cerita bersama-sama pokoknya serba kompak deh, tapi… semua itu berubah sejak Eva dan Devi menyukai pria yang sama yaitu Ivan.

Kejadian itu berawal pada suatu malam di cafe, saat itu kami sedang makan bareng, dan datanglah seorang laki-laki yang menarik perhatian kami. “tuh cowok cakep juga ya” kata Mia, “ah.. itu mah biasa aja Mi” balas Sifa, Mia pun hanya cemberut sambil terus memperhatikan laki-laki itu, aku pun memperhatikan teman-temanku satu persatu, terutama Eva, dia memang cuek tapi sesekali dia memperhatikannya.

Dia memang tampan dengan tubuh tinggi dan kulitnyanya yang putih, semua perempuan pasti tidak bisa mengalihkan pandangan mereka darinya, termasuk aku dan sahabat-sahabatku. Setelah cukup lama kami di cafe, kami pun memutuskan untuk pulang, aku dan Eva berjalan duluan, sedangkan Devi, Mia dan Sifa masih sibuk dengan gadgetnya.

Di luar café…
“Va, lo suka ya sama cowok tadi?” tanyaku, “engga Ra, kamu ada-ada aja deh” katanya sambil senyum malu, “yakin…? “tanyaku lagi, dia pun hanya mengangguk-angguk. “ehm.. ehm.. ada yang lagi ngomongin Ivan ya?” tanya Devi dari belakang, “Ivan? siapa Ivan?” tanyaku bingung, “itu.. cowok tadi yang ada di cafe, yang sempet kita bicarain tadi” jawabnya, “oh.. dia, kok lo kenal Vi?” tanyaku lagi, “dia tuh temen gue dulu waktu SMP, gue denger lo suka ya sama dia Va?” tanya Devi pada Eva, “eh.. enggak kok” jawab Eva gugup.

Aku tau sebenarnya Eva suka pada laki-laki itu, tapi dia malu. “denger ya Va, Ivan tuh gak selevel sama kita, pokoknya gua gak mau salah satu dari kita punya pacar yang gak sederajat sama kita” jelasnya. “kenapa gitu V?, cinta kan gak memandang fisik atau status sosial” kata Eva, “oh.. berarti lo bener kan suka sama Ivan? jujur deh Va!” desak Devi, “bukan gitu Vi” bantahnya, “ok, kalo lo suka sama Ivan sih terserah, tapi asal lo tau aja ya, Ivan tuh gak akan pernah jadi milik lo atau siapapun di antara kita, gua akan buat dia menderita kalo dia berani deketin salah satu dari kita” ancam Devi. “Vi, lo kok aneh sih, hati tuh gak bisa dipaksain” kata Sifa, “ya udahlah, terserah kalian, gua mau pulang dulu” katanya sambil berjalan menuju mobilnya, “Vi, tunggu gue, gue duluan ya…” kata Mia sambil berlari mengejar Devi. “kenapa sih sama Devi?” tanyaku, “mungkin dia cemburu, jadi dia gak mau Ivan direbut sama siapapun, udah bahasnya di kampus aja, udah malem nih” kata Sifa. Akhirnya kami bertiga pun pulang.

Setelah cukup lama kami berjauhan akhirnya kami pun kembali bersama dan melupakan kejadian di café itu, tapi aku merasa… Devi masih menyimpan benci pada Eva, karena sekarang Ivan dan Eva sudah dekat bahkan mungkin lebih dari sekedar teman, aku tau Devi sering menghalang-halangi hubungan Ivan dan Eva, tapi itu tidak mematahkan perasaan keduanya.

Hingga pada suatu hari…
“Va, lo kenapa? kenapa lo nangis? tanyaku kaget ketika melihat Eva menangis dan kamarnya sangat berantakan, “Va, jawab gue, elo kenapa?” tanyaku sambil memeluk Eva untuk menenangkannya. Lalu Eva menjelaskan apa yang telah terjadi, ternyata Ivan dibunuh oleh seseorang yang tak dikenal seminggu yang lalu.

Hari terus berganti, semakin hari perilaku Eva mulai berubah menjadi aneh, dia sering melamun dan mengurung diri di kamar. Lalu pada suatu hari… Aku melihat Eva berlari ke atas loteng sambil menangis, aku pun mengejarnya, “jangan Va…! Evaaaaa…!!!” teriakku.
Eva hanya menengok sambil menangis.
Lalu… ‘bruk!!!!…’
“Eva…!!!” lalu aku berlari ke bawah sambil menangis. “kenapa kamu melakukan ini? bangun Va, bangun..” Aku menggoncangkan tubuh eva yang sudah tidak bernyawa. Darah ini menjadi saksi kepedihan hati Eva, darah ini mengalir deras dari tubuh Eva dan mulai membasahi tanganku, aku tidak tau harus bagaimana, orang-orang berkumpul dan tak lama ambulans pun datang, mayat Eva diangkat dan dibawa oleh ambulans itu. Hatiku sangat pedih, sangat sakit.

Di mana mereka? di mana sahabat-sahabatku saat ini? tidakkah mereka tau apa yang sedang terjadi? tidakkah mereka peduli?

1 tahun kemudian..
“hey, kenapa lo bengong terus?” tanya Sifa, “ah, gak gua cuma lagi kangen sama Eva” jawabku, “udah deh jangan sebut-sebut dia lagi!” kata Devi, “kenapa Vi? Eva juga sahabat kita” tanyaku, “pokoknya gue gak mau kita bicarain Eva lagi! dia udah khianatin kita!” kata Devi, “apa? lo bilang pengkhianat? di mana pengkhianatannya?” aku marah, aku benci Devi, bukankah dia yang pengkhianat. “dia itu udah ingkar janji! kita kan udah janji buat gak deketin Ivan, tapi kenapa mereka malah makin deket!”, “bilang aja kalo lo cemburu! iya kan! lo tu yang udah nyuruh pembunuh bayaran buat ngebunuh Ivan!”, “jangan sembarangan ngomong ya lo! gua juga gak tau kalo Ivan dibunuh dan Eva bakal bunuh diri”, “terserah lo! dasar pembunuh!” aku tak kuasa menahan air mataku, aku pun pergi meninggalkan mereka. “mau ke mana lo?” tanyanya, “bukan urusan lo!” jawabku sinis.
Setelah kejadian itu, mereka mulai menjauhiku

Beberapa hari kemudian…
“aku kangen kamu Va, kenapa ini harus terjadi?” batinku, lalu Aku kembali mengulang ingatanku 1 tahun lalu, dimana aku melihat kejadian tragis yang menimpa Eva.Aku tak tahan lagi menahan pedih ini lalu ku coba melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Eva 1 tahun yang lalu, tapi… belum sempat aku melompat, tiba-tiba ada tangan yang menarikku sehingga aku terjatuh ke belakang, “kamu mabuk ya?” tanya orang itu.
“siapa lo?” tanyaku. “kamu bodoh Ara, untuk apa mengorbankan nyawamu demi mereka, sudah cukup Eva yang mengorbankan nyawanya”. Aku pun kaget “lepas! siapa sebenarnya lo? apa perduli lo?”, “aku Sam, mungkin kau tidak mengenalku tapi aku kenal Ivan” jawabnya.

“lo temannya Ivan?” tanyaku bingung, “ya, aku teman Ivan, dan kau tau aku melihat semuanya, Ivan dibunuh oleh orang yang tak kukenal suruhan Devi dan teman-temannya” jelasnya. “dari mana lo tau semua itu?”, “aku tidak sengaja mendengar percakapan Devi dan teman-temannya bersama dengan 2 pria asing, sepertinya mereka sedang merencanakannya, lalu keesokannya aku melihat 2 pria asing itu sedang membututi Ivan lalu mengikuti dan mulai mencegat Ivan, mereka membawa Ivan ke tempat sepi dan mulai memukulinya, dan membunuhnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku tertangkap saat melihat mereka, aku pun ikut dipukuli namun aku berhasil kabur, aku diancam jika aku melapor pada polisi aku akan dibunuh, maaf Ra, aku tidak bisa menolong Ivan” ceritanya sambil tertunduk.

“terima kasih lo udah mau cerita sama gua, tapi sekarang mereka udah pergi dan kita udah gak bisa berbuat apa-apa lagi” sesalku, “apa kamu ingin membalas dendam?” tanyanya
“enggak, gua memang benci pada mereka, tapi gua gak akan balas dendam” kataku
“kenapa? kapan lagi kamu akan menumpahkan kebencianmu pada iblis-iblis itu? Jika mereka tidak merencanakan untuk membunuh Ivan, pasti Eva masih bersamamu” Aku terdiam sejenak, tak mungkin aku membalas dendam, tapi sakit hatiku dan kenangan bersama Eva terus berputar di otakku membuatku ingin melakukannya.

“baiklah, lalu apa yang harus gue lakukan?” tanyaku
“bunuh mereka!”
“apa?” sontak aku kaget,
“bunuh mereka semua, supaya mereka bisa merasakan apa yang Eva rasakan saat itu!” katanya

“ok, gue akan bunuh mereka satu persatu” jawabku dengan senyum penuh kebencian.
“bagus Ara! Aku sudah berani untuk menceritakan tentang kematian Ivan, sekarang kamu juga harus lebih berani untuk melakukannya! Aku harus pergi keluar kota untuk bekerja, maafkan aku tidak bisa membantumu” katanya. Aku mengangguk “ya, terima kasih Sam”.
Sam pun pergi, aku pun mulai memikirkan cara untuk melakukannya.

Keesokan harinya,
“hey, Ra.. ke kantin yu” ajak Mia, “yu” jawabku singkat,
lalu kami pun pergi ke kantin, “Ra, aku mau ke toilet dulu ya”. Aku hanya mengangguk.

“saatnya balas dendam” kataku dalam hati, lalu aku pun masuk ke dalam toilet mengikuti Mia.
“bagus, toilet sedang sepi” batinku, lalu aku menunggu di depan pintu dimana Mia masuk ke salah satu toilet, saat dia keluar aku langsung menancapkan gunting tepat di perutnya, Mia jatuh tersungkur bersimbah darah, “mati kau pengkhianat!” kataku. Setelah memeriksa ternyata Mia sudah tidak bernyawa, aku pun tersenyum “tinggal 2 iblis lagi” batinku.
Lalu aku mencuci tangan dan membersihkan gunting yang penuh darah. Toilet masih dalam keadaan sepi. Setelah itu aku keluar dari toilet. Tidak ada rasa penyesalan yang ada hanya kepuasan dalam batinku.

Beberapa saat kemudian toilet penuh oleh murid-murid yang ingin melihat apa yang terjadi, aku pun berpura-pura untuk melihatnya, aku masuk ke dalam kerumunan teman-temanku, aku menangis dan terduduk lemas “Ra, udah kita harus ikhlasin Mia” kata Sifa. “dasar tak punya hati!” batinku. Lalu aku pun berdiri dan keluar dari kerumunan, lalu kulihat Devi berdiri di hadapanku sambil menangis. Kami bertiga pun pergi ke kelas. Tak lama kemudian polisi datang, lalu meyelidiki kejadian tersebut, dan polisi menyimpulkan kalau Mia dibunuh.

“aku gak nyangka kalau Mia dibunuh” kata Sifa sambil menangis.
“iya, siapa si pembunuh itu, tega banget dia” sambung Devi.

“pulang aja yu, kampus udah mulai sepi, kayanya pembunuh itu masih ada di sekitar sini” ajak Sifa yang sudah mulai ketakutan.
“lo sama Ara aja pulangnya, gua mau ke mal dulu, gua duluan ya” kata Devi berlalu.
“yah.. iya deh. Ra, lo udah mau pulang?” tanya Sifa.
“ayo” kataku

Sesampainya di rumah, aku terus memikirkan bagaimana caranya untuk membunuh Sifa dan Devi, dan akhirnya aku menemukan ide itu. Aku tertawa, tertawa sangat kencang seperti orang gila. Eva… tunggu sebentar lagi, dendammu akan kubalaskan. Hahahaha…

Keesokan harinya.. Di kantin kampus,
“eh, ntar malem main ke rumah gua yu” ajakku.
“tumben lu ngajak kita ke rumah lu?” kata Devi,
“iya, biar kita happy-happy, ngilangin stress lah, gimana?”

“ok deh, nanti malam kita dateng” kata Sifa
Aku pun tersenyum.

Malam pun tiba,
“akan kuhabisi kalian semua!” batinku.

‘ting.. tong..’ bel berbunyi.
“akhirnya mereka datang juga” batinku senang

Lalu Aku pun membukakan pintu untuk mereka “gua kira lo gak pada dateng, ayo masuk” kataku, lalu mereka berdua pun masuk.
“gua ambilin makanan & minuman dulu ya” kataku
“oke, gua setel lagu ya” kata Sifa.
“Sip…” jawabku.

Aku melihat Sifa berjalan ke arah toilet, aku mengikutinya saat dia akan masuk ke dalam toilet, aku menyekap mulutnya, Sifa meronta-ronta tanpa mengeluarkan suara karena memamng mulutnya kusumpal, tanpa fikir panjang aku langsung menancapkan pisau di perutnya, tubuhnya langsung tergulai ke bawah berlumuran darah. “Dia pasti sudah mati” fikirku, aku membersihkan tanganku dan menyembunyikan mayatnya dalam toilet.

“ini minumannya” kataku sambil membawa minuman dan cemilan kecil.
“eh, kok Sifa gak balik-balik sih?” kata Devi yang kelihatan cemas.
“emang Sifa ke mana?” tanyaku pura-pura.
“tadi dia ke toilet, gua cek dulu ya” katanya lalu pergi ke toilet.

“Aaaaaa… Sifa…” teriak Devi
Lalu aku pun menghampiri Devi yang berada di toilet sambil bersiul dan membawa pisau.
“siapa? siapa itu?” teriak Devi. “kka..kau… Ara?” tanyanya kaget, “hahahaha… ya aku Ara” jawabku, “lo ngapain? apa yang udah lo perbuat? gila lo!”.
“hahahaha.. hahaha…!! ssstttt… jangan berisik, kalo lo teriak, lo bakal bernasib sama kaya dia!” aku menunjuk Sifa yang sudah tergeletak tidak bernyawa, Devi hanya menangis sambil berjalan mundur menjauh. “memang kenapa kalau gua yang bunuh Mia.. Sifa!? Bukanya lo juga yang bunuh Ivan? hah!!!” Aku sudah sangat tidak sabar ingin menghabisinya.

“gua gak pernah bunuh siapapun!” katanya
“oh, ya? T’rus siapa yang nyuruh orang buat bunuh Ivan?”
“gua gak tau! gua gak ngerti sama sekali apa yang lo bilang!” Devi mulai menangis.
“lo kenal Sam? dia udah ceritain semuanya sama gua. dia melihat semua perencanaan lo sama 2 pria asing buat membunuh Ivan!” aku semakin kesal.

“apa? Sam? gak!! gak mungkin Ara! Kapan lo ketemu dia? Gimana lo bisa ketemu dia? dia bohong! Sam ingin balas dendam sama gua Ara… kkk..karena gua dulu pernah memaki ddd..dan mempermalukannya di depan umum, tapi.. gua udah minta maaf sama dia!” Lalu Devi menangis tersedu-sedu.
“jangan ngarang cerita! sekarang lo akan bertemu sama teman-teman lo!” aku pun mengacungkan pisau dan bersiap menusuk Devi, tapi Devi berhasil menyingkir dengan mendorong tubuhku hingga aku terbentur ke tembok.

Dia berlari ke arah pintu, tapi sayang pintu telah ku kunci, kesempatan yang sangat baik untukku. Aku pun mempercepat langkahku, lalu Devi berlari ke atas loteng rumahku, aku pun terus mengejarnya. Devi, akhirnya dia terdesak di pinggir balkon.
“aku fikir kamu sahabatku Ra, kamu gak akan melakukan hal sejahat dan segila ini! Gila kamu Ara! ternyata kamu iblis!” kata Devi ketakutan sambil terus menangis.
“hahahaha.. lo yang iblis!” Aku terus mendekati Devi dengan membawa pisau, tapi Devi terus menghindar dan berlari ke luar.

“Aaaaaaaaaa…” Terdengar sebuah jeritan, Setelah mendengar suara itu aku pun lari keluar, aku melihat sekeliling tidak ada apa-apa, lalu aku turun untuk mengecek apa yang terjadi di bawah, dan ternyata Devi telah tergeletak di lantai bawah, aku coba mengguncangkan tubuhnya tetapi tidak ada respon, “hahaha… akhirnya dendamku terbalas, dia pasti sudah mati”, Aku pun langsung meninggalkan dia dan pergi ke tempat lain.
Aku sangat puas!

Keesokan harinya,
seperti biasa Aku berangkat ke kampus, di halte aku bertemu dengan Sam.
“bagaimana Ara? apakah misimu sudah selesai?” tanyanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Aku pun tersenyum “ya mereka semua telah kuhabisi, hahaha..”

“gadis pintar! terima kasih kau telah membalaskan dendamku pada mereka semua, hahaha…” Katanya sambil tertawa
Aku kaget ” apa!? dendammu?” aku pun spontan berdiri.
“ya, ya, ya.. Kau tau Ara, semua ceritaku itu adalah kebohongan belaka, hahaha.. Aku tak bisa membunuh mereka karena aku sangat sibuk, harus pergi ke luar kota, pergi kesan pergi ke sini merencanakan itu, merencanakan ini ah.. bayaklah, dan kau tau? Aku sudah memperhatikan kaliiiiaaan.. semua sejak lama, tapi Devi gadis bodoh itu tak pernah mengenaliku! Hahaha… sangat bodoh! dan itu adalah kesempatan untukku” katanya.

“kkau…!!! Jadi sebenarnya ini semua rencanamu? Aaakkku.. akan melaporkanmu ke polisi!”
“Owww… Kau tak punya bukti apapun! Kau sama bodohnya ya! laporkan saja! dan harus kau tau bukannya aku yang akan tertangkap tapi kau! Karena aku punya banyak sekali bukti-bukti, ini (menunjukan foto sewaktu Ara menikam Mia di toilet), ini (menunjukan foto Sifa dalam toilet rumahnya), dan ini.. (menunjukan foto Devi yang tergeletak di lantai bawah rumahnya)” jelasnya.
“Bb baagaimana.. kau bisa mendapatkan itu! Tidak mungkin!” Aku sudah tidak sanggup lagi, aku sudah habis akal, tidak mungkin dia bisa punya bukti sebanyak itu, Aku harus segera lari, aku harus pergi sebelum sesuatu terjadi.

Baru saja aku hendak lari, tiba tiba tanganku digenggam sangat kuat, sehingga menahan langkahku, “Hey!! Mau lari kau!” bentaknya, lalu datanglah beberapa Polisi sekitar 3 orang mengepungku, lalu dia menyerahkanku dan bukti yang dipegangnya pada Polisi, sehingga aku hanya bisa pasrah tidak dapat berbuat apapun lagi, kedua tanganku diborgol dan aku dipaksa masuk ke mobil.

Dia pun pergi, dengan senyuman yang sangat kubenci, “Aku berharap Sam ditangkap juga! aku sangat membencinya!” Dalam hati kecilku, aku menjerit.. “Maafkan aku sahabat… Aku telah menyia-nyiakan hidup kalian…”

– END –

TERIMA KASIH

Cerpen Karangan: Elfrida
Facebook: elfshanda_alexander[-at-]yahoo.co.id
El, gadis yang sedang mengejar beberapa impiannya.. mempunyai ide cerita-cerita baru setiap harinya, tapi terasa satu tahun untuk bisa menuangkannya dalam tulisan.
Semoga kritik & saran dapat membantu El dalam membuat cerita lainnya ^.^. Trima kasih

Cerpen Maaf Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Selamanya Untuk Alex

Oleh:
“Kuping lo dimana sih?! Udah gue bilang berkali-kali, JAUHIN GUE. Risih tau gak sih gue di deketin lo terus tiap hari.” Kata-kata itu selalu melekat di telinganya tak pernah

Di Ujung Telepon

Oleh:
Kelam, tak ada yang bisa dipandang, aku layaknya tunanetra. itu yang tergambar dari sorot mata, sewaktu aku terjaga di tempat ini. Entah itu dari tidur atau sesuatu hal lain,

Kata Mereka

Oleh:
Aku berlari ke bibir pantai menemui Tiar lelaki yang telah menjadi kekasih ku selama 1 tahun belakangan ini, ku hampiri dan dia mempersilahkan aku duduk tepat di hadapannya. “Apa

Regret

Oleh:
Aku hanya ingin sekedar bercerita tentang pengalamanku yang menyedihkan. Namaku Denny aku sekarang duduk di kelas IX. Orang-orang menganggap aku “Orang yang tidak pernah merasa susah” dan selalu membuat

Terbaring Lemas

Oleh:
Banyak orang bermasker putih dan berbaju biru langit berada di depanku. Aku berbaring. Wajahnya tak terlihat jelas olehku. Mereka mendorongku di atas tempat tidur beroda. Seorang di antaranya membawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *