Maafkan Aku, Mas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

Aku terpaku. Perempuan itu menarik punggung tanganku dan menciumnya dengan khidmat. Dan menyisakan beberapa tetes air matanya yang masih menempel di punggung tanganku, lalu diiringi ucapannya yang lirih, “Maafkan aku, Mas.” Dan perempuan itu beranjak pamit sementara aku masih dengan keterpakuanku, memandangi punggung tubuhnya yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang di ujung jalan. Ah! Tersadar aku dari lamunan. Potongan peristiwa masa laluku yang seolah nampak jelas kembali ketika aku memandang foto wajahnya di Facebook. Seraut wajah hitam manis berbalut jilbab cokelat muda dengan garis senyum lebar, simetris bersama bangir hidung juga dua binar bola matanya. Sampai detik ini pun, aku masih memvonis diriku sendiri dengan palu kegagalan. Semua di luar dugaan, ketika dahulu aku berucap kepada Nia.

“Ni, Mas memutuskan untuk sementara kembali pulang.”
“Mengapa Mas? Apa alasannya?” Nia bertanya seolah curiga dengan keputusanku.

Terus terang, saat itu adalah saat yang sulit untuk aku membuat keputusan yang adil. Mendahulukan keluargaku atau mengutamakan Nia. Namun aku memutuskan mendahulukan keluargaku, sementara Nia memberi alternatif solusi bertunangan dahulu. Terlanjur aku teguh dengan keputusanku sementara Nia tak jera dengan selalu menyodorkan solusi alternatifnya. Badai yang terlihat jauh mulai semakin mendekati kami berdua. Sungguh! Andaikata kami berdua saling berpelukan erat saat badai itu datang menerpa, tidaklah rasa sesal ini tersisa.

Namun sayangnya, badai itu menerpa kami berdua bersamaan dengan pertengkaran dan air mata. Kalut, rasa tidak ingin berpisah, rasa curiga, cemburu, ego, dan semua rasa-rasa lainnya yang menggenapi, menjadi ganjil ketika rasa cinta mulai tersisihkan. Kegaduhan emosi dan rasaku menjadikan betik niatku tak sempat terucap dan terdengar di telinganya, meski lirih sekalipun. “Aku mencintaimu, Nia… dan aku juga mencintai keluargaku. Tunggu aku, percayalah, aku akan kembali untukmu.” Itulah betik niatku yang seharusnya terangkai dalam ucapan dan terdengar olehnya meskipun lirih.

Dua tahun setelah keterpisahan kami, aku mulai bangkit dari keterpurukan setelah dengan kedua tanganku berusaha menopang keluargaku. Sebagai anak lelaki pertama, adalah kewajibanku untuk itu. Hitam mulai menggelayut di dinding langit setelah memerah. Aku berjalan dengan semangat menyusuri jalan mencari wartel untuk memberi kabar baik kepada Nia bahwa aku akan kembali dan… Ah akhirnya ku temui. Secarik kertas bertuliskan angka nomor telepon ku keluarkan dari dompetku setelah aku berada dalam bilik wartel. Tak sabar rasanya aku ingin segera memberitahukan kabar gembira ini buatnya. Terdengar nada sambung… lalu terdengar suara di ujung telepon berucap.

“Halo, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” sigap ku jawab dan ku melanjutkan bertanya, “Saya bisa berbicara dengan Nia?”
“Ini siapa ya?” pertanyaan di ujung telepon ku jawab.
“Saya Andri.” Lalu sejenak hening.

Tak terdengar suara apa pun menyambut. Beberapa detak detik kemudian terdengar suara, “Maaf Mas Andri, saya Nindi, adiknya Mba Nia.” Aku terkejut sebab aku mengenal Nindi yang pendiam dan tak banyak berbicara. Lalu Nindi melanjutkan pembicaraan, “Mas, sebaiknya Mas Andri jangan menelepon Mba Nia lagi. Mmm… sebab… Mba Nia sudah punya anak satu.” Lalu pembicaraan telepon ditutup dengan ucapan salam. Sesaat aku terhenyak dari keterperangahan, disadarkan oleh bunyi nada telepon yang terputus. Ku taruh gagang telepon perlahan dan beranjak ke luar dari bilik wartel, membayar biaya telepon di kasir dan pergi ke luar wartel. Dalam lunglai berjalan ingin ku berteriak sekerasnya, “Mengapa?! Mengapaa?! Mengapaaa?!”

Langkah kakiku menemani pikiranku yang gaduh dengan ribuan pertanyaan, berusaha mengingat-ingat kembali akibat pembicaraan dengan Nindi barusan. Apa yang salah? Adakah puzzle kenangan yang belum ku letakkan di tempat yang tepat? Apakah? mengapa? di mana? kapan? Lalu putaran poros pikiranku memunculkan kembali sebuah potongan peristiwa setahun lalu. Dari potongan peristiwa itu barulah aku menyadari maksud tiga kata yang kau ucapkan dahulu, Nia. Tiga kata yang kau ucapkan dengan khidmat sambil mencium punggung tanganku dan menyisakan beberapa tetes air mata di atasnya.

Cerpen Karangan: Andriyana
Blog: http://rbdungaran.blogspot.co.id

Cerpen Maafkan Aku, Mas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jika

Oleh:
Jam tiga sore tepat, aku menginjakkan kaki kembali di tanah Padjadjaran ini, kota kelahiranku. Sudah satu tahun aku meninggalkan kota Bandung dan menetap di Jakarta, merantau disana, mencari sesuatu.

Gone

Oleh:
“Tiara Ananda Putri?” “Tiara Ananda Putri?” Aku tersentak begitu Kevin menepuk pundakku dari belakang. Hingga aku menoleh dan melihat ke arah Bu Clara yang tengah duduk di depan kelas.

Pangeran Masa Laluku

Oleh:
Namanya SANISA seorang gadis berusia tujuh belas tahunan yang mempunyai paras nan cantik dan rambut yang terurai sebahu… “Prangg” minuman itu tumpah tempat di kertas putih tempat dimana namanya

Cinta Akhir Sekolah

Oleh:
Cinta, aku mau menunggu Apakah kamu masih mencintai pria yang sudah bertahun-tahun tak meresponmu itu? Ya, aku tidak pernah merasa bosan menunggunya, aku benar-benar terpikat olehnya. Terkadang aku terlalu

Tuhan Tahu ku Cinta Kau

Oleh:
Langkahku menyusuri menuruni tangga pesawat, sejenak aku berhenti memandang sekeliling. Ini hari pertama aku pulang setelah hampir 5 tahun aku merantau, Aku rindu sekali dengan tempat ini. kota jakarta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *