Memories

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 24 September 2016

Aku masih diam termenung di depan laptop. Memikirkan kalimat apa yang akan aku gunakan untuk membalas pesannya. Aku masih memandang lekat nama akun media sosialnya. Apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi, aku tidak ingin ‘memaniskan’ kalimatku hanya untuk membuatnya merasa tenang. Itu sama saja berbohong, bukan? Tidak, aku tidak terlalu terbiasa dengan aktivitas itu. Tapi, aku juga tidak ingin menyinggung perasaannya dengan kalimatku yang kata ‘mereka’ tajam. Aku membaca kalimat itu sekali lagi.

“Gak tau, nov. Gak ada yang kayak kamu lagi.”

Memikirkan hal ini, sejenak ingatanku melayang ke masa dua tahun lalu. Dimana ‘rasa’ itu masih melekat erat di hatiku. Rasa yang kini entah hilang kemana?

Kami masih diam dengan pikiran kami masing-masing. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Sedangkan pikiranku? Aku masih berdoa, berharap ia akan menjadi laki-laki pengecut yang menarik perkataannya. Dia akan kembali memerbaiki hubungan kami yang bahkan baru kami mulai.
Aku menunduk menyembunyikan mataku yang mulai membendung. Menarik napas panjang menunggunya, yang aku rasa ia juga menungguku bereaksi mengatakan atau melakukan sesuatu. Tuhan, aku ingin tahu apa yang ia pikirkan saat ini.
“Jangan sampai ada novi-novi yang lain.” kataku. Aku merasa diam pun percuma, tidak akan menyelesaikan masalah. Aku pun sadar kalau harapanku terlalu mendekati titik mustahil, mengingat alasannya meninggalkanku. Ia menemukan orang yang -menurutnya- lebih baik daripada aku.
Aku tahu siapa orangnya. Aku memang tidak mengenalnya. Aku hanya tahu sosok gadis yang menjadi pengalih perhatiannya. Tapi, meskipun aku sama sekali tidak mengenalnya, aku tahu benar kalau gadis itu juga sudah memiliki pasangan. Ia sudah memiliki kekasih.
Tuhan, aku benar-benar ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran laki-laki di hadapanku ini. Ah bodohnya aku, saat ini aku mencintai orang bodoh.
Aku berdiri dari dudukku dan berjalan menjauh darinya. Ia masih diam dan aku masih tidak tahu apa yang ia pikirkan dalam diamnya. Aku menjauh karena aku tidak tahan lagi menahan mendungan mataku. Aku tidak ingin ia melihatku menangis.

Selama satu tahun sejak ia memutuskan mengakhiri hubungan kami yang baru berjalan beberapa bulan. Aku masih mengharapkannya. Tapi, aku juga ingin ia bahagia dengan orang yang ia sayangi. Menyakitkan memang, tapi memohonnya kembali bukanlah sifatku. Aku memohon pada Tuhan, bukan padanya.

Satu tahun aku harus memerhatikannya dari jauh, satu tahun aku harus memendam rindu, satu tahun aku menangisi rasa sakit ini. Tapi, di antara rasa putus asaku, aku juga merasa kalau ia akan kembali. Aku yakin, Tuhan tidak akan tidur. Ia akan mendengar setiap harapanku. Ia akan kembali. Bila perlu ia akan menyesali keputusannya. Ia akan menggantikan posisisku. Ia akan berharap aku kembali padanya.
Aku yakin Tuhan akan mendengar harapanku.

Dan Tuhan membuktikan kuasanya. Ia mengharapkanku kembali. Tapi sayang, ia datang di saat yang tidak tepat. Ia tidak datang di satu tahun dimana aku masih memerhatikannya dari jauh, di satu tahun dimana aku masih memendam rindu, di satu tahun dimana aku masih menangisi keputusannya yang membuatku sakit.

Masa ini, dua tahun sejak kejadian menyebalkan itu terjadi. Masa dimana aku sudah mulai sadar kalau ia bukanlah yang terbaik. Mulai sadar kalau ia benar-benar laki-laki pengecut. Mulai sadar kalau menunggu bukanlah aktivitas yang menyenangkan.

Aku manatap kembali pesan yang ia kirimkan. Mulai mengetikkan beberapa kalimat untuk membalas pesannya. Aku hanya berharap, ini tidak akan menyakitinya. Aku membaca ulang kalimat balasanku.

“Gak ada yang kayak aku lagi? Rif, jangan sampai ada novi-novi yang lain.”

Aku menutup laptopku. Menghampiri seseorang yang sudah sejak setengah jam yang lalu menungguku. Dia adalah orang yang mampu membuatku sadar kalau menunggu itu bukan aktivitas yang menyenangkan. Ia adalah alasan aku berhenti menunggu.

Cerpen Karangan: Novita Rumi
Facebook: facebook.com/novardiy

Cerpen Memories merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Bersinar Bulan

Oleh:
“Laaaan! Gue dapet formulir panitia mahasiswa baru nih!”, teriak Kenari sambil berlari ke arahku yang sedang sibuk di depan barang berhargaku: laptop. “Aih… kenapa sih lu demen banget buat

Hati Dalam Dusta

Oleh:
Berpura-pura untuk cinta sama saja membunuh hati secara perlahan “Gue pembunuh! Gue pembunuh! Gue Pembunuh!” Kia memukul-mukul gundukan tanah yang bertaburan bunga di bawah rintik hujan yang kian lama

Si Tampan Tapi Pembohong

Oleh:
Akhirnya singleku berakhir dan menemui kekasih yang tampan, berkulit putih, mata yang sipit, pipi yang kempot. Ia bernama Rizal, yang menjadi kekasih baruku dan dia sekarang kelas XII. Rizal

Lukaku

Oleh:
“Maafkan aku,” ucap pria itu tepat di hadapanku sambil memegang kedua tanganku. Kulihat matanya menyiratkan penyesalan tapi aku tidak percaya lagi dengannya, aku sudah kecewa padanya. Aku menghela napas,

Penyesalan

Oleh:
“Yola.. Ambilkan kakek minum” Kakek berteriak dengan suara paraunya. Yola sedang asyik menonton televisi menjadi terganggu. “Kakek, suruh yang lain saja. Aku lagi asyik nih” Yola membantah. Sang kakek

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *