Menanti Hingga Ujung Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 16 August 2016

Suara riuh siswa di ruang aula MAN al-Fatah kini terdengar semakin kencang. Hingga tiba-tiba keriuhan dihentikan oleh seorang anggota OSIS laki-laki yang Nampak berwibawa nan tegas. Dan membuka secara resmi masa orientasi Siswa baru (MOS).

Di sudut kursi kanan baris ke lima dari depan ini aku berada. Duduk dan sesekali menulis Sambil kuperhatikan sederet acara yang sedang berlangsung. Dari pembukaan oleh Kepala sekolah dan ketua OSIS, perkenalan anggota OSIS dan anggota KKN. Serta banyak hal lagi.

Hingga hari-hari Masa Orientasi Berakhir. Aku bersama tiga teman baruku duduk di lantai dua depan kelas 11 ipa 1 menikmati indahnya langit biru putih. Mata ini pun melihat ke bawah. Ada seorang KKN, “mungkin tidak ya aku jatuh cinta sama dia.” ucapku dalam benak secara tiba-tiba. Tapi kutimpali bahwa itu tak akan pernah terjadi.

2 minggu sudah aku resmi menjadi murid di sekolah ini. rasa nyaman mulai menghinggapi. Hingga hadir seorang KKN yang menghinggapi benakku. Lambat laun aku sadari bahwa rasa ini namanya cinta. Lalu akun facebooknya aku add. Tak berapa lama dia menkonfirmasi. Disini aku tertarik dengan kata-katanya yang indah. Dan kulike semua yang dia unggah di facebook. Kutungggu dia online, terkadang saat di sekolah pun aku mencarinya.

Rasa ingin melihat sosoknya hadir tak tertahan. Saat berdekatan dengan dia, jantung serasa berdebar tak menentu.
Suatu moment saat aku meminta izin pulang karena sakit panas, di ruang piket hanya ada dia. dia pun memberi tanda tangan. Rasanya jantung berdebar tak menentu.

Facebooknya kini menjadikanku lupa belajar. Selalu ada keinginan untuk membuka Facebook saat aku sedang belajar di rumah. Berharap dia Online. ketika dia Online, aku senang. Ketika dia mengunggah foto, aku save semuanya. Hingga ada sekitar 100 foto dia di folderku.

Hingga 4 bulan sudah aku berada di MAN al-Fatah ini. begitu pula KKN yang secara resmi meninggalkan sekolah ini. ada pensi di acara perpisahan itu. Saat akhir pensi, kulihat mereka semua bernyanyi. Dan terkhusus KKN itu. Suaranya bagus. Aku merekamnya lewat hpku. Dan kujadikan lagu itu lagu memori terindahku tentang dia. kudengarkan hampir setiap hari.

Sejak acara perpisahan, aku selalu senang membuka Facebook. Melihat statusnya, fotonya hingga menunggunya Online.
Hari ke 3 UAS pertama di MA ini, aku membuka facebook di sekolah. Kulihat dia update status “suka”. Hanya itu lalu aku update status “mengganggu saja. Huh…” . Aku menunda melike lalu keluar dari akun facebook. Melihat buku, lalu membuka Facebook lagi dengan niat melike statusnya. Tapi setelah ku buka akunnya, ternyata aku sudah dihapus pertemanannya. Kukirim pesan ke dia di akunnya.
“kenapa menghapus pertemananku?. Hah… jahat.” Tapi tidak di jawab. Lalu kukirim lagi
“jahat lo. Udah delete pertemanan gue ke elo. Kenapa dihapus pertemanannya?. Woy… jawab woy.” Kuulang 5 kali.
1 hari kemudian aku membuka facebook lagi di rumah. Akunnya kagak di temukan. Ternyata aku di blokir. Sedihnya diriku saat itu. Aku ganti foto sampul dan foto profil FBku dari yang wajahku, ganti foto benang wol warna merah. Sampul diganti sederetan benang wol warna hitam. Dan berjanji move on dari dia.

Akunku kini tak menentu begitu pula hatiku yang selalu bertanya serta beropini. Kenapa dia memblokir aku… Dan salah apa aku ke dia. dia jahat. Dia mengganggu waktuku. Dan banyak lagi. aku benci dia.
Dia menghilang sejak dia blokir aku. Aku membencinya.

2 tahun 3 bulan…
Saat ini aku tengah menghadapi ujian madrasah. Saat sudah selesai ujian aku menyempatkan diri duduk di lantai 2 depan kelas 11 ipa 1. Disini aku teringat tentang KKN yang dulu telah memblokirku. Perasaan malu dan menyesal mulai hadir kembali di tempat ini.
Sekarang aku sudah menyadari bahwa yang dia lakukan benar. Karena aku terlalu meneror dia, dia jadi memblokir akunku. Dan segala sikapku ke dia dulu saat masih berteman di facebook. Sungguh kusesali. Tak seharusnya aku melakukan itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin aku mengembalikan waktu ke masa itu.
Lalu kutinggalkan tempat itu. Dalam langkahku, berkata “sekarang aku merasa beruntung sudah menyadari kesalahanku ke dia. maaf… atas semua kesalahanku.”

9 tahun kemudian…
Melihat alam terbuka sambil memandang indahnya merapi. Di bukit ini kulihat sepasang kekasih sedang bergandengan tangan. Pikiranku membayangkan aku bersama dia. Tapi rasanya tak mungkin karena hingga kini, aku belum menemukan dia kembali.

Suara dering HP berbunyi. Dan tertulis isi pesan:
“bu farina… cepatlah kembali ke kampus dan tolong menggantikan saya mengajar. Saya sedang ada acara mendadak. Terimakasih…”
Ternyata dari Diko (pembawa acara MOS)
Aku pun pergi dan berjanji akan kembali ke tempat ini lagi. menanti rasa cintaku ke dia menghilang.

End

Cerpen Karangan: Nur Hanifah
Facebook: Nur Hanifah
Saya seorang wanita kelahiran Desember 1996. mempunyai hobby menulis, membaca. dan hingga saat saya masih belajar menulis cerpen.

Cerpen Menanti Hingga Ujung Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sifa

Oleh:
Aku Metha. Aku mempunyai adik angkat. Sifa namanya. Entah kenapa mom dan dad mau mengangkatnya. Dia diangkat dari panti asuhan Kasih Bunda. Milik Bunda Arma. Aku sangat sebal kepadanya,

Maafkan Aku Nanda

Oleh:
“Gua gak butuh penjelasan lo, Nda! Gua tahu lo udah menduakan gua dengan sahabat gua sendiri kan!” Ujarku ketus saat Nanda memberiku penjelasan. “Maaf za, Nisa itu sepupuku. Jadi

Sesal

Oleh:
“Kenapa sih, selalu aja kayak gini? Selalu aja masalah kecil digede-gedein tak bisakah kau sedikit aja mengerti?” Bagai disambar halilintar yang begitu dahsyat, kata-kata itu mampu membuat seluruh ruang

Kembar tak Harus Selalu Sama Ayah

Oleh:
Ayah… kami sama-sama anakmu… Ayah… kami ini saudara kembar… Tapi… kenapa ayah hanya menyayangi Chintia? Kenapa ayah? Kenapa engkau membedakan kasih sayang itu? Fikiranku selalu tertuju pada pertanyaan itu,

The Fault Number X

Oleh:
Senja baru saja datang. Gumpalan-gumpalan awan gelap yang tadi sibuk menutupi langit kotaku, perlahan-lahan mengundurkan diri, seolah mempersilahkan sang senja untuk memperlihatkan wujudnya. Aku menatap bola bulat yang tinggal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *