Nabila

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 2 April 2014

“Aku mencintaimu. Aku kagum dengan seorang wanita sepertimu. Aku ingin kau menjadi pacarku.” Vino menatap Bila tajam.

Bila hanya diam seribu bahasa. Perasaannya berkecamuk saat ini. Oke, dia memang mencintai Vino sejak awal dia masuk di sekolah itu, tapi tunggu dulu, dia juga sadar, bahkan sangat sadar bahwa wanita sepertinya tidak layak untuk menjadi pacar Vino. Mereka jauh, jauh berbeda. Vino seorang pria yang tampan, pandai, bahkan dia adalah anggota tim basket inti di SMAN Pelita Harapan. Sedangkan Bila? Dia hanya wanita biasa, sangat sederhana dan tidak sempurna seperti mantan-mantan Vino sebelumnya.

Sejenak Bila menjadi ragu. Bahagia memang, karena akhirnya penantian itu membuahkan hasil yang positif. Tapi, Bila takut Vino hanya akan menyakitinya, atau bahkan menjadikan Bila sebagai barang taruhan. Orang lemah seperti Bila bisa apa? Hanya menangis, tanpa bisa membalas.

“Bagaimana? Kau pasti mau, bukan? Aku tahu, selama ini kau juga memiliki perasaan khusus terhadapku. Jadi, tunggu apa lagi?” suara itu kembali membuat Bila sadar.

Iya, memang benar. Bila memang mencintai Vino sejak dulu. Tapi, bagaimana nantinya? Apa seorang Vino bisa setia dengan wanita seperti Bila?

“Aku berjanji akan membuatmu bahagia.” Katanya lagi.

“Kau tidak akan malu?” tanya Bila tanpa basa-basi.

“Malu? Kenapa aku harus malu?”

“Lihat aku, Vino! Aku bukan wanita yang sempurna. Jauh berbeda denganmu, atau dengan mantan-mantanmu yang lain.”

“Tapi aku yakin bahwa cintamu sempurna. Aku hanya butuh itu, Bila. Bagaimanapun fisikmu, aku toh tetap mencintaimu. Jangan takut, aku bisa pastikan itu.”

“Tapi…” Bila mendesah pelan.

“Apa lagi yang kau takutkan? Apa kata-kataku tidak bisa membuatmu percaya?”

“Aku takut, saat kau sadar akan semua tindakanmu ini, kau akan pergi karena menyesal memiliki pacar cacat sepertiku.”

“Bila, ayolah. Aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu, bukan? Percaya padaku.”

Dan lagi-lagi, Bila menghembuskan nafasnya berat. Oke, dia hanya perlu percaya, dan segalanya akan membaik. Hanya perlu percaya. “Baiklah. Aku harap kau bisa menepati janjimu itu.”

Sejak saat itu, mereka Vino dan Bila resmi berpacaran. Setiap hari, Vino selalu menjemput bahkan mengantar Bila dengan mobil mewahnya.
Tentu saja dalam hati Bila yang paling dalam, dia malu. Malu karena wanita cacat sepertinya bisa mendapatkan Vino, yang juga anak dari pemilik SMAN Pelita Harapan. Apa yang anak-anak katakan nantinya, jika tau bahwa pria populer di sekolah berpacaran dengan wanita seperti Bila? Ya, Bila memang tidak sempurna. Sejak lahir, dia sakit-sakitan, bahkan dia memiliki fisik yang kurang sempurna. Dia tidak memiliki kaki sebelah kanan.

Kadang, dia memang malu dengan keadaannya yang setiap hari harus di bantu dengan tongkat. Tapi, dia bisa apa? Dan bukan itu saja, dia memiliki penyakit gagal ginjal sejak dia berusia tiga belas tahun. Bila sering merasa, ada yang tidak adil dari hidupnya. Kenapa harus Bila? Kenapa dia yang mengalami itu semua? Tapi, sang bunda selalu ada untuk Bila. Beliau adalah penyemangatnya. Sang bunda yang selalu membuatnya tetap bersyukur atas segala yang dia miliki saat ini, juga bersyukur atas Vino.

Awalnya, Bila tidak yakin bahwa Vino akan memperkenalkan Bila kepada teman-temannya, Bila yakin, Vino akan malu. Tapi ternyata, dugaan itu salah. Dia menuntun Bila menuju teman-temannya dan berkata bahwa Bila adalah pacarnya.

“Dia Bila, pacarku.” Jelas Vino.

“Apa? Kalian?” tanya Renny kaget. Mental Bila kembali ciut. Dia tau bahwa Renny juga menyukai Vino. Renny sangat cantik, sedangkan dia? Bila hanya menghembuskan nafasnya dan tersenyum getir.

“Iya, aku menyayangi Bila. Dia wanita yang baik. Dia beda dari wanita yang lain.”

“Wow… Wow… Selamat boy!” sahut Rio.

“Akhirnya sobatku punya pacar juga.” Balas Dimas.

“Terimakasih.” Jawab Vino senang. Ya, nada suaranya memang terdengar riang. Akhirnya Bila merasa lega.

“Mmm… Jaga Bila baik-baik. Jangan menyakiti dia.” Renny melirik Bila sekilas, dan tersenyum pada Vino. Senyum yang dipaksakan.

“Tentu saja. Baiklah, kami harus pulang.”

Bila hanya diam dan berjalan di samping Vino. “Mmm… Kau tidak malu?”

“Sudah aku bilang, aku tidak malu. Aku bangga menjadi pacarmu, sayang.”

“Tapi aku wanita yang cacat, sakit-sakitan.”

“Tapi kau baik, lucu, pintar dan cantik. Sayang, sudahlah. Aku tidak malu dan tidak akan pernah malu.”

Oke, Bila percaya. Vino orang yang jujur, mana mungkin Vino tega membohongi Bila?

Bila benar-benar percaya saat hubungan mereka menginjak bulan ke sepuluh. Bila sangat mencintai Vino. Dia tidak pernah berharap kehilangan Vino. Bahkan Bila sudah menganggap Vino sebagai seorang penyemangat. Semua terasa berbeda saat hubungan mereka menginjak bulan ke sebelas. Sudah satu minggu ini ponsel milik Vino tidak aktif. Dia juga jarang memberikan Bila kabar. Setiap hari, Vino selalu menghindar.

“Mungkin dia sedang sibuk bersama tim basketnya.” desis Bila pelan, berusaha menghibur dirinya sendiri.

“Bila! Bila!” teriak Agnes, sahabatnya.

“Ada apa? Kenapa?”

Agnes terdiam selama beberapa saat untuk mengatur nafasnya, lalu berkata “Kau tau, kemarin aku melihat Vino di taman dekat rumahnya.”

“Lalu, kenapa? Biarkan saja, mungkin sedang menjernihkan pikiran.” Jawab Bila tenang. Tapi sesungguhnya, hati Bila tidak tenang.

“Tidak, Bila. Dia berada di taman itu bersama seorang wanita.”

Bila menelan ludahnya dengan susah payah. Seorang wanita? Siapa? Setau Bila, Vino tidak pernah dekat dengan wanita lain selama beberapa bulan terakhir. Kecuali dengan dirinya.

“Wanita? Siapa?” tanya Bila berat. Dadanya terasa nyeri.

“Aku juga tidak tahu pasti. Sepertinya… Pacar baru Vino. Mereka terlihat sangat dekat, sungguh.”

“Ah, benarkah? Tidak mungkin.” Bila mencoba untuk tersenyum. “Vino tidak akan mungkin mengkhianatiku.”

“Astaga, Bila. Kau harus percaya padaku. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”

“Aku akan bertanya hal ini pada Vino. Terimakasih sudah memberitahuku.”

Apa benar wanita itu pacar baru Vino? Lalu, bagaimana dengan Bila? Apa hubungan mereka berhenti begitu saja?

Sepulang sekolah, Bila segera pergi menuju satu ruangan yang biasa di gunakan untuk tim basket berkumpul.

“Vino.” Panggil Bila. Benar dugaannya, Vino ada di ruangan itu bersama teman-temannya yang lain. “Bisa kita berbicara sebentar?”

Vino mengangkat sebelah bahunya dan berjalan menghampiri Bila di depan ruangan itu. “Ada apa?”

“Ada yang ingin aku tanyakan.”

“Tentang apa?” senyum manis dan cerah itu masih tersungging jelas di wajahnya. Apa dia tidak merasa bersalah pada Bila?

“Mmm… Tadi Agnes berkata bahwa dia bertemu denganmu kemarin. Di taman dekat rumahmu.”

“Oh, kemarin? Iya, aku dari taman itu. memangnya kenapa?” nada suara itu masih terdengar tenang, tidak ada ketakutan di dalamnya.

Bila menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Vino!”

“Iya, ada apa?”

“Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?”

Vino terlihat sedang berfikir, lalu berkata “Tidak. Bila, sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Aku tidak punya waktu banyak. Kalau memang tidak ada yang penting, aku harus kembali ke dalam untuk membahas pertandinganku.”

Bila tertegun mendengar perkataan Vino. Dia menelan ludahnya lagi, berusaha agar tidak menangis di depan Vino. “Wanita yang bersamamu di taman, kemarin. Siapa dia?” suara Bila mulai meninggi. Kesabarannya sudah habis sekarang.

“Oh, wanita itu. Dia Nadya.” Jawab Vino ringan, tanpa beban.

“Pacar… Barumu?”

“Calon pacarku.” koreksi Vino sambil tersenyum.

“Apa?” Bila bisa merasakan jika seluruh ototnya menegang.

“Kenapa? Ada yang salah?”

“Bagaimana dengan… Hubungan kita?”

“Oh, iya, aku hampir lupa. Mmm… Aku ingin… Kita… Berpisah. Ya, kau tau maksudku, bukan? Aku hanya… Tidak ingin menyakiti wanita sebaik dirimu.”

“Tidak ingin menyakitiku?” dan, air mata itu pun terjatuh. “Kau masih bisa berkata bahwa kau tidak ingin menyakitiku? Lalu ini apa?”

“Begini… Mereka… Mereka selalu mengejekku, Bila.”

“Mereka siapa?” bentak Bila.

“Temanku. Semua teman dekatku.”

“Dan kau malu, bukan? Kau malu, Vin!” Bila membentak Vino lagi.

“Maafkan aku, tapi aku tidak memiliki pilihan lain, Bila. Maafkan aku.”

“Bodoh! Aku memang bodoh sudah mempercayaimu. Apa yang kau katakan dulu? Kau tidak akan menyakitiku. Semua begitu meyakinkan sampai aku benar-benar percaya. Tapi sekarang? Kau benar-benar keterlaluan, Vino!”

“Maafkan aku, Bila. Kau harus melupakan aku. Aku pria jahat yang tidak pantas untukmu.” Kata Vino penuh sesal.

Bila menampar Vino dan berjalan pergi dengan susah payah. Vino, dia sama saja dengan pria lain, tidak bisa menerima Bila apa adanya.

“Kenapa dulu aku sangat mempercayai kata-katanya? Kenapa dengan mudahnya aku memberikan cintaku? Kenapa aku percaya jika dia akan mencintaiku? Tanpa melihat fisikku yang tidak sempurna? Kenapa?” Bila menangis sejadi-jadinya di kamar. Dia benar-benar kecewa.

Sudah dua hari Bila tidak masuk sekolah. Dia hanya tidak ingin melihat kedekatan Vino dan Nadya. Tidak dengan mata kepalanya sendiri. Sebenarnya Bila sudah mendengar berita itu, ya, Vino dan Nadya sudah resmi berpacaran sejak kemarin. Sedih? Pasti. Kehilangan? Tentu saja. Tapi tidak, Bila tetap bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia. Walaupun sedikit terpaksa untuk melepaskan Vino. Ini demi kebaikan Vino, Bila tau itu.

“Bila!” panggil seseorang. Bila sangat mengenal suara itu. Dia menoleh dan menemukan pria yang dicintainya bersama pacar barunya.

“Iya, ada apa?” tanya Bila sambil berusaha untuk tersenyum, juga bersikap tenang.

“Kami sudah resmi berpacaran. Bagaimana menurutmu?”

“Bagaimana menurutku? Kau gila atau apa sih? Aku mencintaimu, Vino! Kenapa kau memilih Nadya? Apa kau tidak bisa melihat sinar kehilangan di mataku? Bodoh!” gumam Bila dalam hati.

“Kenapa?” tanya Nadya sinis.

“Kalian sangat… Cocok. Ya, cocok.” Jawab Bila terpaksa. “Baiklah, aku harus ke kelas. Semoga kalian bahagia.”

Hari demi hari telah berlalu, tak terasa hubungan Vino dan Nadya sudah menginjak bulan ke lima. Tapi sepertinya, Vino tidak bahagia. Setiap hari, Bila selalu menemukan mereka sedang bertengkar atau berselisih paham. Dan ada saja penyebabnya. Ya, mungkin itu adalah karma yang harus Vino terima. Tapi, melihat wajah Vino yang selalu memberengut itu, membuat hati Bila terasa sakit. Andai saja Vino mempertahankan hubungan mereka, Bila pastikan, dia tidak akan menyakiti atau bahkan membuat Vino sedih seperti itu.

“Bila.” Panggil Vino saat Bila melewati kelasnya.
Bila menoleh dan tersenyum. “Ada apa, Vin?”

“Aku dan Nadya… Kami memutuskan untuk menyudahi hubungan kami.” Jelas Vino. Bila tau, Vino sangat sedih. Sangat.

“Kenapa? Bukankah kau mencintai dia? Dan aku yakin, kau sudah menemukan segalanya pada dia. Dia cantik, baik, dan… Sangat cocok untukmu.”

“Tidak, aku salah. Semua pikiran itu salah.”

“Apa maksudmu?” tiba-tiba saja, jantung Bila berdetak cepat.

“Tidak seharusnya aku mengorbankan perasaanmu demi rasa maluku pada teman-temanku. Aku minta maaf.”

la mengheBila menghembuskan nafasnya dan menatap dua mata itu lekat. “Baguslah jika kau sudah menyadari semua itu.”

“Meskipun fisikmu tidak sempurna, tapi kau bisa membuatku nyaman. Itu yang lebih penting dari segalanya.”

“Lalu?”

“Aku ingin… Mmm… Apa kau mau memberiku kesempatan kedua, Bil? Aku mohon, aku tidak akan mengulangi hal bodoh itu lagi.”

“Kepercayaan itu bagaikan sebuah kertas. Jika kau sudah melipat-lipatnya, apa kertas itu akan kembali seperti semula?”

“Tidak. Tapi Bila, kali ini aku sungguh-sungguh.” Vino mengenggam tangan Bila penuh harap.

“Vino, kau bisa mendapatkan wanita yang seribu kali lebih baik dari aku. Jangan berharap pada wanita cacat sepertiku. Aku tidak bisa memberikan apa-apa untukmu.”

“Tapi, Bila…”

“Jangan buat aku semakin susah untuk melupakanmu, Vino. Aku sudah berusaha tidak mencintaimu sebisaku. Ku mohon, jangan hancurkan usahaku.”

Vino menghembuskan nafasnya dengan berat. “Aku… Memiliki satu permintaan, aku harap kau bisa mengabulkannya.” Bila melihat sinar kekecewaan di mata Vino. “Kau bisa datang ke taman malam ini? Sekali ini saja. Jam tujuh malam”

“Untuk yang terakhir kalinya, ya, tentu saja.” Bila harus mengatakan semuanya pada Vino nanti malam. Semua. Bila tersenyum dan berjalan pergi.

Jam tujuh tepat, Bila sudah berada di taman itu. Vino duduk di sebuah bangku, dan Bila ada di sampingnya. Mereka tetap diam dan tak saling memandang. Malam itu sangat indah, sangat terang. Tapi tidak seterang hati Bila.

“Bila.” Panggil Vino hangat. Memecah keheningan.

“Ada apa?”

“Kenapa penyesalan selalu datang terakhir? Aku sangat, sangat menyesal.”

“Setidaknya ini bisa kau jadikan sebagai pelajaran, Vino.

Seseorang yang baru belum tentu sebaik orang yang telah kau tinggalkan. Bukankah begitu?”

Vino mengangguk. “Dan itu juga yang membuatku sadar jika aku benar-benar mencintaimu. Bukan hanya omong kosong, Bila.”

Bila hanya terdiam. Dia tidak boleh mempercayai perkataan manis itu. Tidak boleh. “Vino, apa aku boleh bersandar di bahumu? Sekali ini saja.”

Vino tersenyum dan meletakkan kepala Bila di bahunya. “Kau tau, aku bahagia malam ini.”

“Aku… Masih mencintaimu. Usahaku untuk berhenti mencintaimu gagal, Vin.” Jawab Bila. “Aku hanya tidak ingin percaya denganmu lagi.”
“Maksudmu?”

“Aku hanya ingin kau mencintaiku dengan sederhana. Tidak perlu memiliki aku. Tidak perlu menjadi pacarku.”

“Lalu?”

“Tetaplah di sampingku. Jangan pergi lagi.” Bila tersenyum getir.

“Tentu saja. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Tidak akan lagi.”
Suasana kembali hening. Bila merasakan ada sesuatu yang membuatnya sakit. Sangat sakit. Bila meremas bangku itu kuat-kuat, berharap rasa sakitnya akan hilang. Air mata itu terus saja mengalir di pipi Bila. Tapi dia mengusapnya. Dia tidak ingin membuat Vino khawatir.
“Penyakitku bertambah parah akhir-akhir ini, Vin.” Bila memperkuat genggamannya pada bangku taman. “Sangat sakit.”

Vino menoleh ke arah Bila dan menatapnya lekat. “Bila, kau kenapa?”
Bila menggeleng lemah. Dia sangat lemah sekarang.

“Bila, kita harus ke rumah sakit.” Dengan cepat Vino menggendong Bila dan membawanya ke rumah sakit. Bila segera dilarikan menuju ruang UGD. Sedangkan Vino duduk dengan cemas di ruang tunggu. Ketika seorang dokter keluar, Vino segera berdiri dan berlari menghampiri dokter itu.

“Bagaimana, dok?”

Dokter itu hanya menggeleng. “Saya sudah mengatakan pada Bila bahwa dia harus istirahat total. Tapi malam ini dia mendesak dan memohon untuk diizinkan pergi ke taman. Saya sudah melarangnya, tapi dia menangis. Seharusnya Anda tau, Bila tidak boleh terlalu lelah.”

“Maafkan saya dok, apa saya bisa bertemu dengan Bila?”

“Silahkan.”

Tanpa pikir panjang, Vino segera masuk ke ruang UGD. Dia menemukan Bila terbaring di ranjang. Dia sudah memakai pakaian rumah sakit. Wajahnya sangat pucat. Tapi matanya belum terpejam. Dan senyum masih terlukis di wajahnya.

“Vino, kemarilah.” Pinta Bila dengan lemas. “Duduk di sini.” Lanjutnya sambil menunjuk kursi di samping ranjangnya. Vino mengangguk dan duduk di kursi itu degan patuh. “Aku tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir. Aku hanya perlu istirahat total. Mungkin akan lama. Maaf tidak bisa menemanimu lagi.”

“Hei, apa yang kau katakan? Jangan coba-coba untuk pergi dariku, Bila.”

“Tidak. Aku hanya perlu istirahat.” Bila tersenyum. “Aku sudah merasa lebih baik saat kau berkata masih mencintaiku, sungguh. Itu membuat keadaanku sangat baik.”

Vino menangis. Dia tidak sanggup melihat Bila seperti itu. Dia tidak tega.

“Jangan menangis. Aku baik-baik saja, Vino.” Kata Bila menghibur. “Jika kedua orangtuaku kemari, tolong katakan pada mereka bahwa aku mencintai mereka, sampaikan permohonan maafku karena sudah merepotkan mereka.” Bila tersenyum lagi. “Dan, Vino. Aku masih mencintaimu sampai detik ini. Sampai detik dimana aku harus pergi.” Bila menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Aku harus pergi.”

“Bila, tidak, Bila. Kau harus bertahan. Ada aku yang akan menjagamu. Bila, aku mohon.” Vino mengguncang-guncangkan tubuh Bila. “Bila, aku mohon. Bila!” teriak Vino. “Dokter! Dokter tolong!”

Tak lama kemudian, seorang dokter berlari tergopoh-gopoh menuju UGD dan memeriksa keadaan Bila. Dokter itu menoleh dan menggeleng pelan ke arah Vino. Lagi-lagi, dia menangis. Dia menggenggam tangan Bila erat.
“Aku sadar, Bila. Tidak akan ada yang sepertimu. Tidak seharusnya aku menyia-nyiakan rasa cintamu. Aku sadar, aku sangat membutuhkanmu.” Vino mencium dahi Bila. Terlambat. Semua terlambat. Kini, Bila sudah benar-benar pergi. Tidak ada lagi yang bisa membuatnya tertawa, dan merasa nyaman. Tidak ada, kecuali Bila.

Cerpen Karangan: Anadya Alyasavitri
Blog: www.anadyaalyasavitri.blogspot.com
twitter: @anadyaal
Facebook: Anadyaa Alyaa

Cerpen Nabila merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan di Louvre

Oleh:
Sore hari yang cerah, sang surya masih tersenyum di atas langit. Angin semilir berhembus menggoyangkan dedaunan di pohon. Semua orang bersantai menikmati indahnya sore. Tak terkecuali, Andra dan Bianca.

Kamu Itu Temanku

Oleh:
Aku sudah bosan berlarut-larut dalam kebingungan ini. Aku lelah terus menanti perubahan sikapmu itu. Aku berusaha bersikap seperti biasa, seolah-olah di antara kita tidak pernah terjadi masalah. Tapi kamu

I Just Want To Say Sorry

Oleh:
Kuamati lekat-lekat wajah itu. Mungkin hanya beberapa detik yang tersisa untukku berada disampingnya. Sorot matanya mulai meredup. Sepertinya aku harus mengatakannya sekarang. Kata-kata yang telah lama kupendam dan membuatku

Habis Galau Terbitlah Move On

Oleh:
“Kamu kemana aja, kok semalam hilang tiba-tiba?” “gak papa” “Udahlah kita putus aja yah” *hening Itulah sebait isi sms yang membuat nasi goreng yang baru 2 sendok kusantap terasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *