Nyanyikan Untuk Ku Lagu Selamat Ulang Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 20 February 2016

My heart beats a little bit slower, These nights are a little bit colder
Now that you’re gone, My skies seem a little bit darker
Sweet dreams come a little bit harder… I hate when you’re gone.
(Greyson Chance-Home is in your Eyes)

Maudy memandangi handphone yang tergeletak di sampingnya. Memandangnya, beralih memeluk guling, memejamkan mata, lalu kembali memandang handphone-nya yang tak juga berkutik. Hampir saja ia menumpahkan air mata jika saja dia tak mengingat pesan teman-temannya hari ini. Tambah tua setahun, nggak boleh cengeng lagi ya! Maudy menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar merindukan seseorang di balik sana. Sangat merindukannya. Ia hanya ingin mendengarnya menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ untuknya. Setidaknya satu menit, setidaknya ia bisa mendengar suaranya sebentar saja.

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Hanya detak jam yang terdengar, di sela suara renyah Greyson Chance yang mengalun merdu lewat earsetnya. Maudy hanya diam. Diam menunggu. Diam menanyakan dalam hati apakah seseorang yang ditunggunya benar-benar akan menyanyikan lagu itu untuknya. Diam menunggu. Mungkin hingga ia tertidur nanti, telepon masuk di handphonenya tidak akan ada. Maudy menunggu. Matanya mengatup, lagu lewat earsetnya masih terlantun memenuhi ruang-ruang telinganya. Gadis itu tertidur bersama penantian, tanpa tahu apakah keesokan harinya ia mendapatkan apa yang dinantikannya.

Everyday time is passing
Growing tired of all this travelling
Take me away to where you are.

Mentari baru muncul begitu Ramon menggeliat dari balik selimutnya. Rasa pusing masih membekas di kepalanya. Ia ingat kemarin jadwalnya sangat padat. Tes wawancara untuk mendaftar di Badan Eksekutif Mahasiswa menyita waktunya. Ia bahkan lupa makan, dan ia baru ingat seharian kemarin dia hanya makan sebungkus roti. Pagi ini perutnya keroncongan hebat. Ia segera bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju dapur, barangkali neneknya sudah menyiapkan sarapan untuknya.

“Baru bangun Ram?” Tanya seorang wanita paruh baya dari balik ruang dapur. Ramon baru saja melahap satu sisir roti yang diambilnya di meja makan. “Iya Nek. Tadi habis sholat subuh langsung tidur lagi. Cape Nek,” balasnya. Ramon mengamati kesibukan neneknya menggoreng telur.
“Oh iya handphone kamu ketinggalan di ruang tamu kemarin. Nenek taruh di atas meja TV,” ujar nenek. Ramon mengendikkan bahu lalu melangkah menuju meja TV.

“Kak, ade pengen dinyanyiin lagu selamat ulang tahun. Yah? Satu meniit aja. Sebentar aja Kak.”

Pesan itu nampak begitu Ramon membuka handphone-nya. Dia baru ingat ada sesuatu yang harus diselesaikan kemarin, namun ia terlalu lelah untuk membuka mata. Sepulang dari kampus ia langsung tergeletak di kamarnya. Padahal ia sempat akan menelpon gadis yang kemarin berulang tahun itu. Ramon menyesal. Dicarinya kontak gadis itu di handphone-nya, lalu ditekannya tombol ‘call’. Maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Coba beberapa saat lagi. Ramon mengulangi panggilannya. Maaf, nomor yang anda hubungi tidak dapat menerima panggilan ini. Ramon memutuskan sambungan telepon, lalu mencobanya sekali lagi.

“Angkat, Dy. Please,” gumam Ramon pelan.
“Ramooon, sarapannya sudah siap!” teriak neneknya. Ramon menoleh sebentar lalu mengangguk.
“Iya Neek!” balasnya. Operator masih menyambungkan panggilannya, masih ada nada ‘tuuut-tuuut-tuuuut’. Ramon menunggu.
“H.. halo,” Ramon berucap begitu seseorang di seberang sana menerima panggilan teleponnya. “Maaf ya dek. Kemarin kakak tertidur. Maaf ya telat,” Ramon terengah. Ia menyesal.
“Happy birthday to you, happy birthday to you..” Ramon menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk seseorang di seberang sana. “Happy birthday, happy birthday, happy birthday Maudy,” Ramon mengakhiri lagunya. “Selamat ulang tahun ya Maudy,” Tidak ada jawaban. Telepon masih tersambung, tapi tidak ada suara apa pun setelah Ramon menyelesaikan lagunya. Ramon mengernyitkan dahinya.

“Dek? Masih di sana kan?” Tanya Ramon. Sepersekian detik setelahnya hanya terdengar isak tangis yang redup. Ramon makin tidak mengerti.
“Dek, kenapa?” Tanya Ramon.
“Maudy..” seseorang di balik sana menggumamkan sebuah nama. “Ini Ramon?” Tanyanya.
“Iya. Ini siapa? Dimana Maudy?”
“Tadi malam dia menunggu teleponmu sampai dia tertidur,” Deg! Jantung Ramon nyaris berhenti berdetak. Dia merasa sesak napas. Ternyata Maudy benar-benar menginginkannya menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Gadis itu benar-benar menunggunya, tapi ia malah tertidur tanpa bisa menyempatkan waktu sebentar untuk gadis itu. Perasaan bersalah merambati hatinya. Maudy, maafkan aku.

“Tapi aku nggak menyangka, dia tertidur sangat pulas. Hingga sekarang..” kata-katanya terputus. “Hingga sekarang dia tidak bangun lagi. Ramooon, Maudy meninggal,”
Seolah semua hal di sekelilingnya berubah 180 derajat. Ramon menjatuhkan ponselnya. Mulutnya menganga. Hatinya remuk. Ia ingin memastikan sekali lagi bahwa apa yang didengarnya adalah salah. Tidak mungkin, tidak mungkin secepat ini! Ia baru saja menyanyikan lagu untuk gadis itu, tapi sekarang? Ramon merasa seluruh tubuhnya lumpuh. Ia merasa semua energinya terkuras habis.

Tuhan, terlalu cepat Kau mengambil gadisku. Ramon menangis. Cowok itu menguras seluruh air mata yang terbendung di balik kelopak matanya. Kenyataan itu cukup membuatnya tersayat. Ramon menyesali semuanya. Iya, semuanya! Semua hal yang Maudy lakukan dan ia hanya mampu mengabaikannya. Semua pesan yang Maudy ucapkan dan Ramon tak cukup baik untuk menggubrisnya. Maudy masih sangat mencintainya, meski mereka sudah putus setahun yang lalu. Maudy adalah gadis paling tulus yang pernah Ramon kenal. Gadis itu sangat mencintainya namun Ramon terlalu angkuh untuk meresponnya. Ramon hanya ingin Maudy bertahan tanpanya, namun ia tahu kini dia melakukan hal yang sia-sia.

“Maudy, maafkan aku..”

Ramon berdiri tepat di depan tanah pemakaman yang masih basah. Ia tahu tahun depan ia tidak akan bisa menyanyikan lagu selamat ulang tahun lagi untuk gadis itu. Ia tahu ia telah melakukan hal bodoh yang akan terus disesali sepanjang hidupnya. “Andai jika saat itu aku mengabaikan egoku dan menuruti kemauanmu, apakah aku bisa melepas kepergianmu lebih ikhlas dari ini? Aku menyesal, Maudy. Aku menyesal tidak bisa memenuhi keinginanmu di saat-saat terakhir kepergianmu. Maafkan aku, Maudy. Aku masih mencintaimu. Masih sangat mencintaimu.”
Seorang gadis mendekati Ramon, berdiri tepat di samping cowok itu. Ramon menoleh, mendapati gadis itu menyodorkan secarik kertas padanya.

“Aku menemukan ini di bawah handphone Maudy,” ujarnya. Ramon membuka lipatan kertas itu dan menemukan sebaris kata yang dia kenal model tulisan tangannya. Seketika hati Ramon meremuk begitu membacanya. “Aku menunggumu Kak, akan menunggu meski harus membuatku menunggu sampai aku tidak beranjak lagi dari lelapku. Aku hanya ingin mendengar suaramu, Kak. Aku merindukanmu.”

Cerpen Karangan: Igant Erisza Maudyna
Blog: igantmaudyna.blogspot.com

Cerpen Nyanyikan Untuk Ku Lagu Selamat Ulang Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Because of You

Oleh:
Pagi yang cerah. Kudengar deburan ombak pantai yang perlahan mulai hilang ditelan bisingnya suara kendaraan. Tirai-tirai yang menutup jendela kamarku mulai kubuka secara perlahan. Dengan mata ini, aku melihat

Unforgettable

Oleh:
Terus kupandang wajahnya. Cantik, putih, bersinar… Takkan gue lupakan senyum indah yang menghiasi wajahnya itu. Dan sampai saat ini tak bisa gue lupakan kejadian yang sampai merenggut nyawanya. Namanya

Pelangi Kecil

Oleh:
Sang mentari tersenyum indah memandang bumi dari ufuk timur yang mengingatkanku pada masa kecil dulu. Masa-masa indah sebelum ku mengenal arti kehidupan, belum mengenal arti cinta dan perasaan, yang

Segenggam Cinta Serta Luka

Oleh:
Terlihat langit hitam di atas kepalaku. Sempat angin mencoba menggoyahkan aku dengan kedinginannya. Merapuhkan aku di setiap hembusannya. Namun tubuhku mencoba untuk selalu tegar berdiri. Menatap langit, mengharapkan satu

Pertemuan Terakhir

Oleh:
Kukuruyuk… suara ayam jago yang gagah membangunkan aku pagi ini, sungguh hari yang dingin tidak biasanya mendung, padahal aku harus mengambil tiket ke jogja hari ini, semoga tidak hujan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *