Ombak Yang Bergelombang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 December 2015

Matahari masih terlihat malu-malu menampakkan wajahnya. Udara pagi yang dingin menyapa Annissa lewat jendela kamar yang telah ia buka. Annissa telah bersiap dengan handuk dan baju ganti di tangannya. Jam dinding masih menunjukkan pukul 05.39. Meja kecil di ruang makan telah tersaji menu sarapan pagi. Nasi putih, tempe, tahu dan teh hangat. Seperti pagi biasanya, semua anggota keluarga Annissa lengkap menduduki kursi plastik yang mengitari meja makan. Annissa meninggalkan piring yang tak ada sisa nasi satu butir pun, dan meneguk habis teh hangat yang disiapkan untuknya. Lalu beranjak menyalami Ibu dan Ayahnya.

Kelasnya terlihat lengang dan baru terlihat empat orang yang sedang duduk manis di bangkunya. Annissa mendekati bangkunya yang berada di baris kedua setelah pintu masuk.
“Assalamualaikum..” sapa Annissa memasuki kelas.
“Waalaikumsalam..” balas teman sebangkunya, Nurjannah.

Bel panjang tanda akan dimulainya upacara berbunyi. Semua siswa menghentikan aktivitasnya dan berlari menuju lapangan SMP Negeri 10 Parepare.
“Ni.. kamu tidak ikut upacara?” tanya Annissa menghentikan langkahnya saat pandangannya jatuh pada Afni yang tengah melamun di bangkunya.
“Tidak. Aku lagi tidak enak badan,” jawab Afni ketus. Annissa melanjutkan langkahnya menuju lapangan. Mata Afni menatap punggung Annissa yang menghilang di balik pintu kelas.
Pemilik nama Nurul Afni itu merupakan saingan berat Annissa. Afni sangat ingin mengalahkan Annissa. Dengan segala cara ia lakukan, Annissa tidak tumbang. Kebencian dan dendam mulai timbul di benak Afni.

Keluarga Annissa tinggal di sekitar Lontangnge. Rumahnya berdiri kokoh dengan bahan dari kayu jati. Tempat tidurnya sudah reyot, tidak layak dipakai. Tapi, keuangan tidak mengizinkan untuk memperbaiki tempat bernaung keluarga Annissa. Ada-ada saja kebutuhan mendadak. Maklum, Ayahnya hanya membuka warung nasi goreng di pinggiran Parepare Beach. Setiap sore Annissa datang membantu Ayahnya dengan melayani pelanggan. Biar pun keluarganya sederhana, tapi Ayahnya dari dulu selalu menanamkan sikap jujur pada diri Annissa. Ayahnya melakukan itu agar kelak Annissa dapat memimpin bangsa Indonesia dengan sikap jujurnya dan mampu membersihkan Bangsa Indonesia dari korupsi-korupsi yang merajalela. Ayahnya juga tidak mau Annissa tergiur akan uang yang haram demi mengubah nasibnya.

“Ayah, bertepatan dengan ulang tahunku yang ke-14 tahun. Aku ingin mentraktir sahabat dekatku. Apakah boleh, Yah?” tanya Annissa antusias.
“Iyaa.. Terserah kamu..” jawab Ayahnya setelah meneguk perlahan-lahan air putih.

Ruangan kelas sedikit gaduh pagi ini. Annissa sedikit heran memasuki kelasnya. Dilihatnya temannya sedang berkumpul membicarakan sesuatu.
“Ada apa, Bi?” tanya Annissa pada Bintang.
“Apakah kamu mentraktir kami dengan uang haram?”
“Tidakkk!! Siapa yang bilang?” Annissa takut bukan main. Dadanya berdegub kencang tak menentu.

“Soalnya uang bendahara hilang. Apakah kamu yang mencurinya, Nis?” Nurjannah angkat bicara.
“Bukan aku.”
“Dinda minta rugi pada kamu sebanyak Rp 253.000,00, Nis,” ujar Cika yang sedang berdiri di samping bangku Annissa.
“Ta.. tapi kenapa aku yang dituduh?” tanya Annissa dalam hati.
“Ya Tuhan.. Apakah dosa hamba-Mu, sehingga Engkau turunkan azab yang berat ini? Tabahkan jiwa hamba-Mu menghadapi ujian-Mu, ya Allah..” doa Annissa pelan.

Annissa sesungguhnya tidak pernah tahu nasib mereka yang sama seperti laut. Beralun, beriak, bergelombang, silih berganti mengikuti arus permainan alam. Apalagi ketika laut marah dan melemparkan ombak, diiringi badai yang tak kenal belas kasihan. Annissa berdiri menatap laut. Gulungan ombak menjilat kaki dan celananya. Tangan kirinya berada dalam saku, sementara tangan kanan meremas rambutnya. Annissa berpaling menatap bulan yang seakan-akan memberinya ketenangan. Ombak kembali pecah menghantam karang. Berderai berserakan menjadi renik-renik yang berkilauan ditimpa sinar bulan. Annissa masih tak mau banyak berbicara kecuali seperlunya. Setiap istirahat pun Annissa memilih menjauh dari keempat teman yang biasa banyak menghabiskan waktu bersama.

“Nis, tunggu..” Bintang memberanikan diri memanggil Annissa yang hampir saja melesat melewati pintu kelas.
“Kita bicara di luar!” Bintang menarik tangan Annissa mengajaknya berbicara tidak di depan semua mata anak sekelas.
“Kalau memang bukan kamu yang mencuri uang bendahara, tidak usah berwajah dingin setiap hari,” Bintang akhirnya mengeluarkan ketidaknyamanan hatinya melihat perubahan sikap Annissa.
“Memang benar bukan aku yang mencurinya. Tapi, kalian itu seakan-akan ikut menuduhku juga. Ah.. sudahlah, Bi. Biar Tuhan yang buka jalan,” Annissa membela diri.

Keretakan dalam persahabatan adalah retak yang disebabkan ulah manusia itu sendiri. Siapa yang salah atau siapa yang memulai tak ada yang mau mengakui. Retak telah menemui puncaknya. Pulang sekolah, Annissa tidak langsung menuju rumah, tapi mampir di rumah-rumah tetangga untuk menawarkan pekerjaan seperti mencuci piring, menyapu, dan mengepel. Sudah tujuh rumah yang menerima tawaran Annissa dengan memberi gaji Rp 30.000,00. Peluh mulai berjatuhan menghiasi wajah Annissa. Annissa mengingat celengan yang sudah ia pecahkan demi mentraktir sahabatnya. Kini, uang itu sudah habis.

“Annissa?” panggil Dinda sang bendahara. Annissa dengan cepat mengeluarkan uangnya, karena panggilan itu sudah ia ketahui maksudnya. Saat Dinda menghampirinya, Annissa langsung menyodorkan uangnya.
“Ini gantinya, masih kurang Rp 43.000,00, meskipun bukan aku yang mencurinya,” kata Annissa. Ia melanjutkan bacaannya yang sempat terputus karena kedatangan Dinda.
“Bukan itu yang aku mau. Aku hanya ingin bicara empat mata denganmu,” Dinda menolak uang itu.
“Ada apa?”

“Aku minta maaf pada kamu, Nis. Aku telah dibodoh-bodohi oleh Afni. Dengan semudah itu aku melakukannya demi mendapat peringkat satu. Aku tahu tidak semudah itu mendapat peringkat satu. Aku tidak akan dihina, diejek, dicemooh orangtuaku kalau mendapat peringkat satu,” jelas Dinda, wajahnya kusam dibakar kepedihan.
Di saat yang tepat, datanglah Afni mendapati kedua orang itu sedang membicarakan hal yang serius. Dinda menarik tangan Afni dengan keras.

“Ada apa sih?” teriak Afni.
“Sekarang aku minta uang bendahara yang kamu simpan untuk menjebak Annissa!” pinta Dinda.
“Wahhh.. ini kan tas Tote Bag edisi baru. Kamu membelinya di mana, Ni?” celetuk Nurjannah, karib Annissa.
“Jangan bilang kamu membeli tas itu menggunakan uang bendahara?” duga Dinda.
“Tidakkk! Siapa yang bilang?”

“Teruss.. siapa yah yang kemarin aku lihat di toko Sejahtera mengenakan baju terusan berwarna abu-abu?” sindir Dinda. Mata Afni terbelalak. Ia tertunduk.
“Nah.. sekarang aku minta ganti rugi.”
“Ini gantinya, Din,” Annissa menyodorkan uang hasil kerja kerasnya pada Dinda.
“Kok, kamu yang bayarin? Dia yang berbuat salah, jadi dia juga yang harus menanggungnya.”
“Tidak apa-apa. Ambil saja, Din.”
“Kamu itu harusnya berterima kasih pada Annissa,” ucap Dinda sinis.

Afni yang mendengarnya tertegun, merasa malu. Wajahnya yang dingin tiba-tiba mencair memerah. Ia bingung menanggapi tatapan temannya. Secara spontan ia tersungkur di depan Annissa. Hujan yang lama ia bendung, akhirnya meluap. “Aku minta maaf, Nis. Aku telah dikuasai hawa nafsu. Aku telah dibakar api kecemburuan. Aku minta maaf, Nis,” kata Afni sambil terisak.
“Aku sudah memaafkan kamu dari dulu, Ni. Aku juga minta maaf telah membuatmu iri hati, dan dendam. Ayoo bangun..” tangan Annissa meraih tangan Afni.

Cerpen Karangan: Dixie Dean
Facebook: Dixie Dean

Cerpen Ombak Yang Bergelombang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadir Mu, Sang Penolong (Part 2)

Oleh:
MASIH KALIAN BERDUA Setelah menjadikan Rita sebagai kekasihnya malam itu, lantas tak membuat Randy memberikan perlakuan yang berbeda dari sebelumnya. Mereka memang sudah mesra sejak awal. Ditambah selain mereka,

Chat Random

Oleh:
Tahu aplikasi chat random gak? Pasti tahu dong. Itu loh aplikasi semacam sosial media dimana kita bisa chattingan dengan orang tak dikenal. Di situlah, pertama kali aku mengenalnya. Namanya

Masker Pembawa hidayah

Oleh:
Asap kelabu yang begitu putih membuat mataku begitu perih untuk memandang ke segala penjuru. Begitulah keadaan yang terjadi, desaku dilanda asap tebal yang menyelimuti ruang bumiku. Tiada lagi terlihat

Mimpi Anak Borneo

Oleh:
Ruangan itu sudah dipenuhi banyak orang. Dadaku berdegup kencang. Perasaanku bercampur antara cemas dan bahagia. Aku yang mengenakan pakaian terusan bewarna merah dengan corak batik Kalimantan yang indah, berjalan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *