Past

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 29 January 2018

Aku mengikat celemek lalu mulai memasak. Cipratan-cipratan mulai menari nari di atas panci. Terdengar teriakan Desta yang tiada henti. Tak lama, akhirnya Harto datang juga. “So-sori…”
“Terserahmu lah…” Aku meninggalkan dapur, lalu mengerjakan bagianku. Bagiku ini dunia baru. Biasanya hanya keadaan sumpek di kampus yang membuat kepala meriang. Pelajaran inilah, bagian itulah… Hingga di kos-an pun masih diteriakin anak anak senior. Sampai akhirnya, aku dan Desta menemukan tempat menakjubkan ini. Impian sejak kecil dulu. Kerja di restoran.

Desta yang pertama kali menatapku, langsung menyuruh ambil bagian di kasir. Aku segera duduk di meja kasir lalu melayani para pembeli setia. “Biar saya yang ambil bagian.” Suara merdu itu terdengar.
“Oh, iya… Ini Kayla Adinda. Pegawai baru.” Mbak Lista menyahut. Eh? Aku menoleh. Kulitnya putih merona, mukanya cerah dengan polesan make up tipis. Beda denganku, kulit kusam, banyak komedo mukanya. Berantakan!
Aku mengangguk cepat. Gesit mengambil menu.

“Selamat datang di Simple Piz-za’s. Mau pesan apa?” Aku bertanya. Laki laki yang datang sendirian itu ter-senyum. “Vanilla latteshake, dan Rajungan Crab Pizza.”
“Sebentar lagi disiapkan.” Kakiku berlalu pergi. “RAJUNGAN CRAB PIZZA! VANILLA LATTESHAKE!” Mulutku berteriak.
JK berlari lari di dapur. “Latte-latte…” ia mendesah. Nama aslinya adalah Jufri Kafliladinnasihash. Belakangnya yang panjang membuatnnya meminta dipanggil JK. “Meja no. 23.” Sri menyerahkan minumnya. “Dan no. 20.”

09-09-09
Kata orang, hidup ini harus dijalani. Tak boleh diingkari. Semua janji ini. Bahkan masa janji masa lalu pun harus ditunaikan sepenuh hati.
Kayla Adinda

Saat membaca diary Kayla, aku terlempar ke masa lalu. Pertama kali aku melihatnya. Dia… gadis yang baik. Hanya saja hidupnya yang selalu merobek semua kenangan indah masa lampaunya dulu.
“Kinan!” Vina berteriak. “Apaan sih? Seenaknya ngerobek semua kenangan indah ini!”
Vina menepuk dahinya. Anak ini! “Kita mau terbang ke Pulau Tidung… Gereget amat ya.”

Setelah resign dari restoran tempatku dulu bekerja (karena kuliah sudah selesai). Aku menjadi pengacara. Enggak pengacara amat sih… Yah, kalau nggak ada kerjaan ya masak masak di dapur kantor. Hobi masa kecil. Kalo kata Vina yang manggilin aku dari tadi, ‘mantab!’.
“Kinan! Melamun lagi ya kerjaannya. Ayo cepet. Nanti ketinggalan pesawat.” Ia mengomel sambil menarik tasnya kembali ke punggungnya. Tak lama aku sudah berada di dalam pesawat.
Tanganku merogoh buku diary kecil di saku tas ransel. “Vin, kalau dilihat… Dia menulis ketika semua tanggalnya sama dan… hari ulang tahunnya.” Vina melongok ke dalam diary. Membacanya keras.

10-10-10
Makanan adalah salah satu hak manusia. Tanpa makan manusia bisa saja mati. Selain makanan yang dibutuhkan adalah cinta. Kasih sayang yang jarang aku miliki, bahkan saat kecil. Semua itu ada dalam restoran kecil yang bahagia.
Kayla Adinda, I am just too happy in Simple’s Pizza (simpel tapi bermakna)

Satu, dua, tiga… Aku menangis dalam hitungan detik. “Dia perempuan yang tegar…” isakku. Vina menatapku. “Sampai di Pulau Tidung semuanya akan terungkap.”

Selama aku bekerja di kantor hukum menjadi pengacara. Tak pernah sekalipun aku bayangkan ada klien yang memiliki harta 100 juta dollar Amerika di negara budaya ini. Apalagi ia (sepertinya) tidak mempunyai sanak saudara. Entah bagaimana caranya anak itu masuk lagi ke kehidupanku yang sudah tenang ini.

Aku kira akhirnya aku bisa melepaskan semua yang berkaitan dengan Kayla. Tetapi mengingat ia sudah meninggal, dan mempunyai harta yang begitu banyak juga tak bisa diwariskan ke siapa pun. Rasanya tak sanggup mengingat kenangan masa lalu yang menyakitkan. Hingga si bos entah entah atau Mr. Wildeman, minta manggil kayak begitu mencampakkanku di kasus ini. Alasannya aku tahu banyak tentang Kayla. Padahal saat aku mendengar namanya disebut dalam salah satu kasus, aku sudah menangis darah.

“Kinan…” Vina menatapku lembut mengingat sekarang aku sedang menangis terisak isak mengenang Kayla. “Semua yang terjadi saat ini bukan salahmu. Kau tak harus membayarnya dengan menyelesaikan kasus ini. Mencari sanak saudaranya. Kau malah seperti menyiksa dirimu sendiri. Biarkan aku yang melanjutkan kasus ini. Mr. Wildeman pasti mengerti.”
Aku mengangkat kepalaku. “Semua kesalahan harus dibayar. A-aku sudah lama menyiksanya di Resto waktu itu. Aku membencinya hanya karena merasa posisiku digantikan. Padahal saat itu ia lebih membutuhkan uang… Entah bagaimana caranya aku memberinya obat mencret saat itu. Lalu memberi AC pinjaman di Resto, padahal aku tahu ia mengidap asma. Dan aku baru berteman baik dengannya sebulan sebelum kepindahanku ke kantor. Itu pun karena Mbak Lista menceritakan seluruh masa lalunya. Dia tak pernah marah kepadaku. Baru saat aku pergi aku baru tahu ia memiliki penyakit jantung stadium 1. Harusnya a-aku membiarkannya mendapat bonus setiap bulan. A-aku begitu jahat.”
Sungguh sekarang ataupun nanti aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.

06-06-06
Aku ingin belajar memaafkan. Semua ini, yang terjadi. Karena aku tahu, bukan sepenuhnya kematian adalah salahku. Tapi takdir tuhan.
Kayla Adinda.

Aku menarik nafas panjang. “Dan yang paling kusesali adalah… Aku menabraknya. Dia masuk UGD karena diriku. Tulang kepalanya retak terbentur, tulang kakinya juga patah karena aku. Berhari-hari menjalani pekerjaan. Dia tak pernah tahu jika yang menabraknya aku.”
Vina menatapku prihatin. “Kau sudah ada di posisi paling bawah ditekan masa lalu. Tapi kamu tahu? Hal satu satunya yang bisa dilakukan adalah… ke atas!”

“Jadi di mana, Nan?” Vina melenguh. “Bentarr…” Tanganku membuka buka diary Kayla. Ini dia! Di Pulau Tidung. Aku membaca halaman pertama keras keras.

20-05-01
Ini hari ulang tahunku! Huuuraaayyy… Ayah membelikanmu sebagai hadiahnya. Covernya pohon sakura yang ada di buku. Hehehehe… Tapi bagaimanapun juga, Pak Laut memberikanku sepasang kelinci berwarna coklat dan putih.
Kayla Adinda yang manis

Aku terkekeh membaca nama yang dicantumkan di sana. “Kita tanya penduduk tentang Pak Laut.” Vina berseru.
Untungnya di depan kami ada segerombolan anak yang sedang bermain. “Halo adik-adik… Tahu nggak tentang Pak Laut? Kalau tahu, antarin kakak ke sana ya!” Vina menyodorkan 5 lollipop kepada mereka.
“Sejak kapan kamu bawa lollipop dan… Gak harus gitu juga kalee!” Ia hanya menatap sekilas ke arahku. Pandangannya kembali ke anak anak itu. Diimut-imutkan mukanya. Akhirnya ‘perjuangan Vina’ membuahkan hasil. Salah satu anak itu mulai mengambil lollipopnya.

Anak yang kelihatannya paling dewasa di antara mereka mulai bicara, “Saya tidak tahu bagaimana Kak..”
“Vina dan Kinan.” Aku menjawab cepat. “Kak Vina dan Kinan tahu Pak Laut. Karena sepertinya Kak Kinan bukan-” Vina berdeham mendengar namanya tak disebut. Anak itu hanya cengengesan menatap Vina. Vin… Vin… Nama doang dipermasalahin. “Karena sepertinya Kak ‘Vina’ dan Kinan bukan orang asli sini. Tapi tak apa, itu bukan masalah. Yang jadi masalah Pak Laut sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Sebenarnya Kak Kinan dan… eee… Vina ada apa bertanya tentang Pak Laut?”
Aku dan Vina bertatapan. Kasih tahu tidak ya? Vina akhirnya angkat bicara setelah lama berunding. “Kami ke sini ingin mencari sanak saudara Kayla Adinda.” Anak itu tertegun. Ia menggumam tak jelas, tapi aku bisa mendengar samar. “Kor-ban kebakaran.”

“Nama saya Satou, saya akan kenalkan Kakak dengan anak dari Pak Laut.” Ia mulai berjalan. “Saya tahu, Kakak ini bukan orang biasa. Polisi-kah?”
Aku menjawab pendek. “Pengacara.” Satou menatap ke bawah. “Pak Laut adalah kakek saya. Kakak beruntung bertemu saya. Nama Pak Laut sebenarnya bukan laut, tetapi Rewyi. Ia dipanggil seperti itu karena kelihaiannya berlaut dan kesukaannya terhadap laut.”

“SATOU!” Tiba-tiba seorang ibu paruh baya keluar. “Heh! Kau tahu, Ibu sudah mencarimu ke mana-mana. Juga siapa perempuan ini, hah?” Vina menatap ngeri Ibu-Ibu yang mulai menjewer telinga Satou.
Aku memaksakan senyum, mengingat Ibu ini kejam sekali. Lihatlah padahal habis bermain Satou lebam di mana mana, malah dijewer sampai telinganya merah. “Saya Kinan Andari dan ini Alvina Maningtyas.”
Ibu-Ibu ini seketika mukanya cerah melihat diary Kayla di atas koperku. “Ada apa ya?”

“Ibu kenal dengan saudara Kayla Adinda?” Vina bertanya memastikan. “Iya! Dia adalah teman dekatku saat itu. Kami sehidup semati. Selalu bersama.”
“Hingga wanita itu datang.” Ibu itu mendesis samar penuh kekesalan. “Apa?”
Ibu itu mulai salah tingkah mendengar pertanyaan Vina. “Oh, iya… Saking asyiknya bercerita saya lupa mempersilahkan duduk di teras.” Dia terkekeh menyembunyikan.

Kami pun duduk di beranda teras rumah Ibu itu. “Nama saya Keyla Ardinda.” Aku dan Vina bertatapan. Mirip banget… “Iya, memang mirip.” Bu Keyla berkata seolah dapat membaca raut wajah kita.
“Itu karena kami dilahirkan sama-sama dalam bulan yang sama, tanggal yang sama, tetapi dengan jam yang berbeda. Kami beda 4 jam. Lebih tua saya daripada Kayla. Oh, iya… Kalian manggil saya Keyla saja, tidak usah pakai embel-embel Bu atau semacamnya. Nona, Nyonya atau apalah itu.” Ia menatap wajah kami lembut. “Jadi?”
Vina menghela nafas berat. “Ananda Kayla sudah meninggal beberapa hari yang lalu.” Tiba tiba wajah sumringahnya mendung. Entah awan gelap apa yang menutupinya. Matanya berkaca-kaca. Bagaimana tidak sedih mendengar kabar sahabat yang bahkan mungkin dianggap saudara kandung dan memiliki nama yang mirip, lahir pada hari yang sama meninggal?! Hosh… hosh… Berlebihan Kinan.
“Dia memiliki harta 100 juta dollar Amerika. Juga tak punya sanak saudara. Pada wasiatnya ditulis bahwa, ‘Sahabat sakaligus yang dianggap saudara kandung harus mendapat bagian.’ Sebesar 15 juta dollar Amerika. Dan dia adalah ananda Keyla Ardinda.” Ia tertegun mendengar ucapanku. “Kami ingin Anda bercerita sedikit tentang kehidupan Kayla di Pulau Tidung.”

Keyla menghela nafas mulai bercerita. “Kayla adalah anak pemilik kapal yang kaya. Ayahnya juga punya bisnis wisata di Pulau ini. Tetapi, ia tak pernah merasakan sentuhan kasih sayang seorang Ibu. Hingga akhirnya Ayahnya menikah dengan seorang gadis dari pulau seberang yang bernama Fariya atau Riya. Tak lama setelah pernikahan keduanya, lahirlah adik perempuan dan laki laki kembar tak identik. Bernama Dea dan Davin. Mereka balita yang lucu. Sejak itu, ia jarang bermain denganku. Alasannya menjaga kedua adiknya. Memang benar, tetapi tak jujur sepenuhnya. Karena aku sering melihat ia keluar dengan lebam di dagu, tangan, dengkul, dan lutut.” Ia menangis terisak mengingatnya.

“Selang 3 bulan pernikahan, ayah Kayla mati di lautan. Sejak ayahnya meninggal. Semua bagian tubuhnya pasti mendapat pukulan rotan dari ibunya. Akhirnya kebakaran pun terjadi. Ibunya mati dalam kejadian itu. Hanya Kayla dan adik kembarnya yang selamat. Mereka pergi meninggalkan Pulau Tidung. Ia menangis meminta maaf kepadaku sebelum kepergiannya. Pak Laut, ayahku berkaca-kaca melepas kepergiannya.”

Aku menatap wanita ini lekat. Ia mirip sekali dengan Kayla. Tak sadar aku menangis terisak-isak teringat perbuatanku kepadanya. “Maafkan aku…” Aku mendesah. Keyla menoleh tak mengerti. Sambil sesenggukan aku menceritakan apa yang kuperbuat padanya. “Aku tak pernah sempat meminta maaf padanya. Akhirnya denganmu semoga aku bisa memenghilangkan dosaku.”
“Yang tidak diperbuat, tak harus untuk disesali.” Keyla tersenyum getir.

Cerpen Karangan: Sakayu
Instagram: @Sakayu.sky
Menulis untuk mengisi waktu luang.

Cerpen Past merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Kecil Buat Bunda

Oleh:
Cakrawala senja yang indah menawan terlihat sebuah keluarga yang asyik berliburan di pantai. Eh ternyata ada seorang bidadari cantik yang sedang duduk sendirian sepi di tepi pantai memandang indahnya

Hadiah Terakhir

Oleh:
Sejak aku berumur 8 tahun ayahku meninggal dunia dan sejak saat itu juga aku dibesarkan oleh ibu seorang diri. Namaku Refiska Ayu biasa aku biasa dipanggil Fiska, kata ibuku

Maafkan Anakmu Ibu

Oleh:
Tuhan telah menciptakan segala sesuatunya di dunia ini, termasuk pasangan-pasangan yang telah disiapkan. Fajar yang berpasangan dengan Senja, Terang dan Gelap, pria dan wanita, kemarau berpasangan dengan hujan, dan

Cinta Untuk Maura

Oleh:
Maura dengan hati yang berbunga menatap sendu lelaki yang baru saja menikahinya. Sesekali ia membelai cincin yang melingkar di jarinya. Laki-laki itu mendekat padanya. “Sayangku, sekarang kau jadi bagian

Sesuatu Di Balik Penyesalan

Oleh:
Desember 2012, Siang yang indah dengan deburan ombak menjadi instrumen merdu dan mengahantarkan gue menuju kedamaian, seakan tak kenal lelah mereka menabrakan dirinya ke karang hanya untuk membuat gue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *