Pengobral Dosa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 January 2016

Di sini aku pernah mengkhianati dirinya, pada senja hari seperti saat ini. Ia duduk di sampingku seperti yang engkau lakukan. Ia bertanya dan meminta padaku untuk selalu mengisahkan kenangan-kenangan indah yang pernah terjadi sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Ia memandang jauh ke arah lautan menanti mimpi yang mestinya menjelma menjadi kenyataan. Sungguh melihat dirimu dan mengisahkan tentangnya, aku menjadi rindu pada dirinya. Ia pernah memintaku untuk meyakini dirinya lewat rangkaian kepingan-kepingan kata yang tercecer di bibirku. Aku mencobanya semampuku.

Di puncak bukit rindu yang kelam, kau sempat mengusap peluh yang mengalir lembut di wajahku. Kau sempat tanya pada raguku yang memasung asmaramu. Katamu, “asmaraku kau terlantarkan dan kau penjarakan pada kata yang kau sebut ‘sia-sia’ tanpa akhir.” Jawabanku kala itu adalah diamku yang menanti waktu mekar dan kembang, sesahaja mawar yang menyambut rintik-rintik embun bila waktunya tiba. Aku berpikir dalam diamku tentang tanyamu yang belum ku jawab. Kau hidup dalam keraguanmu tentang diriku dan mengutuk diamku sambil terus menanti, “suatu saat aku akan selalu ada untuk dirinya setelah aku merenggut bagian tersuci dari dirimu.” Ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.

Laila, diamku bukanlah ketakberdayaan. Diamku adalah ruang tempat kau menumpahkan air matamu. Diamku adalah saat. Saat itu adalah tangis. Diamku adalah rasa. Rasa itu adalah suka saat kau bersuka dan sedih saat kau bersedih. Diamku adalah waktu. Waktu itu adalah saat kita menangis dan tertawa bersama dalam sulit dan gembiranya hidup kita. Laila percayalah aku tetap menjadi milikmu dan buanglah keraguanmu yang membuat kau berpikir bahwa aku sedang memasung asmaramu.

“Laila, lihatlah namamu masih terpahat di batu ini. Namamu tak akan pernah terhapus oleh tiupan badai seganas apa pun.” Ia tersenyum mendengarkanku sambil menunduk lalu berkata.
“jika hanya badai mungkin ia tak akan pernah terhapus tetapi pahatan namaku ini ada pada batu di tepi pantai yang rentan terhempas gelombang. Suatu waktu namaku pasti akan terhapus dan jejaknya pun hilang.”

“Tidak, namamu tak akan pernah terhapus. Percayalah gelombang tak dapat menghempas sampai pada ketinggian ini!”
“Suatu waktu semua kemungkian itu menjadi pasti. Kau tentu masih ingat tentang sebuah pribahasa bahwa: sebuah batu besar dapat dihancurkan oleh titik-titik air bukan karena kekuatannya melainkan karena lama dan keseringan titik-titik itu jatuh di atasnya. Begitu pun batu ini ketika badai, gelombang dan hujan menyatu ia pun suatu waktu menjadi remuk dan hilang tanpa jejak!” Sesaat Laila diam dan aku pun diam.

“Engkau pernah menonton film Romeo dan Juliet?”
“Ya, tentu saja pernah.”
“Engkau tentu juga tahu apa artinya cinta dan mencintai?”
“Ya, bagiku cinta itu adalah pengorbanan yang tulus. Lalu bagimu cinta itu apa?”
“Bagiku, cinta adalah ketika aku mampu bertahan saat dikhianati dan mati saat aku tak sanggup lagi menahan deritaku oleh karena cinta itu sendiri!” Aku benar-benar menjadi bisu menghadapinya. Ia selalu berbicara dari sisi yang berbeda. Namun semuanya bukanlah permainan tetapi sebuah prinsip. “Mencintai meskipun dikhianati menjadi abadi dan berarti jika itu di bawah sampai pada kematian.” Lanjut laila.

Dalam sejarah banyak orang yang cerdas namun kecerdasannya tanpa melalui pengalaman yang unik.
“Engkau tahu tentang Einstein, bukan? Atau Leonardo da Vinci? Atau juga Th. Alfa Edison? Dan juga masih banyak yang lainnya.”
“Ya, aku tahu tentang riwayat hidup mereka yang menggegerkan dunia.”
“Ya, tentu saja! Untuk menjadi orang yang berarti di mata dunia mereka harus mengembara dalam dunia penuh hinaan, cibiran, dan perlakuan yang tidak adil.”

“Namun siapa bisa menyangka kebodohan yang pernah diperlihatkan ternyata melahirkan kecerdasan yang bisa mengubah dunia? Suatu pencapaian yang fenomenal. Dan pencapaian ini yang membuat mereka selau dikenang. Mereka selalu berpikir terbalik tentang dunia, bukan?”
“Ya, aku setuju denganmu.”
“Bukankah cinta juga demikian, tetap mempertahankan keadaan meskipun dikhianati. Itu kedengaran dan terlihat bodoh, kan?”
“Ya, tentu saja.”
“Namun nilai di balik sikap itu sesungguhnya itulah yang ingin ku tunjukkan. Sesungguhnya aku menginginkan kesan itu, aku ingin seperti sosok-sosok fenomenal itu. Aku sungguh bersyukur telah mengenalmu dan mencintaimu.” Hari pun menuju senja.

Asmara. Ya, asmara. Kekuatannya membahagiakan tetapi juga menghancurkan. Ia menggenggam erat jemariku di sela hembusan angin perlahan. Ia memejamkan matanya aku menciumi keningnya dan perlahan pada bibirnya hingga semuanya terlewati tanpa luka. Ia tersenyum malu sambil berbisik, “terima kasih atas kenangan ini.”

Aku pun tersenyum padanya dan memeluknya erat ke dadaku. Ia terlihat begitu bahagia. Ia tersenyum menawan dan hampir membuatku meminta mengulangi kembali apa yang baru saja terjadi. Ia memeluk erat tubuh, melepas perlahan, ia berlari dan memintaku untuk mengejarnya. Dan semua ku lakukan untuknya. Ya, hanya untuknya. Aku sangat mencintainya dan menyayanginya begitu pun dirinya sungguh sangat menyayangiku.

Senja ini tak jauh berbeda dengan keadaan yang pernah ku alami dahulu bersama Laila. Laila wanita suci yang mencintaiku. Aku kembali ke tempat ini mencari jejak Laila yang sempat terlupakan. Aku ingin mendengar kembali suaranya dan kenangan yang pernah terjadi dahulu. Kini aku hanya bisa memandangi sendiri batu yang masih melekat pahatan namanya. Batu ini telah terkikis mulai dari dasarnya, perlahan menuju pahatan namanya.

Batu ini kini mulai berlubang dan permukaannya tidak sehalus dahulu. Laila kata-kata dan ramalanmu hampir terjawab. Amelia wanita itu adalah pengobral dosa. Seandainya ia tidak hadir dalam hidupku aku mungkin tak sesengsara ini. Ia telah mengambil segalanya dari diriku. Ia membuat hidupku tak berarti dan remuk dalam harapan.

“Lupakan itu, lupakan semua tentang dirinya. Temukanlah kembali dirimu dan berusahalah menjadi manusia baru yang terlahir dari rahim derita dan kemudian menjadi pemenang!”
“Mencoba melupakannya adalah mimpi terburuk dalam hidupku, Amelia!”
“Mengapa?”
“Ia telah meracuniku dengan kenikmatan yang tak pernah bisa terhapus oleh waktu dan sejarah tentang diriku.”
“Kenikmatan apa yang ia berikan padamu?”
“Ia memberikan seluruh apa yang ia miliki dalam dirinya untuk kepuasanku, dan ia menjadi wanita pertama yang merenggut kehormatanku tanpa balasan yang sama.”

“Apakah engkau menyesali kehormatanmu itu?”
“Ya, justru karena kehormatan itulah yang membuatku merasa telah mengkhianatinya. Amelia kehancuran telah ada di depan mataku!”
“Tidak, ini hanyalah perhentian pertama. Engkau hanya butuh waktu untuk mengayunkan kakimu untuk melangkah, engkau mengerti maksudku, kan? Hanya satu permintaanku, engkau tak boleh mati dalam pertarungan ini, aku akan menemanimu dalam setiap deritamu.”

“Laila, aku selau rindu padanya. Aku tak akan pernah bisa melupakan dirinya. Dulu ia pernah bermimpi akan melahirkan buah cinta kami berdua, namun kenyataannya ia pergi sebelum kerinduannya terjawab.”
“Lalu, ke mana ia pergi?”
“Ia telah pergi jauh, jauh dan jauh.”
“Ke mana dan di mana?” sahut Amelia dalam nada penasaran dan memaksa.
“Ia telah mati setelah aku khianati cintanya, Amelia.”

“Sakitnya tak tertahankan lagi setelah beberapa tahun ia berusaha mempertahankan hidupnya dalam kesakitan!”
“Sakit apa yang dideritanya?”
“Ia menderita kanker rahim stadium akhir sebelum ia mengetahui aku sedang mengkhianati cintanya saat itu. Sebelumnya ia selalu punya kerinduan untuk hidup hanya karena aku selalu menguatkannya, hanya karena kesetiaanku, perhatianku, kasih sayangku namun ketika ia mengetahuinya bahwa aku sedang mengkhianatinya ia pun kehilangan harapan dan memutuskan untuk mati.”

“Mengapa secepat itu, tidakkah ia bertahan sebentar saja?”
“Ia merasa dirinya tak pantas untuk diriku sebab aku telah dengan jelas mengkhianatinya, dan membiarkanku untuk terus mencintai wanita pengobral dosa itu yang kini hilang entah ke mana. Namun sesungguhnya aku tahu sebenarnya ia tidak menginginkanku untuk mencintai wanita itu.”
“Siapa nama wanita pengobral dosa itu?”
“Namanya Martha.”

“Martha?”
“Ya, Martha!”
“Engkau memang ber*ngsek, pengecut, goblok!” Amelia melototiku dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.
“Entahlah Amelia, semuanya telah terjadi. Waktu tak bisa ku putar kembali untuk menghentikan semuanya. Laila telah mati dan pengkhianatan dariku itulah cinta, katanya. Cinta yang mungkin sakit untuk dikenang kembali!”

“Lalu, apa yang engkau rencanakan untuk diriku?”
“Aku tak merencanakan apa pun tentang dirimu, aku hanya ingin engkau tahu bahwa sahabatmu itulah yang menyiasati semua kehancuran diriku. Itulah awal dari semua kehancuran ini. Ia menggodaku, menahanku, sampai aku tak kembali selama semalam, menghabiskan waktuku bersamanya sampai aku menidurinya layaknya seorang istri yang telah ku nikahi!”

“Sekeji itukah kau membalas cinta Laila!” aku pun terdiam. “Kau memang ber*ngsek, tolol, dasar pengkhianat!” Amelia sungguh terbakar amarah.
“Amelia,” sahutku riuh di selah amarah yang masih membakar dirinya. “Sungguh aku tak bermaksud mengkhianatinya, hanya mungkin aku khilaf.” Ia pun terdiam.

“Amelia, malam itu sebenarnya malam ulang tahun dirinya. Ia telah menyiapkan segalanya. Orangtuanya pun demikian. Ia juga mengundang beberapa temannya dan juga beberapa temanku yang sudah ku hubungi sebelumnya dan mereka semuanya telah hadir di malam itu. Ia mungkin ingin membuat sebuah kejutan kepadaku di hadapan orang yang hadir di malam itu. Mereka semua bahagia, terutama dirinya.”

“Sambil menungguku, mereka bercerita santai. Sejam setelah waktu yang telah ditentukan untuk memulai acara itu, diriku belum juga muncul di ruangan itu. Dirinya mulai gelisah dan semua yang hadir mulai bertanya-tanya. Mereka setia menungguku namun karena aku tak kunjung hadir mereka pun memulai acara tanpa kehadiran diriku. Semuanya berjalan baik, namun bagi Laila kehadiranku menjadi hal yang paling dinantinya. Acara berjalan tanpa cacat hingga selesai namun tak ada kebahagiaan yang terpancar dari wajah Laila saat itu.”

“Sekitar jam tiga dini hari, Martha mengirim pesan kepada Laila lewat nomor handphone-ku bahwa aku sedang melewati malam bersamanya. Martha mencintaiku sejak lama namun ia tak sanggup membahasakan perasaannya dan ia benci melihat aku bersama Laila. Namun Laila tak pernah menyadari hal ini. Mengetahui hal itu Laila tak sanggup lagi menahan sakit sampai pada akhirnya ia menghembuskan napasnya yang terakhir.”

“Dan di atas mejanya sebuah kertas bertuliskan, ‘aku mencintaimu selamanya namun cintailah seorang wanita lagi seperti engkau mencintaiku sebelum pengkhianatan ini. Aku bahagia menghadapi kematian ini meskipun tanpa dirimu di sampingku. Sekarang kamu telah mengerti apa yang pernah ku katakan dahulu padamu, bahwa jika badai, gelombang, dan hujan menyatu sebuah batu pun akan menjadi remuk dan pahatan namaku pun menjadi hilang. Namun sedikit berbeda dengan cintaku kau dapat menghapusnya dalam waktu semalam dalam sekali selingkuhan.’

‘Satu permintaanku, jika seorang wanita kau bawa ke tempat di mana kau pernah memahat namaku dahulu setelah kematianku ini, jagalah dia, sayangi dia dan jadikanlah dia kekasihmu dan aku selalu melindungimu dan dirinya dan jangan pernah mengkhianatinya lagi seperti yang kau lakukan padaku.’ kertas itu penuh dengan tetesan air mata. Laila meninggal tanpa kehadiranku di sampingnya dan tanpa pelukanku yang terakhir. Aku menyesalinya!” Sebagai bukti perkataanku aku memberikan kertas berharga titipan Laila pada Amelia.

Mulai saat itu, senja yang mirip dan miris aku mengisahkan semua tentang diriku pada Amelia. “Apakah aku wanita pertama yang engkau bawa ke tempat ini setelah kematian Laila?” tanya Amelia dengan suara pelan nyaris berbisik. Aku hanya terdiam dan menatapnya penuh makna. Dan saat itu pula Amelia baru menyadari bahwa aku sesungguhnya mencintai dirinya. Ia memelukku erat penuh haru sambil menyatakan bahwa ia juga mencintai diriku.

Cerpen Karangan: Rofinus Jatong
Facebook: Roy Jatong
Nama Lengkap Rofinus Jatong dipanggil: Roy jatong
Status: Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (STFK lEDALERO) Maumere. Semester VII
Beberapa cerpen dan opini pernah dimuat di Pos Kupang, dan situs ini juga pernah memuat cerpen saya berjudul: Eliana Masihkah Engkau Menungguku? Sekian.

Cerpen Pengobral Dosa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Cintaku

Oleh:
Fahrezi Paramitha dan Zee, nama akrabku. Seorang yang egois, menikmati hidup semaunya sendiri, mempermainkan cinta hanya demi kepuasan. Hidupku milikku, kata-kata itulah yang membimbing di setiap hari yang ku

Bintang Dibalik Otak

Oleh:
“Kenapa kalian menjauh?,” tanya Felly. “Apakah kamu tidak menyadarinya, Felly?,” tanya Riska. “Untuk hal apa?,” tanya Felly kembali dengan memakan snack ringannya. “Prestasimu sudah direbut oleh orang lain!,” kata

Bukan Yang Dulu

Oleh:
“Udah gak usah diliatin terus, dulu aja disia-siain” ucap zidan sambil menepuk pundak iqbal yang sedari tadi asyik memandangi seorang perempuan yang sedang asyik dengan laptopnya. “Apaan sih lo?”

Pengorbanan Cinta

Oleh:
Malam ini bulan bersinar terang diterangi beberapa cahaya bintang bertebaran dengan indahnya. Suara gemericik air dan dedaunan yang melambai membuat indahnya suasana di sepanjang pantai. Kami berdua berjalan ditemani

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *