Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 2 April 2016

Cahaya lampu yang berkelap-kelip serta irama musik yang begitu upbeat membuat semua orang di sini mulai menari-nari walaupun beberapa di antaranya dalam keadaan mabuk setelah menenggak beberapa gelas minuman beralkohol. Di balik pintu masuk, munculah seseorang bernama Riko bersama ketiga temannya yang akan bersenang-senang di tempat ini. Beberapa teman Riko langsung memesan bir sebagai pembuka acara mereka.

“Ayolah Riko, minum yang banyak,” ucap salah satu teman Riko bernama Novan.
“Sejujurnya ini adalah pertama kalinya aku ke tempat seperti ini. Jadi, aku masih canggung melakukannya,” jelas Riko. “Maka dari itu kita harus membuat acara pertamamu menjadi menyenangkan,” ucap Alan.
“Minumlah yang banyak kawan. Kami yakin kau akan merasa senang,” lanjut Aji.
“Baiklah, mari kita bersulang!!!” sahut Riko setuju.

Keempatnya mulai menenggak beberapa gelas bir hingga pikiran-pikiran mereka menjadi tak karuan seperti orang gila. Puas dengan minuman, keempatnya melanjutkan kesenangan mereka dengan mulai menari-nari di tengah kerumunan orang yang juga sedang menari-nari tak jelas. Suara musik yang semakin kencang membuat semuanya semakin gila ditambah lagi muncul beberapa penari wanita sensual yang menarik perhatian para lelaki. Lama menari-nari tak jelas, Riko mulai mendapatkan kesadarannya lagi tetapi dia terus menari-nari seakan waktu yang ia miliki begitu tak penting. Padahal bagi beberapa orang di dunia ini, waktu sangatlah penting dan tak bisa diulang kembali. Sesosok wanita tiba-tiba muncul dari balik pintu masuk dan terlihat sedang mencari sesuatu. Dia tak menghiraukan orang-orang yang mulai menggoda untuk bersenang-senang. Tak lama dia menarik tangan seorang lelaki yang ternyata adalah Riko.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Riko setelah melepaskan tangannya,
“Aku baru saja ke rumahmu tetapi Ibumu bilang kalau kau baru saja pergi bersama teman-temanmu,” balas wanita tersebut yang tak lain adalah kekasih Riko bernama Lisa.
“Bukan urusanmu!!!” ketus Riko.
“Tentu saja ini menjadi urusanku. Kau bilang malam ini tidak bisa menemaniku karena sedang tidak enak badan, makanya aku mencoba mengunjungimu. Ternyata kau malah pergi ke tempat ini hanya untuk bersenang-senang. Kenapa sekarang kau menjadi tak perhatian lagi padaku? Kenapa? Atau jangan-jangan karena teman-temanmu yang mempengaruhimu?” jelas Lisa yang hanya dihiraukan Riko.

“Kenapa diam saja?” bentak Lisa.
“Aku hanya ingin bersenang-senang bersama teman-temanku. Karena itulah aku beralasan sedang tidak enak badan,” jawab Riko. “Oh… Jadi benar, ternyata karena teman-temanmu, kau menjadi begini?” ketus Lisa.
“Lebih baik kau pulang saja, di sini bukan tempat yang baik untukmu!” ucap Riko seakan mengusir Lisa.
“Tanpa menunggu perintah, aku akan pergi sekarang juga!” jawab Lisa angkuh.
“Baguslah kalau begitu.” sahut Riko senang.

Lisa pun meninggalkan Riko yang tak senang dengan kehadirannya. Riko pun kembali bersenang-senang dengan teman-temannya hingga larut malam. Riko sampai di rumah sekitar pukul 2 dinihari. Untungnya dia tidak terjadi apa-apa saat menyetir mobilnya dalam kondisi yang agak mabuk. Saat mencoba membuka pintu, ternyata pintu sudah terkunci. Tetapi Riko memiliki kunci cadangan sehingga bisa masuk meski harus mengendap-endap agar tidak ada orang rumah yang tahu. Tibalah Riko di kamarnya dan tanpa menunggu lama-lama, dia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur hingga tertidur pulas. Pagi hari yang cerah tiba, tetapi Riko masih belum bangun dari tidurnya. Mungkin karena lelah atau semacamnya yang membuatnya masih tertidur. Tidak biasanya Riko seperti ini. Dia selalu bangun pagi dan berolah raga sebelum pergi ke kampus sekitar pukul 8 pagi. Beberapa saat kemudian, seorang wanita yang tak lain adalah ibunya mengetuk pintu kamar sambil memanggilnya.

“Riko… apa kau masih tidur?” ucap Ibu Riko tetapi tak ada jawaban.
“Sepertinya Riko masih tidur, Lisa,” ucapnya pada seseorang yaitu Lisa.
Rupanya pagi ini Lisa datang untuk menemui Riko karena khawatir tentang kejadian semalam.
“Apa Lisa boleh masuk, Bu?” tanya Lisa memohon.
“Kalau memang kau ingin menemuinya, silahkan saja masuk. Pintunya juga tidak dikunci,” Ibu Riko mengizinkan.
“Terima kasih, Bu. Lisa masuk dulu ya,” ucap Lisa senang.
“Kalau begitu, ibu tinggal dulu.” sahut Ibu Riko.

Lisa masuk ke kamar Riko dengan hati-hati. Memang betul ternyata Riko masih tertidur pulas. Karena Riko kelihatan lelah, Lisa akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Dia tak tega membangunkannya. “Kenapa cepat sekali. Apa Riko mengusirmu?” tanya Ibu Riko ketika melihat Lisa yang tiba-tiba akan pulang.
“Riko bukan mengusirku. Hanya saja Lisa tidak tega membangunkannya. Dia terlihat lelah sekali. Mungkin lain kali saja Lisa menemuinya,” jawab Lisa jujur.
“Begitu ya..” ucap Ibu Riko.
“Baik, Bu. Lisa pamit dulu.” ucap Lisa yang kemudian pergi meninggalkan rumah Riko dengan menyetir mobilnya.

Sekitar pukul 9 pagi, Riko yang baru saja terbangun hendak ke luar menuju kamar mandi. Ibu Riko yang melihatnya langsung menanyakan sesuatu. “Riko, kenapa hari ini kamu tidak masuk kuliah?” tanyanya mengagetkan.
“Ibu lihat sendiri kan, aku baru saja bangun. Lagi pula aku masih merasa lelah,” jawab Riko seadanya.
“Ya sudah kalau memang seperti itu. Tadi ada Lisa datang pagi-pagi sekali,” ucap Ibu Riko.
“Lisa? Untuk apa dia datang ke mari?’ tanya Riko heran.

“Sebelum dia masuk ke kamarmu, dia sempat cerita tentang perhatianmu yang mulai berubah terhadapnya akhir-akhir ini. Dia juga bilang, semalam kamu bersama teman-temanmu pergi ke Night Club untuk bersenang-senang. Ada apa dengan hubungan kalian? Apa ada masalah?” jelasnya.
“Ini bukan urusan Ibu. Biar aku sendiri saja yang menyelesaikannya, Bu,” kata Riko.
“Terserah kau saja, Riko. Yang jelas Lisa itu wanita yang sangat sempurna untukmu. Dia cantik, baik, sopan, cerdas pula. Orangtuanya juga sangat terpandang. Jangan kamu sia-siakan dia, Riko!” lanjut Ibu Riko yang hanya dibalas anggukan Riko yang kemudian bergegas mandi.

Sesaat setelah mandi dan menuju kamar, Riko melihat ada pesan di ponselnya. Tertera nama Lisa sebagai pengirimnya. Dalam pesan itu tertulis bahwa Lisa ingin bertemu dengannya di pinggir pantai sore ini. Riko hanya membalas kata “YA” pada balasan pesan tersebut. Hari ini Riko menghabiskan waktunya untuk beristirahat karena lelah sebelum menemui Lisa. Sore hati tiba, Riko bergegas mandi untuk bersiap-siap menemui Lisa. Setelah semua selesai, Riko langsung mengendarai mobilnya dengan tenang. Setelah beberapa menit, tibalah ia di sebuah pantai, terlihat mobil Lisa yang sudah terparkir tak jauh dari pantai. Riko pun langsung memarkirkan mobilnya dan menuju pantai untuk mencari Lisa yang sedang menunggunya. Tak butuh waktu lama, Riko berhasil menemui Lisa yang sedang asyik duduk sendirian di pinggir pantai.

“Apa aku membuatmu menunggu lama?” tanya Riko tiba-tiba.
“Tidak juga,” jawab Lisa.
“Kalau begitu ada perlu apa kau ingin menemuiku di tempat ini?” tanya Riko lagi.
“Aku hanya ingin membahas tentang hubungan kita!” sahut Lisa.
“Hubungan kita? Bukanya kita masih baik-baik saja?” jawab Riko santai.
“Akhir-akhir ini perhatianmu berubah hanya untuk teman-temanmu dan tak mempedulikanku. Apa itu yang disebut baik-baik saja? Aku merasa tidak penting….”
“Cukup, Lisa!” potong Riko.

Mendengar ucapan Riko, Lisa tak kuasa menahan air mata dan terus memaki-maki Riko yang berusaha menenangkannya. Sesaat setelah selesai marah, kini Lisa hanya bisa menangis dalam pelukan Riko. “Maafkan aku, Lisa. Aku sudah mengecewakanmu.” ucap Riko.

Lisa mendadak melepaskan pelukan Riko dan lari menuju mobilnya meski masih menangis. Lisa langsung menyetir mobilnya dengan cepat. Namun Riko tak tinggal diam, dia juga menyetir mobilnya dengan cepat agar bisa mengejar Lisa. Lisa menyetir mobilnya dengan sangat cepat sehingga membuat Riko harus menambah kecepatan mobilnya. Riko melihat mobil yang dikendarai Lisa mencoba menyerobot lampu merah dan dalam sekejap dari arah barat, sebuah mobil melaju cepat yang akhirnya bertabrakan dengan mobil Lisa. Mobil yang dikendarai Lisa posisinya kini terbalik dan kondisinya rusak parah. Riko yang telah menghentikan laju mobilnya langsung berlari menyelamatkan Lisa. Semua orang yang melihat mencoba membantu Riko membawa tubuh Lisa ke dalam mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Tubuh Lisa terlihat dengan kondisi yang cukup parah.

“Maaf, Lisa. Aku tak bisa menjagamu dengan baik, ku harap kau akan baik-baik saja,” ucap Riko seraya menyetir mobilnya dengan cepat. Sampai di rumah sakit, ia membawa tubuh Lisa ke ruang UGD untuk diperiksa. Perasaan Riko begitu sedih sembari menunggu di ruang tunggu. “Aku menyesal bahwa sampai saat ini aku hanya menunjukkan bagian kecil dariku padamu. Tolong maafkan aku atas ketidakmampuanku menjagamu.” ucapnya dalam hati sambil meneteskan air mata..

Tak lama, ia langsung menghubungi orangtua Lisa dan memberitahu lokasi rumah sakitnya. Kemudian Riko pergi meninggalkan Rumah Sakit untuk menghilangkan perasaan sedihnya dengan berjalan kaki entah sampai kapan ia menyusuri setiap jalan raya. Ia pun teringat dengan jalanan yang kini ia injak. Dulu ia bersama Lisa pernah berjalan di tempat ini dan rasanya bagaikan surga. Tetapi kini ia hanya berjalan seorang diri tanpa keberadaan Lisa yang kini sedang terbaring lemah di rumah sakit, rasanya bagaikan neraka.

“Aku menyesal telah membuatmu seperti ini. Janji yang pernah kita buat bersama saat baru jadian sudah aku langgar begitu saja. Sekali lagi maaf aku tak bisa menjaga dan melindungimu. Sekarang yang bisa aku rasakan adalah kesedihan yang amat sakit..” ucap Riko dalam hati. Sekarang Riko hanya bisa berdoa agar Lisa bisa sembuh seperti dulu lagi dan Riko bisa memperbaiki hubungannya kembali.

TAMAT

Cerpen Karangan: Dandy Kisan
Blog: diamondandy13.blogspot.com
Facebook: Dandy Kisan

Cerpen Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tutup Mata Di Atas Tebing

Oleh:
Matahari telah kembali ke peraduannya. Bulan sudah mulai bersinar menggantikan posisi matahari. Namun aku masih melamun di sini. Di atas tebing menikmati pemandangan seluruh kota dari atas sini. Aku

Calon Gebetan Untuk Mantanku

Oleh:
Tak pernah terpikir sebelumnya, kalau aku harus kembali akur dengannya. Hal yang lebih gila adalah ketika sahabat lamaku Alya, sahabat lamaku semenjak SMP naksir dengannya lewat saranku sendri. “Bagaimana

Sebuah Penyesalan

Oleh:
Bogor, Rumah Sakit PMI, Selasa 18 September 2012, 03.25 WIB “Mah, bangun Mah…! Jangan tinggalkan Angga sendiri! Angga belum siap ditinggal Mamah! Angga janji kalau Mamah bangun, Angga akan

Kerudung Putih

Oleh:
Masa~masa sekolah memang sangat menyenangkan, banyak suka duka, yang pasti jadi banyak sahabat, siang itu aku duduk sendiri di bangku kesayangan, (gimana gak kesayangan orang setiap rahat, duduk di

Mawar Hitam Desember

Oleh:
Cewek itu berceloteh riang. Selalu! Ia tak pernah kehilangan kata-kata apalagi mengganti lengkungan senyumnya yang langka itu. Senyum ketulusan. Seolah hidupnya mulus-mulus saja tanpa beban. Setiap kali Ikal bersama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *