Penyesalan Di Akhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 April 2016

“Maafkan aku Nisa, aku tak ingin kita putus. Aku tak akan mengulanginya lagi,”

Itulah ucapan terakhir yang Dimas katakan padaku sebelum aku memutuskan untuk putus dengannya. Aku sangat terpukul karena Dimas menduakan aku dengan temanku sendiri, Franda. Aku bahkan tidak tahu kalau Dimas sering bertemu dengan Franda di belakangku. Karena aku tak mampu lagi menahan rasa sakitku, aku akan mundur dan berusaha untuk berhenti mencintainya.

Sudah genap satu bulan aku hidup tanpa Dimas, aku benar-benar ingin move on dari dia. Aku tak membalas pesannya dan tak menjawab panggilan darinya. Sayup-sayup ku dengar, Dimas dan Franda putus. Walau dalam hatiku aku ingin kembali bersama dia, tapi ego ku menahannya. Aku tak mau sakit lagi, pikirku. Aku akan terbiasa hidup tanpa Dimas, aku akan bisa hidup tanpa perhatiannya. Aku yakin aku pasti bisa. Minggu pagi ini ku putuskan untuk jogging di taman komplek. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang datang menghampiriku.

“Hai Nisa, apa kabar kamu? Lama kita tidak bertemu,” Ucapnya, aku menoleh.
“Baik,” jawabku ketus.
“Kamu masih dendam ya sama aku Nis? Maafkan aku Nisa, aku juga tak mau kita seperti ini,”
“Kau yang membuat kita seperti ini Dimas!” aku berbicara agak keras, mataku memanas, dadaku sakit, luka itu terbuka kembali. “Percayalah Nis, aku masih menyayangimu. Aku tidak mencintai Franda, aku mencintai kamu seutuhnya, Nis,” ucapnya meyakinkanku, air mataku mulai mengalir.
“Lalu kenapa kalau kau tidak mencintainya tapi kalian menjalin hubungan? Kau tidak memikirkan perasaanku,” Ucapku.
“Itu ada alasannya Nis, aku mohon dengarkanlah,”
“Aku tidak mau mendengar apa yang kau bicarakan. Aku sudah terlalu sakit karena kau,” aku meninggalkannya, ku langkahkan kaki secepat mungkin agar aku segera sampai di rumahku.

Sudah tiga bulan ini sejak kejadian di taman itu aku tidak bertemu dengan Dimas. Aku akui, aku merindukannya tapi aku tak bisa mengatakannya pada Dimas karena gengsi yang begitu besar dalam diriku. Hari ini, tanggal 15 maret, seharusnya hari ini hari anniversarry-ku yang kedua tahun bersama Dimas. Tapi semua itu hanya angan-angan belaka, mengingat apa yang telah ia lakukan padaku. Tiba-tiba ada panggilan masuk di ponselku, ‘Dimas’, aku ragu untuk mengangkatnya tapi ku putuskan untuk mengangkatnya saja.

‘Ada apa Dimas?’ tanyaku.
‘Nisa, aku merindukanmu. Apa kita bisa bertemu nanti sore?’ jawabnya di seberang sana, suara seperti orang sakit. Tidak biasanya Dimas berbicara selemah ini.
‘Baiklah, di mana kita akan bertemu?’
‘Di caffe tempat kita merayakan anniversarry satu tahun lalu, kau masih ingat?’ tanyanya.
‘Iya, aku masih ingat’
‘Aku tunggu pukul 7 malam nanti. Bye Nisa.’ ia mengakhiri pembicaraan kami.

Pukul 6 sore. Entah kenapa aku merasa canggung akan bertemu dengan Dimas. Aku deg-deg-an sekali, seperti baru pertama kali jalan dengannya. Aku pilih baju terbaik yang ada dalam lemariku, aku berdandan secantik mungkin. Perasaanku seakan berkata, ‘Aku harus tampil sempurna di depan Dimas.’ Pukul 6.45 aku berangkat, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Begitu sampai, ada seorang pelayan wanita menghampiriku.

“Permisi, Mbak yang bernama Nisa, kan?” tanyanya, aku mengangguk.
“Baiklah, Pak Dimas sudah menunggu di atas. Mari Mbak ikut dengan saya,” Aku mengikuti pelayan itu, lalu kami berhenti di lantai atas cafe tersebut. Suasana di sini sangat romantis, dengan 2 bangku manis di setiap mejanya yang dikhususkan untuk pasangan-pasangan yang datang berkunjung. Dan tempat ini tanpa atap, kami bebas memandang langit dan bintang-bintang yang berkelip.

“Ini nomor meja Mbak dengan pak Dimas, silahkan duduk,” aku hanya menurut, aku masih terhipnotis d tempat ini. Lalu pelayan itu meninggalkanku sendirian.
“Selamat malam tuan putri,” ucap seorang pria tampan yang membawa setangkai bunga mawar merah di tangannya lalu memberikan bunga itu padaku.
“Bagaimana tempat ini menurutmu?” tanyanya seraya duduk di depanku.
“Romantis,” ucapku, ia hanya tersenyum. Kami menikmati makan malam itu dengan sangat bahagia, sungguh makan malam yang paling menyenangkan dalam hidupku. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi kami masih asyik dengan cerita-cerita kami.

“Nisa, aku ingin berbicara serius padamu,” Dimas berkata sangat serius.
“Aku ingin kita melanjutkan kisah cinta kita, Nis,” lanjutnya, aku hanya menunduk tidak tahu harus mengatakan apa.
“Aku masih sangat-sangat mencintaimu Nisa, aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku tidak akan membuat setetes air mata pun ke luar dari kelopak matamu,” lanjutnya lagi.
“Aku .. aku tidak bisa,” Aku menjawab lirih.
“Kenapa Nis?! Aku akan berubah menjadi seperti yang kau mau. Aku akan membahagiakanmu selamanya. Aku akan,”
“Pokoknya aku tidak bisa! Maafkan aku,” ucapku memotong ucapannya. Aku segera pergi dari caffe itu dengan air mata yang terus membanjiri pipiku. Malam ini turun hujan, aku tak peduli kalau aku harus sakit karena hujan. Aku tak peduli jika bajuku basah, aku tak peduli.

Sudah satu minggu setelah kejadian itu aku terus dihantui rasa bersalah. Jujur, aku merasa bersalah telah meninggalkan Dimas begitu saja. Aku telah putuskan hari ini aku harus meminta maaf padanya. Setelah sampai di depan rumah Dimas, aku langsung mengetuk pintu rumahnya. Dan tante Rina, ibunya membukakan pintu lalu ia langsung memelukku dengan erat.

“Tante kenapa?” tanyaku, tante Rina mengajakku untuk duduk di kursi.
“Tante, aku ke sini ingin bertemu dengan Dimas. Apa dia tidak sibuk sekarang?” tanyaku, tante Rini malah menangis tersedu-sedu.
“Ini titipan dari Dimas untukmu, Nisa. Bacalah baik-baik,” ucapnya sambil memberiku amplop yang berisikan sebuah surat dari Dimas. Aku membukanya dengan sejuta perasaan di dalam dadaku, aku menghela napas panjang sebelum membacanya. Semoga isi surat ini baik.

“Untu Nisa, Maafkan aku jika selama kau mengenalku aku pernah membuatmu sakit dan tenggelam dalam kekecewaan. Aku ingin bilang sekali lagi padamu Nis, aku tidak berniat untuk menduakanmu. Aku mempunyai hubungan dengan Franda bukan karena aku mencintainya. Tapi dia mengancamku, jika aku tidak mau menerimanya dia akan berhenti kuliah. Aku tidak ingin menjadi perusak masa depan orang lain, akhirnya aku putuskan untuk berhubungan dengannya di belakangmu. Awalnya aku ingin menceritakan ini padamu, tapi semuanya terlambat. Kau malah lebih dulu mengetahuinya. Sekali lagi maafkan aku Nisa.”

“Surat ini mungkin kata-kata terakhir yang aku ucapkan padamu sebelum aku pergi. Aku sangat mencintaimu Nisa, aku mohon jangan lupakan aku dan kenangan kita. Aku mohon jangan buang semua barang pemberian dariku. Karena aku masih ingin menemanimu walau tidak secara langsung. Aku harap kau mengerti semua perasaanku setelah membaca surat ini. Aku hanya ingin bilang sekali lagi, aku sangat sangat mencintaimu Nisa. Dari Dimas. Aku menangis membaca isi surat itu, aku tak mampu lagi menahan diriku sendiri. Aku bodoh telah menyia-nyiakan Dimas orang yang selama ini menyayangiku dengan tulus.”

“Dimas di mana Tante? Aku ingin bertemu dengannya. Dimas pergi ke mana Tante?!” tanyaku, tante Rina hanya diam.
“Jawab aku Tante, aku ingin bertemu dengan Dimas,”
“Kamu tidak bisa bertemu dengan Dimas, Nisa,” jawabnya.
“Maksud Tante apa?”
“Dimas sudah meninggalkan kita semua Nis, dia sudah di surga sekarang,” Mendengar ucapan tante Rina tubuhku menjadi lemas seketika. Tangisku semakin pecah. Lalu tante Rina menjelaskan tentang meninggalnya Dimas.

“Dimas adalah anak kesayangan Tante, dia anak yang sangat baik Nis. Tapi sayang, dia punya kelainan pada ginjalnya dan semakin hari semakin parah. Tante terus berusaha untuk mencari donor ginjal untuk Dimas, tapi hasilnya selalu jauh dari harapan. Dimas tidak ingin memberitahumu karena tak ingin membuatmu sedih. Dia ingin selalu melihatmu dengan wajah yang bahagia. Lalu dokter di rumah sakit berhasil menemukan donor ginjal yang tepat untuk Dimas. Tante segera mengajukan operasinya secepat mungkin. Tapi Dimas menolak, ia bilang, ia akan melakukan operasi itu jika ia bersamamu kembali. Tapi malam itu saat Dimas menemuimu dia pulang dengan wajah yang sangat kecewa. Alhasil, operasi pun digagalkan. Dan esok harinya, Dimas tak mampu lagi menahan sakitnya, ia pun menghembuskan napas terakhirnya,”

Tante Rina menceritakannya sambil menangis, tangisku kembali pecah mendengar ini semua. Aku bodoh! Hanya itu yang ada dalam pikiranku. Kenapa aku terlalu mementingkan egoku? Kenapa aku tak jujur saja kalau aku juga masih menyayangi Dimas? Kenapa aku.. ah! Aku bodoh! Aku bodoh! Sudah 2 bulan ini aku ditinggalkan oleh Dimas selama-lamanya. Berat memang tapi aku mencoba untuk mengikhlaskannya agar ia tenang di sana. Aku mencoba untuk selalu bahagia dan tidak tenggelam dalam kesedihan. Aku akan menjaga perasaanku kepadanya walau nanti akan ada seorang pria yang akan mendampingiku. Tapi Dimas akan tetap ada dalam jiwaku, selamanya. Semoga kau di sana bisa melihatku bahagia di sini, Dimas.

THE END

Cerpen Karangan: Yeni Fithratul Aini
Blog: yenifithratul12.mywapblog.com
Aku gadis berusia 15 tahun yang duduk di bangku kelas 1 SMA. Semoga cerpenku bisa secepatnya dimuat di Cerpenmu.com

Cerpen Penyesalan Di Akhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setetes Cinta Buat Anty

Oleh:
Terlahir seorang gadis cantik dia sangat bersyukur karena dia telah terlahir dengan penuh kasih sayang dari kedua orangtua, saudara, maupun teman-temanya yang selalu memberi warna di kehidupan gadis kecil

Cinta Masa Lalu

Oleh:
Sekitar satu tahun yang lalu, aku pernah menjalin hubungan lebih dari seorang teman dengan Febyan yang satu sekolah denganku. Menurutku dia tampan, matanya bersinar seperti bintang yang menghiasi langit

Penyesalan Yang Terlambat

Oleh:
“Pergi!!! dasar orang tua tidak berguna! aku capek mengurus bapak yang bisanya Cuma tidur dan makan!”. Terngiang kata-kata itu setiap kali aku mengingat bapak. Membuat aku tak pernah berhenti

Hujan Terakhir

Oleh:
Oktober 2012, 00:25, hujan rintik. Sorotan lampu belajar masih memenuhi meja belajar nya, dia tidak peduli seberapa besar rasa kantuk yang menggelayuti kelopak matanya untuk segera turun mengantongi kedua

Neera Adikku

Oleh:
“Kakak, Neera haus. Neera pengin susu kak..” pinta Neera adikku. “Aduh, Neera kan tau kakak lagi sibuk nih. Beli aja sana di warung.. Nih uangnya.” jawabku kesal sambil memberikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *