Pria Di Alun Alun Kota

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penantian, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 22 December 2017

Pria itu masih mematung di dipan berwarna coklat berkarat, di alun-alun kota, senja sudah meranum, pria itu masih tak bergeming, dia telah duduk sejak siang tadi, kira-kira bakda luhur dia telah membatu di sana, entah menunggu siapa, yang jelas wanita, ya, wanita, pasti pria itu menunggu wanita, dengan setelan necis dan rambut tersisir rapat itu, dan kemungkinan wangi, tidak salah lagi.

sesekali dia amati jam tangannya, memastikan waktu masih hidup, mungkin juga orang yang ditunggu. dia raih pager di sakunya, siapa tahu ada pesan, mungkin dari yang ditunggu, ah, sungguh wanita itu sungguh tega membuat pria bersetelas necis itu menunggu sekian lama, memang wanita, dibutuhkan kesabaran dan keuletan untuk bisa memahami mereka, tapi ini sudah terlalu lama, pria itu sesekali masih mengintip jam di tangannya, dia tak peduli kalau angkasa sudah mulai menggulita, dia hanya mementingkan jam di tangannya, jika jarum jam itu belum menghujamnya, dia tak kan pergi, dan jarum itu adalah wanita yang ditunggunya. Maghrib pun menyeruak. Ah, akhirnya pria itu begerak, aku kira dia sudah wafat di penantiannya, akhirnya dia menyerah, mungkin yang ditunggu tak bisa hadir karena beribu alasan, atau memang tak pernah berniat datang.

Esoknya. Tak bisa dipercaya. Waktu yang sama, bakda luhur. Tempat yang sama. Dipan coklat. Pria itu sudah menepi di sana dengan pakaian yang sama. Sisiran yang sama. Duh, apakah dia belum menyerah, atau jangan-jangan itu pekerjaannya. Mungkin dia Bandar. Bertransaksi barang terlarang dan menunggu kliennya dalam diam. Mungkin juga, alun-alun kota adalah tempat yang aman dan jauh dari kesan mencurigakan jika melakukan pertemuan. Walaupun itu salah. Namun dia bersetelan necis, dan oh, hujan…

Awan pekat tiba-tiba mengepung seisi alun-alun kota dan hujan pun menderu tanpa ampun, pria itu segera beranjak mencari tempat teduh terbaik sambil tetap bisa mengawasi dipan coklat itu, siapa tahu yang ditunggu datang. Dia mengahampiriku. Berteduh di sisiku, yang memang berjualan ala kadarnya di bawah rimbun jati tua alun-alun kota.

“pak, nunut (numpang, red), ya?”
“oh, monggo den, hujannya deras, mungkin kopi.”
“eh, iya, boleh.”

Aku buatkan yang paling pekat. Siapa tahu dia bisa lupakan sekejap penantiannya. Asap mengepul. Dan pandangan pria itu masih terpukul, tampaknya.

“kayanya saya perhatikan, aden dari kemarin duduk di sana. Nunggu. Yang ditunggu kok gak datang?”
Dia menghela, seperti berat, “embt, gimana ngomongnya ya, dia gak pernah datang, dan gak bakal datang, mas.”
“wanita.”
Dia mengangguk halus, sungguh halus. rambut basahnya mengusut.
“istri? pacar?.” dia hanya tersenyum, dengan halus tentunya.
“loh, lha tau gitu, kenapa masih nunggu.”
“aku hanya ingin merasakan apa yang dia rasakan kala itu, di sini. Alun-alun kota. Dipan berkarat itu. aku menyesal tak datang dan memeluknya. Sungguh menyesal.”

Hujan reda. Tapi, tidak di sukmanya. Dia keluarkan secarik kertas. Dia sodorkan bersamaan lembaran ribuan untuk kopi. Dia beranjak sambil berterima kasih. Aku buka kertas itu. Sebuah undangan.

“mohon kehadiran, memperingati tujuh hari kepergian…”

Cerpen Karangan: Muhammad Nur Wachid
Nur Ibn Munjin nama penaku, asli blitar, masih sekolah di STAIN Kediri, jurusan bahasa inggris

Cerpen Pria Di Alun Alun Kota merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengharapan Yang Tabu

Oleh:
“james aku ingin aku dan kamu menjadi seorang sahabat, aku gak bisa hidup tanpa penjelasan, dan dengan berat hati aku ingin aku dan kamu menjadi seorang sahabat tidak lebih

Terakhir

Oleh:
Gadis berwajah oriental itu tersenyum padaku. Diangkatnya gelas yang ada di tangannya, seolah mengatakan ‘mari minum’ yang kubalas juga dengan mengangkat gelasku. Plak! Sebuah tamparan mendarat di kepalaku. “Kenapa

Buih Sesalan Al

Oleh:
Al menatap gamang jauh menembus jendela kaca yang membentang luas di hadapannya, ke arah deburan ombak yang meninggalkan buih di sepanjang garis pantai. Buih kecil dan berwarna kelabu, nampak

Anakku Bukan Anakku (Part 1)

Oleh:
Taburan bunga yang penuh warna di atas karpet merah, mengisi setiap lorong dan jalan menuju altar. Tempat duduk dan meja yang cantik dengan hiasan sepasang burung merpati bercat emas

Senyum Dari Tuhan

Oleh:
Bukan seorang siswa yang patut dibanggakan. Aku hanya siswa biasa yang cukup menjadi pelengkap di cerita SMA mereka. Terkadang hanya membawa tawa untuk mereka atau hanya ikut tertawa bersama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *