Rindu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 10 April 2018

Bintang berkilau manis menghiasi langit malam, di bawah redup cahaya lampu jalanan, Sukma berdiri mematung dengan mengenakan blus merah dan rok yang senada, jemarinya tak henti menari di atas layar phonselnya. Sejenak pandanganya tertuju pada gedung putih di seberang jalan, lalu dia langkahkan kakinya menyeberangi jalanan yang mulai lengang. Seorang petugas keamanan bertubuh kekar tersenyum menyambut saat langkah Sukma telah sampai di pintu masuk gedung putih itu.

“Selamat malam mbak Sukma…”
“Malam juga pak. Pak Yudanya ada?”
“Iya mbak, pak Yuda masih di dalam, sepertinya sedang lebur”
“O…, ya udah, terimakasih pak..”,
Senyum Sukma mengembang, lalu langkahnya kembali memasuki gedung.

Jam kantor yang telah usai sedari tadi membuat suasana kantor ini sangat sepi, tidak tampak satupun aktivitas karyawan di sepanjang langkah Sukma. Sesampainya di depan ruang Yuda, terdengar sura Yuda sedang berbincang dengan seorang wanita. Dari kaca kecil yang terpasang pada pintu ruang kerja itu, Sukma mencoba melihat aktivitas di dalamnya. Tampaklah Yuda sedang duduk santai pada kursi kerjanya sembari memangku gadis cantik.

Gadis itu terlihat sangat seksi dengan make up tipis serta wajah yang mengkilat akibat keringat, lalu dengan tetap dalam pangkuan Yuda dia mengambil botol minuman berkadar alkohol tinggi, dan menuangnya pada dua gelas cantik di hadapan mereka. Setelah bersulang mereka pun langsung meneguk minuman itu sembari saling membelai mesra, tak tahan melihat pertunjukan itu, Sukma mendobrak pintu di hadapanya hingga terbuka lebar,
“Sukmaaa…”,
Yuda melolong kaget saat melihat kekasihnya berdiri tepat di depan pintu. Sukma yang telah dikuasai amarah menghampiri Yuda dan langsung menamparnya dengan disertai sumpah sarampah, seluruh penghuni kebun binatang pun tak luput disebutkanya.

Terjadilah pertengkaran hebat di antara mereka, Yuda yang tak lagi bisa menguasai keadaan, langsung menyeret tangan Sukma keluar dari ruangan, meski Sukma terus memberontak tetap saja dia kalah tenaga. Yuda terus menyeret Sukma dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sukma yang tak terima dengan perlakuan Yuda, membuat amarahnya semakin menjadi-jadi, hingga pertengkaran mereka semakin membara. Yuda yang masih dikuasai oleh pengaruh alkohol, tak mampu berpikir jernih dan menyuruh Suka keluar dari mobilnya.

“AKU AKAN TURUN TAPI HENTIKAN DULU MOBILNYA!!!”, teriak Sukma.
Namun Yuda sama sekali tidak mempedulikanya, dia terus mendorong Sukma keluar dari mobil, hingga pintu mobil itu terbuka dan Sukma terjatuh dari mobil yang berkecapatan tinggi.
Tubuh Sukma tergulung-gulung di atas aspal, darah segar mengalir di sekujur tubuhnya. Yuda yang melihat jelas kejadian itu dari spion mobilnya langsung menginjak rem hingga mobil itu terhenti. Sejenak dia termenung dan menitihkan air mata melihat Sukma tak berdaya tergeletak di bahu jalan, lalu dia lempar ponselnya tepat pada spion hingga pecah, dan kembali dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Saat tersadar, Sukma berada di suatu padang tandus yang sangat luas, di sekelilingnya tidak ada satupun tumbuhan ataupun bangunan, yang terlihat hanyalah hamparan tandus tanpa ujung. Sukma terus berjalan menyusuti hamparan tandus itu, dia benar-benar bingung dimana dia berada, hamparan tandus ini serasa sangat mengerikan. Terik matahari seolah tepat di atas kepalanya, membuat tenggorokan Sukma kering, namun entah di mana dia harus mencari minum, yang bisa Sukma lahkukan hanyalah terus berjalan tanpa arah.

Di tengah perjalanan panjang Sukma, dia mendengar suara tangis ibunya. Tapi entah di mana sura itu berasal, sepanjang pandangan Sukma yang terlihat hanyalah hamparan padang tandus, saat sukma ingin menjerit menjawab panggilan ibunya, bibir Sukma seolah terkunci, meski dia telah berusaha sekuat tenaga untuk berteriak tetap tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Ada kalanya Sukma telah lelah dengan keadanya, dia sangat haus dan kepanasan. Namun suara panggilan ibunya yang selalu terdengar, membuat Sukma bangkit dan terus berjalan.

Entah berapa jauh Sukma telah berjalan, langkahnya semakin melemah. Rasa haus yang semakin menyiksa membuat tubuhnya merapuh hingga tersungkur. Nafasnya mulai terasa berat, saat Sukma ingin menyerah dan mulai memejamkan matanyaa, terdengarlah alunan surat Yasin yang dibacakan ayahnya. Alunan surat Yasin itu kembali memberi semangat Sukma, dengan bersusah payah dia berusaha bangkit dan kembali berjalan, langkah demi langkahnya membuat alunan surat Yasin itu terdengar semakin dekat. Sesaat kemudian Sukma merasakan sakit di kepalanya, setelah itu semua berubah menjadi gelap.
Saat kedua mata Sukma kembali terbuka, terlihat di samping tiang penyangga botol infus ayahnya sedang membaca surat Yasin. Sukma tersenyum lega bisa kembali menatap wajah ayah dan ibunya. Ingin Sukma langsung memeluk mereka, namun tubuhnya masih terlalu lemah, bahkan hanya sekedar berkata saja dia masih kesulitan. Tak berselang lama, tim dokter beserta suster datang untuk memeriksa keadaan Sukma. Dengan cemas kedua orangtua Sukma menunggu hasil pemeriksaan di depan pintu ruang inap.

15 Menit kemudian, salah satu dokter yang memeriksa Sukma telah keluar dari ruangan,
“Bagai mana dok keadaan putri kami?”
“Keadaan putri ibu dan bapak sudah stabil dan telah melewati masa keritisnya. Tapi dokter syaraf masih memeriksa keadaannya, semoga hasilnya juga bagus semu. Ya sudah saya permisi dulu..”,
Dokter berparas cantik itu pun berlalu meninggalkan kedua orangtua Sukma yang masih harap-harap cemas oleh hasil pemeriksaan syaraf putri mereka.

Hampir satu bulan lebih Sukma menjalani perawatan intensif. Saat dia telah kembali ke rumahnya, Sukma merasa asing, mungkin dia telah terbiasa dengan hari-harinya di rumah sakit. Saat memandang wajahnya pada kaca rias, seakan Sukma tak lagi mengenali wajahnya, tubuh indahnya kini berubah menjadi sangat kurus. Sekilas terbayang dalam benaknya, lembaran-lembaaran hitam dalam hidupnya.

Di dalam ruang keluarga berukuran 12 x 7, Sukma duduk tertunduk pada kursi kayu ukir di samping aquarium ikan hias kesayanganya. Tepat di hadapan Sukma, kedua orangtuanya duduk pada sofa panjang,
“Apa kamu yakin dengan keputusanmu?”, pertanyaan yang terlontar dari ayah Sukma memecah keheningan di antara mereka,
“Tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan yah, bahkan tamparan paling menyakitkan adalah saat kejahatan dibalas dengan kebaikan. Lagipula, bagaimanapun juga aku masih mencintai mas Yuda”,
Dengan raut kecewa ayahnya berjalan meninggalkan ruang keluarga. Sukma yang masih kekeuh dengan keinginanya, langsung bersimpuh di pangkuan ibunya untuk mendapatkan dukungan.

Sukma melangkah keluar dari ruang kerja atasanya. Setelah menutup pintu, sejenak dia membenahi tatanan hijab putih yang membalut geraian rambut indahnya,
“Sukmaa…!!”, dari dalam ruang kerjanya, Anet memanggil Sukma dengan nada tinggi,
“Jadi kamu beneran mau resign ya?”
“Ini adalah kehidupan ke dua yang Tuhan berikan padaku Net. Aku ingin hidup ke jalan yang lebih baik, jika aku tetap bekerja di sini, aku harus kembali melepas hijab ini. Meskipun aku juga tau, tidak selalu wanita berhijab itu lebih baik dari pada wanita yang tidak berhijab, tapi setidaknya hijab ini bisa jadi rem saat aku ingin kembali ke jalan yang gak bener hehe..”
“Hehe.., iya Sukma aku ngerti. Semoga satu hari nanti aku bisa sepertimu ya…”,
Kedua wanita itu pun saling berpelukan. Setelh itu, Sukma kembali berjalan meninggalkan gedung kantor perbankan tersebut.

Bersama tujuh orang napi dari berbagai jenis kasus, Yuda mendekam di dalam jeruji besi berukuran sangat sempit, bahkan lebih sempit dari pada kamar mandi rumahnya. Dengan penerangan seadanya, serta kebersihan yang tak terlalu terjaga, Yuda berbaring di atas dinginya lantai sel tanpa sehelaipun alas, tak pernah terbayangkan oleh Yuda jika hidupnya harus berakhir di dalam dinginnya bui.

Terdengar suara gembok pintu masuk bui terbuka, dari ujung deretan sel terlihat dua petugas lapas berjalan terus ke arah sel yang ditempati Yuda, salah satu petugas membuka gembok yang merantai pintu tersebut,
“Saudara Yuda Bagus Satrio anda bebas”,
Yuda tersentak kaget, seketika dia bangkit dari tidurnya dan menghampiri kedua petugas tersebut,

“Kok bisa pak?”
“Yo bisa, wong laporan kejahatanmu udah dicabut”,
Yuda yang masih kebingungan tetap berdiri mematung di depan pintu sel, kemudian salah satu petugas lapas menepuk bahunya, dan mengajaknya berlalu meninggalkan kamar hotel terkutuk itu.

Setelah melepas seragam tahanan dan berganti pakaianya sendiri, Yuda beranjak menghampiri petugas kepolisian yang sedang berjaga,
“Maaf pak, bisa saya bertemu dengan orang yang sudah membebaskan saya?”
“Orangnya baru saja pergi, kelihatanya dia buru-buru”,
Lalu Yuda mengambil handphone pada sakunya, dan menunjukkan salah satu foto yang tersimpan pada handphonenya,
“Apa ini pak orangnya?”
“Emm iya itu orangnya”.

Tepat di depan pintu kayu kokoh bercat putih, Yuda berdiri termenung, kedua matanya terus tertuju pada pintu tersebut, dengan sedikit ragu, jemari tanganya mengepal rapat dan mulai mengetuk pintu. Entah telah berapa kali diketunya pintu itu, namun pintu kokoh itu tetap tertutup rapat tanpa satupun tanda akan terbuka.

Tak berselang lama dari belakang, tiba-tiba seorang ibu-ibu gendut berambut pendek menyapa Yuda,
“Cari siapa mas? Rumah ini kan sudah kosong”
“Memangnya penghuninya pindah ke mana bu?”
“Wahh saya kurang tau tu mas”,
Dengan segenap kekecewaan, Yuda tertunduk lesu. Sesekali pandanganya masih terarah pada pintu di haadapanya, berharap jika pintu itu akan terbuka untuknya.

Ditemani segelas jus jambu merah, Anet menggigit ujung selang putih yang menjulang ke dalam gelas minumannya. Sesekali dia melirik jam pada tanganya,
“Sorry Net aku telat”
“Bukan telat lagi, tapi telat buanget”, jawab Anet dengan ketus,
Yuda tersenyum dan langsung duduk pada kursi tepat di hadapan Anet,

“Kalau kamu ngajak ketemu aku cuma pengen tau tentang Sukma. Percuma, karena aku gak tau apa-apa”
“Semua akses yang biasa aku pake buat ngehubungin dia telah diblokir dan aku gak tau alamat dia sekarang. So please jangan bohong Net! Aku hanya ingin ketemu dia untuk minta maaf”
“Tapi aku beneran gak tau Yud…”
“Kamu tu gak tau Net gimana gak enaknya dikejar-kejar rasa bersalah SETIAP HARI. Setelah apa yang aku lakukan pada dia selama ini, aku tu maunya dia balas itu semua, bukanya malah bebasin aku gini. Kebaikan dia itu malah bikin aku semakin dihantui rasa bersalah Net…”,

Dari raut wajahnya, tampak Yuda sangat terbebani oleh dosa-dosanya. Wajahnya yang terlihat lesu dan kusut tersungkur di atas meja, sebenarnya Anet merasa tidak tega dengan keadaan Yuda saat ini. Namun, rasa iba itu seketika buyar saat Anet mengingat kelakuan Yuda yang hobi main perempuan dan sering kali kasar terhadap Sukma.

Dari luar rumah terdengar ketukan pintu beberapa kali, Sukma yang baru selesai beribadah Dzuhur langsung melepas mukena dan menggantinya dengan hijab biru panjang, sejenak dia berfikir siapa tamu yang datang siang-siang begini apalagi cuaca di luar sangat panas. Setelah membuka pintu rumahnya, tampak Anet dengan mengenakan hem maroon serta bawahan jins biru berdiri di balik pintu.

Sukma meletakkan nampan yang berisi dua gelas jus di atas meja. Anet yang duduk di ujung sofa panjang, terlihat beberapa kali mengubah gaya duduknya seolah gelisah,
“Net, ada apa? Rasanya tidak mungkin kalau kamu jauh-jauh dari Semarang ke Madiun cuma gara-gara kangen aku”,
Anet tersenyum, lalu dia meneguk minuman yang disuguhkan untuknya. Setelah kembali meletakkan gelas di atas neja, Anet menghela nafas panjang,
“Kemaren aku ketemu Yuda”
“Terus?”
“Dia terlihat hancur dan benar-benar merasa bersalah”
“Bilang saja ke dia, sepenuhnya aku sudah memaafkannya”
“Dia hanya ingin bertemu satu kali saja untuk minta maaf langsung”
“Net, aku sudah memilih untuk memulai kehidupan baru dan itu tanpa Yuda. Intinya kan aku sudah memaafkan dia, kalau dia memang masih merasa bersalah, ya itu diluar kuasaku Net”.

Anet kembali terdiam, tak tau lagi apa yang hendak dikatakan. Rasanya tak mungkin jika dia tetap memaksa Sukma bertemu dengan Yuda, lagipula menurutnya ini merupakan keputusan terbaik Sukma. Sebagai pihak penengah dalam permasalahan ini, satu hal yang Anet petik dari kisah Sukma Dan Yuda,

“Terkadang seseorang harus membayar kesalahanya dengan dihantui rasa bersalah sepanjang hidupnya”

Cerpen Karangan: Kamaliya
Facebook: Kamal Liya
Instagram @liakamal890

Cerpen Rindu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ramalan Shio

Oleh:
Shio babi Merupakan sosok yang murah hati, ramah, bertoleransi, jujur, naif, cinta perdamaian dan sangat sosial. Dia tidak menyukai suasana ketidakharmonisan, persaingan, pertengkaran, kritikan, adu argumentasi, apalagi perang. Kemudian

Maafkan Aku Vino

Oleh:
“Kenapa sih lo itu gak pernah bisa jauhin gue? Sehari aja, lo gak deketin gue!”, teriak Alya “Gimana gue bisa jauhin lo Al, dari kecil kita emang dijodohin. Jadi

Penyesalan Cintaku

Oleh:
Fahrezi Paramitha dan Zee, nama akrabku. Seorang yang egois, menikmati hidup semaunya sendiri, mempermainkan cinta hanya demi kepuasan. Hidupku milikku, kata-kata itulah yang membimbing di setiap hari yang ku

Sadar

Oleh:
Minggu sore yang cerah, waktu yang pas bagi Rika untuk membaca setiap koleksi buku yang ia miliki. Sore ini alam sangat bersahabat, angin yang sepoi-sepoi, simponi alam yang menenangkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rindu”

  1. Butara says:

    ngeri kali quotes terakhirnya…
    mantap diksi2nya (y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *