Saat Kau Pergi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 17 May 2017

Aku hanya bisa menatap langit. Duduk di sebuah bangku taman. Melihat dunia ini yang begitu kejam. Kenapa? Kenapa aku tidak bisa bahagia. Kenapa semua orang menyia-nyiakanku. Apa salahku pada mereka. Aku tidak jahat. Tapi kenapa dia meninggalkanku demi orang lain. Kenapa dia mengkhianatiku demi pria lain. Sangat sakit memang ditinggal oleh wanita yang kita cinta.
Tak sadar air mataku keluar. Sesak di dada selalu saja tak henti menimpaku. Aku benci semua orang. Aku cuman minta satu yaitu ketulusan. Cukup. Tapi tidak ada yang tulus denganku.

“Desta kita pulang yuk! Hari sudah mulai gelap.” Aku hanya diam di tempat saat mendengar suara Icha. Aku pun menatapnya penuh benci. Apakah dia tidak tau aku sedang patah hati. Kenapa dia selalu saja menggangguku.
Aku pun berdiri dan menatapnya intens. “Kamu tidak tau apa aku ini sedang sedih. Mending kamu pulang duluan aja deh. Ngapain sih ngikutin aku sampai sini.” Bentakku terhadapnya.
Aku melihat dia sangat sabar melihatku. Aku benci tatapan itu. Seakan dia orang yang sangat peduli denganku. “Tapi ini sudah sore Des. Aku gak mau kamu sakit.” Ucapnya.
“Apa peduli kamu sama aku?”
“Aku peduli sama kamu. Aku sahabat kamu.”
“Cih… bullsh*t. Semua wanita itu hanya omong kosong. Aku benci pembual.” Aku menghela nafas panjang. “Mending kamu pulang! Gak perlu nyari aku lagi.” Entah sekarang matanya berkaca-kaca. Yah Icha ingin menangis. Sungguh sejujurnya aku belum pernah membentak Icha. Tapi aku sedang sakit hati. Emosiku sulit dikendalikan.
“Ya udah aku pulang dulu Des. Aku mohon jaga diri kamu ya.” Icha pun langsung pergi meninggalkanku. Aku pun langsung duduk kembali. Sekarang pikiranku cuman satu. Indah wanita yang aku cinta kini sudah bersama pria lain.

Semakin hari hariku semakin suntuk. Setiap hari pula aku melihat kemesraan Indah dengan Dimas. Sakit sangat sakit memang hatiku. Rasanya ada puluhan bahkan ribuan panah yang menusuk hatiku. Ditambah lagi Icha selalu saja mengikutiku. Dia selalu saja memasakan makanan untukku. Mengingatkanku untuk makan. Seperti baby sister saja Icha. Aku benci hal yang dilakukan Icha terhadapku.

Besok adalah hari ulang tahunku. Dan sekarang adalah tanggal 15 januari 2016. Berarti besok tanggal 16 adalah hari ulang tahunku. Tapi aku tidak bangga dengan ini. Melainkan aku benci. Karena aku memang benci hari esok. Sekarang aku sedang berada di kamarku. Aku sedang memainkan salah satu game yang ada di hpku. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Tapi aku masih saja bermain hp. Yah mungkin aku sekarang terkena insomnia.

Tok, tok, tok…
Aku mengerutkan alis. Kenapa jam segini masih saja ada yang bertamu ke rumahku. Padahal itu sudah sangat malam. Apa orang ini tidak punya etika apa. Terlebih lagi di luar hujan deras. Aku berjalan menuju pintu. Saat aku buka aku dikejutkan dengan Icha yang datang membawa kue ulang tahun. Dia datang dengan memakai jas hujan. Tampak di wajahnya sangat bahagia.

“Happy birthday Des yang ke 20. Semoga apa yang kamu inginkan di ulang tahunmu ini akan tercapai.” Ucapnya bahagia.
“Ngapain kamu ke sini?” Tanyaku angkuh.
“Aku mau nyapu di rumah kamu.” Jawabnya. Aku pun hanya mengerutkan alis. “Ya gak lah. Aku ke sini buat ngerayain ulang tahun kamu. Kamu gimana sih.” Cihh garing banget. Jadi dia niatnya mau ngelawak. Ha, lucu banget.
“Aku gak butuh kue dari kamu. Aku bisa sendiri kok beli. Palingan itu kue harganya yang murah. Kan kamu ini miskin.” Sindirku.
Aku melihat wajahnya sedih. Tapi seketika wajahnya tersenyum kembali. “Kok tau sih ini kuenya murah. Wah jangan-jangan kamu pencinta kue tart ya.” Senyumnya mengembang lagi. Entah aku benci senyum itu.
“Gak usah bercanda dah. Gak lucu tau gak sih. Mending kamu pulang sana. Bawa juga kue dan kado yang kamu pegang. Aku gak butuh itu. Dan ingat jangan pernah temuin aku lagi.” Aku pun langsung menutup pintu. Sedangkan suara ketukan terdengar di pintu yang aku tutup.
“Desta buku dong pintunya! Biarin aku masuk. Aku takut di luar.” Suara ketukan semakin kencang. “Sekarang juga hujan deras. Badan aku juga kedinganan. Desta tolong dong.” Icha terus saja mengetuk-ngetuk pintu dan aku hanya menghiraukannya. Aku pun langsung masuk ke kamar dan tidur.

Sudah seminggu ini Icha tak muncul di hadapanku. Hmmm… baguslah kalau begitu. Tidak ada penggangguku lagi. Tapi entah mengapa perasaan ini sangat tidak enak. Ada yang hilang dari diriku. Tapi apa? Bahkan perasaan ini lebih sakit daripada aku ditinggal Indah. Perasaan gelisah ini muncul saat aku terbangun dari tidurku sesaat Icha datang ke rumahku.
Ah mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku yakin tidak terjadi apa-apa. Yah aku harus yakin. Tapi berbicara tentang Icha kemarin kok rasanya hampa ya. Tidak ada yang mengingatkanku makan, tidak ada yang perhatian dan lain-lain. Apa aku kangen ya sama Icha. Wanita yang mengaku sahabatku itu. Wanita dekil dan miskin itu. Tapi jika aku mengingat, aku menyimpulkan bahwa Icha lah yang selalu ada di sampingku. Icha lah yang selalu perhatian denganku. Yah only Icha is always there beside me. When I want attention and affection.

Aku pun berjalan menuju kantin kampusku. Saat aku berjalan menuju kantin aku mendengar banyak sekali bisik-bisik dari para mahasiswa. Entah itu apa yang pasti ada yang terlihat sangat sedih. Aku pun yang penasaran menghampiri sekumpulan mahasiswa. Ada aku sudah di dekat sekumpulan mahasiswa tersebut.
“Hei ada apa sih? Kok pada heboh banget. Emang ada kejadian apa?” Tanyaku. Sontak mereka terkejut. Aku yang melihat hanya menatap mereka bingung. Ada apa dengan mereka.
“Desta lu gak tau emang?” Ucap Bagas tak percaya.
“Tau apa?”
“Astaga Des sahabat macam apa lu. Icha tuh meninggal Des. Masa lu gak tau sih.” Seketika tubuhku menegang. Kaku tanpa ada alasan. Seketika pula hatiku hancur berkeping-keping.
“Meninggal? Ha jangan bercanda deh kalian.” Aku mengeleng kepala. Mana mungkin Icha meninggal. Seketika air mataku keluar. Entah apa yang membuat air mataku keluar yang pati saat ini yang aku rasakan hanyalah sakit.
“Serius gua Des. Icha meninggal tadi pagi jam 6. Sebelumnya dia masuk rumah sakit karena dirampok rabu kemarin pukul setengah satu pagi.” Tunggu apa yang Bagas bilang, rabu kemarin. Itu bukannya hari dimana Icha datang ke rumahku dengan suasana hujan. Icha datang ke rumahku dengan membawa sebuah kue ulang tahun dan sebungkus kado. Dan aku mengusirnya begitu saja.

Tanpa berbicara aku langsung jalan ke rumah Icha. Aku masih tak percaya ini. Icha meninggal. Sungguh hatiku sangat sakit bahkan sakitnya melebihkan sakit hatiku ke Indah. Aku seperti kehilangan orang yang sangat spesial dalam hidupku. Apa aku cinta dengan Icha? Apa aku sayang sama dia? Tapi kenapa aku baru menyadarinya. Kenapa?

Aku langsung melajukan mobilku dengan kecepatan diatas rata-rata. Tak peduli jika aku ditilang. Saat ini yang di pikiranku hanyalah Icha. Tak terasa air mataku sudah jatuh sedari tadi. Sampailah aku di kediaman Icha. Suasana sangatlah ramai. Semoga ini hanyalah mimpi. Ada bendera kuning yang terpasang di tiap tiang listrik. Aku pun langsung menghampiri kak Dewi kakak dari Icha.

“Kak di mana Icha?”
“Ngapain kamu ke sini? Gak cukup buat adik saya meninggal. Gak cukup sudah menyia-nyiakan cinta adik saya.” Ucap kak Dewi sambil menangis. Cinta? Apa maksud kak Dewi?
“Maksud kakak?”
“Kamu bodoh ya. Adik saya itu suka dan cinta sama kamu. Dan kamu sudah menyia-nyiakan dia begitu saja. Sampai dia dirampok karena dia ingin memberi kamu surprise. Dasar kamu pria tidak tau diri. Mending kamu pergi dari sini. Jijik saya melihat kamu. PERGI!” Teriak kak Dewi. Aku menurutinya dan langsung pergi.

Aku langsung menjalankan mobilku. Tangisku pecah. Icha cinta denganku dan aku sudah menyia-nyiakannya. Kenapa aku tak sadar akan hal itu. Kenapa? Kenapa pula aku menyadarinya kalau aku cinta dengan Icha wanita yang tulus mencintaiku. Wanita yang selalu ada untukku. Wanita yang selalu di sisiku. Kenapa?
“Aaaaaaaa!!!” Sungguh aku sangat kehilangan. Andai waktu bisa diulang. Andai aku menyadarinya lebih cepat. Pasti tidak akan seperti ini. Andai ada kesempatan kedua. Aku harap ini hanya mimpi burukku dan segera terbangun dari mimpi ini.

Cerpen Karangan: Rakinsavers
Facebook: Muhamad Rifqi Rakinsavers
Seorang anak laki-laki yang berusaha menjadi dirinya sendir dengan kumpulan kata-kata yang dia rangkai menjadi sebuah kalimat dan kemudian dia rangkai kembali menjadi sebuah cerita yang berharap bisa di baca dengan senang hati oleh pembaca…

Cerpen Saat Kau Pergi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatan Terakhir Gista

Oleh:
Di malam yang sesunyi itu, ketika bulan tak malu untuk menampakkan bentuk indahnya yang putih bening bersinar terang. Tepat pukul 00.00 malam itu aku dilahirkan. Ayah dan Bunda menangis

Hingga Menjelang Senja

Oleh:
“Sheevaaa…sinii lihaaattt! Ada anak kepiting lucu bangeet..” Nimo memanggil Sheva dengan sangat antusias. Nimo terlihat begitu senang, kakinya melompat-lompat kecil di atas pasir pantai dengan gemas. Gaya bicaranya sangat

Rindu Pelangi

Oleh:
Sore ini tampaknya kota Jogja kurang bersahabat dengan banyak orang. Di luar tampak suasana kota yang mendung berselimutkan rintik-rintik hujan yang turun. Tapi tidak untukku, aku terlebih menyukai keadaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *