Sahabat Sejati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 February 2016

Udara pagi yang sejuk dan segar, sang surya menyinari saentero indahnya desa Grabag, bunga-bunga pun bermekaran dan harumnya menarik perhatian para kumbang dan kupu-kupu yang bercorak warna nan indah dan sari-sarinya pun selalu memberi kepuasan dengan kemanisannya pada serangga-serangga yang menghisapnya.

“Klis, sarapan bubur dulu…” ibunya Muklis berkata padanya sambil menyiapkan bubur.
“Iya Bu, sebentar lagi, masih ngantuk nih,” jawab Muklis.
“Keburu adem, nanti nggak enak loh…”
“Iya.. iya Bu…” sambil jalan ke meja makan, masih terasa ngantuk dan tidak semangat.

“Sudah salat subuh Klis?” tanya sang ibu.
“Belum Bu, males.”
“Tak ada kata malas, salat dulu sana!”
“Makan dulu aja ah… mumpung sudah di sini, tanggung Bu.”
“Terserahmu, jangan nyesel kalau kematian menghampirimu ketika makan, padahal kamu belum salat,” tegas sang ibu.
“Astaghfirulloh, Ibu kok gitu, ya sudah aku salat dulu,” terpaksa.
“Kamu tuh ya, kalau salat subuh malas bukan main, selalu bangun kesiangan,” dengan nada kesal.

Setelah salat dan makan, Muklis pergi ke kebun bunga milik pamannya. Pada waktu itu, liburan kenaikan kelas VII SMP dan dapat peringkat 4 dari 35 anak. Muklis memang beda dengan teman-temannya, tak punya sifat pilih-pilih dalam berteman, suka bergaul dengan siapa pun yang ia kenal, entah temannya yang saleh atau nakal sekali pun di sekolahnya. Tapi, Muklis tidak mudah tergoda dengan kenalan-kenalan anak remaja, diajak minum miras, dia selalu menolak dan menghindar.

Dan pernah diajak mer*kok sama temannya, awalnya tidak mau, di kemudian hari dia dapat uang dari pamannya, berpikir dan penasaran, apa rasanya kalau mer*kok. Faktanya, banyak orang yang mer*kok dan menikmatinya sampai kecanduan stadium tinggi, lepas itu, dia membeli dan mecobanya, akan tetapi tak ada kecocokan pada bibirnya. Panasnya matahari di siang hari, Muklis duduk bersandar dan berteduh di bawah pohon yang besar dan rindang, datang dua teman akrabnya, Irfan dan Bejo namanya. Bejo mengajak Muklis untuk mencuri buah jeruk milik Pak Slamet.

“Muklis, ikut nggak? Kami ingin mencuri jeruk milik Pak Slamet,” Bejo sangat semangat.
“Iya, enak-enak loh, sudah pada matang lagi,” sahut Irfan.
“Edan kalian, aku nggak mau makan makanan haram, apalagi mencuri, itu dilarang dan dibenci. Pak Slamet itu orang yang baik, mungkin kalau kita minta dikasih sama beliau,” jawab Muklis.

“Dikasih dari Hongkong, wong Pak Slamet aja orang yang pelit, udah kita pergi aja Fan, Muklis tidak mau, tak setia kawan dan tak kompak, orangnya aneh,” ujar Bejo.
“Ehh.. teman-teman tunggu! kamu tahu dari mana Bejo kalau Pak Slamet pelit? Aku bukannya nggak setia kawan dan kompak, tapi masalah perbuatan maksiat kayak gini, sulit diri ini untuk menerimanya, yuuukk… kita bilang ikhlasnya aja sama Pak Slamet.” respon Muklis dengan polosnya.

“Ya sudah, kamu bilang sendiri dan kami tetap pada pendirian kami, mencuri tetap mencuri, mungkin kalau minta dikasih sedikit sedangkan mencuri semaunya.”
“Loh, teman-teman kok gitu, begini aja, aku yang bilang sendiri sama Pak Slamet, tapi kalian jangan mencuri dulu, nanti setelah dizinkan oleh beliau, baru kalian memetik buahnya, insya Allah boleh kok,” Muklis membujuknya.
“Kamu tuh sok alim, salat subuh aja sering kesiangan,” ujar Bejo sambil marah dan kecewa.

Muklis orang yang rajin salat berjamaah, tapi kalau salat subuh selalu terlambat karena susah dibangunkan. Dan dia mempunyai sifat wara’ (sifat berhati-hati dalam sesuatu yang halal dan haram). Kemudian mereka pergi ke kebun tersebut, ketika sampai di kebun, mereka mendapati gubuk kecil dan Muklis merasa kecapean karena belum istirahat, maka Muklis beristirahat dan ketiduran di gubuk tersebut. Suara merdu yang menggema, adzan dzuhur dikumandangkan dari menara-menara mesjid dan musala yang bertebaran ke seantero Desa Grabag, angin semilir menyapu panasnya suasana kebun, Pak Slamet datang ke gubuk dan istirahat, tapi Muklis masih tertidur di gubuk, kemudian Pak Slamet membangunkannya.

“Muklis, Klis, bangun… bangun! sudah dzuhur, mari salat,” sambil menepuk kaki Muklis.
“Astaghfirullah, ngapunten Pak, aku sudah lancang tidur di gubuk bapak tanpa izin, aku tadi lelah dan cape.”
“Tak masalah, yang penting sekarang kita salat dulu, kita jamaah di sini aja,” sambil tersenyum.
“Di sini Pak, nggak di musala aja?” tanya Muklis.
“Sudah terlambat, kamu susah dibangunkan.”
“Maaf Pak,” sambil menggaruk kepalanya yang gatal.

Setelah salat Pak Slamet dan Muklis makan siang bareng, kiriman dari istrinya, karena Pak Slamet belum selesai memanen buah jeruknya, maka beliau melanjutkan pekerjaannya dan Muklis membantunya, dua jam kemudian Pak Slamet menyuruh Muklis untuk pulang dan ia diberi beberapa buah yang manis. Kemudian Muklis merasa senang dan puas karena tidak repot-repot mencuri, malah dapat buahnya halalan thoyyiba. Ketika dia melewati pohon yang rindang tersebut, ia mendapati Irfan dan Bejo lagi kesakitan di perutnya dan di sekitarnya ada kupasan-kupasan kulit jeruk yang banyak.

“Fan, Jo, kenapa kalian?” tanya Muklis dengan panik.
“Nggak tahu nih, tiba-tiba sakit perut setelah makan jeruk, mungkin kebanyakan,” jawab Irfan sambil menahan rasa sakitnya. “Ya sudah kita pulang, aku antar kalian ke rumahku, lepas itu, minum teh hangat buatan ummiku tercinta, insya Allah enak dan sakit agak reda, tapi jangan lupa nanti kalian minta maaf dan ikhlasnya pada Pak Slamet, mungkin kalian terlalu banyak makan jeruknya sehingga membuat kalian sakit atau karena keharamannya.”
“Ya, bisa jadi,” respon Bejo.
“Ya insya Allah, aku nanti minta maaf sama beliau,” ujar Irfan.
“Syukurlah, kalau begitu, mari pulang, insya Allah teh hangat sudah siap disantap,” kata Muklis dengan ramah.

Langkah demi langkah menuju rumah Muklis. Sakit pun tak reda-reda. Udara petang sejuk semilr menyapu penjuru kebun, pohon-pohon pun bergoyang terbawa angin, Irfan dan Bejo berjalan pelan-pelan dengan menahan rasa sakitnya. Setelah sampai di rumah, teh hangat sudah terhidangkan di atas meja tamu. Mereka duduk dan ketika Muklis menyeruput tehnya ia mengingat kelebetan-kelebetan nasihat ibunya, kemudian ia sampaikan nasihat tersebut kepada Irfan dan Bejo. Dengan senang hati Muklis berkata, “Irfan, Bejo…” sambil memandang mereka berdua, “Aku sering dinasihati Ibuku, beliau selalu berkata padaku, tunaikanlah salat pada waktunya dan itu membuat hatiku tenang dan tenteram. Dan beliau selalu melarangku memakan makanan haram sehingga membuatku hidup sehat dan berkecukupan.”

“Astaghfirullah, kami sangat bersalah dan menyesal sekali, tak pernah mendengarkan nasihatmu Klis, insya Allah, kami tidak mengulangi lagi,” sahut Irfan.
“Iya betul, aku sangat menyesal,” sahut Bejo.
“Hmm…silakan tehnya dihabiskan, adzan Ashar sudah dikumandangkan, kita ke musahola, salat berjamaah dan bertaubat kepada Allah.”
“Iya betul, aku sangat menyesal,” sahut Bejo. Masyarakat berbondong-bondong memenuhi panggilan Allah, begitu juga mereka bertiga bergegas untuk mengambil air wudu dan pergi ke musala At-Taibin.

Cerpen Karangan: Muchlisin
Facebook: Muchlisin Ibn Zaenury
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh, cerita dan tempat hanya kebetulan saja dan diluar kesengajaan kami.

Cerpen Sahabat Sejati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menggapaimu Bukanlah Mimpiku

Oleh:
Ku tak bisa menggapaimu Tak kan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Lagu itu menggambarkan perasakanku kepada pemain basket di sekolahku, namanya Rizky, siswa yang

Maafkan Aku Vannesa

Oleh:
Vannesa nama yang bagus, untuk diberikan kepada anak yang cantik, imut, baik dan pintar. Tapi tidak untuk Vanesa yang ini, dia memang cantik, pintar dan baik. Tapi dia selalu

Happy Birthday

Oleh:
Perih rasanya cuma bisa begini. Aku tak bisa berbuat apa apa. Mengucapkan satu kata yang kuinginkan tak bisa ‘happy birthday’ itulah kata kata yang ingin kuucapkan padamu. ‘semoga kamu

Sisi Gelap Dalam Diriku

Oleh:
Nama gue Dika mungkin nama itu lebih ku suka dibanding nama asli gue, masa lalu gue mungkin terasa menyakitkan dan menyisakan bekas yang dalam di hati gue, dimana gue

Wednesday

Oleh:
Dering bel berbunyi. Aku merasakan kakiku berat untuk melangkah keluar dari kelas. Bukannya aku sakit, malahan aku sehat sekali dan jarang terserang penyakit karena mamaku selalu rutin untuk menyuruhku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *