Sampai Kapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

Hari itu Idul Adha, aku tidak pulang kampung dan tetap di kos. Saat dia datang semalem ke kostku, dia mengajakku untuk main ke kontrakannya. Nama dia Adhy, seorang kakak tingkat di jurusanku. Kami sudah lumayan lama dekat, delapan bulan lebih.
“Iya, aku ke rumah saudara bentar. Disuruh Ibu,” Jawabku lewat BBM kepadanya.
“Ya udah, nanti kalau udah pulang. Lo tunggu aja di halte, gak usah ke kos. Gue jemput di halte, daripada lo jalan.” Balasnya.
“Iya..” Jawabku lagi.

Dari jam 10 aku datang ke rumah saudara untuk Silaturahmi, dan jam 2 siang aku pulang. Begitu sampai halte aku BBM dia untuk menjemput, tak lama kemudian dia datang menggunakan motor mio hijaunya dan memakai jaket hijau. Sesampainya di kontrakan dia, kami cerita-cerita panjang lebar. Sampai akhirnya kami bercerita masalah pacar. Aku bilang aku tidak mau pacaran, karena trauma. Dan dia menertawai alasanku itu. Singkat cerita hari itu sudah sore dan dia mengantarkanku pulang ke kosan aku. Semakin hari kami semakin dekat, tak ada status tetapi dia sudah memanggilku sayang dan begitu pun aku sebaliknya.

Tanggal 28 September 2015
Kami bertengkar hebat, sebab dia yang sudah berjanji datang ke kosku tiba-tiba tidak bisa dengan alasan mengerjakan tugas. Aku marah saat itu, dan aku bilang hubungan kami sampai sini saja sebelum terlampau jauh dan aku bilang dia jangan menghubungiku lagi. Dia tidak mengerti alasanku yang tidak memberinya pengertian. Aku menangis karena mulai ku sadari aku butuh dia dan mulai menyayanginya.

Tanggal 29 September 2015
Pagi harinya aku mengSMS dia.
“Soal semalem aku minta maaf.”
“Iya, gak apa-apa. Kamu kenapa sih emangnya kok langsung marah-marah gitu?” dia membalas.
Dan kami mulai berhubungan lagi. Saat malam tiba, dia datang ke kosanku. Dia menemaniku ke minimarket untuk berbelanja sebentar. Sesampainya di kost dia berkata.

“Vy, aku ke sini cuma mau mastiin hubungan kita, aku udah sayang dan cinta banget sama kamu. Kamu mau gak jadi pacarku?”
“Ciyeeeee..” sangking groginya aku malah meledek dia, padahal dalam hati aku deg-degan mendengar kata-katanya.
“Ivy, aku serius.” Dia mulai kesal.
“Iya iya. Aku juga sayang dan cinta sama kamu Dhy.” Jawabku.

“Jadi, kamu mau gak pacaran sama aku?” tanyanya lagi.
“Iya aku mau.” Jawabku sambil tersenyum.
“Jadi sekarang resmi nih hubungan kita.” Dia meyakinkan.
“Iya sayang.”
“hehe.. ya udah, aku pulang ya sayang. Masih mau ngerjain tugas.” Katanya.
“Iya sayang. Hati-hati ya.” Dia beranjak dari tempat duduk dan kemudian pulang. Malam itu aku sangat bahagia, dia lelaki baik juga sabar. Kami SMS-an sampai larut malam dengan berbagai topik yang kami bahas.

Hari-hari yang kami lewati begitu indahnya walau kadang kami harus bertengkar karena masalah sepele yang seringnya masalah itu aku yang buat. Tetapi dia tetap sabar menghadapi segala keegoisanku. Tiap bertengkar aku selalu minta putus dan dia tidak pernah menganggap kata-kataku serius. Dia selalu menolak untuk putus. Dia selalu menuruti apa mauku.

Sampai akhirnya sebulan kami sudah lewati, jalan bulan kedua yaitu di bulan November. Aku berulang tahun, dia dan kedua sahabatku memberikan surprise. Sebagai kado ulang tahunku, dia mengajakku ke pantai. Dia memanjakanku layaknya seorang putri. Aku sangat bahagia memilikinya.

Hingga akhirnya tanggal 22 November 2015 dia izin mau pulang kampung. Aku berpikiran bahwa dia pulangnya hari rabu, dan aku berharap bisa bertemu dia sebelum dia pulang kampung. Tapi kenyataannya dia pulang hari Senin, aku marah besar. Rasa egois menggerogoti diriku. Aku minta putus saat itu, dan dia tetap tidak mau. Lalu, aku tidak menghubunginya sampai malam.

Aku mencari hiburan dengan berkaraoke dengan teman-teman 1 kosanku. Esoknya dia marah padaku, dia bilang aku tidak pengertian aku egois. Dan kala itu, lagi-lagi aku minta putus dan dia tetap tidak mau. Dia malah bilang kalau aku berbicara harus dipikirkan secara matang. Aku semakin kalut. Rabu kami lost contact dan tibalah hari Kamis. Dia menghubungiku, dia bertanya.

“Sebenernya hubungan kita ini apa?” ketiknya lewat SMS.
“Udah putus kan? Kita udah putus,” jawab rasa egoisku.
“ya udah kalau itu mau kamu, fine kita putus!” jawabnya.
Deg! jantungku langsung berdegup cepat. Aku menangis. Dia tidak pernah mengiyakan kata-kata putusku. Dia yang selama ini sabar tiba-tiba mengiyakan kata-kata egoisku. Lalu ku kirim SMS balasan padanya.

“Aku gak mau putus bego!” dengan berharap dia juga cuma memancingku.
Tetapi dia membalas SMS-ku dengan kata-kata yang membuat napasku makin sesak.
“Udahlah Vy, bener apa kata kamu. Kita emang gak bisa satu,”
“Dhy..” ku kirim lagi sms padanya.

Kami SMSan sampai sore bahkan sampai malam tetapi tetap tidak mengubah pendiriannya untuk tetap putus denganku. Dan sekarang setiap malam aku menangis dan menyesali semua perbuatanku padanya, aku menyayanginya dan sangat mencintainya. Sekarang ini balasan untukku yang tidak menghargai setiap pengorbanan yang dia lakukan. Sampai kapan pun aku akan tetap menunggunya dan menantinya datang kembali padaku.

Cerpen Karangan: Ara Silvia Putri
Facebook: Ara Silvia Putri
Governance yang membawaku padanya. Aku berharap dia membaca ini dan kembali padaku. Untukmu cintaku -ES29- ASP for EA.

Cerpen Sampai Kapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku, Pujaan Hatiku

Oleh:
Hari itu ada ulangan Matematika, aku kurang suka sama pelajaran yang satu ini nih. Aku jarang dapat nilai bagus, aku orangnya gak jago ngitung “Hei, ngelamun aja, non! Ntar

Harusnya

Oleh:
~ Kau lebih dari sekedar bintang-bintang. Kau lebih dari sekedar sang rembulan ~ Suara Naga Lyla mengalun dari ponselku. Pertanda sebuah pesan baru masuk. Dengan cepat, jemariku meraih ponsel

Terpaut pada Satu Hati

Oleh:
Saat ini Cares hanya terdiam, terpaku, dan membisu. Hanya rangkaian butiran beninglah yang selalu setia menemaninya tatkala ia mengingatnya, mengingat segala kenangan indah yang telah ia lalui bersamanya. Cares

Penantian Di Bawah Sakura

Oleh:
Hitoshi melangkahkan kakinya dengan ringan memasuki Taman Ueno sambil bersiul kecil. Sesekali matanya melirik memperhatikan orang-orang yang duduk dan bersantai di bawah pohon sakura bersama teman atau keluarga. Ada

Psikosis

Oleh:
Hujan deras membasahi seluruh tubuh Leia. Padahal hari ini ia harus pulang secepat mungkin. Atau hukuman menantinya. Leia mencoba menerobos hujan. Tapi ia sama sekali tak dapat menahan rasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *