Sapaan Terakhirmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

Suara ayam berkokok dan sinar matahari yang pelan-pelan menyinari ke arah kamarku. Membuat aku terbangun dari tidurku. Pagi itu pagi yang cerah, kicau burung bernyanyi menyambut pagiku.
Kulihat ke arah dinding kamarku ada jam dinding yang menujukan waktu pukul 06.00. Aku langsung beranjak dari tempat tidurku dan bergegas mandi, karena aku tak ingin pagi ini aku terlambat kembali.

Selesai mandi. Aku berpakaian seragam sekolahku. Jadwal seragam hari ini baju putih lengkap dengan atribut sekolah dan rok panjang abu-abu. Yak. Karena hari ini hari senin dan aku harus mengikuti upacara bendera di sekolahku.
Jarak dari rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh. Aku biasa diantar oleh supir pribadi ayahku. Namanya Pak Naim.
Selesai sarapan. Aku langsung pergi menemui pak Naim yang sudah dari tadi menungguku di halaman rumah.

“Ayo, pak kita berangkat?”
“Tumben non berangkatnya jam segini?” jawab pak Naim sambil menyeruput kopinya.
“Iya gak papa deh pak, aku harus datang lebih awal hari ini”
Kami pun berangkat ke sekolah.

Waktu menunjukan pukul 06.35. tapi kenapa pak Naim menanyakan. “Tumben jam segini?” menurutku ini tidak terlalu pagi dan tidak terlalu siang. Apa mungkin karena kebiasaanku berangkat sekolah pukul 07.00. Sedangkan bel sekolahku pun berbunyi pukul 07.00. yak. Aku memang biasa datang terlambat ke sekolah karena kebiasanku yang sering bangun kesiangan.

Tapi pagi ini aku tidak ingin terlambat datang ke sekolah. Karena aku ada tugas untuk membawa bendera merah putih saat upacara bendera di laksanakan di sekolahku.

Aku sampai di sekolah pukul 06.50 karena seperti yang aku bilang tadi. Jarak dari rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh. sebenarnya aku bisa saja naik angkutan umum, tapi karena aku ini anak yang manja, jadi aku lebih suka diantar jemput oleh supir pribadi ayahku itu.
Sesampainya di sekolah aku langsung menemuin teman-temanku yang bertugas sebagai petugas upacara. Kami semua melakukan persiapan karena upacara bendera segera dimulai.

Waktu menunjukan pukul 07.00 bel sekolah telah berbunyi. Murid yang lain telah kumpul di lapangan upacara dan telah berbaris rapi. Upacara pun dimulai.

Singkat cerita upacara telah selesai. Hari ini aku puas karena semua berjalan dengan baik-baik saja. Aku dan murid-murid yang lain pun bergegas masuk ke kelas masing-masing untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Aku pun langsung bergegas masuk ke kelas ku kelas XI IPS 2. Tapi sesampainya di pintu masuk kelas, ada pria yang menungguku.

“Hai kak, selamat ya upacaranya sukses” Kata pria itu dengan senyum ramah.
“Siapa ya? Jawabku karena heran, karena sebelumnya aku belum mengenal pria ini.
“Aku, Reihan. Anak kelas 10 IPS 1”
“Oh, ya udah awas jangan ngalangin, gue mau masuk” jawabku sambil berusaha masuk ke kelas.
“Loh, aku kan belum tau nama kakak. Nama kakak siapa?” Kata Reihan sambil menahanku masuk dan memberikan tangan untuk bersalaman.
“Lo liat kan name tag gue. Udah awas deh gue mau masuk” jawabku agak kesal tanpa menghiraukan tangannya untuk bersalaman. Reihan pun langsung memberikan jalan untukku masuk ke kelas.

Pukul 13.00 bel pulang sekolahpun berbunyi. Aku langsung pergi meninggalkan kelas dan pergi ke depan gerbang sekolah untuk menunggu pak Naim menjemputku.
Tapi kenapa sudah 30 menit aku menunggu pak Naim, tapi ia belum datang juga. tidak seperti biasanya. Dan akhirnya aku menelepon pak Naim.

“Pak, dimana? kok tumben belum sampai di sekolah?”
“Maaf non, saya harus menunggu tuan meeting, jadi hari ini saya enggak bisa jemput non”
“Ohyaudah deh gak papa pak, aku bisa pulang naik taksi”

Huuh. Cuaca siang ini panasnya luar biasa. Jadi aku lebih memilih pulang naik taksi. Sambil aku menunggu taksi, ada pria yang menghampiri aku. ternyata dia Reihan, adik kelas yang tadi pagi menunggu depan kelasku.
“Kok belum pulang kak?” tanya Reihan kepadaku
“Belum, lagi nunggu taksi” jawabku
“Oh, kalo gitu aku anter pulang aja gimana?”
“Naik motor?”
“Iya, kenapa emang?”
“Lo gila. Panas matahari lagi kaya gini lo ajak gue naik motor?! Bisa-bisa gue item, kena debu, rusak deh rambut gue dan make up gue”
“Jadi enggak mau nih?”
“Enggak! Mendingan gue naik taksi” jawabku sambil memberhentikan taksi dan menaikinya. Aku pun meninggalkan Reihan sendirian.

Akhirnya sampai rumah juga. cuaca hari ini kurang mendukung kalau beraktifitas di luar ruangan.

Oh iya. Aku belum mengenalkan diriku. Namaku Senja Putri Audita. Panggil saja Senja. Aku tinggal di daerah Kemang, Jakarta Barat. Umurku 17 tahun. Aku sekolah di SMA Negeri 9 Jakarta. Kelas 11 IPS 2. Aku anak satu-satunya dari orangtuaku. Orangtuaku kerja di salah satu perusahaan yang ada di Jakarta milik Omaku. Karena aku anak semata wayang, jadi aku sangat dimanja. Apapun yang aku mau, orangtuaku selalu memenuhi.
Secara fisik, tinggi badanku 165 CM, berat badanku 50 Kg. Rambutku panjang sebahu, hitam lurus. Aku biasa pakai kacamata berframe kotak warna hitam. Mataku tidak ada gangguan, kacamata hanya penambah style. Kulitku putih, Mataku bulat, alisku agak tebal tapi bukan lukisan, hidungku tidak terlalu mancung tapi juga tidak pesek, Aku punya lesung pipi dan gigi taring yang gingsul.

Walaupun umurku 17 tahun. Tapi aku belum memiliki pasangan. Aku memang orangnya pemilih, enggak sembarangan pria bisa menjadi pasanganku. Mungkin itu alasan kenapa banyak pria yang mendekatiku langsung mundur begitu saja. Karena aku orangnya cuek, jutek dan terkesan sombong. Padahal aku cuma ingin lihat seberapa besar perjuangan mereka saat mendekatiku. Tapi baru beberapa hari kenal, mereka sudah mundur begitu saja. Dasar payah.

Reihan adalah pria yang kesekian kali mendekatiku. Tapi aku menganggap dia biasa saja. Dari fisik sih dia memang menarik, tapi aku masih belum bisa menjadikan dia sebagai pasanganku.
Reihan setiap hari menungguku di depan kelasku. Hanya sekedar say hai atau menanyakan kabar. Tapi aku pun memberikan respon yang sama setiap harinya. Aku cuek terhadapnya, seperti tidak menganggap dia ada.

Sudah sekitar 3 bulan, setiap aku ingin masuk sekolah Reihan selalu menungguku. Tapi tetap saja aku cuek terhadapnya. Dia bukan seleraku.
Minggu pertama di bulan ke 4. Reihan tidak nampak lagi di depan kelasku. Akhirnya pria itu menyerah, karena sering aku cuekin.
Minggu kedua di bulan ke 4. Reihan benar-benar tidak tampak lagi keberadaannya. Aku jadi merasa ada yang kurang. biasanya setiap hari aku sekolah, selalu ada pria yang menungguku untuk mengucapkan Hai ataupun selamat pagi. Tapi sudah dua minggu ini aku tidak melihatnya lagi. Dia kemana ya, apa dia sudah lelah, karena sering aku cuekin.

Karena aku penasaran, akhirnya aku pura-pura melewati kelas dia di 10 IPS 1. Aku melirik dari jendela, banyak murid yang sedang belajar, tapi aku tidak lihat Reihan. “Dia kemana sih?” Dalam hatiku menanyakan keberadaan Reihan.
Jam istirahat aku pakai untuk mencari tau keberadaan Reihan. Aku menanyakan kepada teman sekelasnya.
“Hey, temennya Reihan kan?” tanyaku kepada salah satu pria yang biasa aku melihat dia dengan Reihan.
“Iya kak, kakak yang namanya Senja kan?”
“Iya, gue Senja. Reihan nya kemana ya?”
“Saya Doni ka. Kalo masalah Reihan sih…” jawab Doni agak menjeda.
“Reihan kemana ya don? Gue kok udah jarang liat dia”
“Reihan sakit kak”
“Hah? Sakit apa?” jawab gue agak kaget dan panik.
“Hmmm.. kalo itu sih saya juga kurang tau kak”
“Oh gitu, ya udah deh. Makasih ya infonya”
“Iya kak Senja. Sama-sama”
Aku langsung beranjak pergi meninggalkan Doni. Dan langsung ke kelasku.

Aku hanya duduk terdiam di kelas, sesekali aku merenung. Kenapa terkesan ada yang kurang ya. Seperti aku kehilangan sesuatu. Tapi apa? Reihan kan bukan seleraku. Akupun belum ada rasa sama sekali terhadapnya. Tapi kenapa aku merasa ada yang kurang ketika dia tak lagi menyapaku.

Keesokan harinya kembali aku tidak melihat Reihan dan tidak lagi mendengar sapaanya pagi itu. Aku mencari ke kelasnya pun tidak ada. tapi aku bertemu dengan Doni, teman sekelasnya Reihan. Akupun menanyakan kembali tentang keadaan Reihan lewat Doni.
“Hey Don”
“Eh kak Senja. Kenapa kak?”
“Reihan gimana kabarnya? masih sakit apa udah membaik?”
“Soal itu sih…”
“Lo kenapa Don? Reihan baik-baik aja kan?” Jawab ku panik.
“Reihan kak…”
“Reihan kenapa sih? lo jangan bikin gue panik gini dong. Reihan kenapa?”
“Nanti juga bakalan tau. Udah ya kak, udah bel masuk. Saya masuk kelas dulu” jawab Doni, sambil meninggalkan aku dan dia langsung masuk ke kelasnya.
Aku pun langsung masuk ke kelasku, karena bel masuk telah berbunyi.

Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasanya. Tapi kali ini ada anggota dari OSIS yang masuk ke kelasku. Mungkin ingin memberikan informasi tentang sekolah.
“Assalamualaikum” kata anggota osis itu.
“Waalaikumsalam” jawab murid di kelasku.
“Selamat pagi semua. Saya dari anggota osis ingin memberitahukan informasi”
Huuh. Pasti seperti biasa, informasi tentang kegiatan sekolah. Aku lebih baik main handphone.
“Inalillahi wainaillaihi roziun. Telah berpulang ke rahmat tulloh…”
Ternyata ada yang meninggal. Aku pun mendengarkan dan menaruh handphone ku di dalam tas.
“… Teman kita, sahabat kita, saudara kita dan adik kelas kita. Reihan Aditya Harafi. Kelas 10 IPS 2. Semoga ia tenang di alam sana dan di berikan tempat yang sangat layak”
Hah. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Dia pasti salah menyebut nama. Aku sangat kaget mendengarnya. Aku harus memastikannya. Aku harus tanya Doni sekarang juga.

Selepas anggota osis itu selesai memberikan informasi. Bel istirahat berbunyi. Aku langsung berlari ke luar kelas menuju kelas Doni. Aku ingin segera menanyakan kebenaran informasi yang tadi.
Sampai di kelas Doni, nafasku agak terengah-engah. Aku langsung menanyakan ke Doni.
“Don..”
“Kak Senja kenapa? kok kayanya capek banget”
“Enggak, gue enggak kenapa-kenapa kok. Reihan Don Reihan.”
“Kakak udah tau ya?”
“Jadi bener kalo Reihan..”
“Iya kak, Reihan udah pergi ninggalin kita. Saya juga enggak nyangka kak, kenapa secepat ini. Reihan itu orang baik, udah gitu sopan dan periang. Tapi ternyata dibalik sifat dia yang periang, selama ini dia melawan penyakit kanker otaknya. Selama tiga bulan dia kuat melawannya. Tapi bulan ke empat, dia harus dikalahkan dengan penyakitnya itu.”
“Jadi selama tiga bulan kemarin dia lagi sakit? enggak mungkin. Dia keliatan sehat banget. Ini enggak mungkin. Terus kenapa lo enggak pernah cerita tentang penyakit Reihan ke gue don? kenapa?”
“Reihan emang udah lama kak mengidap penyakit itu. tapi semenjak kenal kakak. Dia jadi orang yang lebih kuat. Tapi takdir berkata lain. Reihan sendiri kak yang minta buat enggak ceritain tentang penyakitnya ke kak Senja.”
Aku cuma menangis saat itu, aku masih tidak menyangka. Kenapa secepat ini. Orang yang selalu menanyakan kabar kepadaku, orang yang selalu bilang selamat pagi kepadaku, kini harus pergi meninggalkan ku. Dan tidak ada lagi orang yang akan menanyakan kabar dan mengucapkan selamat pagi kepadaku. Di depan kelasku setiap harinya. Kenapa tuhan. Kenapa secepat ini. Reihan masih terlalu muda untuk meninggalkan dunia.
Aku sangat menyesal karena sering cuek terhadapnya. Aku tidak pernah memperdulikannya. Aku sangat menyesal.

Sepulang sekolah, Aku dan Doni pergi ke tempat pemakaman Reihan. Disana masih ada orangtua Reihan. Aku dan Doni pun mendekatin orang tuanya yang terlihat sangat sedih.
“Assalamualaikum” salamku dan Doni.
“Waalaikumsalam” jawab orang tua Reihan.
“Om sama tante yang sabar ya. Aku juga ngerasa sangat kehilangan” Kata Doni sambil menangkan orang tua Reihan.
“Iya, tante sama om coba berusaha merelakan kepergian Reihan” Jawab ayah Reihan.
“Kamu siapa nak?” Tanya Ibu Reihan terhadapku.
“Aku Senja tante, teman sekolahnya Reihan” jawabku.
“Oh, kamu yang namanya Senja. Kamu cantik banget, pantes kalo Reihan sering cerita tentang kamu ke tante.” Kata Ibu Reihan sambil memegang pipiku.
Jadi, Reihan sering menceritakan tentangku ke Ibunya. Sampai sejauh itu ternyata.
“Reihan anak yang baik tante, pasti Reihan sekarang udah di tempat yang sangat indah, di surga sana” Jawabku.
“Amin. Ini ada titipan dari Reihan sebelum dia pergi” Kata Ibu Reihan sambil memberikan surat kepadaku.
“Ini dari Reihan?” tanyaku sambil menerima surat itu.
“Iya, mungkin itu pesan terakhir Reihan buat kamu” Jawab Ibu Reihan sambil menangis.
“Ya udah kalo gitu, om sama tante pergi dulu. Makasih ya kalian udah mau dateng ke tempat pemakaman Reihan” kata ayah Reihan.
“Iya om sama tante yang sabar ya” jawab Doni sambil mencium tangan ayah dan ibu Reihan.
“Senja?” Tanya ibu Reihan.
“Iya tante, kenapa?”
“Baca ya surat itu, jangan dibuang”
“Baik tante, aku akan baca dan simpan surat ini dengan baik.”
“Makasih ya nak” jawab ibu Reihan sambil memelukku.
“Tante harus kuat ya” jawabku sambil mengelus punggung ibu Reihan.
“Ya udah kami pamit dulu, assalamualaikum” Kata orangtua Reihan pamit pulang.
“Waalikumsalam, hati-hati ya om tante” jawabku dan Doni.

Sekarang tinggal aku dan Doni yang ada di makam Reihan. Aku pun membuka surat yang tadi di berikan Ibu Reihan kepadaku.
Tulisan di surat itu adalah.

“Hai kak Senja. Kakak apa kabar? Maaf kalo aku enggak bisa nemuin kakak lagi di depan kelas kakak. Maaf juga kalo aku sering buat kakak risih selama ini. Aku enggak bermaksud seperti itu kok. Tapi mulai sekarang dan mungkin untuk selamanya, kakak enggak perlu khawatir. Aku enggak akan ganggu kakak lagi. Terimakasih kak, udah mau jadi penyemangat aku untuk melawan penyakitku. Makasih juga, sudah menjadi alasan kenapa aku harus bertahan hidup lebih lama. Tapi kembali lagi, sekuat apapun kita sebagai manusia. Tuhan yang akan menentukan. Aku harus pergi kak. Dan seandainya aku terlahir kembali. Aku ingin bertemu kakak lagi. Hanya sekedar menanyakan kabar atau mengucapkan selamat pagi. Dan semoga, apa yang kakak sesali saat ini tidak terulang lagi dilain hari. Yang aku pinta cuma satu kak, jangan basahi surat ini dengan air mata kakak. Sampai ketemu nanti kak.”
Reihan

Surat dari Reihan sudah terlanjur basah dengan air mataku. Aku tak kuat untuk menahan air mataku. Aku sangat menyesal. Aku berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan lebih menghargai waktu dan menghargai orang lain.
Dan untuk kamu Reihan. Aku minta maaf, aku sangat menyesal karena sering tidak memperdulikanmu. Dan seandainya kamu terlahir kembali. Datanglah di kehidupanku lagi, hadirlah di setiap pagiku lagi, walaupun hanya untuk menanyakan kabar atau mengucapkan selamat pagi. Dan jika kamu tidak terlahir kembali, hadirlah di setiap mimpiku. Aku akan menyambut baik kedatanganmu. Jangan pernah ragu untuk kembali.

Penyesalan memang datang terlambat. Aku menyesal karena sering tidak memperdulikan orang lain. Aku tau aku salah. Dan semoga aku bisa belajar dari setiap kesalahanku.
Dan semoga kita bisa bertemu dilain hari Han.

Cerpen Karangan: Rifan Hidayat
Blog: rifanhdyt.blogspot.co.id
Twitter: @RifanHidayat_
Instagram: @RifanHidayat_
Line: rifanhidayat_
Email: rifanhdyt05[-at-]gmail.com

Cerpen Sapaan Terakhirmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tatapanmu Adalah Bahagiaku

Oleh:
Betapa menawannya paras cantik Rachel. Seorang wanita cantik yang duduk di kelas 3 SMA. Tutur katanya yang lembut membuat hati Rafa luluh. Getar hati muncul di saat rafa melihat

You Never Have a Friend

Oleh:
Hari ini sangat panas bagi semua orang, namun berbeda pada 2 orang yang sedang bergandengan ini. Micky dan Chan namanya. Mereka adalah sepasang sahabat sejak kecil. Namun, sifat mereka

She’s Life Again

Oleh:
Banyak orang mengatakan kita harus melupakan masa lalu tapi bagiku masa lalu adalah guru untuk masa depanku, masa lalu adalah pengalaman yang berharga. Tanpa masa lalu mungkin ku tak

I Will Always Love You

Oleh:
Pagi yang cerah terdengar suara burung yang berkicau membuat tidurku yang indah terbangun dalam suasana duka sudah sehari aku hidup tanpanya seketika aku mengingat cerita cinta kita… “agass tungguin

Nayla dan Naya

Oleh:
Semua ini berawal dari pertemuan singkatku dengan Arya. Arya adalah seorang lelaki yang berperawakan tinggi, putih, mancung, pokoknya perfect. Waktu itu Arya tak sengaja menyenggol belanjaanku saat aku sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *