Satu Keputusan Untuk Selamanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 13 February 2017

Arlojiku menunjukkan waktu sudah jam 5:30 pagi, dimana anak-anak remaja seumuran denganku masih terlelap dalam tidurnya dan masih bersenang-senang di alam mimpi. Sedangkan aku sudah harus bangun untuk bersiap-siap latihan fisik dan dilanjutkan dengan latihan bulutangkis. Olahraga bulutangkis sudah diperkenalkan kepadaku oleh kakekku sedari aku masih duduk di bangku kelas 6 hingga sekarang aku kelas 1 SMA. Karena aku memiliki perlengkapan dan lapangan yang memadai, aku sering berlatih sehingga aku diarahkan oleh ibuku untuk menjadi serius dalam bidang ini.

“Rana, ayo cepat siap-siap untuk latihan.” ucap Ibuku.
Aku langsung dengan cepat ganti baju dan masuk ke dalam mobil. Tempat latihanku adalah di halaman Rumah Kakekku, aku akan berlatih bersama Kak War. Dia adalah salah satu orang yang sangat bersemangat dalam segala hal, dimana pun dan kapan pun itu. Tujuanku berlatih dari pagi adalah karena dalam 4 minggu aku akan mengikuti pertandingan di daerah Senayan. Sudah sering sebenarnya aku mengikuti pertandingan-pertandingan, namun pertandingan kali ini akan menentukan apakah aku bisa lanjut ke jenjang internasional atau tidak. Aku sangat berharap untuk bisa memenangkan pertandingan tersebut dan aku akan dikirim ke China untuk bertanding.

Hari pertama sekolah, semua teman-temanku heboh bercerita tentang kenangan mereka selama liburan bersama ke Bali. Sedangkan liburanku aku habiskan untuk berlatih dan aku sangat sedih karena pada saat itu keberangkatanku untuk liburan bersama teman-temanku terpaksa harus dibatalkan karena harus latihan untuk pertandingan tersebut.

“Ran, sayang banget loh kamu gak ikut ke Bali kemaren soalnya seru banget kita seharian main di pantai dan foto-foto di sana.” kata salah satu temanku. Saat dia berkata seperti itu, aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Senyuman manis dengan kebohongan pahit di baliknya.

Di hari pertama sekolah pun aku terpaksa harus izin pulang duluan karena aku ada latihan lagi bersama Kak War, sekolahku sangat mendukung kegiatan bulutangkisku sehingga aku dapat dengan mudah untuk izin tidak masuk sekolah ataupun pulang duluan. Sebelum aku pulang, terdengar kembali pembicaraan bahwa teman-temanku akan jalan-jalan ke mall setelah pulang sekolah dan lagi lagi aku tidak dapat bergabung bersama mereka.

Hari-hariku di sekolah menjadi semakin menyenangkan karena menemukan seseorang yang dapat menerimaku dengan apa adanya dan mendukung setiap langkah yang aku ambil. Reno namanya, dia adalah mungkin cinta pertamaku. Dialah yang sering memotivasiku untuk tetap berlangkah maju dan tidak menyerah dengan bulutangkis. Namun, saking sibuknya aku dengan bulutangkis aku sering merasa tidak enak dengannya karena aku jarang untuk bisa jalan-jalan bersamanya ataupun menghabiskan waktu berdua dengannya. Aku merasa bahwa laki-laki sebaik Reno masih bisa menemukan sosok wanita yang lebih baik dariku.

“Kayaknya kita udahan aja ya Ren.. Aku kasian sama kamu, aku ngerasa kalo aku terlalu sibuk dengan yang lain sampai perhatian dan dukungan yang kamu berikan kepadaku tidak sepadan dengan apa yang aku berikan kepadamu.” kataku.
Tetapi Reno selalu menjadi seseorang yang misterius dan tidak tertebak. Terkadang perkataanku diatas membuat kita menjadi berantem dan renggang karena ia tidak suka kalau aku berfikiran seperti itu. Di lain waktu, Reno juga membuat perkataanku di atas menjadi bahan candaan yang tentunya tidak membuatku tertawa tapi malah membuatku marah dengannya. Sesering apapun terjadi pertengkaran di antara kita, tetap saja hanya Reno yang bisa membuatku tersenyum. Tersenyum tulus tanpa ada kebohongan sama sekali.

Usaha dan waktu yang terpakai untuk latihan sama sekali tidak sia-sia. Aku memenangkan pertandingan itu dan akan diberangkatkan ke China besok lusa. Seluruh keluargaku dan termasuk Reno dan sahabatku Killa yang menonton pertandinganku sangat gembira dan bangga terhadap pencapaianku. Aku sangat bersyukur untuk selalu memiliki dukungan dari mereka.

“Rana selamat ya aku sangat bangga padamu.” kata Reno dan Killa yang telah setia mendukungku.
Aku kehilangan kata-kata saat mereka berkata seperti itu. Karena jika tidak ada dukungan dari mereka, aku tidak mungkin bisa sampai sejauh ini. Aku langsung memeluk mereka berdua dan dalam hati bersyukur memiliki mereka berdua di dalam hidupku.

Kemudian aku teringat, jika aku tidak memenangkan pertandingan ini aku akan mendapatkan waktu ‘libur’ yang artinya tidak ada jadwal latihan. Yang artinya aku bisa menghabiskan banyak waktu jalan-jalan bersama Reno dan teman-temanku yang lain. Aku jadi berfikir dua kali, namun aku tetap memutuskan untuk berangkat ke China karena masuk ke tingkat internasional merupakan keinginanku sedari dulu. Reno pastinya akan menungguku untuk pulang, dan aku tentunya akan membuatnya semakin bangga kepadaku.

Waktu keberangkatanku telah tiba, aku berangkat bersama kedua pemenang lainnya untuk bertanding membawa nama Indonesia. Selama di sana memang tidak diperkenankan untuk membawa telepon atau alat komunikasi lainnya, karena itu merupakan aturan yang harus diikuti. Di sana aku bertemu dengan banyak anak-anak dari negara lain seperti Singapura, Korea, Thailand, dan lain-lain. Selain berkenalan aku juga melakukan berbagai aktivitas bersama mereka seperti berenang, bermain tennis meja, bermain kartu sampai memperlajari bahasa satu sama lain. Hal ini merupakan hal yang paling seru dan aku tidak sabar untuk menceritakanya ke Reno.

Seminggu telah berlalu, sudah waktunya aku pulang ke Indonesia. Aku tidak pulang dengan tangan kosong, melainkan aku membawa medali perak yang aku peroleh dari pertandingan tingkat internasional pertamaku. Orangtuaku menjemputku di bandara, tetapi mengapa muka mereka sangat lemas?
“Ibu, Ayah? Kok lemas? Nggak seneng ya anaknya pulang bawa medali perak?” tanyaku dengan bingung. Aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu.
“Mmm.. Rana yang sabar ya..” kata Ayah.
“Ada apa yah?” tanya ku.
“Reno… Dia sudah tenang di sana..” jawab Ibu.
“Di mana? Di mana bu reno? Di sana mana?” aku kembali bertanya.
“Reno sudah meninggal nak..” kata Ibu.
Air mata terus jatuh selama perjalanan menuju rumah Reno.
“Kenapa Ayah dan Ibu tidak memberi kabar lewat Kak War? Kak War kan bawa telepon.” kataku dengan tersedu-sedu.
Namun aku tidak mendapat jawaban dari Ayah dan Ibu.

Sesampainya di rumah Reno, Killa bercerita kepadaku bahwa Reno sudah lama mengidap penyakit jantung. Penyakitnya itu yang menyebabkan kematiannya. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya bisa menangis, memeluk Killa dan melihat jasad Reno yang wafat dalam keadaan tersenyum.
“Apa ini yang sebenarnya yang aku inginkan? Kehilangan masa remajaku karena aku sudah terikat, sudah berkomitmen pada bulutangkis? Apakah aku bisa melakukan ini semua tanpa Reno?” pertanyaan-pertanyaan ini kemudian terlintas di benakku dan membuatku berfikir lebih dalam.

Kejadian ini mengakibatkan kesedihan yang mendalam untukku, Reno adalah orang pertama yang aku cintai dan sekarang dia hilang untuk selamanya. Kondisiku semakin menurun dan keyakinanku untuk tetap lanjut menjadi seorang atlet pun tergoyah dan aku memutuskan untuk berhenti dari bulutangkis.

“Rana, apapun keputusanmu Ayah dan Ibu akan tetap mendukung karena bagaimanapun juga kami tidak bisa memaksamu. Selama ini kami hanya mengarahkanmu, tidak sama sekali memaksamu namun sangat disayangkan saja jika kamu tidak menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai.” kata Ibu dan Ayah.
“Terimakasih Ayah dan Ibu, tapi aku masih terlalu sedih untuk semua ini. Keputusanku sudah bulat.” jawabku.
“Apakah sebaiknya tidak difikirkan dulu dengan matang?” tanya Ibu.
“Tidak Bu, cukup aku tidak ingin membicarakannya lagi.” jawab Rana dengan tegas.

2 tahun kemudian, aku pun menyesal. Seharusnya aku berfikir lebih dalam dan matang sebelum memutuskan pilihan yang aku ambil. Reno hanyalah sebuah kenangan manis dari kisahku, aku telah merelakan masa depanku dan itu semua hanya karena satu kesedihan. Kini aku sudah bisa menerima bahwa Reno sudah tiada dan penyesalanku memuncak ketika aku teman-teman bulutangkisku yang dulu ikut lolos ke pertandingan di China kini masuk ke universitas unggul dan mendapatkan beasiswa karena mereka adalah seorang atlet profesional. Itu merupakan satu keputusan untuk selamanya. Untuk selamanya akan kusesali.

Cerpen Karangan: Sylvania Aryana Harlan

Cerpen Satu Keputusan Untuk Selamanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lost

Oleh:
Ini bukan kisah cinta yang penuh drama atau kisah action yang penuh laga. Tetapi ini hanyalah sepenggal kenangan yang dapat dibagikan sebagai sejarah. Dimana sejarah itu menyadarkan Thomas akan

When Lost My Romeo

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama gua memasuki masa SMA, rasanya yaaa senang sekali, karena gua berharap semoga saja gua akan mendapatkan cinta pertama gua di sini. Nama gua Devan

Diterimakah Taubatku Mbok?

Oleh:
“Hallo, ya Mas, iya ya, emmuach” kututup telepon digenggamanku yang sudah satu jam ini menemani dan menempel di telinga. Seseorang lelaki langganan memintaku untuk melayaninya malam ini. Kuberanjak bangun

Kisah Cinta Malaikat Kecil

Oleh:
Panggil saja Pratiwi seorang gadis desa yang baru saja merantau di Jakarta. Dia gadis tomboi yang dulunya begitu badung akan tetapi ia sangat baik. Saat ia berada di kota

Di Balik Embun Pagi

Oleh:
Budi keluar rumah merasakan dinginya embun pagi dan Budi melihat seorang wanita di pinggir jalan sedang kedinginan, karena iba Budi pun menghampiri wanita itu. “Ayo ke rumahku di sini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *