Selamat Tinggal Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 December 2017

Suasana Restoran sangat ramai. Terlihat dari padatnya pengunjung pada malam minggu. Tidak hanya orang dewasa, para muda-mudi pun banyak yang datang untuk menikmati malam minggu mereka. Diantara kesibukan aktifitas Restoran, seorang pramu saji bernama Arthur terlihat paling sibuk mengantarkan pesanan makanan para pengunjung. Sesekali ia mesti merapatkan pinggang dan menembus kursi-kursi yang membuat sesak Restoran itu.

Senyuman selalu melekat di wajahnya setiap ia meletakkan pesanan di meja. Sebenarnya Arthur ingin menghabiskan malam minggunya bersama pacarnya, Giska. Tapi itu tidak mungkin karena Arthur tidak mau membolos kerja lagi hanya untuk keinginannya itu. Arthur harus rela malam minggunya ia habiskan untuk bekerja.

Raut kelelahan begitu jelas terlihat di wajah Arthur. Rasa cemas mulai menyelimuti dirinya. Ia takut kalau Giska akan marah karena tidak bisa mengajaknya pergi. Arthur mencoba menghubungi Giska namun tidak dijawab oleh Giska.
“ke mana Giska? Kenapa dia tidak menjawab teleponku?” Tanya Arthur dalam hati

Sementara itu, Giska yang sedari tadi dikhawatirkan Arthur sedang asyik di Hotel dengan seorang pria yang tidak lain adalah selingkuhannya. Pria itu bernama Alaric, pengusaha muda yang kaya raya dan juga tampan. Alaric mempunyai semua apa yang Giska butuhkan. Wajah yang cantik dan paras yang menawan membuat semua pria takluk pada Giska termasuk Alaric. Giska memanfaatkan itu semua. Giska minta apapun pada Alaric yang tidak bisa ia dapatkan dari Arthur yang hanya seorang pelayan Restoran.

Handphone Giska terus menerus berbunyi. Ada panggilan masuk ke HP-nya. Di layar tertulis nama Arthur. Itu telepon dari Arthur namun Giska tidak mempedulikannya. Giska justru mematikan handphonnya. Ia tidak mau kencannya dengan Alaric jadi terganggu.

Keesokan harinya Arthur datang ke rumah Giska untuk meminta maaf dan mengatakan suatu hal yang sedari dulu ingin ia utarakan. Berulangkali bel ia tekan, namun tidak ada satu orang pun yang keluar. Rumah Giska tampak sepi seperti tidak ada tanda kehidupan di dalamnya. Arthur mencoba menghubungi Giska namun telepon Giska tidak aktif.

Sementara itu Giska baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Giska tidak ingat apa yang ia lakukan semalam. Ia mencoba mencari Alaric tapi tidak ada. Ia hanya menemukan sebuah surat di atas meja tidak jauh dari tempatnya tertidur. Surat itu berisi pesan dari Alaric dan sebuah cek.
“Minggu depan aku akan nikah. Pergilah! jangan pernah muncul lagi dalam kehidupanku!. Itu cek 50 juta untukmu. Terimakasih untuk semalam.”

Giska menangis. Ia tidak tau apa yang dirasakannya sekarang. Kecewa, marah, benci, sedih membaur jadi satu. Ia tak menyangka akan seperti ini jadinya. Alaric pergi begitu saja mencampakannya. Giska mencari telepon genggamnya, terlihat puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab dari Arthur. Giska tidak tau harus apa lagi. Dia langsung mengirimkan pesan singkat pada Arthur.
“Jemput aku di Hotel Tirta sekarang”

Arthur yang sedari tadi menunggu Giska langsung mengendarai sepeda motornya setelah membaca pesan itu. Giska terlihat berdiri di depan hotel menunggu kedatangan Arthur. Selang beberapa menit kemudian Arthur tiba di tempat yang dimaksud namun sayangnya posisinya berseberangan dengan posisi Giska berdiri. Arthur mencoba berbelok, tiba-tiba…..
“Brekkk”
Sebuah mobil box yang hilang kendali menabrak dirinya. Tubuh Arthur terpental cukup jauh dari tempatnya semula. Giska yang menyaksikan pacarnya tertabrak, shock dan langsung menghampiri tubuh Arthur.

“Gis…ka a…ku min…ta ma…af” Arthur memberikan sebuah kotak kecil dan minta maaf dengan nafas yang tersengal-sengal.

Giska membuka kotak itu. Kotak itu berisi cincin dan sebuah kertas bertuliskan “Will you marry me?”. Air matanya semakin tak terbendung. Orang-orang setempat bergegas membawa Arthur ke rumah sakit tapi naas nyawanya tidak bisa tertolong. Giska menangis terisak-isak sambil memeluk tubuh Arthur yang bersimpah darah. Giska marah pada dirinya sendiri. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang menyiakan Arthur yang tulus mencintainya hanya untuk mengejar cinta Alaric yang semu. Kini ia harus terima kenyataan bahwa Arthur pergi untuk selamanya.

Cerpen Karangan: Mohammad Supyann
Facebook: Mohammad Supyann II

Cerpen Selamat Tinggal Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senja Yang Abadi

Oleh:
Malam ini sungguh sunyi.. Hanya terdengar suara detingan jam di sudut ruang keluarga. Semerbak tiupan angin membelalak jendela rumah. Percikan hujan di luar membuatku gelisah nan gundah Malam ini

Kini Aku Baru Menyadari

Oleh:
Ini adalah salah satu dari kisah nyata yang memang ku alami sendiri. Yang tak mungkin bisa terelakkan untuk siapa pun yang ditujunya. Karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana,

Fair and Early

Oleh:
Perkenalkan nama aku Kinara Az Zahra Putri. Biasanya aku dipanggil Nara oleh orang-orang di sekitarku. Aku masih duduk di bangku kelas 8 SMP. Aku adalah anak tunggal dari pasangan

Wika Pergi

Oleh:
Panggil saja aku Aki, sebagaimana Wika, wanita yang membuatku menahan rindu bertahun-tahun. Aku sedang memandanginya sekarang. Dia terlihat sangat bahagia, sesekali mengangkat Arka yang senyum-senyum di pangkuannya. Memberikan gelitikan

Dermaga Tania

Oleh:
Tak kuasa Tania menggenggam tangan suaminya yang kekar itu. Air matanya jatuh menggelinang membasahi tangan mungil lembutnya itu. Pintu depan sudah terbuka lebar. Angin laut berhembus kencang menerpa gubuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *