Sesal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 17 August 2015

“Kenapa sih, selalu aja kayak gini? Selalu aja masalah kecil digede-gedein tak bisakah kau sedikit aja mengerti?”

Bagai disambar halilintar yang begitu dahsyat, kata-kata itu mampu membuat seluruh ruang dalam hatiku nyeri, sakit. Apa lagi cowok yang berkata seperti itu –yang kini sedang berdiri dengan tegapnya di hadapanku– adalah Aldi pacarku.

Baru setengah tahun kami menjalin komitmen untuk berpacaran. Tapi akhir-akhir ini agaknya hubungan kami mulai tidak baik. Dan mungkin benar apa yang disampaikan Aldi barusan, semua ini mutlak karena kesalahanku yang tak pernah bisa diajak bicara secara baik-baik. Masalah yang harusnya bisa diselesaikan tapi aku besar-besarkan. Aku hanya bisa menghembuskan napas panjang. Berharap, semua bebanku akan larut bersama tiap keping partikel gas yang aku hembuskan.

“Mungkin, itu benar Maaf.” Kataku dengan suara tercekat yang hampir tak dapat didengar.

Tak sanggup lagi aku menatap Aldi. Wajahku hanya bisa tertunduk lesu dengan raut wajah yang begitu menyedihkan. Aku lantas berbalik dan pergi meninggalkannya dengan perasaan yang begitu kacau. Terlalu kacau bahkan untuk dapat berpikir jernih. Sadar akan setiap kekurangan diriku. Yang tak pernah bisa berlaku dewasa. Tapi, dalam lubuk hatiku yang paling dalam betapa aku begitu menyayanginya. Mungkin aku hanya nggak bisa menunjukkan rasa sayangku untuknya. Oh, betapa bodohnya diriku.

“Bella, tunggu Bel kenapa harus pergi? Tak bisakah kita berbicara secara baik-baik?” Teriak Aldi dengan suara yang begitu kaya akan kasih sayang namun suaranya tak sekaya dulu. Agaknya suara yang penuh akan rasa kasih sayang kini telah berangsur-angsur berkurang. Mungkin rasa itu sebentar lagi akan lenyap.

Pikiranku semakin kacau, kutapaki inchi demi inchi jalanan ‘tuk dapat sesegera mungkin pulang ke rumahku. Aku hanya ingin beristirahat sejenak dan mengembalikan tiap lembar memoriku dalam keadaan fresh. Agar aku dapat berpikir jernih, agar aku dapat melihat betapa aku menyayangi Aldi sepenuh jiwaku dan setulus hatiku.

Treerrth, treerrth,
Terdengar suara ponselku bergetar tanda ada sms yang masuk. Kuhembuskan napasku dalam-dalam setelah mengetahui pengirim smsya –Aldi-.

“Bel, maaf mungkin kata-kataku tadi terlalu menyakitkan untukmu. Tapi aku sungguh tak bermaksud seperti itu.”

Aku sadar, kata-katanya memang sangat tepat walau itu harus menyakitiku. Ku hembuskan kembali napasku dalam-dalam. Bahkan mungkin terlalu dalam hingga membuat deretan tulang rusukku begitu nyeri. Untuk saat ini aku butuh ketenangan untuk mengembalikan keadaan seperti semula. “Mungkin lebih baik kita nggak saling berhubungan dulu,” pikirku saat itu.

Kenapa aku tak bisa sedikit saja bersikap dewasa? Kenapa aku selalu membesar-besarkan masalah yang harusnya dapat diselesaikan dengan mudah? Pertanyaan-pertanyaan itu semakin bergelayut dan memenuhi ruangan dalam seluruh alam pikirku.

Dua hari berlalu, tanpa kabar dari Aldi. Aku pun berniat untuk meminta maaf padanya. Aku sadar, ini sepenuhnya kesalahanku yang nggak bisa bersikap dewasa. Berulang kali aku kirim sms tapi tak ada balasan darinya. Hal ini membuatku semakin merasa sangat bersalah padanya. Memang penyesalan datangnya pastilah terlambat. Serpihan sesal itu membuatku semakin merasakan nyeri yang begitu menggunung.

Tiga hari bahkan satu minggu berlalu, benar-benar tanpa kabar. Kegelisahan ini semakin menjadi-jadi. Rasa takut kehilangannya semakin membuat dadaku terasa sangat nyeri. Pikiran-pikiran negatif semakin menghantui hati dan pikiranku. Aku harus melakukan sesuatu, aku nggak boleh diam aja dengan keadaan seperti ini. Tekadku tumbuh dalam hatiku. “Tapi, apa yang harus aku lakukan?”

Semenit, dua menit, tiga menit berlalu tanpa ada sekelumit pun ide yang hinggap dalam belahan otakku. Apa yang harus aku lakukan untuknya agar dia terkesan padaku dan mau memaafkanku?
Twiing!! Akhirnya sebuah ide hinggap dalam ranting otakku. “Aku harus ke rumahnya, mendatanginya dengan mengendarai sepeda, jarak rumahku dan rumahnya lumayan jauh juga sekitar 15 km dia pasti akan melihat kesungguhan hatiku melalui tiap kayuhan sepedaku.” Pikirku saat itu.

Tanpa pikir panjang lagi, kukeluarkan sepeda butut yang emang jarang aku pakai. Kukayuh dengan penuh semangat dan rasa antusias akan pemberian maaf dari Aldi. Semoga Aldi senang dan terkesan dengan apa yang aku lakukan ini. Dia pasti memaafkanku dengan sepucuk senyum yang merekah seperti dulu.

“Sedikit lagi Bella, tinggal sedikit lagi kamu akan bertemu dengan Aldi. Sebentar lagi kamu akan melihat kembali senyum yang merekah dari bibirnya seperti dulu. Senyum yang aku suka. Sebuah senyum yang dapat membuatku bahagia.” Kataku pada diriku sendiri untuk memberi semangat pada diri sendiri.

Tepat, tak beberapa lama kemudian pun aku sampai di depan rumah Aldi. Terlihat sosok cowok yang sangat aku kenali, sedang bersantai di depan rumahnya ditemani oleh seorang wanita paruh baya yang masih terlihat tegar pasti itu Ibunya. Dan seorang cewek cantik yang kelihatannya usianya tak beda jauh dari Aldi. Kelihatannya Aldi sangat bahagia. Sesekali dia tersenyum mendengarkan cerita si cewek cantik itu.

Apakah aku harus merusak suasana itu? Kuurungkan niatku untuk bertemu Aldi di rumahnya. Kukayuh lagi sepedaku menuju sebuah taman yang letaknya tak jauh dari rumah Aldi.
Ku hempaskan semua beban yang bergelayut dalam benakku. Berbagai kegalauan menerpaku tanpa ampun. Perasaan yang begitu tak menentu dan sulit sekali didefinisikan dalam kata maupun sajak. Hanya hatiku sendiri yang mengerti rasa ini. Rasa yang begitu mengganggu dan membebani tiap hembusan napas ini.

Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit berlalu tanpa makna. Aku yang hanya bisa terdiam termenung meratapi serpihan sesal yang kini hinggap dalam benakku. Aku masih memandang hampa tiap sudut taman yang mulai ramai dengan muda-mudi yang ingin menghabiskan waktu berdua. Sedang aku hanya sendiri meratapi serpihan sesal ini.

Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada dua orang muda-mudi yang sedang menghabiskan waktu berdua. Ku kerjap-kerjapkan mataku seolah tak percaya dengan apa yang sedang ada dalam penglihatanku. Aku kenal dengan sosok cowok itu. Bahkan amat sangat mengenal melabihi diriku sendiri. Aku tak percaya, amat sangat tidak percaya. Orang yang ingin aku temui hari ini sedang berada di depan mataku bersama cewek cantik yang tadi sempat ku lihat di teras rumahnya. Mungkin itu sepupu atau saudaranya karena mereka terlihat begitu dekat. Bahkan amat sangat dekat.

Aku berniat untuk menghampiri mereka, sekedar menyapa mereka. Agaknya, sebelum aku sempat sampai di hadapan mereka, Aldi mengetahui kehadiranku. Sepintas ada mimik wajah kaget dan tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Seakan hal yang mustahil aku berada di hadapannya saat ini. Kini raut wajahnya resah, gelisah dan tak terbaca. Ku coba memberanikan diri untuk menyapa mereka.
“Hai, Aldi.” Sapaku dengan senyum terbaik yang pernah aku berikan padanya.

Aldi semakin gelisah, mendengar sapaanku. Sedetik, dua detik tiga detik berlalu hening, sunyi tanpa kata yang terucap.

“Siapa Al?” Cewek cantik yang berada di sampingnya pun mencairkan keheningan yang sempat singgah dalam pertemuan kita yang tak terduga. Aldi mengerjap cepat dan segera bersuara dengan nada yang tercekat dan agak terbata.

“Emm. Kenalin Bel, ini Tiara pacarku. Tiara ini Bella.”

PYYAARR!! Rasanya seperti ada yang jatuh dan pecah berkeping-keping di dalam ruang hatiku. Aku tak dapat berpikir jernih lagi. Aku tak percaya dan tak mau percaya dengan apa yang terucap dari bibir Aldi. Jadi, cewek itu adalah pacarnya? Lalu aku dianggap siapa olehnya? Tanpa pikir panjang lebar, aku pun pergi meninggalkan mereka. Tatapanku hampa, hatiku hancur tak menentu benar-benar mati rasa.

Apakah ini jawaban dari seluruh kegundahanku? Bahwa kini Aldi sudah punya penggantiku? Apakah kini aku sudah benar-benar kehilangannya? Deretan tulang rusukku yang tersusun rapi kini mulai terasa nyeri, sesak hingga tak sanggup untuk menampung udara. Mataku mulai berkaca-kaca. Air mata yang sedari tadi mengerang ingin keluar tapi tetap ku bendung, kini hatiku sudah tak mampu lagi membendungnya. Aku terisak dan air mata benar-benar mengalir dengan derasnya. “Kenapa?” Hanya pertanyaan itu yang bergelayut dalam benakku.

“Maaf.” Tiba-tiba terdengar suara yang begitu ku kenal. Bahkan amat sangat aku kenal. Yang kini duduk di sampingku. Ku lihat sekejap mimik wajahnya pun terluka dan tak terbaca.

“kenapa?” Kataku dengan nada terisak. Begitu menyedihkan.
“Maaf, aku yang telah melukaimu. Maaf aku yang telah menyakitimu. Sungguh aku tak bermaksud untuk melukaimu.” Bibirnya tak mau berhenti untuk meminta maaf.
“Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa kamu tahu rasanya seperti apa?” Kataku yang makin terisak dan sangat menyedihkan.
“Aku udah bosan dengan sikapmu yang nggak pernah mau bersikap lebih dewasa dan mengerti. Selalu membesar-besarkan masalah. Kamu selalu melampiaskan perasaan kesalmu padaku padahal itu bukanlah salahku.”

Mendengar penuturannya yang begitu panjang lebar, membuat dadaku semakin sesak dan susah bernapas. Rasanya seperti ada bom yang sedang meledak dan memporak-porandakan seluruh ruang dalam hatiku. Sakit! Perih! Dan begitu menyesakkan.

“Maaf, karena tak pernah membuatmu merasa bahagia bersamaku. Dan semoga kamu bahagia dengan pacarmu yang sekarang.” Aku pun pergi dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Aku tak ingin terlihat lebih menyedihkan di hadapannya.

Ku raih sepedaku dengan segenap emosi yang sulit ku kendalikan. Ku kayuh dengan kencang pedal yang menancap dalam sepedaku. Ku kayuh dan terus ku kayuh dengan air mata yang tak terbendung lagi.

Tuhan jika memang dia bukan yang terbaik bagiku, segera tunjukkan rencanamu yang lebih baik. Dan jangan biarkan aku terlalu larut dalam kesedihan karena cinta yang terlalu dalam ini.

The End

Cerpen Karangan: Laila
Facebook: Laila Istighfaroh

Cerpen Sesal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Shila ku

Oleh:
Namaku Bian, ini kisahku dengan satu-satunya wanita yang ku sayang bertahun-tahun hingga saat ini, saat ku mengenangnya bersama semua rasa kecewaku… Dia cinta pertamaku, sekaligus cinta monyetku karena aku

Senyummu Adalah Semangatku

Oleh:
Bagas bertemu dengannya saat ia sedang Terapi di rumah sakit. Ia gadis bernama Gloria Chindai Lagio. Bagas memanggilnya Cindai. Cindai mengidap penyakit Leukemia atau yang berarti Kanker Darah. Kehidupannya

Cintaku Kini Telah Pergi

Oleh:
Perkenalan kami bukanlan sebuah kejadian yang disengaja, awal perkenalan ku dari seorang teman ku hendrik saat chat lewat media sosial facebook, mereka saling berkomentar pada komentar tersebut, hendrik menanyakan

Special Day

Oleh:
Pagi yang cerah untuk hari yang istimewa. Yap! Hari ini tepat tanggal 23 Desember, Grace dan David akan merayakan hari jadinya yang ke-1 tahun 11 bulan. Grace yang notabene

Semuanya Milikmu Kembaranku

Oleh:
Sungguh membosankan sekali hari ini. Nilai metematika aku jeblok, terus aku harus nganter temen sekelas aku ke ruang piket, ceritanya sakit terus mau pulang, tapi enggak tau juga sih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *