Sesuatu yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 3 January 2017

Udara pagi yang begitu menusuk tulang. Seorang pemuda dengan perawakan yang sempurna merekatkan jaket pada tubuhnya. Dia mulai melangkahkan kaki ke sebuah tempat yang sebelumnya belum pernah ia datangi.
“Sekolah baru!”, Ujar Randi dengan semangat yang tinggi. Hari ini adalah hari pertama Randi masuk sekolah di sekolah barunya.

Randi berjalan dan mencari ruangan kelasnya, entah mengapa semua orang banyak yang memperhatikan Randi dengan tatapan yang aneh bagi Randi. Terutama gadis-gadis yang berusaha untuk mencari perhatian padanya. Dengan sekejap, Randi menjadi idola baru di sekolah itu.

Hari demi hari ia lewati. Ia tumbuh menjadi orang yang tak peduli terhadap perasaan orang lain karena menganggap dirinya adalah segalanya. Kulit kuning kecoklatan, hidung mancung, bibir mungil dan mata yang begitu indah membuat ia semakin menawan. Tak heran bila banyak gadis berlomba-lomba untuk mendapatkan Randi. Si pemuda dengan seribu pesona.

Suatu hari, ketika jam istirahat tiba, Randi melihat seorang gadis yang belum ia temui sebelumnya sedang duduk di sebuah akar pohon dan bersandar di batangnya. Tatapan gadis itu kosong. Ia memakai pakaian sekolah yang lusuh dan rambut yang dibiarkan terurai berantakan.

Randi mulai penasaran dengan gadis ini, mengapa gadis ini jauh berbeda dari gadis lainnya yang tampil rapi dan selalu berias. Entah apa yang berada di pikiran Randi saat itu, ia mencoba untuk mendekatinya. Kaki yang sedikit berjinjit agar tak terdengar gesekan sepatu dengan tanah. Perlahan Randi mencoba untuk duduk di sampingnya dan mengajak dia untuk berkenalan.

“Hai, namaku Randi” ucap randi seraya menatapnya. Si gadis tak memberikan respon apapun hanya menatap kosong ke depan. Ia tak menoleh sedikitpun. Setelah agak lama, Randi menarik napas panjang dan mengajaknya berkenalan untuk yang kedua kalinya. Sang gadis tak bergeming sedikitpun. Merasa tidak dihargai, Randi berdiri kemudian berlalu dari gadis itu.

Berhari-hari Randi berusaha mencari cara untuk menuntaskan rasa penasarannya tapi kali ini sepertinya Randi sangat muak karena gadis yang memiliki mata coklat itu selalu diam. Ia mencari cara agar gadis itu memberikan respon padanya. Randi membuat fitnah dan tersebar luas kepada semua siswa tentang gadis si pediam. Semua orang merasa jijik dengan dirinya. Caci maki sudah terlalu sering didengar olehnya. Tapi, dia rasanya seperti orang yang buta, bisu dan tuli. Tak memberikan respon apa-apa. Bahkan tanpa emosi dan perubahan ekspresi wajah sedikitpun.

Bel istirahat berbunyi, Randi keluar dari kelas dan langsung menuju kantin, perutnya sudah tidak kuat untuk menahan lapar. Langkah kakinya ia percepat agar makanan di kantin masih tersedia. Maklumlah, sekolah Randi ini memiliki banyak murid dan biasanya makanan akan habis kurang dari sepuluh menit. Ketika ia sedikit berlari kecil di koridor sekolah tak sengaja ia melihat si gadis pendiam sedang mencium boneka kecil yang usang, di bawah pohon yang sama ketika ia pertama kali melihatnya. Rasa lapar yang melanda hilang seketika. Ia berubah tujuan, sekarang ia akan mendekati gadis itu dan mengambil bonekanya. Tanpa berpikir panjang, Randi melancarkan tujuannya. Refleks gadis itu berdiri mencoba untuk mengambil bonekanya dari tangan Randi tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dengan lihai Randi terus memindahkan boneka itu dari tangan kanan ke tangan kiri, kembali lagi dan begitu seterusnya. Tapi tak lama, gadis itu menangis dan berkata, “kembalikan padaku!”, Randi kaget dan tak percaya ia akhirnya membuat gadis itu bicara. Untuk membalaskan kemuakannya pada si gadis lusuh itu Randi mengeluarkan sebuah korek gas dan membakar boneka usang berwarna merah luntur itu di hadapan mata sang gadis. Matanya yang coklat terbuka lebar, wajahnya berubah pucat. Dia terdiam mematung, tak percaya. Setelah itu, Randi pergi meninggalkannya bersama boneka yang telah berubah hitam ditelan api.

Dua minggu berlalu, setelah itu Randi tak pernah melihat gadis pendiam itu lagi. Setiap hari ia mengecek pohon tua tempat gadis itu terdiam dan memandang sekitar dengan pandangan kosong. Randi gelisah dan merasakan khawatir. Meskipun ia tak mengakui rasa itu, tapi jelas ada dalam hatinya. Diam-diam, ia mencari informasi tentangnya. Rasa itu semakin kuat dalam diri Randi.

“Tok! Tok!”, suara ketukan pintu. Seorang laki-laki tua membukakan pintu dengan perlahan, menatap tamunya sebentar dan mempersilahkan tamunya masuk ke dalam sebuah rumah tua yang kumuh.
Setelah melewati obrolan yang cukup panjang, Randi akhirnya tahu, semua pertanyaan dalam benarnya terjawab sudah, sang gadis pendiam itu bernama Muthia. Laki-laki tua lumpuh yang sekarang berada di hadapannya adalah paman Muthia. Paman Muthia bercerita kepada Randi mengenai apa yang menimpa Muthia sehingga membuat sikap Muthia tak normal seperti remaja pada umumnya. Muthia adalah anak sematawayang kakak perempuan laki-laki lumpuh itu. Ibu Muthia meninggal saat ia berumur 5 tahun. Meninggal karena menyelamatkannya dari kobaran api. Rumah Muthia terbakar hebat. Ibunya mengalami luka yang cukup parah. Tim medis tak bisa berbuat apa-apa lagi. Saat itu, dalam detik terakhirnya, ia menoleh pada Muthia, dengan tenaga yang tersisa ia meraih sesuatu dalam sakunya. Dia memberikan boneka kecil seraya mengatakan, “Anakku, Muthia. Jaga dirimu baik-baik sayang, maafkan ibu tak bisa mendampingimu lagi. Ini hadiah kecil dari ibu. Selamat ulang tahun anakku”. Setelah mengucap kata-kata terakhirnya, ia menghembuskan nafas terakhir.

Kini, Randi tahu, mengapa si gadis pendiam itu tak masuk sekolah lagi. Itu semua karena ia kehilangan semangat hidup kecilnya. Boneka yang ia jaga selama ini hancur karena kobaran api pula.
Randi sungguh kecewa dengan dirinya sendiri. Mata Randi berkaca-kaca saat mendengar kelanjutan cerita dari kehidupannya. Kehidupan yang sungguh sulit dan rumit. Randi meminta maaf pada paman Muthia karena pernah membuat Muthia terluka. Randi kemudian memohon kepada laki-laki tua itu agar ia dapat menemui Muthia.

Seorang gadis kini terbaring di tempat yang seadanya, di bawah gundukan tanah. Tertulis nama Muthia di sebuah batu nisan. Perlahan Randi berlutut dan memegang batu nisan itu dengan kuat. Randi tak percaya Muthia telah tiada. Orang yang selama ini ia sengsarakan selama akhir hidupnya.
Dengan tetasan air mata dan bibir bergetar, Randi mengucapkan sesuatu yang sangat dalam, tentang apa yang ada di hatinya. “Muthia, maafkan aku yang telah memusnahkan semangat kecilmu. Seharusnya aku tahu, aku tak boleh menilai orang lain tanpa mengetahui seberat apa beban yang ia tanggung.”

Cerpen Karangan: Vannisa Lestari
Facebook: Dianita Lestari
Pelajar Di sekolah SMK Favorit Pelabuhanratu

Cerpen Sesuatu yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semangat Yang Tak Pudar

Oleh:
Sore ini angin terasa lembut saat ia membelai dan dunia seakan sangat sejuk. Seorang remaja laki-laki bernama Ferdian asyik duduk di teras rumahnya. Ia memainkan seruling peninggalan ayahnya yang

Arrrggghhh!

Oleh:
Di pagi hari yang cerah, aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Kurapihkan pakaianku dan ku periksa kembali buku-buku yang akan aku bawa. Dari lantai bawah terdengar suara wanita

Aku Benci Bulan

Oleh:
Langit malam ini terlihat begitu indah, bintang bertaburan di atas langit gelap yang membentang. Terlihat sangat indah karena tak ada bulan di atas sana. Aneh ya, tak ada bulan

Maafkan Aku Nike

Oleh:
“Nik, kenapa kamu cepat banget sih perginya padahal aku belum sempat minta maaf” tangis Lulu di samping nisan bertuliskan NIKE NIRMALA. “seharusnya aku mendengar penjelasanmu dulu Nik aku menyesal

Tunggu Aku di Batas Senja

Oleh:
Pagi itu Ara berlari menuju kolam ikan di samping rumahnya. Seperti yang biasa ia lakukan ketika pagi bertemunya, ia menemui ikan mas yang ada di kolam ikan samping rumahnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *