Sisi Buruk Ketagihan Selfie

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 March 2016

Matahari telah terbenam dan aku masih ada di sini, aku harus segera pulang. “Huft, tugas kelompok ini membuatku susah saja,” gerutuku sambil berjalan pulang. Ku ambil sebuah benda berbentuk persegi panjang di dalam tasku yaitu, android. Jari-jariku mulai bermain, dan aku mulai untuk membuat status terbaruku di sore hari ini, “Baru pulang setelah kerja kelompok.” criiet.. Pintu telah ku buka dan keadaan rumah sungguh berantakan. “Baru pulang ada tugas lagi. Untung kos-kosan ini tidak terlalu luas, jadi aku tidak susah untuk membersihkannya,” omelku sehabis pulang sekolah.

Tak lupa, kembali aku membuat status terbaru di facebookku. “Sibuk.” itulah statusku saat ini. Bagiku tiada hari tanpa status. Dan media sosial sangat penting dimana pun aku berada dan apa hal yang sedang ku lakuakan. Ku hempaskan tasku dan mulai mengganti pakaianku. Ku lipat selimutku dan ku rapikan bantal-bantal yang ada di ranjang. Ku susun semua buku yang ada di atas meja belajarku. Dan terakhir, tinggal bagian menyapu.

“Selesai..,” ucapku dengan penuh gembira. “Hmm.. Tapi bau badanku sudah menyengat, aku harus segera mandi.” ucapku pada diriku sendiri. Ku hidupkan keran di kamar mandiku sehingga airnya pun mengalir menuju bak mandiku, ku tunggu beberapa menit untuk menunggunya penuh. Sambil menunggu, aku bermain-main dengan androidku dengan membuka bbmku. “Hmm, tumben gak ada yang menarik?” tanyaku dengan heran pada diriku sendiri. Jariku masih saja bermain-main dan aku pun membuka whats app.
“Tumben, juga gak ada yang menarik di sini,” ucapku dengan bingung.

Facebook adalah media sosial yang akan ku buka selanjutnya. Aku terkejut ketika ku membuka facebook. Banyak orang yang menglike status-statusku di facebook. Ku hentikan sejenak facebookku karena air keran di kamar mandi yang ku isi telah penuh. Waktu mandiku telah selesai, tapi sekarang aku bingung karena tidak ada hal lainnya yang akan ku lakukan. “Oh yaa, kan aku punya tugas bahasa indonesia dan matematika,” ingatku secara spontan. “Tapi biarkanlah, juga gurunya baik. Ngapain cape-cape buat tugasnya.” jawabku dengan santai. Aku pun hanya bermain-main dengan androidku.

Tanpa diduga, listrik di kos kosanku padam. Sontak aku terkejut, “Ahh.. Ternyata mati lampu. Bikin kaget saja.” ku ambil lilin di dalam laci meja belajarku dan ku hidupkan lilin tersebut. Tanpa berpikir panjang, aku memiliki ide untuk selfie dalam keadaan mati lampu. “Nah ini kan sedang mati lampu. Jarang-jarang nih, selfie di mati lampu begini. Pasti hasil fotonya keren.” ucapku dengan bahagia. Aku memulai selfie dengan gaya-gayaku yang kocak. Cklik, cklik, cklik, cklik, cklik suara kamera dari androidku terus berbunyi tanpa henti. Aku selfie dengan wajah tersenyum, sedih, nangis, marah, kesal, galau, malu, dan masih banyak lagi. Di tengah keseruanku berselfie, tak sengaja ku melihat bayanganku di dinding. Dan tanpa berpikir panjang, ingin rasanya aku berfoto bersama dengan bayanganku.

“Kalau berfoto bersama bayanganku, pasti hasilnya lebih keren.” ucapku dengan bahagia. Ku letakkan androidku di dekat cahaya lilin yang berada di meja belajar, agar hasil foto yang dihasilkan lebih keren. Aku bepose dengan gaya-gaya yang unik seperti, membuat bayangan burung, membuat bayangan ular, membuat bayangan kelinci, membuat bayangan angsa dari tanganku dan masih banyak lagi. Hal ini ku lakukan untuk mendapat like lebih banyak lagi dari apa yang ku dapatkan tadi pada status-statusku di facebook. Ketika aku membuat bayangan burung, tanpa sengaja tanganku menyenggol lilin yang berada dekat dengan pakaian dan meja belajarku. Di dekat meja belajar, terletak androidku yang masih merekam aksiku. Dengan cepat, api menyambar baju, buku buku sekolahku, dan termasuk androidku.

“Oh tidak, androidku.” aku begitu panik, dan tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil androidku yang telah terbakar. “Ah, tanganku terbakar. Begitu bodohnya aku, itu kan api.” tanpa diduga, androidku yang telah terbakar meledak dengan suara yang keras sehingga menarik perhatian tetangga-tetangga di sekitar rumahku.

Dengan berpikir lebih tenang, aku berhati-hati ke luar dari kos-kosan dan meminta tolong kepada seluruh tetangga untuk memadamkan kobaran api di dalam kamarku. Puluhan orang di sekitar rumahku, membantu untuk memadamkan api yang ada di kamarku dan aku turut membantu dengan segera mencari ember dan mengisinya dengan air yang penuh. Satu jam berlalu akhirnya api berhasil dipadamkan dan aku berterima kasih pada seluruh tetangga yang ikut membantuku. Dan dari kejadian ini, aku menyesal.

“Bagaimana ini, kos kosanku masih lumayan bagus tapi buku-buku pelajaranku hangus, dan androidku sudah hancur. Karena keteledoranku, semua hal ini terjadi. Belum lagi, aku akan dimarahi oleh pemilik kos-kosan.” ucapku sembari diiringi tangis. “Aku sadar, yang ku lakukan salah. Aku terlalu meremehkan tugas dari sekolah, dan aku begitu asyik dengan media sosial. Aku ini egois, aku hanya ingin terkenal di sosial media dan melakukan segala cara untuk bisa menjadi terkenal. Tapi apa yang terjadi sekarang. Semuanya sudah hancur termasuk androidku. Dan mulai saat ini, aku harus berubah menjadi anak yang sopan, rajin belajar, dan disiplin,” kata motivasiku untuk diriku sendiri. Setelah kejadian ini, aku menjadi murid yang teladan dan aku juga sudah mulai bekerja. Dari penghasilan pekerjaanku, aku sudah dapat membeli satu android baru. Namun android ini akan ku gunakan dengan lebih bijak lagi seperti untuk kegiatan-kegiatan positif atau untuk hal hal yang berguna saja.

Cerpen Karangan: Nadila Rizky Amelia
Facebook: Nadila Rizky Amelia
Salam kenal Cerpenmu dan para pembaca atau penggemar cerpenmu. Saya Nadila dan ini adalah pengalaman pertama saya membuat cerpen. Jadi mohon dimaklumi bila ada kesalahan kata-kata. Sekian terima kasih.

Cerpen Sisi Buruk Ketagihan Selfie merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mau Tak Mau

Oleh:
Mendung terlihat dari aura wajahku setelah melihat nilai uts di raport yang tidak memuaskan dengan beberapa nilai merah di beberapa mata pelarannya. “kapan nilai kamu bisa bagus nay?” kata

Sakit

Oleh:
Andi prayoga brahmantara, itu lah Namaku. Singkat saja dengan andi, karena aku tidak ingin membuat pusing orang yang akan memanggilku. Ya benar, aku adalah seorang anak laki-laki yang berdarah

Menikam Hati (Part 4)

Oleh:
Setelah Sholat duhur kami pulang. Di rumah ada Ibu. “Na baru pulang nak.” Katanya. “Iya bu”. Aku langsung masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku di ranjang. Tepat kulihat pukul 14:35

Gara Gara Cabe

Oleh:
Siang itu adalah jam istirahat pertama kami dikelas 8 ini. Tidak terasa akhirnya kami semua, K’HITS dapat naik kelas dengan nilai yang lumayan bagus, malah ada yang bagus banget.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *