Snow White Avoiding the Cold

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Jepang, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 August 2021

Musim salju, es krim, kolam renang, hujan, kulkas, es batu, angin malam yang kencang.
Dan berbagai hal dingin lainnya yang ada di sekitar kita, sebuah benda atau hal yang sudah lumrah sekali di masyarakat.

Tapi benda dan hal dingin itu, bisa membunuhnya.
Benda yang dingin itu membunuh dia, si putri salju yang menghindari segala hal yang dingin.
Itu akan membunuhnya.
Dan itu benar-benar terjadi.

Yuki, sang putri salju yang akan selalu menghindari hawa dingin, dia selalu terkurung di dalam rumah disaat musim salju dan hujan, dan akan bebas kemana saja di musim yang hangat seperti musim semi dan panas.
Dia tak bisa menikmati semua musim yang ada di dunia. Disaat kita sudah saling cinta, kita lebih sering menghabiskan waktu di rumahnya. Atau menghabiskan waktu dengan bermain di taman, banyak tempat yang menjadi kenangan aku dan dia.

Namun, satu kenangan yang sama sekali belum pernah kita lakukan, yang seharusnya sudah pernah kita lakukan sebelumnya.
Bermain dan tertawa berdua di bawah langit musim salju.

Itu musim yang sangat tepat untuk bermain apapun yang melibatkan salju, seperti lempar bola salju, membuat boneka salju, baring di atasnya, apapun itu.
Tapi dia selalu terkurung di rumah saat musim salju menepis musim gugur. Dia tak pernah ingin keluar, dia selalu memaksaku untuk jangan mengajaknya keluar, dia lebih ingin di dalam rumah. Namun, musim dingin terasa seperti musim panas saat aku berada di dalam rumahnya.

Ayolah, kenapa kau sangat menyukai musim panas hingga melupakan kalau musim salju itu juga menyenangkan?
Aku selalu bertanya tentang alasan, tapi dia tak mau menjawab, katanya dia hanya tak suka. Sudah bertahun-tahun seperti itu, aku benar-benar heran, dia bukan hanya tak suka musim salju.

Dia tak suka es krim.
Dia tak berani membuka kulkas.
Dia selalu memesan minuman hangat.
Dia tak selalu menolak untuk memegang es batu.
Dia menolak untuk mengeluarkan tangan atau minimal jarinya saja di jendela saat musim salju.
Dia menolak untuk berenang di kolam renang atau pantai, walaupun itu sedang musim panas.
Dia tak suka diajak masuk ke dalam mall.
Dia semuanya, yang berhawa dingin.

Apa yang dia sembunyikan? Kenapa dia benci dingin?
Aku selalu iri dengan pasangan yang bermain bersama, berjalan, menikmati es krim, bermain ice skating, belanja di mall, dan tertawa di bawah musim dingin.
‘Aku hanya ingin kita bersenang-senang, kenapa kau selalu menolak tanpa memberi alasan?!’
Sifat egoku mendorong bibir untuk mengatakan itu, maksudku melampiaskan apa yang selama ini membuatku bingung.

Disini, di saat ini, hutan yang terletak di bukit, aku terduduk di bawah pohon sendirian, walaupun musim dingin sekarang terlalu lebat, setidaknya dia tak membunuhku. Ini tempat terakhir kita berdua, di saat musim salju menghembuskan nafasnya sangat kencang.
Dan ini tempat terakhirmu di dunia.

Disaat musim gugur mau berakhir, aku mencoba mengajaknya untuk pergi mendaki gunung, dengan muak dan kesal dia benar-benar tak ingin pergi bersamaku mendaki gunung, sudah mau musim dingin katanya.
Dia muak karna aku selalu memaksanya melakukan hal yang membuat kulit terasa dingin. Tapi aku juga sudah muak dengannya yang memaksa untuk tidak memberikan atau mengajak apapun yang membuat kulit kita terasa hawa dingin.
Jika memang tak suka salju tak masalah, tapi kau hampir, tidak, kau menolak semua benda yang dingin.
Apa yang terjadi, Yuki?

Karna sudah kesal aku mendaki bukit itu sendirian, dan aku tak sadar kalau hari ini musim salju turun. Mendaki bukit di saat musim salju itu adalah kesalahan bagi pemula, tapi tantangan bagi yang profesional, masalahnya aku masih pemula dan aku jarang mendaki.

Pada akhirnya aku terjebak dan tersesat di hutan yang sudah dipenuhi salju, ditambah badai salju yang sangat lebat. Persediaan makananku sangat sedikit, air minum yang kubawa pun hanya dua botol, perlengkapanku sangat kurang tapi keadaan sekarang benar-benar membuatku tertekan.

Saat malam, badai makin berhembus sangat kencang seakan dia ingin menerbangkan pohon-pohon di sekitarku, aku sudah terlalu kedinginan untuk tetap bertahan di tengah badai salju.
Katanya, kita harus bertahan dalam kondisi apapun, tapi kalau keadaannya seperti ini mungkin tak menunggu lama aku mati kedinginan disini.

Aku berjalan tertatih-tatih dan menangis dalam diam, kabut mengaburkan mataku yang sepertinya ingin membuatku semakin tersesat lagi. Senter yang kubawa baterainya habis, dan aku terkurung di hutan dengan musim salju yang ganas di malam hari.

Tak sengaja ku kepleset dan badanku terguling-guling di atas salju, jalanannya menurun yang membuatku susah menghentikan tubuhku ini, aku tertabrak dan terlempar dari sana.

Namun…
Disaat aku terjatuh, aku merasa ada sesuatu yang menahanku, ada badan yang melindungi agar badanku tak terbentur salju, aku merasakan badan itu sangat dingin, menggigil, dan seperti banyak luka.

“Daijoubu? (kamu gapapa?)”
Tunggu, itu suaranya…
“Yuki?” aku melihat ke belakang, dan…
“Masaki, daijoubu?”

Yuki? Aku tak percaya dia ada disini, kenapa dia disini? Bukannya dia benci hawa dingin? Dia benci salju kan? Kenapa dia disini? Apa dia menghampiriku dan tersesat juga?
Dan, kenapa lengan Yuki banyak bengkak-bengkak kemerahan? Badannya penuh bengkak, mukanya pun begitu, hampir semua anggota tubuhnya penuh dengan bengkak.

Aku mendengar nafasnya tak beraturan, badannya menggigil hebat, lemas tapi dia memaksa untuk terlihat baik-baik saja.

“Yuki, apa yang terjadi? Badanmu…”
“Salju, dan benda dingin lainnya, dia membenciku…”

Apa yang dia maksud?
“Salju dan benda dingin lainnya, mereka tak membunuh siapapun…
Kecuali mereka yang hidup dengan urtikaria…”

Urtikaria, sebuah penyakit alergi dingin yang cukup langka, pengidapnya mengalami gejala yang kadang berbeda-beda, yang paling sering munculnya bengkak-bengkak di kulit.
Dan, Yuki sudah di tahap serius dengan penyakitnya itu.

“Kau kemana aja? Aku sudah 4 jam mencarimu, kenapa bisa tersesat?”

Aku merasa ada tekanan di dadaku, saat mendengar ia bertahan 4 jam di badai salju sedangkan salju itu bisa saja membunuhnya kalau dia tetap bertahan? Bagaimana bisa?

Aku mengajaknya meneduh di sebuah pohon, berharap badai salju ini cuman mimpi, ini pasti ilusi. Tapi kalau seperti itu, bukannya sama saja tidak percaya apa yang sudah direncanakan oleh tuhan? Bagaimana pun tuhan merencanakan semuanya.

Tiba-tiba Yuki mengeluarkan selimut dari tasnya dan memberikannya padaku.
“Pakai ini, kamu pasti kedinginan banget kan udah berjam-jam disini?”
Tak usah mengkhawatirkanku, salju enggan membunuhku, justru kau yang akan dibunuh oleh salju.

“Masaki…”
Aku melihat mukanya yang merengut, dia memegang kepalanya serasa sedang pusing, tiba-tiba dia mau tumbang seperti ingin pingsan.

“Yuki!”
Aku menahan tubuh dan kubaringkan di pamgkuanku.

“Ternyata, musim salju menyenangkan juga ya.”
“Aku melihat dunia yang penuh dengan warna putih secara langsung, melihat salju jatuh dari langit, merasakan berjalan di atas salju, dedaunan pohon yang berubah menjadi putih.”
Aku menghela nafas berat, “tapi salju membencimu, dia berniat membunuhmu.”
“Tapi permintaanmu terkabul kan? Kita sekarang berdua di bawah langit musim salju, tidak di atas atap rumahku.”

Mataku berair mengingat pertengkaran sebelum mendaki yang membuatku terlihat seperti orang egois.
“Maaf, aku benar-benar maaf, aku terlalu egois mengatakan itu, kau tak pernah beritahu aku, kamu tak pernah memberi alasan.”
“Aku akan merepotkanmu.”

Tiba-tiba ia terbatuk tak henti, aku langsung menyodorkan nya air, badan nya benar-benar tak berdaya sekarang. Apa sekarang salju sedang membunuhnya?

“Masaki, setelah ini kamu tak perlu membenci salju, ini bukan salahnya.”
“Tapi kau sakit karna menyentuhnya.”
“Itu semua karna penyakit, bukan salju.”
Ya, tapi apapun itu mereka berdua, salju dan penyakit, mereka telah menambah beban hidupmu.

“Masaki..”
Aku lihat, aku melihat tubuhnya yang benar-benar penuh luka, nafas nya semakim lemah. Aku langsung memeluknya sebelum Yuki mengucapkan sesuatu.

“Jangan ucapkan kalimat terakhir.”
Mataku benar-benar berair, suara isakan yang ingin kukeluarkan tapi tak bisa. Itu akan terdengar sangat jelas di telinganya.
“Hanya sekali aja kok.”
“Kalau begitu terserah lah, katakan apapun, sebelum kau tak bisa berbicara apa-apa lagi.”

“Aku tak pernah menyangka tempat terakhir kita disini, di bawah musim salju. Disaat semua permintaanmu terkabul, dan disaat aku bisa merasakan kebahagiaan dari musim salju ini. Kalau saja aku tau tentang masa depan, disaat itu juga aku akan menarikmu keluar dari rumah dan biarkan aku rasakan itu, entah berapa lama bisa bertahan.”
“Kau tetap harus keluar dan melihat dunia, di musim semi, musim panas, musim gugur, musim salju, atau di saat langit hujan, langit gelap namun penuh dengan manik-manik cahaya, langit sore, seolah-olah kau bersyukur karna kau bisa bebas kemana saja apapun keadaan langit nya.”
“Ini hari pertama dan terakhir kita di tengah musim salju, semoga kau legah karna satu permintaanmu terkabul. Terimakasih.”

Suara hembusan terakhir yang kudengar, merubah segalanya.

“Salju, kau sudah berhasil membunuhnya.”

Sejak saat itu, aku turuti perkataannya, apapun keadaan di langit aku tetap keluar dan melihat dunia yang berbeda sesuai musim. Membuatku bersyukur karna aku bisa berada di tengah dunia yang terlihat berbeda dengan macam-macam musimnya.

Di bawah pohon terakhir kita, di musim salju yang sedikit tenang, yang menjadi saksi bahwa kau putri salju yang sudah berhasil menembus musim salju, walau akhirnya kau harus istirahat selamanya karna tak mungkin kau bisa bertahan lebih lama.

“Sudah lama ku tak disini.”

Hembusan angin yang terasa lewat sekilas, menyapu rambutku yang menutupi mataku yang berair.

“Aku tak membenci musim salju, lagi pula dari dulu aku senang dengan musim apapun, tapi aku sangat suka dengan musim salju.”

Pemandangan dunia yang terlihat putih, mungkin kebahagiaan ini yang Yuki rasakan saat pertama kali dia di tengah dunia yang putih ini, tapi hanya sebentar sekali dia melihat dunia ini, dia tak cocok untuk tetap disini.

“Tapi kau membunuh orang yang kucintai.”

Cerpen Karangan: Nazahra

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 11 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Snow White Avoiding the Cold merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Yang Takkan Pernah Ada

Oleh:
Hembusan angin dan rinai hujan mengiringi langkahku berjalan pada waktu pagi itu, dengan jiwa yang semangat untuk membuka lembaran baru dalam hidupku dan senyuman yang lepas kepada setiap insan

Akibat Susah Tidur

Oleh:
Mata Sally tak mau terpejam, dia sudah berusaha keras agar dia bisa tidur, maklum karena dia akan mempersentasikan hasil tugas sejarahnya yang sudah dia siapkan satu bulan yang lalu,

Kursi Terbalik

Oleh:
Di kelasnya, Tino merupakan anak yang cerdas. Tino selalu mendapat ranking 1 atau 2. Nilainya selalu 8 dan 9. Bertolak belakang dengan Manda. Manda adalah anak yang bodoh. Selalu

Maafkan Kakak

Oleh:
Di sebuah Desa, hiduplah seorang adik kakak. Mereka adalah Dama dan Leo. Dama saat ini tinggal bersama Leo. Dama berumur 13 tahun, sedangakn Leo berumur 11 tahun. Mereka sudah

Cinta Berujung Maut

Oleh:
Namanya adalah Keynna Ray Elizayya. Panggil saja dia Ray, walaupun namanya seperti laki laki, tapi dia adalah perempuan. Suatu hari… “Ray.. Ray.. kesini cepat!!” kata Gheeta setengah berteriak. “Ada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Snow White Avoiding the Cold”

  1. Nazahra says:

    Maaf ya gais ada beberapa yg typo, kapan2 aku nyoba lebih teliti biar ga banyak typoT~T

    • moderator says:

      Biasanya kalau ada yang Typo suka dibenerin juga kok sama moderator, meski kadang masih suka ada yang lolos dari pengamatan… ^_^

      ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *