Surat Maaf Untuk Rafaeyza (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 February 2016

Sejak saat itu kebersamaan mereka semakin erat, lambat laun Rafa mulai menemukan semangatnya lagi. Mereka berjuang bersama, tertawa bersama, tak peduli selelah apa pun, mereka selalu berusaha bersama. Itulah pembuktian Zahra yang begitu ingin memiliki hati Rafa sepenuhnya. Tak ada lagi istilah gengsi. Karena bagi Zahra itu adalah hal yang patut diperjuangkan. Hati yang pernah luka yang dialami Rafa perlahan membaik. Seberkas sinar harapan mulai terlihat lurus ke bumi. Awan-awan mendung mulai berjalan pergi. Langit biru nan cerah membentang di hatinya.

Hari-hari mereka lalui dengan penuh perjuangan dan kebersamaan. Tiada hal yang begitu berat bagi mereka selagi mereka bersama. Hingga suatu ketika, secara mengejutkan Zahra menanyakan sebuah ikatan. “Mas, alangkah baiknya saya berkata seperti ini, janganlah Mas anggap diriku seorang wanita yang rendah. Sejatinya diriku sungguh wanita biasa yang begitu mencintaimu, tanpa saya keluhkan sedikit pun tentang dirimu. Tanpa aku menuntut apa pun kepada dirimu, saya tak meminta perjanjian. Tapi ketahuilah. Saya menginginkanmu sebagai imamku. Maaf Mas. Mungkinkah ada rasa seperti itu di hatimu?”

Dalam sekejap suasana menjadi begitu sunyi. Rafa sangat kaget dan bingung. Rafa juga merasa bahagia sekali, karena dia merasa begitu dihargai. “Tak ada yang salah dari perkataanmu. Allah yang telah menciptakan cinta, kita sebagai hamba wajib bersyukur. Lalu kenapa minta maaf? Aku pun sejujurnya ada Rasa itu di hati. Tapi apakah kamu begitu siap? Aku punya masa lalu. Dan aku ingin kau mencintainya pula. Aku pun punya keburukan dan kekurangan, maukah kau memahami dan menerimanya pula?”

“Aku dengan sepenuh hati akan melakukan yang terbaik. Aku tak akan berjanji mnjadi sosok yang sempurna di duniamu. Tapi biarlah Allah yang menyempurnakan ikatan kita nanti dalam sebuah pernikahan. Hingga saat itu tiba. Marilah kita berjuang dengan visi yang sama, sembari kita memahami masing-masing diri kita.” Sungguh jawaban yang melegakan hati Zahra. Semakin membuatnya bersemangat. Betapa dia bersyukur pada Allah. Begitu pula Rafa. Mereka saling menjaga satu sama lain. Memberikan perhatian, saling mengingatkan kebaikan. Betapa mereka sungguh-sungguh menjaganya.

Tak disangka, masalah besar datang. Suatu hari ketika Rafa sedang membeli sesuatu untuk makan bersama, dan saat itu Hp-nya tertinggal di toko. Saat itu Hp berbunyi dan terlihat nama Rahma memanggil. Zahra takut untuk mengangkat telepon itu, dia tak mau dibilang lancang, tapi dia juga takut itu panggilan penting. Zahra membiarkannya. Telepon itu masih terus berbunyi. Maka Zahra putuskan untuk menjawab telepon itu.

“Halo Rafa, gimana kabarnya? Rafa kuliah aku dah selesai, hasilnya sangat memuaskan. Makasih yah Fa, ini semua juga berkat semangat dari kamu, doa-doa yang selalu kita panjatkan bersama. Sekarang Allah mewujudkan semua itu. Rafa, aku liburan ke kampung kamu yah? Orangtuaku dah mengizinkan kok. Aku rindu banget sama kamu. Maaf ya waktu aku banyak tersita. Itu semua demi keberhasilanku. Kan kamu juga yang bilang kan? Yah Rafa yah? Aku main yah? Please?” Mendengar kata-kata itu Zahra sungguh tak percaya. Lidahnya kaku, hatinya begitu teriris.

“Halo Rafa? Kok diem? Kamu gak suka yah? Aku rindu kamu, rindu akan kebersamaan kita? Rafa? halo?” Rahma masih terus memanggil. “Maaf..” suaranya terbata dan lirih. “Ini bukan Rafa, ini Zahra.” Zahra begitu bergetar hatinya.
“Zahra?!” kagetnya. “Kalau boleh tahu siapanya Rafa?” Tanya Rahma.
“Aku, kekasihnya. Iya kekasih Rafa.” Jawab Zahra.
“Kekasihnya?” ia mulai menangis. “Maaf yah? Maaf.” suaranya makin bergetar.
Tak berapa lama teleponnya dimatikan oleh Rahma. Sungguh sangat mengecewakan. Dia bahkan menangis begitu sendunya. Begitu juga dengan Zahra. Seluruh badannya lemas dan bergetar. Rafa pun kembali. Saat itu juga Zahra mengutarakan masalah ini.

“Rafa, aku memang akan mencintai masa lalumu. Tapi bukan untuk menghancurkannya. Bukankah ada ikatan yang pernah terjalin antara kamu dan Rahma. Yang sama sekali belum terselesaikan. Selesaikanlah. Aku mencintaimu Rafa. Sangat. Maka aku pun tak mau di hatimu masih tumbuh bunga cinta wanita lain. Maka selesaikanlah. Jika Allah mengizinkan maka kau tak selangkah pun pergi dariku. Aku percaya. Pergilah. Temui dia. Aku tak mau menjadi penghalang cinta seseorang. Temui dia.” dengan suara keras. “Cepatlah. Tapi berjanjilah. Aku izinkan cintamu pergi untuk dia. Aku izinkan cintamu berpetualang untuknya. Tapi jikalau nanti kau tersesat dan dia tak menerimamu, berjanjilah. Hanya aku tempat kau kembali. Aku selalu mencintaimu. Selalu, dan selamanya. Cepatlah kembali!” Zahra kemudian pergi dengan air mata yang terus mengalir.

Rafa tak bisa berbuat dan berkata apa pun. Hatinya gelap. Air matanya pun mengalir. Dia merasa begitu berdosa telah membuat seorang gadis yang begitu tulus dan suci menangis. Tubuhnya tak berdaya. Semalaman dia berpikir keras. Hati kecilnya memang masih menyimpan nama Rahma. Malam itu dia bingung memutuskan siapa yang akan dihubungi sebagai bentuk tanggung jawabnya. Namun Zahra mengirim pesan kembali.

“Selesaikan urusan itu, jikalau dia menerimamu seperti aku, maka aku tenang. Dan pergi dari kamu. Jangan pikirkan aku sekarang ini.” Saat itu juga Rafa menelepon Rahma. Namun selalu ditolak dan tak diangkat. Bahkan sampai puluhan kali. Kemudian Rafa mengirim pesan kepada Rahma, yang isinnya, “Aku akan datang. Sambutlah aku apa pun keadaan hati kamu.”

Keesokkan harinya Rafa langsung berangkat ke Bekasi. Dia berharap kedatangannya kali ini tak lagi memberi luka hati tapi melegakan hati. Akhirnya Rafa sampai juga di tempat Kak Roby. Saat itu pukul 14.00 siang. Kak Roby pun sempat kaget. “Rafa, kok gak bilang mau datang. Ada apa? Ayah Ibu sehat kan?”
“Maaf Kak, saya mendadak. Semua keluarga sehat kok. Saya ke sini karena ada sedikit urusan dengan Rahma. Dia gak ke sini?” Tanya Rafa. “Hmm. Gak tuh Rafa, tadi pagi yang datang pun Sinta. Ya udah kamu istirahat dulu, makan. Nanti sorean aja ke sananya.” Jawab kak Roby. Rafa pun beristirahat sebentar. Hatinya begitu gundah. Hari mulai gelap. Ditambah langit mulai terlihat mendung. Sepertinya akan hujan lebat. Maka Rafa bergegas ke rumah Rahma.

Rafa mulai mengetuk pintu. Namun Sinta yang membuka pintu itu. “Maaf Kak Sinta? Rahma ada? Ada sesuatu yang mau saya utarakan?” Ujar Rafa.
“Utarakan? Mau menyakiti hati Rahma lagi? Dari kemaren dia masih terus menangis. Seharusnya kamu tahu perasannya. Maaf ya Rafa. Dia pesan kalau dia tak mau menemui kamu. Maaf.” Jawab Sinta dan langsung menutup pintunya.

Sungguh membuat Rafa gundah. Hujan mulai turun dengan lebatnya. Rafa terus mencoba menghubungi Rahma. Terus mengirim pesan agar dia mau ke luar dan menemuinya. “Rahma, angkatlah. Kesalahpahaman ini, buanglah rasa egoismu. Sejatinya aku di sini untukmu, bahkan dengan hatiku. Percayalah. Aku ke sini sebagai pria yang sendiri. Yang hatinya tak dipegang orang lain. Karena aku telah melepasnya sendiri.”

Rafa masih terus menunggu di bawah hujan. Berharap Rahma mau menemuinya atau bahkan melihatnya saja dari jendelanya. Sinta pun hanya bisa memandang, begitu juga Kak Roby. Mereka tak bisa berbuat banyak. Rafa masih terus menunggu sampai jam 10 malam. Dan hujan masih turun. Namun semua itu tak mampu menyentuh hati Rahma yang begitu sakit. Akhirnya Kak Roby pun menjemput Rafa dengan membawakan sebuah payung. Lalu memaksa Rafa untuk kembali. Karena tubuhnya mulai lemas, mukanya mulai pucat. Dan perkataannya mulai tak jelas. Roby menuntunnya.

Setelah itu Rafa berganti baju dan menghangatkan tubuhnya. Dia pun masih mencoba menunggu Rahma di meja No.7. Tempat mereka saling menatap. Rafa terus memperhatikan jendela kamar Rahma yang tertutup rapat. Berharap Rahma mau memaafkannya. Waktu menunjukkan tengah malam. Hati Rafa berkata, “inikah jawabanmu Rahma. Kedua kali kau tak hiraukan aku. Bodohnya aku. Mencari sosok yang sempurna tapi tak sadar meninggalkan yang terbaik.” Saat itu Rafa menulis surat untuk Rahma.

“Rahmawati, mentariku. Bukankah kau tahu akulah yang selalu menunggu cahayamu. Aku hidup dan tumbuh mengikuti cahayamu. Menanti setiap sentuhan hangat cahayamu yang membuatku selalu kuat, tegar, dan selalu tersenyum. Aku manusia biasa yang bisa menjadi gelap ketika mentarinya tak lagi terbit. Bisa juga menangis ketika mentarinya tertutup awan mendung. Maaf karena aku bukan satria berkuda nan gagah. Mengangkat pedangnya sembari berkata keras. Aku hanyalah laki-laki yang berlindung pada hati. Tak mampu mengungkapkan isi hati. Sehingga hanya bisa diam melihat mentarinya terbenam.”

“Maafkan aku mengecewakanmu. Bukan aku bermaksud menghunus luka di indahnya kebersamaan kita. Tapi bukankah engkau yang tak mau menganggapku penting sehingga ku pergi dari kerajaan ini. Mencari ketenangan sendiri karena sang putri tak mau menahannya. Kenapa dulu engkau seakan tak menganggap Cintaku yang jelas-jelas aku tunjukkan padamu. Bahkan di saat kepergianku, tak ada secuil kata, ‘jangan tinggalkan aku.’ dari mulutmu. Sehingga aku merasa kau tak peduli akan cintaku.”

“Aku tahu pelangi itu sudah hilang. Sehingga kini kau pun tak mau memberiku kesempatan kedua. Bahkan setelah aku tinggalkan bintangku, kau pun tak berani muncul menunjukkan warna-warna indahmu seperti pelangi yang muncul setelah hujan. Kau membiarkan hatimu terus diguyur hujan. Dia melepasku hanya untukmu. Tapi kini aku sadar. Aku mencintai pelangi yang salah. Karena sangat bodoh mengejar pelangi yang tak berujung. Berharap pelangi itu terus nampak.”

“Rahma. Maafkan aku pernah menjadi bagian dari hidupmu. Yang sejatinya aku sama sekali tak berhak. Aku hanya ingin mohon maaf. Maafkan atas segala kesalahan yang pernah aku perbuat selama aku ada di hidupmu. Maafkanlah. Kini aku anggap semua selesai. Anggaplah aku tak pernah ada dalam hidupmu. Jika itu membuatmu nyaman. Aku tak pernah menyesal mengenalmu. Mentariku. Teruslah bersinar meski cahayamu tak lagi untukku. Tapi cobalah membuatnya bermakna untuk orang lain. Terima kasih. Rafaeyza.”

Dengan tubuh yang sudah menggigil Rafa berhasil menyelesaikan suratnya. Sebenarnya masih banyak yang ingin dia curahkan. Namun hari sudah mulai pagi. Rafa menitipkan surat itu pada Kak Roby. Karena pagi itu juga Rafa pamit untuk kembali ke kampung. Dengan tubuh yang masih lemas Rafa pamit dan berjalan. Kak Roby mencoba mengantarkan namun dia menolak. Rafa berjalan menelusuri semua kenangan bersama Rahma untuk terakhir kalinya. Kak Roby pun tak bisa berbuat banyak. Karena dia harus segera membuka Cafenya. Rafa masih terus berjalan. Dia berhenti sejenak di bawah pohon rindang tempat dulu dia dan Rahma saling menunjukkan cintanya. Dia menghela napas. Dan berkata, “lega rasanya mengungkapkan semuanya. Semoga Allah memberi kami yang terbaik, jalan yang terbaik.” Rafa melanjutkan perjalanannya.

Surat itu akhirnya sampai ke tangan Rahma. Dia membacanya. Setelah selesai dia tak mampu menahan hatinya yang menjerit. “Maafkan aku. Kau bahkan masih berjuang sejauh itu walau aku tak mau menemuimu semalam. Itu adalah hal teregois bagiku. Maafkan aku Rafa.” Rahma mencoba menghubungi Rafa. Namun nomornya sudah tak aktif. Rahma menemui Kak Roby. Dan Kak Roby menjelaskan semuanya. Lalu Kak Roby pun berkata, “Rahma, alangkah baiknya jangan ganggu dia lagi, sampai-sampai dia harus alami kecewa dua kali. Biarkanlah dia benar-benar pergi dari hidup kamu. Jangan mencoba meraihnya lagi. Kakak mohon.” Rahma hanya bisa diam. Tangisnya makin kuat. Kemudian dia pun kembali ke kamarnya. Dia sungguh tak tahu harus bagaimana.

Sementara itu, Rafa kembali dan langsung menemui Zahra. Dengan tubuh yang lemas dan wajah yang pucat dia berkata pada Zahra. “Aku orang yang terbodoh jika meninggalkamu, aku telah tertipu, aku mencari kekasih yang sempurna tapi tak sadar telah mengecewakan kekasih yang terbaik. Padahal yang terbaik adalah melebihi dari sempurna. Maafkan aku. Aku kembali dengan segala pengakuanku. Aku sadar kamulah penerima sejatiku. Kini ku taruhkan segala dari apa yang ku punya, jiwa, raga, cinta, kasih sayang hanya untukmu. Terimalah aku.”

“Sejatinya aku benar-benar telah melupakan masa laluku. Aku sungguh berharap padamu. Aku sadar banyak hal darimu, apa itu ketulusan dan kesabaran yang sebelumnya aku tak dapatkan dari orang lain. Tapi yang penting aku belajar bahwa orang yang benar-benar mencintai kita, maka dia akan memperjuangkan kita apa pun keadaannya, dan akan selalu memaafkan kesalahan kita tanpa berpikir untuk meninggalkan kita. Terima kasih Zahra. Telah menjadi sosok yang terbaik untuku. Inilah aku dengan segala kerendahaanku.” Rafa berlutut pada Zahra.
“Iya Rafa, iya.” Zahra pun langsung memeluk Rafa dengan begitu kencangnya. Dia begitu bahagia. “Karena Allah tak membiarkanmu pergi selangkah pun dari hatiku.”

Sementara itu di sisi lain, Rahma masih terus memikirkan Rafa, dia masih merasa bersalah. Dia pun menulis surat. “Rafaeyza, Penyemangatku. Tiada kata yang dapat ku ungkap saat kau pergi. Aku pun hanya bisa menyesali semua ini. Aku memang tak begitu mengerti arti cinta. Tapi aku bisa merasakan saat kau ada bersamaku. Tapi Rafa, meski cintaku tak terucapkan tapi itu tetap cinta. Sejatinya aku pun sangat mencintaimu.”

“Maaf ketika ku tak dapat menahanmu pergi. Bukan ku tak menganggap cintamu, tapi aku hanya ingin membuat sukses cinta kita. Bukankah aku dapatkan semangat itu dari kamu. Aku lakukan semua itu demi sebuah kata bangga darimu. Aku sadar. Cinta memang perlu diperjuangkan. Karena kita tak akan pernah tahu kapan Allah akan mengambil cinta itu dari kita. Dan kini aku pun merasakannya. Aku hanya ingin jujur. Aku sungguh sangat mencintaimu Rafaeyza, sejak tatapan awal kita. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku. Pengagum jiwamu. Rahmawati.” Rahma hanya bisa menuliskan kata demikian. Karena suasana hatinya yang begitu kacau.

Ketika surat itu hendak dikirimkan, Rahma teringat pesan Kak Roby. Dia berkata, “Tak sepatutnya aku ganggu Rafa lagi. Apalagi semua ini karena aku yang memulainya. Biarlah surat ini menjadi milikku dan hatiku. Sejatinya Allah tahu yang sebenarnya. Aku juga mencintaimu Rafaeyza, sungguh mencintaimu. Jika takdir sudah berbicara maka jarak dan waktu tidak akan berdaya untuk memisahkan kita. Jika memang takdir masih mengizinkan aku sungguh bersyukur, jikalau tidak maka aku ikhlas.” Rahma kemudian memasukkan kembali surat itu ke tasnya. Dia berjalan pulang dengan senyum berseri di hatinya.

Selesai

Cerpen Karangan: Mustofa
Facebook: Mustofa Sang Pujangga (Mustofaberkarya.Faa.Im)

Cerpen Surat Maaf Untuk Rafaeyza (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sudah Terlambat

Oleh:
“Maaf kak, Adek gak bisa terima permintaan kakak yang kakak kirim lewat Facebook itu. Maaf banget kak” Dengan perasaan bersalah dan keraguan pun terpaksa aku lontarkan kalimat itu kepadanya.

Sahabat Ku Saudara Ku

Oleh:
“satu… dua.. tiga.. empat… lima.. enam.. tujuh… delapan… dan sepuluh!!” ucap ku yang berada di depan rumah tetangga baruku yang baru pindah beberapa hari belakangan ini “mama aku berangkat

Penantian Seorang Aisyah

Oleh:
Sudut surau yang tampak remang ini selalu menjadi tempat dimana aku bisa meredam semua sedihku, mendengarkan suara-suara mereka yang dengan lantangnya melantunkan bacaan-bacaan indah itu.. semangat yang memancar dari

Bercinta Dalam Tahajudku

Oleh:
Hilang, sinar rembulan tertutup mendung hitam, tiada bintang, lalu tetesan air hujan pun jatuh mengenai tubuhnya yang terbalut pakaian serba biru dengan dipadukan jilbab warna merah muda yang cantik.

Playgirl Tobat

Oleh:
“Kita putus..” Kata-kata itu masih terngiang dalam benakku. Begitu mudahnya Cindy mengatakan itu padaku. Tanpa rasa bersalah dia mengucapkan kalimat itu. Aku begitu menyayanginya, tapi dia begitu tega padaku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *