Surat Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 16 March 2014

“Tak ada yang perlu ditangisi” Kata Gio sambil menghapus air mataku. Aku tak mungkin semudah itu bisa melepaskan kepergiannya begitu saja. Sosok yang sudah kucintai selama dua tahun itu akan segera pergi ke luar negeri untuk meninggalkanku, meskipun aku tau dia disana untuk kepentingan orangtuanya namun aku tak mungkin melepaskannya begitu saja. Ini terlalu berat untukku, aku bukanlah wanita yang setegar batu karang yang mampu menerjang ombak sendirian. “Tapi aku tak mungkin bisa jika kamu tak di sampingku” jawabku sambil terus meneteskan air mata. “aku yakin kamu bisa melewati hari hari tanpa aku, aku tau kamu kuat” Ucap Gio menyemangatiku. Kemudian aku menggenggam tangan Gio dan menatap wajah yang akan meninggalkanku itu. “Aku kuat jika ada kamu”. Tapi Gio hanya tersenyum menatapku seakan ingin membuatku merasa lebih tenang, tapi aku tak bisa menutupi semuanya bahwa aku tak menginginkannya pergi meski itu hanya sementara.
“Aku janji aku akan kembali untukmu”. Aku hanya bisa diam dan sejenak untuk membuat diriku merasa lebih lega atas perkataannya itu. “Janji” ucapku penuh harap namun dia hanya tersenyum namun aku juga melihat kesedihan di raut wajahnya seperti Ia tak mungkin menepati janjinya. Namun aku mencoba untuk berusaha melepasnya dan memegang perkataannya. “Mungkin ini saatnya aku akan pergi, simpan ini baik-baik ya” Ucap Gio seraya memberiku sebuah bungkusan berpita ungu itu. “Ini apa?” tanyaku. “Kamu hanya boleh membukanya ketika aku pergi”. Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Sebelum Gio pergi Ia memelukku sejenak aku menangis dalam pelukannya, aku tak menyukai perpisahan aku benci itu. Mengapa harus ada perpisahan di setiap pertemuan? bukankah itu meyakitkan? aku terus bertanya dalam hati, setelah memelukku Ia kembali ke rumahnya dan bersiap untuk berangkat besok.

Keesokan harinya aku mengantarkannya untuk ke bandara untuk melepaskan kepergiannya. “Hati hati disana sayang, jaga cintamu untukku” ucapku kepada pria yang sangat kucintai itu. “Jangan khawatir hati ini hanya untukmu” kata Gio meyakinkanku. Kemudian dia pergi meninggalkanku sendiri. Dalam hati aku hanya bisa bersabar menunggunya kembali dan mencoba untuk percaya terhadapnya.

Sekembalinya aku di rumah aku segera meraih bungkusan berpita ungu dari sudut mejaku, aku membukanya perlahan lahan. Aku menemukan sebuah surat dan buku diary ungu. Kemudian aku membuka surat itu perlahan dan membacanya kata demi kata.

“Jika waktu dapat ku ubah, aku akan merubahnya disaat pertama bertemu denganmu karena disaat itulah aku merasakan bahwa aku tak akan menjauh darimu. Tapi aku percaya Tuhan selalu mempunyai rencana indah dis etiap cerita kehidupan. Jangan pernah menteskan air mata lagi karena itu hanya menghanyutkan kecantikanmu. Aku ingin suatu saat nanti aku bisa berjumpa denganmu meskipun aku tak tau itu kapan. Maafkan aku tidak bisa sepenuhnya berjanji padamu tapi aku akan melakukan semampu yang kubisa, aku memberimu buku diary itu agar kamu bisa mencurahkan perasaanmu padaku lewat diary itu. Anggaplah diary itu adalah aku, aku yang selalu mendengarkan segala keluh kesahmu. Lupakan kesedihanmu dan tersenyumlah untukku”

Aku hanya bisa terdiam dan terpaku pada deretan kata di atas selembar kertas putih itu. Mungkin aku harus berusaha tegar untuknya, aku tak boleh terlarut dalam kepergiannya karena aku yakin pasti itu hanya sementara. Mulai hari itu aku berusaha untuk menjadi wanita kuat meskipun tak ada yang menemani. Namun terkadang di sekolah aku sempat iri dengan teman temanku yang memiliki pasangan. “Huft, bahagianya mereka dapat selalu bersama” Gumamku. Sebisa mungkin aku menghindar dari pasangan pasangan yang membuatku merasa iri dan merindukan kekasihku.

Jam sudah menunjukan pukul 14.00 dan bel sekolah sudah berbunyi tiga kali yang menandakan pulan. Aku berjalan ke depan dan mengambil posisi duduk yang menurutku enak untuk menunggu jemputanku tiba. Tiba tiba sesosok cowok keren bertubuh tegap menghampiriku dan duduk di sebelahku, aku sempat merasa risih dengannya tapi aku berusaha untuk membuat suasana seperti biasa. “sendirian aja?” tanyanya padaku. Namanya Rendi, dia adalah cowok populer di sekolahku banyak cewek di sekolahku yang mengaguminya entah apa yang dikagumi tapi yang ku tahu dia adalah cowok play boy yang kubenci.
“Iya” jawabku singkat. “Mau aku anter?” katanya menawarkan diri. Dalam hati aku tak percaya cowok seperti dia mau mengantarku pulang, mungkin itu hanya akal akalannya saja untuk memperoleh simpati terhadapku karena banyak kabar yang aku dengar bahwa dia selalu ingin memperoleh simpati terhadap setiap wanita incarannya untuk meluluhkan hati mereka, tapi bagiku itu cara kuno. “enggak, makasih” jawabku cuek. “kok cuek banget sih jawabnya?” katanya memelas. Aku hanya diam dan terus terusan memperhatikan jam tanganku, aku mulai risih dengannya tapi aku rasa Tuhan baik terhadapku sehingga sopirku tak lama datang menjemputku. “Hmm, kapan kapan ngobrol lagi ya, jemputanku udah dateng tuh” sahutku seraya bergegas pergi meninggalkannya. “Huft, selamet deh dari cowok itu” gumamku.

Sesampainya di rumah aku membuka handphoneku dan melihat apakah ada pesan disana, ternyata benar itu pesan dari Gio. “Selamat siang sayang, jangan lupa makan siang, aku mencintaimu”. “Iya sayang, tenang saja aku juga mencintaimu” balasku. Kemudian dia tidak membalasnya lagi “mungkin dia sedang sibuk” gumamku sambil menenangkan hatiku.

Aku meraih sebuah buku diary ungu dan mulai menuliskan kata kata yang kualami hari ini, mulai dari cerita Rendi yang menghampiriku tadi waktu sekolah hingga aku bergitu merindukan Gio semua kutulis sesuai yang kualami hari ini.

Keesokan harinya lagi dan lagi Rendi menghampiriku, Ia mengajakku untuk menemaninya jalan jalan. Aku hanya hanya menggeleng gelengkan kepalaku dan mencari cari alasan untuk menolaknya. Hari demi hari dia terus mendekatiku, dia selalu memberiku benda benda yang aku suka. Dia mengerti sekali akan aku, sikapnya mengingatkanku pada Gio.

Suatu ketika saat aku pulang sekolah aku berjalan melewati trotoar, hari itu aku memang sengaja tak mau dijemput karena ingin berjalan jalan sebentar untuk menyegarkan fikiranku.Tak ku sangka seorang pengendara motor yang ugal ugalan mendekat ke arahku dan “Brakkk!!!” aku terejatuh dan pengendara itu kabur. Aku hanya bisa merintih kesakitan karena tak ada satu orang pun yang menolongku. Tiba-tiba cowok keren dan berbadan tegap itu mendekat ke arahku tampak samar samar olehku dia mencoba untuk membantuku, namun mungkin karena tak kuat menahan sakit aku memejamkan mataku dan tak sadarkan diri.

Saat aku membuka mataku tampak samar samar olehku sebuah kamar bercat ungu berhias bintang bintang dan sepertinya aku mengenal kamar itu. Ya, itu kamarku. “Bagaimana aku bisa ada disini, siapa yang mengantarku?” kataku dalam hati. Karena mengetahui aku sudah sadar mama mendekatiku dengan wajah paniknya. “Kamu sudah sadar Nda?” kata mama yang tampak sangan cemas kepadaku. Aku hanya mengaggukan kepala. “Tadi Rendi yang mengantarkanmu kesini, dia melihatmu pingsan di tengah jalan karena tertabrak motor jadi dia membawamu pulang” kata mama menjelaskan. “Lalu Rendi mana ma?” tanyaku. “Dia sudah pulang sayang, besok kamu harus menemuinya ya, untuk berterimakasih padanya”. “Iya ma, itu pasti”. Kemudian mama meninggalkanku dan menyuruhku agar untuk segera makan lalu minum obat agar kondisiku cepat membaik.

Setelah mengucapkan terimakasih kepada Rendi kami berdua semakin akrab dan dekat. Aku merasa dia berbeda dari biasanya, dan aku mulai memendam pikiranku yang mengganggapnya cowok play boy. Hari demi hari selalu kulalui bersamanya dan tanpa sadar aku sudah melupakan Gio yang notabene masih kekasihku. Aku tak pernah memperdulikan pesan maupun telponnya karena aku sudah merasa bahagia dengan Rendi. Hingga suatu ketika Gio mengirimiku sms “Sayang, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu dan aku ingin bicara padamu” setiap hari dia selalu megirimiku pesan dan selalu berkata jika ia ingin mengatakan sesuatu padaku tapi aku tak peduli dengan itu, aku hanya membacanya dan tidak membalas pesan itu. Aku sudah dengan dunia baruku aku sudah melupakan buku diary ungu itu, aku sangat jarang sekali menulis disitu bahkan untuk membukanya pun aku malas.

Aku dan Rendi sudah semakin dekat bahkan kami sudah dibilang berpacaran. Ya, aku selingkuh di belakang Gio aku mengabaikan janjiku padanya. Saat pulang sekolah aku membuka handphoneku dan masih seperti biasa disitu ada pesan dari Gio “sayang aku merindukanmu, aku harus memberitahumu sesuatu”. Aku hanya membalas pesannya dengan nada ketus “Maaf sayang aku sibuk! untuk sementara ini jangan menghubungiku” dan benar sejak saat itu Gio tak pernah mengirimkan pesan untukku.

Hingga suatu ketika aku melihat Rendi sedan berkumpul dengan teman temannya, dan tanpa sengaja aku mendengar percakapan di antara mereka. “Hebat lu Ren bisa dapetin Manda” kata salah satu temannya. “Haha, ya jelaslah gua gitu siapa sih yang gak bisa ditaklukin sama gua, sekarang mana uang taruhan buat gua” kata Rendi yang cukup membuatku kaget dan tak percaya. “Ini buat lu, jumlahnya satu juta pas kan?”. “Ah, senang gua berbisnis sama lu pada” ucap Rendi dengan nada sombong. Kemudian aku mendekatinya dan menamparnya “Sialan kamu, teryata kamu bohongin aku Ren, aku kira kamu sayang sama aku” Ucapku sambil menangis. “Sayang sama lu? jangan ngimpi deh, lu tu cewek jelek dan cuek mana mau gua sama lu, semua gua lakuin demi uang. makasih ya udah mau jadi pacar gua dan sekarang kita putus karena gua udah dapetin apa yang gua mau” kata Rendi penuh kemenangan. “Semoga kamu dapet karma” kemudian aku berlari sambil menangis aku tak percaya akan ini semua, aku memang benar benar bodoh aku mengabaikan Gio demi orang seperti dia.

Kemudian aku segera mengirim pesan kepada Gio aku ingin meminta maaf padanya namun setelah menunggu lama tak kunjung aku mendapatkan balasan darinya. Aku semakin larut dalam kesedihan, aku memang terlalu bodoh. Aku mengambil buku diary unguku dan mulai mencurahkan semua isi hati pada diary itu. Hari demi hari kulewati sendiri. Gio yang dulu selalu menemaniku meski hanya lewat telpon dan pesan kini tak ada kabar terlebih aku sering melihat Rendi berganti ganti pasangan yang membuatku semakin muak akan hidupku.

Dua hari lagi adalah ulang tahunku dan buku diaryku tinggal dua lembar itu artinya tepat di umurku yang ke tujuh belas akan habis semua ceritaku yang kuceritakan pada Gio. Tapi aku masih tetap berharap jika Ia mau mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Tepat pukul dua belas malam dan tepat di lembar terakhir aku menuliskan harapanku di ulang tahunku yang ke tujuh belas. Aku berharap aku bisa mendengar atau menerima pesan dari Gio, aku benar benar sangat merindukannya.

Keesokan harinya mama dan papa segera membangukan aku dari tidurku dan memberiku ucapan selamat ulang tahun. Mereka memberiku hadiah yang ku inginkan yaitu liburan ke Bali. Saat aku membuka pintu aku melihat sebuah bungkusan hadiah bersampul cokelat dan sepucuk surat. Aku membuka bungkusan itu perlahan dan itu adalah sebuah boneka teddy bear berwarna ungu. Boneka yang sangat kuinginkan. Aku membaca surat itu perlahan lahan dan aku mulai meneteskan air mata

Dear Amanda,
Mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah berada bersama dengan Tuhan. Maafkankan aku telah meninggalkanmu lebih dulu tanpa harus memberitahumu. Aku sudah berusaha untuk memberitahumu akan penyakitku tapi mungkin kamu sedang sibuk dan aku berusaha untuk mengerti. maafkan aku tak memberitahumu dari awal, aku ingin menunggu saat yang tepat untuk memberitahumu karena aku takut kamu akan pergi meninggalkanku saat kau tahu tentang penyakitku. Aku pergi meninggalkanmu ke luar negeri bukan untuk mengikuti orangtuaku, tapi aku disana untuk berobat agar aku bisa tetap bertahan demi kamu. Tapi Tuhan berkata lain, aku harus ikut dengannya karena mungkin tugasku untuk menjagamu telah usai. Jangan sedih sayang, karena itu hanya menghapus kecantikanmu. Maafkan aku, bukan maksudku untuk tidak membalas pesanmu, tapi kondisiku lah yang menghalangiku untuk memberi kabar kepadamu. Jika aku boleh memilih aku tak ingin seperti ini tapi inilah takdir, aku tak bisa menentangnya aku memang mencintaimu tapi Tuhan lebih mencintaiku. Perlu kamu ketahui aku menulis surat ini dengan sisa nafas dan tenaga terakhirku, aku ingin di sisa hidupku hanya untuk membuatmu merasa senang. Selamat ulang tahun sayang, maaf aku tak bisa langsung mengatakan ini di hari ulang tahunmu, tapi semoga boneka ini bisa sedikit menghilangkan kerinduanmu untukku. Aku telah usai menjagamu di sepanjang hidupku, aku juga telah usai menjaga cintamu di hatiku. Terimakasih atas cintanya, jangan sedih peri kecilku. Sekali lagi maafkan aku, meskipun aku jauh darimu namun aku akan tetap menjagamu, ya menjagamu lewat doa. Aku mencintaimu.
From: Gio

Aku hanya bisa menangis dan terus menangis sambil memeluk boneka itu, aku menyesal telah mengabaikan cintanya, aku menyesal telah selingkuh di belakangnya, aku menyesal telah mengkhianati janjiku. Maafkan aku Gio.

Cerpen Karangan: Erisca Carolina Tesalonike
Facebook: Erisca Carolima

Cerpen Surat Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cempaka

Oleh:
Dengan buru-buru cempaka memakai sepatu bututnya yang sudah rusak dan dekil itu, sambil memekai sepatu cempaka melirik emaknya yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya. Sementara itu bapaknya sedang

I Will Love You (Part 1)

Oleh:
Perasaan panik gadis itu pun mulai terlihat. Sambil mengumpat di dalam hatinya, ia mencoba berlari menuju daftar kelas, sekolahnya yang baru. Setelah mencari daftar kelasnya, ia segera berlari menuju

Kucintai Mu Sampai Menutup Mata

Oleh:
Sore itu aku berjalan menyusuri jalan sepulang kerja. Lelah yang ku alami membuat aku berjalan seakan-akan tidak punya tujuan. “Mungkin beginilah hidup yang harus aku jalani..” batinku berbisik. Aku

Pelukan Terakhirku

Oleh:
Matahari bersinar cerah pagi ini. Aku langsung bergegas menuju ruang makan karena ibuku sudah lama memanggilku. Aku pun duduk di sebelah Ibuku. “Kana, kenapa kamu lama sekali..?” tanya Ibu,

Desember 12 (Part 2)

Oleh:
Semenjak pertemuan itu, hubungan Gendis dengan Yoku kian hari semakin dekat. Hubungan mereka bukan lagi sekedar teman biasa, melainkan lebih dari itu. Rupanya hasrat cinta masih melekat di hati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Surat Terakhir”

  1. Nova liana says:

    Cerpen terdapat kisah nyata yg kita alami di kehidupan sehari-hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *