Surat Tersimpan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 18 July 2013

“Entah karena terbiasa atau aku memang menyukainya, padahal dulu perasaan istimewa ini tak ada untuk dirinya” gumam dalam hati Aryan yang melamun di gerbang kampus.

“Kamu melamun..?”
Aryan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Fatna
“ya sudah kalau gitu, kita pulang dulu ya..!” Fatna dan yang lain beranjak pulang ke arah jalan yang berlawanan dengan Aryan. Sedang Dia masih ditempatnya memandangi punggung Fatna yang semakin menjauh.

“apakah ini cinta, ataukah hanya….?” Aryan mulai melangkahkan kaki dengan hati yang masih bergumam meningalkan sekolah.
“tapi aku anak SMA yang tak mau dipusingkan oleh masalah cinta, aku tak ingin membuang waktuku untuk berpetualang cinta”
“Aryan..!!” Irni sahabat dekat Fatna yang juga teman baik Aryan menghampiri dengan bibir yang seperti tak sabar untuk mengatakan sesuatu
“iya…?”

di Sekolah pada jam istirahat itu Irni bertanya sesuatu yang membuat Aryan terkejut
“kamu menyukai Fatna ya…?”
“heuh..? siapa yang bilang..?”
“sudah, mengaku saja”
Aryan tertawa berusaha menyangkal dengan menggelengkan kepala
“hmm… aku masuk kelas dulu ya.. Ir…!” Aryan bergegas meninggalkan Irni dengan penasarannya

“huuh… hampir saja, kenapa Irni tiba-tiba bertanya seperti itu..? tapi ya sudahlah..”

Jam terakhir hari itu terasa sangat membosankan bagi Aryan, karena guru yang seharusnya mengajar tidak bisa hadir.
“woy..!!”
Aryan dikejutkan seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.
“ngapain sih ‘ris, usil aja..”
Daris tertawa melihat Aryan kesal
“lagi bingung nyatain cinta ya…?, udah, nyatain aja dia pasti nerima kok”
Daris yang juga teman baik Irni dan Fatna memang usil, meski Aryan terlihat kesal Daris tetap mengganggu dengan gurauannya
“sok tahu..!”
Daris tetap tertawa melihat sahabatnya Aryan yang masih terlihat kesal
“yan..! hari ini aku pulang duluan, soalnya kakakku dari jakarta datang, kangen…”
“hmm… ya udah”

Aryan, Daris, Fatna dan Irni memang sudah terbiasa kumpul bersama sebelum mereka pulang ke rumah. Tapi kali ini ada yang berbeda, selain Daris yang sudah berpamitan terlebih dahulu, Fatna yang menunggu Aryan di luar kelas terlihat sendiri
“Ar..!” Fatna menyambut Aryan dengan senyuman manisnya
“hmm… kamu sendiri…?, Irni mana..?”
“Irni sudah pulang, Ibunya nelpon disuruh pulang cepet katanya”
Aryan anggukan kepala tak lupa dengan senyum untuk Fatna

mereka berdua mulai berjalan menuju tempat biasa yang berada di taman. Sambil membuka buku Aryan sesekali menatap Fatna yang terlihat fokus pada bacaannya
“kamu memang manis” dalam hati Aryan saat melihat Fatna

Aryan mengenal Fatna pada saat pelatihan untuk anggota OSIS baru di sekolah. Pada saat itu mereka masih duduk di kelas X. Awalnya mereka berdua ditunjuk salah seorang senior untuk beradu argumen mewakili kelompoknya masing-masing. Sejak saat itu Aryan mengenal Fatna dan berteman baik sampai sekarang bersama Daris dan Irni sahabat dari kecil Fatna.
“Ar…!”
“iya…?” lamunan Aryan buyar dikejutkan Fatna
“aku bawa kue, tadinya mau dimakan bareng-bareng” Fatna membuka tasnya
“oh..” Aryan tersenyum masih merasa kaget
“dimakan ya..!” Aryan menikmati kue yang diberikan Fatna, tetapi tiba-tiba terdengar Fatna yang tersenyum sedikit bersuara
“kamu kenapa..?” Aryan terhenti. Fatna hanya menggelangkan kepala.
Aryan yang tidak terlalu memikirkan kejadian itu memakan kembali sisa kue yang ada ditangannya.

Siang itu Aryan dan Daris berdiri di depan kelas, menunggu Fatna dan Irni untuk berkumpul seperti biasa
“aduh ‘yan..! cuaca hari ini kok panas sekali ya, nggak biasanya” keluh Daris
“hai…!” suara Irni dari belakang
“kalian udah lama nunggu…?” Fatna menyapa. Seketika itu Aryan seperti merasakan kesejukan. Cuaca yang semula terasa begitu panas berubah saat melihat Fatna.
“o.. ya… kemarin pada ngebahas apa…?” Irni yang selalu rame seperti biasa
“nggak ada yang berbeda, cuman yang sayang buat dilewatin kemaren adalah kue dari Fatna” Aryan terlihat bersemangat
“hmm… mau dong…!” Irni manja
“yah.. rugi, nggak kebagian..!” Daris menambahkan
“tenang aja, sekarang aku bawa kok.. spesial buat kalian..” Fatna yang semakin terlihat manis dengan senyumannya.
“ye…!!”
Aryan dan Fatna hanya tertawa melihat tingkah kedua temannya itu.

Waktu berlalu begitu cepat, menambah keakraban di antara mereka terutama antara Aryan dan Fatna. Tetapi seiring dengan itu, hari yang dinantipun tiba, hari dimana mereka merayakan kebahagiaan yaitu kelulusan sekolah juga kesedihan atas perpisahan yang akan mereka jumpai.

Aryan menatap Fatna dari jauh “inikah saatnya aku ungkapkan..?” tak lama kemudian terlihat Fatna yang berjalan ke arahnya dengan senyum manis yang seperti biasa menghiasi bibirnya.
“kita lulus juga ya..” Fatna memulai pembicaraan. Aryan yang kali itu hanya tersenyum tak bicara masih menatap Fatna “inikah saatnya..?, tapi pendidikanku masih panjang, aku tak mau hanya masalah cinta konsentrasiku terbagi, tapi hatiku..?, aku bingung.., aku…” dalam hati Aryan terjadi pertentangan
“kamu kenapa ‘Ar..?”
Aryan segera mengalihkan sejenak pandangannya dari Fatna dan kemudian menggelengkan kepala
“apa ada yang mau kamu katakan..?” Fatna terlihat berseri. tapi Aryan hanya tersenyum menggelengkan kepala “ini bukan saatnya..” dalam hati, Aryan berbisik.
“seandainya kita bisa tetap bersama” dengan mata berbinar, Fatna mengungkapkan harapan itu
Fatna memang berencana tidak akan melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah, karena orang tuanya berpikir bahwa pendidikan tidak penting bagi seorang perempuan
“semoga kita sukses ya..!” Aryan yang masih tidak banyak bicara akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan perasaannya kepada Fatna, hanya menjabat tangan sebagai salam perpisahan sama seperti pada yang lain
“cie.. serius amat perpisahannya..!!” Irni kemudian datang menggoda Aryan dan Fatna yang kali itu menundukan kepala
“wuah… pada kenapa nih.. kok kayak yang udah sedih-sedihan…!” Daris yang datang bersamaan dengan Irni ikut menambahkan. Tetapi tiba-tiba Fatna mengajak Irni pergi untuk mengucapkan salam perpisahan pada yang lain. Hati Aryan terasa perih saat melihat Fatna mengangguk tersenyum untuk berpamitan padanya.
“ada apa..?” Daris penasaran dengan kedua temannya itu yang terlihat murung. Tapi seperti biasa Aryan hanya menggelangkan kepala.

Sejak perpisahan sekolah saat itu, Aryan belum pernah bertemu dengan Fatna lagi. Berbeda dengan Daris dan Irni, Aryan sesekali bertemu dengan mereka walau hanya sekedar untuk saling sapa.

“baru pulang…?” ibunda Aryan menyambut anaknya yang terlihat lelah.
“iya ni Bu.. hari ini sibuk sekali”
“ada kiriman surat untuk kamu, ibu taruh di atas meja belajar..!”
“surat..?”

Aryan membuka pintu kamarnya kemudian merebahkan diri sejenak. Ia lihat ke arah meja belajar yang telah ada surat di atasnya. Perlahan ia bangun menghampiri surat itu.
“Fatna..?” diawali senyum, Aryan mulai membacanya

dear Aryan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Tangan kita sudah lama tak saling berjabat, namun kehangatanmu masih bisa kurasakan. canda tawa serta haru ikut mewarnai kebersamaan kita dulu. Adakah kamu masih mengingatnya…?
apa kabarmu sekarang ‘Ar..! semoga kamu selalu sehat ya…!. Aku disini baik, walau kadang terasa rapuh saat ku sadari aku masih berdiri sendiri.
Bagaimana dengan pendidikanmu ‘Ar..?, semoga kamu selalu diberikan kelancaran ya…!. kalau aku sudah bekerja, karena aku tidak kuliah kamu pasti tahu alasannya.

Sudah dulu ya ‘Ar..! lain kali aku sambung lagi. Jangan lupa untuk membalas surat ini, aku tunggu segudang cerita dari kamu.

Salam rindu untukmu yang tak pernah bisa aku lupakan

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Fatna Indriyas

Bibir Aryan seperti tak bisa berhenti tersenyum. Ia mengingat wajah Fatna yang begitu berseri, senyum Fatna yang begitu manis, punggung Fatna yang menjauh saat ia hendak pulang, semua terasa indah menambah kerinduan yang selama ini memang sudah memenuhi hatinya. Pena dan kertas segera Aryan siapkan untuk mulai membalas surat dari Fatna tetapi tiba-tiba aryan bersandar pada kursinya, memejamkan mata dan menarik nafas panjang

“ini bukan saatnya, aku harus bersabar, kelulusanku sudah didepan mata, tinggal enam bulan lagi, aku tak mau konsentrasiku menjadi buyar” Aryan menyimpan kembali pena dan kertas ke dalam lacinya.

“Aryan Khagari” tiba saatnya nama Aryan disebut untuk menangguhkan gelarnya sebagai seorang sarjana. Rasa haru, bahagia, bangga, semua perasaan bercampur aduk di dalam hati Aryan. Jerih payahnya mengejar pendidikan kini terbayar sudah.
“ini untuk ayah dan ibu..!” Aryan memeluk kedua orang tuanya dengan erat.

Sudah hampir dua minggu setelah pesta kelulusan, tapi gemuruh suka citanya masih bisa dirasakan Aryan. Pagi di hari Jum’at itu, mentari seperti kalah berseri dengan wajah Aryan, ia terlihat begitu bersemangat berjalan menuju kantor pos yang tak jauh dari rumahnya. Selain hari senin adalah hari pertamanya untuk bekerja, tapi hari itu hari yang ditunggu-tunggu oleh Aryan yaitu mengirimkan surat untuk Fatna

“Fatna….! aku datang, aku akan mengirimkan surat ini untuk kamu, kamu harus membacanya..!, semua perjuanganku, semua cerita lucuku, tentang kabahagiaanku, tentang perasaanku, tentang cintaku yang sampai sekarang masih tersimpan untukmu” dalam hati Aryan dengan langkah yang terus berjalan.

Aryan semakin tidak sabar untuk mengirimkan surat itu. Setelah ia sampai di kantor pos, Ia mulai mengambil lem dan mengoleskannya kebagian amplop surat untuk diberi perangko. Tak lama suara yang Ia kenal memanggil namanya

“Aryan kan..?”
“Irni…?” Aryan setelah membalikkan badan
“kamu sedang apa disini…?”
“kamu sendiri ‘yan..?”
kebahagiaan Aryan semakin bertambah dengan bertemunya teman lama. Setelah sedikit berbincang Irni berpamitan pulang
“aku pulang dulu ya..! eh ‘yan..! sekalian minta nomor hp kamu donk, siapa tahu Fatna mau ngundang kamu secara langsung”
“ngundang..?” Aryan sedikit mengerutkan dahi
“iya, hari minggu besok Fatna menikah..”
tubuh Aryan seperti tiba-tiba kaku setelah mendengar kabar itu dari Irni. Dengan suara yang sedikit terbata-bata Aryan menyebutkan nomor hp-nya kepada Irni.

“kamu kenapa ‘Ar..?” Irni yang merasa aneh dengan perubahan sikap Aryan. Tapi Aryan hanya tersenyum dan menggelangkan kepala
“apa itu surat untuk Fatna..?” lagi-lagi Aryan hanya tersenyum menggelangkan kepala manjawab pertanyaan dari Irni.

“sebenarnya Fatna masih menyimpan perasaanya untuk kamu ‘Ar..!” Irni melanjutkan

“masih..?, maksud kamu..?”

Irni akhirnya menceritakan semua yang diketahuinya tentang Fatna pada Aryan. Tentang semua perasaan Fatna, tentang kue yang sengaja dibuat untuk Aryan dan tentang surat itu yang Fatna kirimkan beserta harapan bahwa penantian Fatna selama ini bisa terjawab.

dikamarnya, malam itu terasa sunyi bagi Aryan. Lem yang sudah mengering disuratnya perlahan basah oleh air mata Aryan yang menetes menggambarkan penyesalannya.

“maafkan aku Fatna, aku membuat kamu menunggu terlalu lama..!”

hati Aryan semakin teriris saat mengingat kembali cerita Irni tadi pagi, Fatna yang selama ini menunggu Aryan untuk mengungkapkan perasaannya, surat itu yang Fatna kirimkan dengan penuh harapan Aryan segera membalasnya agar Fatna tidak dijodohkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Hingga akhirnya jangka waktu yang diminta Fatna pada orang tuanya habis.

“maafkan aku Fatna… maafkan aku…!” Aryan masih meneteskan air mata yang semakin membasahi surat untuk Fatna. Rasa sesal kini memenuhi hati Aryan, tapi apa boleh buat semua sudah terlambat, Fatna akan segera menikah.
“semoga kamu bahagia.’Na..! semoga kamu bahagia..!” Aryan hanya bisa mendoakan Fatna dan mencoba menguatkan diri, menerima suratan yang pasti sudah digariskan untuknya.
“semoga kamu bahagia… ini pasti yang terbaik”

Akhirnya surat Aryan yang dibuat untuk Fatna tersimpan

“meskipun surat ini telah basah, aku akan menyimpannya seperti aku akan menyimpan kenanganmu sampai waktu bisa menghapusnya..!”

Cerpen Karangan: Hari Arianto
Facebook: Hari Arianto

Cerpen Surat Tersimpan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terlambat

Oleh:
Semenjak gue udah tahu kalau dia emang bukan buat gue, gue memutuskan untuk segera melupakannya. Ya walaupun lo tahulah gak mudah buat ngelupain orang yang udah ada di hati

Tangis di Ufuk Barat

Oleh:
Matahari perlahan terbenam di ufuk barat. Suara azan bersamaan dengan itu bergema di seluruh penjuru dunia. Seorang wanita berkepala empat menaiki tangga menuju lantai tiga rumahnya. Dari tangga lantai

My Friendship

Oleh:
Hai! Namaku Tania Zafirah Utami, panggil saja Tania. Hari ini adalah hari pertamaku sekolah di sekolah menengah pertama (SMP). Tepatnya, disini sedang diadakan MOS (Masa Orientasi Siswa). Perasaanku sudah

Teristimewa

Oleh:
Semua berawal dari kesalahanku yang terlalu peduli akan setiap detail situasi, hingga pada suatu siang yang terik, aku menempatkan pandang pada sebuah objek spesial di antara objek lainnya. Hanya

If I Can Say “I Love You”

Oleh:
Keiko memandang langit musim panas yang bertaburan bintang. Tapi perlahan air matanya mengalir, seakan-akan langit yang cantik menunjukkan sesuatu yang tidak menyenangkan padanya. Ya, kenangan manis yang berakhir dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Surat Tersimpan”

  1. lulu lestari says:

    Cerita cinta tak bertepi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *