Tentang Hermes

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 16 May 2017

“Telah kupakai jubah kegelapan, dan telah kukubur nama kebaikan di dalam kerak bumi.”
Wajah Arumi mengkerut heran ketika membaca tulisan ini yang ada dalam buku catatan harian kekasihnya, Hermes. Buku catatan harian ini Arumi temukan berada dalam pojokan lemarinya Hermes. Dia tidak menyangka jika ternyata Hermes memiliki buku catatan harian. Pada awalnya, dia hanya ingin merapikan kertas-kertas yang berserakan, dan ketika hendak memasukanya ke dalam lemari, dia tidak sengaja menemukan buku catatan harian itu.

“Apa maksudnya ini,” gumam Arumi terheran, “kenapa Hermes tak pernah cerita padaku kalau dia suka menulis puisi?”
Arumi sangat heran, dalam satu lembar kertas, kenapa Hermes hanya menulis kalimat seperti ini saja, mungkin juga bait puisi atau apa itu entahlah. Tapi jika memang ini puisi, bukankah terlalu singkat?

Arumi kurang mengetahui seperti apa sebenarnya sosok kekasihnya itu. Hubungan yang baru terjalin selama tiga bulan bisa jadi salah satu sebab kenapa Arumi kurang mengetahui seluk-beluk diri Hermes. Ditambah saat Arumi meminta Hermes untuk menceritakan pengalaman hidupnya, Hermes terkesan menghindari percakapan seperti itu dengan Arumi. “Apakah aku ini kekasihnya yang tak dianggap,” berkata Arumi dalam hatinya, “sebenarnya aku ini siapa di mata Hermes?”

Arumi termenung sejenak. Dia pun mengambil handphone di sakunya untuk menelepon Hermes dan segera meletakan kembali buku catatan harian itu. Pada panggilan pertama, Hermes tidak menjawab panggilan Arumi. “Kemana sih Hermes,” berkata Arumi sedikit kesal, “kok engga diangkat sih?!” Arumi pun kemudian kembali menelepon Hermes. “Hallo sayang,” akhirnya Hermes pun menjawab panggilan Arumi, “ada apa?” mencoba menahan emosinya, Arumi menjawab, “Kamu lagi ngapain? Kok baru diangkat teleponya?”, Hermes pun menyahut, “Iyah maafin. Aku lagi sibuk beresin tugas kuliah.” Sesibuk itukah beresin tugas kuliah? Itulah yang ada dalam benak Arumi. Arumi pun kembali menyahut, “Kamu lagi di mana, sayang? Aku tanya ibu kamu katanya kamu udah satu hari engga pulang?” tiada jawaban dari Hermes, setelah beberapa saat terdengar suara tarikan nafas panjang sebelum Hermes menjawab, “Aku ada tugas penelitian, dan sekarang aku lagi di Padalarang. Oh pasti kamu lagi di rumah kan, tolong bilangin ke ibu, mungkin aku pulang besok. Udah dulu yah sayang, aku mau lanjut lagi soalnya, biar cepet kelar, dah.” Seketika juga Hermes langsung mengakhiri pembicaraan sebelum Arumi sempat menjawab walau beberapa patah kata.

Perasaan yang campur aduk pun langsung menyelimuti Arumi. Kecewa, heran, dan rasa penasaran yang besar benar-benar berkumpul di dalam hati Arumi. Pikiran-pikiran dan sangkaan-sangkaan mulai mulai terlintas dalam benak Arumi. Sosok kekasihnya itu tiba-tiba menjadi sosok yang misterius dalam benak Arumi. “Kenapa Hermes jadi begini,” kamar Hermes sangat hening. Tapi tidak di hati Arumi, “apa yang kausembunyikan sebenarnya, Hermes?”
Arumi hanya termenung di dalam kamar Hermes. Tiada yang bisa dia lakukan untuk bisa menjelaskan ini semua pada perasaanya. Teman Hermes? Jangankan mengenalkan Arumi pada teman-temanya Hermes, membicarakanya pun tak pernah. Arumi tidak mempunyai informasi tentang seperti apakah sosok Hermes. “Mungkin aku ini wanita bodoh yang mencintai lelaki tanpa tahu siapa sebenarnya dia!” pertanyaan-pertanyaan dan bahkan makian-makian Arumi alamatkan pada dirinya sendiri di dalam hatinya.
“Tidak! Hermes adalah lelaki yang baik” Arumi mencoba berpikir positif tentang Hermes, “dia adalah lelaki baik yang pernah kutemui. Aku sangat mencintainya. Mana mungkin dia mengkhianati aku.” Arumi sangat yakin kalau sangkaan-sangkaan yang melintas di pikiranya itu hanya perasaan saja. Dia mencoba menghibur dirinya walau sebenarnya hati dan pikiranya benar-benar bergemuruh.

Arumi adalah wanita yang berparas jelita ditambah lagi dengan balutan kerudungnya semakin membuat lelaki tergila-gila padanya. Selain itu, dia adalah seorang yang setia. Sungguh beruntung lelaki yang bisa memilikinya, tak terkecuali Hermes. Hanya Hermes lah yang bisa meluluhkan hati Arumi. Tiada yang bisa Arumi ketahui selain ternyata dia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Hermes, tatkala saat itu mereka kebetulan bertemu di tempat magang. Arumi tidak tahu kenapa bisa-bisanya dia jatuh pada lelaki yang kurang dia kenal sebelumnya. Namun Arumi merasa bahwa ada sesuatu yang “istimewa” di balik Hermes. Karena hal ini pula lah Arumi menerima cinta Hermes pada tiga bulan yang lalu. Arumi memang setia, bahkan kesetiaannya itu pernah dimanfaatkan oleh kekasih sebelumnya. Arumi dikhianati di depan kepala matanya sendiri oleh kekasih sebelumnya. Namun, semenjak menjalin hubungan dengan Hermes, dia dapat melupakan mantan kekasihnya itu. Hermes bisa membangkitkan Arumi yang waktu itu benar-benar terpukul karena dikhianati mantan kekasihnya. Arumi sangat bersyukur bisa memiliki lelaki seperti Hermes. Dia sangat mencintainya lebih dari apapun. Dia berjanji akan memberikan apapun demi kebahagiaan Hermes.

Mentari telah menutup lembayungnya sehingga suasana Lembang pun kemudian menjadi senja raya buta. Hujan pun selesai mengguyur, kabut mulai keluar dari tubuh bukit-bukit pegunungan Lembang. Udara seolah menjadi jarum-jarum yang menusuk kulit. Tapi tidak bagi sepasang kekasih yang sedang bercinta di balik selimut tebal yang menghangatkan dua tubuh telanjang. Dia adalah Hermes dan kekasih gelapnya, Jenny.
“Aku benci denger kamu bilang “sayang” ke wanita lain. Siapa sih wanita itu?” berkata Jenny ketus sambil duduk hanya untuk menegak segelas anggur yang terletak di samping kasur. “Sudahlah sayang, kamu kan tau, aku tuh cuma butuh otaknya doang buat ngerjain skripsi aku.” Berkata Hermes dengan nada lemas sambil berusaha merayu Jenny agar kembali ke kasur. “Bener yah? Awas,” Jenny menyahut dengan nada tegas, “kamu selama tiga bulan ini jangan ngelakuin yang engga-engga sama dia!” Hermes pun tersenyum kecil setelah mendengar Jenny mengatakan itu, “Iyah sayang, tenang aja. Cuma kamu satu-satunya wanita yang aku cinta.” Mendengar Hermes berkata seperti ini, Jenny pun merasa lega dan mempercayainya. Jenny kembali dalam kasur yang nampak acak-acakan dan merangsak kembali ke balik selimut yang hangat. Hermes pun menyambutnya dengan pelukan erat layaknya seekor harimau menerkam leher kambing yang semakin lama kelamaan menjadi lemas terkulai.

Arumi masih termenung memikirkan Hermes sang kekasih yang sangat ia cintai itu. Dia pun tersadar bahwa dia sudah melamun hanya untuk memikirkan hal yang tidak-tidak. Arumi kembali teringat buku catatan hariannya Hermes dan kembali teringat tentang kata-kata yang tadi dia baca di buku catatan harian itu. Arumi pun segera kembali membawa buku catatan harian itu di lemari.
“Telah kupakai jubah kegelapan, dan telah kukubur nama kebaikan di dalam kerak bumi.”
Hanya kata-kata inilah yang ada ketika Arumi membuka lembaran pertama dari buku catatan harian itu. Tidak butuh waktu lama, Arumi pun kembali membuka lembaran-lembaran kertas selanjutnya. “Siapa wanita ini?” Arumi kaget bercampur rasa heran ketika membuka lembaran selanjutnya dia menemukan foto wanita yang ditempel Hermes. Fotonya tidak menghabiskan semua lembaran karena di bawah foto itu ada seperti beberapa bait puisi yang ditulis Hermes;

“Kania,
Engkau adalah bajingan terindah yang pernah kutemui
Yah, engkau adalah wanita bajingan.
Aku ternyata hanya hewan ternak bagimu selama lima tahun ini,
Sehina inikah aku, hey bajingan?! Akh, engkau sungguh bajingan!
Tahukah kau, hey bajingan! Jika memang aku kau anggap hewan ternak,
Mungkin aku adalah hewan ternak paling lunak,
Kau perah keringatku, aku bahagia demi kau
Rela walau darah mesti mengucur, aku bahagia demi kau
Tapi engkau nyatanya sungguh BAJINGAN!”

Kali ini Arumi benar-benar bingung bercampur heran, dan kaget. Semuanya bercampur aduk dalam pikiran Arumi setelah membaca isi hati Hermes lewat puisi ini. Arumi bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa maksud semua ini? Dia pun membuka lembaran-lembaran selanjutnya. Semua isi tulisan dalam buku catatan harian ini berisi tentang kekecewaan Hermes terhadap mantan kekasihnya itu. Hermes kecewa kalau selama ini dia menjadi lelaki yang baik. Hermes lelah menjadi lelaki yang baik. Hermes pun memutuskan untuk menjadi lelaki yang gelap setelah dia memergoki Kania sedang berciuman dengan lelaki lain, dan parahnya lagi, lelaki itu adalah teman dekatnya Hermes sendiri. Padahal selama berhubungan, Hermes tidak pernah melakukan apapun terhadap Kania, malah dia berjanji untuk menjaga Kania dengan seluruh hidupnya. Namun kini, Hermes adalah lelaki bajingan. Di dalam buku catatan hariannya, Hermes sendiri yang menyatakan bahwa dirinya sekarang akan menjadi bajingan. Dia senang karena kini menjadi bajingan. Bisa mempermainkan wanita sepuasnya. Bahkan dia menulis bahwa dia sudah banyak mencumbu wanita sebagai pembalasan dendamnya terhadap Kania.

Arumi sangat terkejut membaca catatan harian yang berisikan curahan hati Hermes. Hermes yang Arumi lihat dalam tulisan-tulisan ini sangat bertolak belakang dengan Hermes di kenyataan. Hermes menjadi sosok yang sangat kelam dalam buku catatan harian ini.
“Ya Tuhan, jika ini semua memang benar, sadarkanlah Hermes, ”Arumi pun segera meletakan buku catatan harian itu, ”dia adalah orang yang baik, aku yakin itu Tuhan.” Arumi tak kuasa membaca lagi kembali buku catatan harian itu. Arumi sangat menderita membaca buku catatan harian itu. Ternyata sosok kekasihnya itu selama ini sangat menderita. Arumi pun kembali mencaci-maki dirinya karena tidak bisa membuat bahagia kekasih yang paling ia cintai itu, “Pasangan macam apa yang tidak bisa saling membahagiakan?!” hatinya berteriak, “Ini tidak adil! Hermes sudah membuatku bahagia, tapi aku?!”

Karena rasa penasaran Arumi masih besar, dia pun sekuat tenaga kembali membuka buku catatan harian Hermes. Buku catatan harian adalah sosok dia yang sebenarnya. Lembar demi lembar coba Arumi buka. Seketika Arumi terhenyak karena melihat foto dirinya terpajang di buku catatan harian itu. Namun kali ini bukan puisi, hanya tulisan biasa;
“Arumi-ku sayang, kita mungkin sadar kalau kita ini hanya pasangan baru. Tiga bulan mungkin bukanlah waktu yang terbilang lama. Tapi selama tiga bulan berhubungan denganmu, membuatku sungguh gelisah. Hanya dirimulah yang mampu membuatku melanggar janjiku. Aku tidak bisa menyakitimu. Aku tak tahu kenapa sungguh berat jika hendak menyakitimu. Suatu ketika, aku bertemu kembali dengan wanita bajingan itu di dalam mimpiku, dia mengatakan padaku, “Arumi tidak seperti aku. Jangan pernah menyakitinya. Dialah sebaik-baiknya wanita bagimu.” Entah kenapa Arumi, kenapa wanita bajingan itu berkata demikian? Tapi jauh dalam lubuk hatiku, aku setuju dengan wanita bajingan itu, kamu memang berbeda dengan wanita lainya.
Arumi-ku sayang, aku harus tetap meneruskan janjiku. Karena aku tak bisa menyakitimu, aku memilih melampiaskan dendamku pada teman dekatmu, Jenny. Karena hanya kamu wanita satu-satunya, aku tidak mengatakan padanya kalau aku memiliki hubungan denganmu. Dia tidak pernah tahu itu, sekalipun kamu. Maafkan aku Arumi, tapi aku harus tetap membalaskan dendam pada wanita bajingan itu.

Hati Arumi benar-benar berguncang hebat. Hatinya seperti diguncang badai dan pikirannya seperti gemuruh ombak dahsyat. Air matanya tak terbendung lagi bagaikan mata air yang tak pernah berhenti mengucur. “Kenapa harus Jenny, Hermes? Kenapa?!” kali ini Arumi benar-benar berteriak, “Kenapa harus aku, Hermes?!” diselingi air mata yang tak terbendung lagi. Buku catatan harian itu pun terjatuh. Arumi sangat menyesal membacanya.

Pagi pun tiba, hanya awan mendung menyelimuti langit diliputi rintik-rintik hujan. Hermes pun tiba di rumahnya. Di kamarnya itu, dia sibuk menuliskan kepuasanya bisa melampiaskan dendam pada Kania lewat Jenny. Ketika hendak menutup catatan dan saat membuka kertas terakhir, Hermes termenung dan perlahan mengucurkan air mata, di kertas terakhir itu tertulis.

“Aku sudah membaca tulisan-tulisanmu. Aku sudah memaafkanmu dan aku tetap mencintaimu. Hermes-ku sayang, cinta itu hanya diketahui oleh dirinya sendiri, maka tidak ada alasan bagiku membencimu. Hanya denganmu, aku belajar kalau ternyata cinta tak sekejam yang kukira, karena akan selalu ada cinta-cinta yang lebih baik. Aku yakin kalau kamu adalah lelaki yang baik, oleh sebab itu aku sangat mencintaimu. Perlu kamu tahu, Jenny bagiku bukan hanya teman dekat, dia adalah aku dan aku adalah dia, kami ini satu jiwa yang mendiami dua tubuh. Kumohon cintailah Jenny seperti kamu mencintai aku. Setelah membaca tulisan ini, kutunggu kamu di taman tempat kita biasa bertemu.
Arumi

Seperti biasa, taman itu selalu sepi. Saat ketika Hermes mendekat taman itu, dia melihat seorang wanita. Wanita itu adalah Jenny. “Jenny?” Hermes kaget, “kenapa kamu? Mana Arumi?” Tiba-tiba Jenny menangis, “Arumi sudah tiada. Setelah kemarin menjelaskan semuanya padaku, di tengah perjalanan pulang, Arumi tertabrak dan nyawanya tak bisa diselamatkan.” Hermes pun ikut menangis dan langsung memeluk Jenny, “Maafkan aku.” Hermes berkata lirih. “Cintailah aku seperti kamu mencintai Arumi.” Jenny memeluk erat Hermes, “dan jangan samakan aku dengan wanita bajinganmu itu.”

Cerpen Karangan: M Arip Apandi
089643142175
M ARIP APANDI
UIN BANDUNG

Cerpen Tentang Hermes merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku Bu

Oleh:
“bu, aku pergi dulu!” kata Melli sembari pergi menuju teras rumahnya. “nak, jangan sampai malam-malam ya!” perintah Ibu Melli. “bu, suka-suka aku dong mau pulang malam atau pagi! Badan-badan

Ruthless Game

Oleh:
Aku tersentak bangun dari tidurku, handphone di samping wajahku bergetar. Ada satu pesan dari Pablo, lelaki pujaanku. “Morning Velice” Aaah… berbunga-bunga hati ini. Begini rasanya diperhatikan oleh seorang yang

Teman Pengkhianat Cinta

Oleh:
Sebenarnya kisah ini sudah lama sekali, kurang lebih 6 tahun sudah tapi jika mengingat kejadian itu masih terasa sakitnya luar biasa. Dyah adalah siswi SMP 1 T****ng A**m, saat

That Rainy Day

Oleh:
6 Mei 2013 Lagi-lagi hujan.. Perempuan itu menatap langit berselimut hitam. Cuaca terlihat kurang baik. Aku benci hujan. Ia langsung berlari menerobos hujan yang masih rintik-rintik menuju halte yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *