Terasa Hampa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 22 May 2017

28 November 2014
Sayangku.
Kau tentu tak bisa membaca guratan hati ini, karena saat ini kau sedang damai dalam tidur panjangmu. Suatu saat nanti aku harap ketika kau terbangun, kau bisa membaca ini. Aku tahu, aku lancang karena aku telah membaca semua tulisan dalam diarimu ini, tapi jika aku tak membacanya sampai kapanpun aku tak akan tahu. Maafkan aku sayangku.

Sayangku. Mengapa kau membuat aku seperti ini? Terpuruk dan semakin terpuruk melihat dirimu selalu tidur, selalu diam, hingga aku tak tega untuk berbicara sepatah kata pun. Hanya ada bunyi mesin pendeteksi detak jantung yang saling bersautan dengan jam dinding yang selalu bicara. Menemaniku yang selalu menggenggam tanganmu dan pada akhirnya aku akan menangis tanpa suara, memeluk tanganmu dengan rasa ingin mati saja.

Namun, sebuah tepukan tangan halus yang selalu mendarat di pundakku, yang aku benci, yang selalu ingin aku enyahkan membuat aku bertahan dan berharap kalau keajaiban akan datang. Meskipun aku benci kepedulian tangan itu. Tapi aku juga tak bisa memungkiri kalau aku membutuhkannya.
“Dia akan bangun, segera setelah kau lebih tegar. Kakak percaya, ayah dan bunda juga percaya kalau kalian bisa melewati ujian ini dengan lapang dada. Kakak rasa, dia juga tidak ingin melihatmu yang seperti ini? Ini bukan kamu Lakay”
Kakak dan ayah yang selalu menepuk pundakku, selalu bicara seperti itu padaku. Tapi sampai kapan sayang? Kapan kau akan bangun dan kapan kau akan kembali tertawa bersamaku? Membawa kembali senyum dan tawa yang kau ambil saat ini. Aku benci padamu yang seperti ini, aku benci karena diammu juga menghadirkan diam padaku.

Sudah satu bulan lebih kau terbaring, selama itu pula aku selalu bersamamu, mengabaikan tanggung jawabku sebagai manager produksi di perusahaan ayah, dan dengan terpaksa kakak harus menanggung dua tanggung jawab sekaligus. Manager pemasaran dan produksi juga. Aku mohon sayang beri aku sebuah tanda kalau kau baik-baik saja, maka aku bisa memercayakanmu pada suster dan dokter. Dengan begitu, aku tak akan membebani lagi kakak dengan tugasku.

5 desember 2014
Sayang, akhirnya aku setuju untuk kembali bekerja dan merelakanmu dijaga oleh suster dan dokter rumah sakit. Setelah kau datang dan kau bilang kau baik-baik saja dalam mimpiku aku mau kembali bekerja. Hari ini, aku kembali bekerja meskipun di kantor aku tak seluruhnya fokus pada pekerjaanku karena aku selalu mencemaskanmu. Tapi, di hari pertama aku kembali bekerja, aku baru sadar kalau aku merindukan mereka, rekan kerjaku. Melihat mereka tertawa aku ingat kembali bagaimana rasanya tertawa. Hanya bersamamu saja selama ini, aku lupa bagaimana untuk tersenyum dan tertawa, sedangkan dengan mereka, aku ingat lagi bagaimana kehangatan tertawa bersama.

15 desember 2014
Sayang. Hari ini aku menyapamu sebagaimana aku menyapamu dulu, ketika keadaan tak seperti ini. Tapi kau tetap diam tanpa merespon, apa kau marah aku jarang nememanimu di sini? Sayang mengertilah, soalnya ini akhir tahun, jadwalnya pembukuan tahunan. Meskipun masih pertengahan desember tapi aku ingin menyelesaikannya dengan cepat. Supaya aku bisa merayakan tahun baru berdua bersamamu di sini.
Sayang, apa semakin hari kamu memang semakin pucat dan semakin kurus? Atau aku baru menyadarinya hari ini? Tanganmu pun tak sehangat dulu lagi. Sekarang rasanya hambar memegang tanganmu. Cepat sadar sayang. Aku rindu kehangatan tanganmu.

1 januari 2015
Selamat tahun baru sayang. Selamat datang di tahun yang baru. Diluar sana suara kembang api dan terompet menggema, menghangatkan malam yang biasanya sepi. Apa kau bisa mendengarnya? Aku di sini menemanimu, hanya berdua bersamamu seperti janjiku. Sebenarnya ayah mengajakku untuk merayakannya di villa, tapi aku tak bisa membiarkanmu melewati malam tahun baru sendirian. Lagipula, aku sudah berjanji bukan. Cepat sadar sayang. Apa kau tambah marah karena aku baru datang sejak diari terakhir yang aku tuliskan untukmu? Aku harap kau mengerti, karena aku sibuk di luar sana. Meskipun aku tak bersamamu, aku harap kau tahu. Hatiku selalu ada di sini. Bersamamu.

1 februari 2015
Sayang, tahu ‘kah kau kalau hari ini tanggal 1 februari? Ingat ‘ritual’ kita kalau bulan februari datang? Kita selalu menghanyutkan dua perahu kertas yang kita buat sambil berlomba dan yang kalah harus menerima hukuman dari yang menang. Aku selalu menang dan kau selalu kalah. Aku ingat, hukuman terakhir yang aku berikan padamu. Lamaranku.
Aku melamarmu di sana. Di air terjun yang selalu kita datangi untuk menghanyutkan perahu itu.
“Hukumannya adalah kau harus mau menjadi istriku seumur hidupku. Ngasih aku hari-hari yang bahagia. Aku akan memberimu kebahagiaan yang selalu kau inginkan dan kau akan memberiku kebahagiaan yang lebih dari yang aku inginkan. Aku rasa hukuman cukup!” Selesai aku bicara seperti itu kau tertunduk malu, menutup wajahmu dan menangis. Iya ‘kan? Aku ingat sekali setelah itu kau memukul dadaku dan salah tingkah.
“Apaan sih, kok gitu hukumannya? Biasanya juga cuma becandaan konyol kamu, sekarang becandanya jelek, masa bikin aku nangis, tapi sedetik tadi aku langsung sadar kalo kamu lagi bikin aku ke-ge-er-an sama omongan gak bermutu kamu itu” kamu ngedorong aku nyampe aku kepeleset masuk air. Kamu ketawa puas karena berhasil bikin aku basah kuyup, tanpa pikir panjang aku narik kamu ke air.
“Satu sama. Aku basah, kamu juga harus basah!” aku tertawa puas sekali liat ekspresi gak nahan kau. Kaget sekaligus marah. “Aku serius. Tyu Nakina. Aku hanya butuh kata iya atau tidak. Mau gak jadi nyonya Lakay?” sekali lagi kau tersenyum sambil nangis dan mengangguk sekuat tenagamu.
Hari ini aku udah bikin dua perahu kertas itu, satu akan aku gantung di kamarku dan satu lagi, aku simpan di sampingmu. Aku akan menunggu sampai kapanpun untuk kita menghanyutkan perahu itu sama-sama. Tak peduli sebanyak apapun perahu itu akan jadi nantinya, saat kau terbangun. Aku akan tetap menunggumu. Sebagai gantinya, aku minta satu kecupan di dahimu. Kau tidak keberatan ‘kan?

15 februari 2015
Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun kamu dan aku, selamat ulang tahun. Kau tahu, aku menyanyikan lagu itu sambil menangis, aku tak pernah berpikir kita akan merayakan ulang tahun kita di sini, di ruang perawatan pasien, melihatmu tetap diam, semakin pucat, kurus dan semakin dingin. Bangun! Bangun! Bangun! Kalau aku tak ingat banyak sekali selang dan alat yang terpasang di tubuhmu, aku ingin sekali memelukmu sambil berontak pada keadaan. Akan aku bawa kau pergi dari sini dan kita hanya akan hidup berdua. Ingin sekali aku melakukan itu. Tapi aku tak bisa. Sangat tak bisa.

Seberapa lama, seberapa sering pun aku menolak perkataan dokter, ayah, kakak dan bunda. Aku tahu kalau mereka benar. Kau tak bisa hidup tanpa alat-alat itu. Bahkan aku tahu, keluargamu sudah merelakanmu pergi. Maaf sayang aku harus menulis ini, aku sungguh tak bisa menyembunyikan hal ini lagi darimu, sungguh tak bisa. Beban di hatiku sudah sangat berat menyembunyikan hal ini darimu. Maka, hari ini aku akan berterus terang padamu.

Ingat, saat aku tulis, aku sudah jarang menemuimu karena aku sibuk bekerja? Sebenarnya bukan itu alasannya. Hari itu, saat akhir desember aku menemuimu bersama keluarga kita, dokter bilang kalau sudah tak ada harapan lagi darimu dan dokter menyarankan untuk merelakanmu. Kala itu rasanya hatiku ditusuk oleh sembilu dan dicabik-caik oleh taring yang tajam. Aku marah, mana mungkin aku bisa merelakanmu sedangkan detak jantungmu masih bisa aku dengar? aku tak bisa! Meskipun kewenangan semuanya ada pada keluargamu, tapi aku menolak untuk melepaskan alat itu dari tubuhmu. Aku masih belum bisa rela kehilanganmu.

Pertunangan seharusnya kita laksanakan hari ini bukan? Dan pernikahan akan kita gelar nanti bulan september di hari kau menyatakan cintamu padaku. Mana mungkin aku harus merelakanmu? Gila kalau aku merelakanmu pergi!
Aku hanya menyibukkan diri di luar sana, melupakan perkataan dokter tentangmu, tapi sebanyak apapun waktu yang aku habiskan untuk bekerja, untuk pergi tertawa bersama teman-temanku. Bayangan tentang dirimu tetap datang dan beban ini terus menekanku. Maafkan aku sayang, meskipun kau ingin aku melepaskanmu, aku tetap tak bisa. Tak ada wanita yang seperti dirimu? Tak ada yang bisa menggantikanmu, tak ada yang bisa membuat aku tertawa seperti kau membuat aku tertawa.

Seandainya saja, dulu aku tidak egois, hari ini kita pasti telah saling diam bahagia karena pertunangan kita terlaksana. Kau tahu ‘kan alasannya, karena aku tak ingin kau disentuh oleh siapapun kecuali aku yang jadi suamimu. Kau tahu ‘kan kalau aku ingin tubuhmu utuh saat malam pertama kita?
Aku baru tahu, kalau keputusanku itu membuatmu semakin menderita. Bukumu yang telah memberitahukannya padaku. Mengapa kau tak bilang kalau rasanya sakit sekali. Aku baru tahu, kalau tiba-tiba kau mencengkram tanganku kuat sekali dan bersembunyi di belakang tubuhku, artinya penyakit itu sedang menyiksamu bukan? Mengapa?

Seandainya saja dulu aku merelakanmu melakukan operasi lebih awal karena penyakit kankermu. Aku yakin, kita tidak akan di sini. Aku tahu aku telah salah mengambil langkah. Andai saja aku tak membuatmu lebih menderita karena operasi itu, kita pasti akan bahagia sekarang. Salahku, aku membuat operasi pengangkatan kanker itu terlambat. Dokter memang berhasil mengangkat semua sel kanker yang ada pada payudaramu, tapi saat itu kondisimu sedang tidak baik. Dokter pun bilang kalau seandainya operasi itu berhasil, semua tetap bergantung pada kondisi tubuhmu dan ternyata inilah hasilnya. Kau jauh lebih menderita karena keputusanku saat itu. Lagi-lagi sekarang aku hanya bisa menangis sambil memeluk tanganmu. Jika aku merelakanmu pergi, entah bagaimana aku akan hidup atas dua penyesalan terbesar dalam hidupku -membuatmu menderita dan membuatmu mati- terlebih, senyummu saat kau masuk ruang operasi membuat aku tak tega kehilangan dirimu, walaupun aku tahu kau sedang kesakitan, tapi senyum itu tak menyiratkan kesedihan sedikit pun, bahkan senyum itu bilang kalau kau akan baik-baik saja. Maafkan aku sayangku.

Cerpen Karangan: Pebian Tri Andayani
Facebook: Febian Tri Andayani

Cerpen Terasa Hampa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Baru Kusadari

Oleh:
“Tu Tika! Aduh… musim liburan seperti ini kenapa tidak pergi bersama teman-teman sih! Lihat teman-temanmu sudah pada cantik dan siap untuk bertamasya. Kamu nggak boleh diam di kamar terus…

Episode Cinta di Atas Dermaga

Oleh:
“Kita telah salah.” Binar memulai percakapan antara kami. “Kau tahu ini seharusnya tidak terjadi?” lanjut Binar yang sedang duduk di sampingku. Aku hanya bisa menatap debur ombak air laut

Melukis Pelangi

Oleh:
Hujan kembali membasahi sosok tubuh mungil yang tengah berlari sendiri mengitari lapangan sekolah. Terdengar suara saling berbisik antara anak yang satu dengan yang lain. Banyak anak yang menyaksikan tubuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *