Terlambat Kusadari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 9 August 2015

Kinanti menghempaskan tubuhnya pada bangku taman. Kamera yang menggantung di dada kini berada dalam genggamannya. Sementara Sundara masih menatap penasaran menunggu jawaban Kinanti.

Pertanyaan demi pertanyaan bergerak menghantui pikiran Sundara. Sementara bintang-bintang di langit masih memercikkan cahayanya dalam gelapnya malam dan keheningan diantara mereka. Hingga akhirnya Kinanti melengkapi jawabannya.

“Bagiku cinta dan kasih sayang itu, hanya memberi tak harap kembali, itu artinya di dalam rasa itu ada ketulusan. Itu sebabnya, aku masih bertahan di zona penantian. Meski memang Bagja tidak memberi kepastian kepadaku. Setidaknya ia tidak memberiku harapan kosong,” jelas Kinanti menatap Sundara seraya tersenyum.

Sundara mengangguk mantap. Rasa penasarannya terjawab sudah, meski hatinya merasa sakit karena jawaban itu memberikan arti bahwa Sundara tak akan bisa menyentuh hati Kinanti, gadis yang selama tiga tahun ini ia cintai.

“Mengapa tiba-tiba kau menanyakan soal hatiku? Tak seperti biasanya sikapmu juga menjadi pendiam,” lanjut Kinanti sambil memotret kerlip cahaya bintang.
“Euh, tidak. A-aku, a-aku hanya … Ah, sudahlah. Sebagai sahabat, wajar bukan bila aku ingin mengetahui soal itu? Lagipula aku ingin memastikan lelaki yang kau pilih itu baik atau tidak. Karena aku tak ingin kau terluka,” balas Sundara.

Gadis dengan rambut diikat seperti ekor kuda dan poni yang menutupi dahi sampai alis, memalingkan pandangan pada Sundara dan menatapnya lekat-lekat.

“Mengapa kau berpikir sejauh itu? Aku akan bak-baik saja,”
“Karena aku, a-ku. Aku menyayangimu,”
“Aku juga menyayangimu, Sundara”
“Hanya sebatas sahabat saja, bukan?”

Kinanti terdiam, dan perlahan menghela napas. Sundara hanya tersenyum. Hatinya yakin bahwa Kinanti hanya menganggapnya sebatas sahabat dan tak akan bisa mencintainya.

Perlahan namun pasti, Sundara menjauh dari tempat duduknya tanpa meninggalkan sepatah kata. Butir-butir air mata menetes membasahi lekuk pipi Kinanti, mengiringi langkah Sundara yang telah berlalu pergi. Binar matanya samar-samar melihat punggung Sundara yang telah memasuki bis.
Ingin dirinya memanggil dan menahan Sundara, namun apa daya begitu kelu lidahnya untuk berkata. Hanya penyesalan yang kini tersisa menemani malamnya yang sepi.

“Sebenarnya aku mencintaimu, Sundara. Tapi kau tak pernah menunjukkan keseriusanmu untuk mencintaiku. Kau tak pandai membatasi sikap kepadaku dan Nandita. Padahal kau tahu aku bersahabat dekat dengannya. Itu sebabnya aku berhenti untuk mencintaimu dan kembali menunggu Bagja,” tangis Kinanti seraya menundukkan kepala.

Angin malam semakin memeluk erat tubuh Kinanti, hingga ia merasa kedinginan. Tak henti air matanya berlinang, mengingat sepenggal episode masa lalu yang menyakitkan bagi Kinanti. Episode paling tak ingin Kinanti ingat, yaitu saat Kinanti merasa diberi harapan kosong oleh Sundara.

24 Juli 2005
Siang itu, langit begitu cerah. Cahayanya menyilaukan mata. Langkah Kinanti mulai lelah mengikuti hentakan kaki Sundara dan Nandita yang berjalan di depannya. Mereka berdua hanyut dalam obrolan yang Kinanti tak mengerti. Sebab yang mereka obrolkan adalah perjalanan mereka ke puncak minggu lalu, dan Kinanti tidak tahu bahwa mereka pergi berdua.

“Sundara, kau berubah. Sejak Nandita hadir dalam hari-hairi kita, aku rasa kau mengacuhkanku,” bisik Kinanti dalam hati.

Cukup jauh Kinanti tertinggal di belakang mereka. Kinanti hanya menelan kepahitan bahwa cintanya kembali tak terbalas, terlebih Bagja tak memberinya kepastian atas penantiannya.

“Kinan?!” seru Sundara memanggil gadis berlesung pipi itu.
“Aku menyusul,” balas Kinanti sedikit berteriak. Sundara mengangguk seraya kembali berjalan.

Perjalanan mereka mengunjungi tempat wisata candi Borobudur dengan disisipkan tujuan bertemu dengan seorang dosen fotografi, kenalan Sundara, membuat Kinanti sedikit jengah melihat keadaan yang menyudutkannya pada kesepian.

Tujuan mereka pun tercapai. Mereka berbincang-bincang dengan dosen fotografi itu. Kinanti pun cukup puas atas ilmu yang ia dapat dari dosen itu. Masih tersisa banyak waktu sehabis pertemuan itu. Sundara mengajak Nandita dan Kinanti untuk jalan-jalan di Malioboro. Kini Sundara mendekati Kinanti, bercanda dengannya dan memberikan sedikit perhatian karena Kinanti mulai kelelahan.

“Sundara, coba lihat pernak-pernik ini apa bagus untuk kita simpan di basecamp sastra kita?” seru Nandita sambil memilah beberapa barang yang terpajang di toko aksesoris yang mereka kunjungi.

Sundara yang tengah membantu Kinanti memasangkan lensa kamera, terpaksa menghampiri Nandita dan meninggalkan Kinanti. Dengan lapang hati Kinanti hanya tersenyum. Ia mengerti ada kecemburuan yang terlihat dari sorot mata Nandita ketika ia bersama Sundara.

Kinanti memilih menunggu di luar. Sesekali melihat ke dalam toko namun tak jarang Kinanti kembali memalingkan pandangannya karena Sundara dan Nandita terlihat begitu mesra.

Mereka kembali mengitari Malioboro, meski berjalan kaki. Satu-persatu mereka mengunjungi toko yang menurut mereka unik. Kadang Kinanti mendapati sikap Sundara yang begitu acuh padanya dan terlihat mesra bersama Nandita. Kadang ia pun merasa Sundara memberi perhatian lebih pada dirinya, dan kadang memberi kesan romantis dari setiap perilaku yang Sundara tunjukkan.

Begitu banyak kemesraan yang Kinanti lihat diantara Sundara dan Nandita. Ia merasa tak dianggap dan sahabatnya pun yaitu Nandita begitu mengacuhkannya.

Episode itu pecah seketika dalam lamunan Kinanti, ia tak ingin mengingatnya lagi. Rasa sakitnya terlalu dalam. Saat hatinya benar-benar akan memilih Sundara, namun yang terbalas hanya duka dan luka yang kini membekas.

Sundara kembali kepada Kinanti saat Sundara tahu bahwa Nandita mencintai Priandi, mahasiswa fakultas kedokteran. Sundara merasa dipermainkan oleh Nandita. Tak lama sesudah dari perjalanan wisata itu Nandita pindah ke luar kota.

Nandita menceritakan isi hatinya kepada Kinanti bahwa ia menyukai Sundara, namun Priandi terlebih dahulu mengutarakan isi hatinya. Sejak kepergian Nandita, Sundara selalu membahas Nandita di setiap obrolannya bersama Kinanti. Membuat Kinanti jengah dan muak atas sikap Sundara. Namun ia tetap sabar, dan tetap menemani Sundara kemanapun ia pergi.

Hingga sampai akhirnya Kinanti dibuat lelah oleh Sundara atas sikapnya yang tak henti mengingat kisah-kisahnya saat bersama Nandita.

“Arrrgghh!!” pekik Kinanti memecah keheningan malam itu.

Kinanti bergegas mengemas barang-barangnya dan pergi dari taman itu. Ia berlari ke arah jalan raya. Ia menyebarkan pandangan mencari bis yang tadi Sundara naiki. Sampai akhirnya bis berwarna biru itu ia dapati. Kakinya bergerak cepat, berlari mengejar sisa-sisa jejak bis itu yang tak begitu jauh dari tempaytnya berdiri.

“Sundara?!” seru Kinanti memanggill Sundara.

Bis itu pun berhenti saat seseorang turun dari bis itu. Bersamaan dengan itu Kinanti masuk ke dalam bis dan mencari sosok yang sangat ingin ia temui. Namun di setiap kursi yang telah terisi tak ada sosok yang ia cari. Ia bergegas turun dari bis. Dan menyebarkan pandangannya ke setiap penjuru kota kecil itu.

Sosok bertubuh tinggi dengan memakai jaket berwarna abu serta celana jeans hitam berjalan di sebuah trotoar. Sosok itu pun menyeberang ke samping jalan yang kini Kinanti tengah berdiri.

Kinanti mengejar sosok itu dalam keramaian jalanan kota, kendaraan roda empat hilir-mudik di depannya. Berkali-kali Kinanti memanggil sosok itu namun tak ada jawaban. Sampai akhirnya langkah Kinanti terhenti di sebuah jembatan dengan jalanan yang tak begitu ramai. Sosok itu berdiri menatap riak sungai yang cukup deras.

Kinanti berlari mengampiri saat sosok itu perlahan memanjat pada besi pembatas dan mulai bersiap untuk loncat.
“Jangan!” pekiknya seraya menarik tangan sosok itu hingga keduanya terjatuh ke jalanan aspal.
“Kinanti? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menahanku?” jelas sosok itu yang tak lain adalah Sundara.
“Harusnya pertanyaan itu untukmu! Untuk apa kau memanjat besi pembatas? Kau sudah bosan hidup, hah!”

Kinanti menatap mata sayu itu lekat-lekat dengan air mata yang bersembunyi di matanya.

“Ya! Aku lelah! Aku merasa tak ada kebahagiaan lagi. Keluarga pun aku tak punya, semua orang meninggalkanku termasuk dirimu. Dan, lebih parahnya lagi tak ada satu pun cinta yang mau mendekatiku. Aku lelah!”
“Dasar bodoh! Kau putus asa hanya karena itu?! Laki-laki macam apa kau ini? Kau bukan Sundara yang kukenal, ini bukan dirimu. Kau selalu kuat menghadapi apapun. Bahkan kau selalu melindungiku,”
“Apa yang kau tahu tentangku?! Bukankah di hatimu hanya ada Bagja? Lalu untuk apa kau pedulikanku lagi?”
“Karena aku membutuhkanmu,”
“Untuk apa? Apa yang kau harapkan dariku? Lelaki yang hanya memberi harapan kosong padamu!”
“Kau membuatku merasa aman dan nyaman. Tetaplah bersamaku,”
“Tidak Kinanti, tidak! Sudahlah kau pergi!”

Sundara mendorong Kinanti hingga tersungkur ke tengah jalan dan ia perlahan berlari menjauh dari Kinanti dan kembali memanjat besi pembatas jembatan.

“Aku mencintaimu Sundara! Aku mencintaimu!” pekik Kinanti membuat Sundara berhenti melancarkan niatnya bunuh diri.

Ia menatap Kinanti yang jauh darinya. Kinanti perlahan berdiri dan tersenyum menatap Sundara. Sundara masih tak percaya atas apa yang Kinanti ucap.

“Ya, aku mencintaimu. Tapi kau tak pernah menyadari itu. Padahal selama ini, di sampingmu ada hati yang selalu menunggu. Tapi kau sama sekali tak menyadari. Sampai akhirnya kau menyakiti hatiku dengan bersikap acuh padaku saat masih ada Nandita,” tandas Kinanti berteriak.

Sundara melepas pegangannya dari besi pembatas. Ia berdiri mematung menatap tak percaya atas penuturan Kinanti, gadis yang ia cintai.

“Aku ingin kita kembali seperti dulu. Menghabiskan waktu bersama, penuh tawa. Ijinkan aku ada di sampingmu lagi setiap saat bersama cinta ini,”
“Kinanti …”

Sundara perlahan berjalan mendekati Kinanti yang berdiri jauh darinya. Tapi sayang, sebuah mini bus yang melaju kencang menabrak Kinanti, hingga gadis itu terpental jauh dan membentur bahu jalan.

Mini bus itu berlalu tanpa tanggung jawab. Melarikan diri dari kesalahannya yang telah menabrak Kinanti. Beberapa orang yang berada di sekitar jalan mengejar mini bus itu. Sementara Sundara tersentak melihat jelas kejadian itu. Ia berlari menghampiri Kinanti.

Sundara merengkuh tubuh Kinanti yang berlumur darah dari kepalanya, akibat benturan keras pada bahu jalan. Sundara memeluknya erat. Tangisannya terdengar jelas di keheningan malam itu yang sangat dingin.

“Kinan, bangun! Tolong!” teriak Sundara menyebarkan suaranya.

Sebagian orang menelpon ambulan dan yang lainnya berhasil mengejar mini bus yang telah menabrak Kinanti, dan menyeret sang supir yang ternyata tengah mabuk.

“Maafkan aku Kinanti, bertahanlah!” tangis Sundara mengusap rambut Kinanti.
“Aku me-ncintai-mu,” seru Kinanti terbata-bata.
“Sudahlah, jangan bicara apapun. Simpan tenagamu, aku mohon bertahanlah!” tangisan Sundara semakin terdengar pedih.

Tangan lembut Kinanti, meraih jemari Sundara yang mendarat di pipinya.

“Maafkan aku, a-ku mem-bohongi pe-rasa-anku. Aku men-cintai-mu,”
“Aku juga mencintaimu Kinan, bertahanlah. Aku janji akan selalu menjagamu dan mencintaimu sepenuh hati. Aku mohon, jangan tinggalkan aku, jangan buat aku menderita,”
“Sssttt … Kau ha-rus kuat. Kurasa Tuhan su-dah me-manggil-ku. Maafkan a-ku. Ja-ga di-ri-mu,”
“Tidak! Tidak Kinan! Jangan tinggalkan aku! Arrggghh!!”

Sundara meraung meluapkan kepedihannya ditinggal sosok yang ia cintai. Semua orang berkerumun melihat Kinanti dan Sundara. Sementara Sundara menangis pilu. Ia menyesal, telah membuat Kinanti merasa diberi harapan kosong. Dan ia menyesal karena terlambat menyadari, bahwa sebenarnya selama ini gadis yang ia cintai ternyata menaruh rasa yang sama padanya.

“Maafkan aku. Terlambat kusadari, ternyata kau juga mencintaiku. Harusnya dari dulu aku mengungkapkan rasa ini, tapi aku takut tak ada tempat di hatimu. Maafkan aku, Kinan …”

Hanya tangisan penyesalan Sundara yang terdengar, mengantar kepergian Kinanti untuk selamanya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ersa Nazwa
Facebook: Ersa Nazwa

Penulis adalah gadis kelahiran Bandung, 14 Agustus. Ia tinggal di Majalaya-Bandung. Mojang Bandung ini gemar menulis puisi, cerpen juga bermain gitar. Beberapa karyanya sudah dibukukab bersama penulis lainnya dalam sebuah buku antologi. Untuk menghubungi penulis bisa lewat akun Facebook dengan nama akun Ersa Nazwa.
Terima kasih sudah membaca. Salam literasi.

Cerpen Terlambat Kusadari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Firra dan Gerimisnya

Oleh:
“Firaaaa…!” saat kuteriaki wanita itu, dia hanya menoleh tak berkata sedikitpun, ia hanya melihatku dengan wajah yang aku lihat di matanya banyak beribu cerita yang sulit kujelaskan, matanya yang

Selamat Jalan

Oleh:
Pada hari ada wanita yang pendiam dan ekspresi wajah jutek. Saat suatu ketika dia main ke rumah teman SMPnya, di sana dia melihat temannya yang sedang kumpul dengan teman

The End (Part 3)

Oleh:
Saat Leon akan berjalan menuju kelasnya, Richard berjalan keluar dari ruangan kelas. Tapi tiba-tiba saja, langkahnya goyah. Karena merasa heran, Leon menghentikan langkahnya. Ia melihat Richard yang sempoyongan dengan

Karena Kita

Oleh:
Pagi ini cuaca redup, embun pagi masih bergantung di pucuk-pucuk daun. Beberapa menit kemudian, mentari menampakan sinar hangat nya. Hening. Masih terlalu pagi. Setelah menelan sepotong roti isi keju

Mengapa Kamu Memilih Dia

Oleh:
Meski malam gelap gulita Angel tetap saja menangis Angel belum bisa melupakan pria yang benar-benar dia cintai. Malam berganti pagi ayam telah berkokok Angel tersentak bangun mendengar suara yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *