Tinggal Kenangan


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 22 May 2013

Malam Minggu kali ini terasa sangat menyebalkan bagiku, betapa tidak? Aku yang sudah menunggu berhari-hari ingin sekali melepaskan rindu olehnya, kini telah sirna. Tadinya, Aku sempat gembira, karena selama sepekan Aku menunggu, akhirnya dapat berjumpa kembali dengannya. Tetapi, sejak tadi sore hujan barserta petir datang silih berganti di kota kami. Jadi, kami tidak jadi berjumpa di malam Minggu ini.
Huft, menyebalkan! Sudah sepekan Aku merindukan wajahnya dan ingin sekali cepat-cepat bertemu dengannya. Tapi, hujan besar menghalangi kami untuk bertemu. Yah, mau diapakan lagi? Terpaksalah Aku harus menunggu untuk sepekan yang akan datang, menunggu ia datang, dan menjemputku. Disini, di rumahku. Pekan lalu ia tak dapat apel ke rumahku, karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Namanya Roy, dia adalah sosok lelaki yang sangat rajin, tidak pernah membolos kerja kalau memang bukan hari Sabtu, (hari liburnya ia berkerja). Sampai-sampai Aku, kekasihnya di abaikan, bagaikan sampah dedaunan yang berada di taman tak tersapu. Tetapi, Aku maklumi itu, maklumlah ia tinggal di Jakarta hanya seorang diri, keluarganya berada di Desa yang jauh dari kota kami. Jadi, ia harus pandai-pandai berkerja mencari uang, karena kalau tidak dia tak dapat menghidupi dirinya sendiri. Aku tak pernah mau menjadi seorang wanita “Parasit” iya, Aku gak suka dan paling gak suka, Aku mencoba menjadi seorang kekasih yang baik, tidak suka di manja, bahkan tidak ingin di manja. Menurutku, sejelek-jelek Aku, Aku tak pernah mau membebani seseorang, apalagi orang yang Aku maksud kekasihku, Roy. Tidak, Aku tidak suka itu.

Malam Minggu ini, Aku hanya terdiam diri di kamarku. Sambil, berdiri mematung di balik jendela melihat satu persatu tetesan air yang berjatuhan ke tanah, berharap hujan akan cepat berhenti. Namun, nyatanya tidak. Semakin lama, Aku menunggu, semakin deras hujan yang berjatuhan. Tak lama kemudian, Handphoneku bergetar, karena deras hujan yang begitu kencang yang membuatku tak mendengar. Tetapi, semakin lama getaran itu semakin memuncak, ternyata kekasihku yang menelpon. Aku angkat Hand Phoneku dan kubaca tulisan yang tertera di layar Hand Phoneku. “5 panggilan tak terjawab (Kekasihku, Roy)” O, tidak. Ternyata ia menelponku sudah 5 kali, belum sempatku menelpon balik, dia sudah menelponku kembali. Aku angkat telpon darinya ku taruh Handphoneku di telinga sebelah kanan. Awal Aku mendengar, hening sekali, lalu ku buka percakapan di telpon kami “Hallo…” Suaraku yang kecil membuka percakapan telpon saat itu, sampai-sampai Aku mengulang hingga tiga kali mengatakan hal yang sama dengan yang tadi.
“Hallo… hallo… hallo”
Telpon kami kali ini sangatlah tidak berkesan, hanya hening yang ada.
Hening… Hening… dan hening
Kali ini dia menjawab telponku, tetapi mengapa yang menjawab suara perempuan? Mengapa bukan Roy, kekasihku? Apa yang telah terjadi? Atau jangan-jangan… Ah, tidak! Aku tidak boleh berfikiran buruk dahulu tentang Roy saat ini, Aku percaya dia akan menepati janjinya untuk selalu mencintaiku.
Tak ku sadari, ternyata Aku tadi sedang melamun. Ternyata, sudah berkali-kali dia menjawab telponku dengan suara merdunya. Tetapi, aku tak sadar. Langsunglah Aku menjawabnya “O, maaf mbak bolehkah saya berbicara dengan Roy Suryo?” pintaku padanya. “O, baiklah. Saya panggilkan pak Roy, tunggu sebentar ya mbak, oya mbak kalau pak Roy mengatakan siapa yang ingin berbicara dengannya, saya harus bilang apa mbak?” tanyanya kembali “Bilang saja, ada telpon dari Karin” jawabku singkat. Lalu, ia berlalu, Aku masih menunggu suara kekasihku, Roy yang menyambut, nyatanya tidak! Sudah hampir 15 Menit Aku menunggu, tak ada suara yang menyambut telpon dariku.
Hening… hening… dan hening
Kemudian, telponku terputus begitu saja. Sungguh, tak ada kesan hari ini. Seharusnya, hari ini dia libur berkerja. Tetapi, menagapa ia sedang sibuk? Mengapa begitu? Dan, perempuan itu. Siapa? Apa yang telah terjadi?

Malam itu, Aku putuskan untuk tertidur saja di kamar, ku hempaskan tubuhku di ranjang tidur, ku peluk guling yang berada di depamku. Ku kunci pintu kamar tidurku rapat-rapat, lalu ku lempar Handphoneku jauh-jauh. Malam ini, Aku tidur lebih sore dari malam-malam sebelumnya. Aku ingin sejenak menenangkan diri dan melupakan yang telah terjadi hari ini, dan berharap semua ingatan itu pergi begitu cepat berlalu. Seperti, air yang begitu cepat mengalir. Di malam-malam sebelumnya, Aku selalu tidur hingga larut malam karena Aku sudah berjanji padaku sendiri, Aku tak akan tidur sebelum kekasihku pulang kerja dan sampai kost-kostanya. Pernah, suatu hari dia menyuruhku untuk tidur duluan saja, karena dia tahu bahwa saat itu sudah larut malam, tetapi Aku mengatakan padanya, kalau Aku tak mau tidur kalau kau belum sampai kos-kostanmu. Ku lupakan perkataan bodoh yang pernah ku katakan padanya, Aku tertidur pulas. Walau hatiku sangat menderita…

Kau, datang dengan seseorang perempuan yang tak pernah ku kenali sebelumnya, Kau membawa perempuan berparas cantik itu tepat dihadapanku, lalu Kau perkenalkan perempuan itu padaku, dengan entengnya Kau datang dengan membawa sepucuk undangan, Kau juga mengatakan bahwa Kau akan segera menikah dengannya, tepatnya hari Sabtu depan. Aku hanya bisa terdiam, mematung lugu tak berdaya, tanpa satu katapun ku ucap. Aku kecewa, kecewa padanya, Roy… Roy telah menghianati cinta kami, belum sempat kata putus ku lontarkan padanya, namun dia telah berlalu meninggalkanku. Aku teriak. Aku bersedih. Lalu Aku masuk ke dalam kamarku, Aku lempar semua benda yang ada di tanganku saat ini, kemudian Aku ambil foto Aku dengannya, ku lempar ke arah pintu, vas foto itu pun pecah berkeping-keping. Kemudian, Aku mengambil beling pecahan vas foto itu lalu ku arahkan beling itu tepat di nadiku
Lalu…!!!
Tok… tok… tok…tok…!!
Ketukan pintu dari luar itu menghempaskanku kembali ke dunia nyata, seakan Aku yang dari tadi terbang melayang di udara lalu di hempaskan begitu saja ke dunia, rasanya sakit sekali. Dengan cepat Aku beranjak dari kamar tidurku dengan sedikit sempoyongan seperti habis minum Alkohol, ku buka pintu kamarku yang dari tadi ku kunci rapat-rapat, ku melihat wajah seseorang yang tak lagi asing olehku. O, tidak! Ternyata yang berada di depanku saat ini adalah Roy, kekasihku. Bagaimana ini? Mengapa ia datang tanpa ku ketahui?
Lalu, Roy masuk begitu saja tanpa Aku suruh. Ia sedikit terkejut karena kamarku begitu berantakan seperti rumah tak berpenghuni, banyak pecahan beling di mana-mana dan yang paling mengejutkan. Foto-foto Roy dan Aku yang sudah pecah berkeping-keping. Kemudian, ia berkata “Mengapa Kau menghancurkan segalanya?” tanya cowok tampan yang sedang berada di depanku, dengan sedikit mengernyitkan dahi Aku berkata “Mengapa Kau tak mengangkat telponku?” jawabku kesal, kemudian dengan entengnya ia tertawa kecil “Apa ada yang lucu dengan pertanyanku?” jawabku dengan mata membelalak “Jadi, kamu marah dengan hal kecil seperti itu? Okay, okay. Aku akan mengaku. Perempuan yang tadi mengangkat telponmu itu Eliana, kerabat kejaku. Ia terpaksa mengangkatnya, karena ia melihat Handphoneku yang tak berhenti berdering” jelasnya. Aku masih terdiam mematung ke arah jendela, ku buka hordeng yang tertutup rapat sejak tadi, ternyata hujan sudah berhenti sejak tadi tanpaku sadari, Roy datang begitu mengejutkan bagiku, ku kira Aku harus menunggu untuk pekan depan untuk melepaskan rindu, ternyata tidak. Ia datang mengejutkan tanpaku duga-duga sebelumnya. “Dan, dan mengapa semua ini menjadi kenyataan? Mengapa kekacauan kamarku sungguhan. Apa, apa yang telah terjadi? Apakah Aku benar-benar menghancurkannya? Berarti, mimpi itu…” Roy kembali menghempaskanku ke dunia nyata, hayalku buyar ketika Roy tiba-tiba memelukku dari belakang, sungguh ia begitu mengejutkan seperti hantu saja. Dengan pelan ia berbisik lembut tepat di telinga sebelah kanan, ia berkata:
“Mmh, sorry Karin, Aku datang begitu mengejutkan. Aku datang karena Aku khawatir Kau kenapa-kenapa, berkali-kali Aku menelponmu, tetapi tidak di angkat, dan Aku mencoba menelpon mamahmu, katanya kau berada di kamarmu sejak tadi sore, bardiam bahkan belum keluar-keluar pula, Bagaimana Aku tidak khawatir, Lalu, Aku putuskan saja ke rumahmu” jelas Roy padaku. Aku masih berdiam diri di pelukkan Roy, tak ada satu kata pun terlontar di bibirku.

Malam pun semakin larut, detik demi detik telah cepat berlalu, tetapi sampai kini Aku masih terdiam, entah mengapa Aku masih tidak yakin dengan perkataan Roy tadi. “Karin, Aku pulang dulu ya? Sudah larut malam nih, besok Aku harus on time kerjanya” Lalu, Roy berlalu meninggalkanku. Seperti biasa, kalau ia ingin pulang tak lupa ia mengecup keningku, dan kemudian ia mengacak-ngacak rambutku, itulah kebiasaan Roy yang selalu Aku ingat. Dan, biasanya kalau ia sudah mengecup keningku, lalu Aku pun melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan padaku. Tetapi, hari ini Aku begitu malas dan tidak ingin melakukannya. Entahlah, entah mengapa?

Aku masih berdiri mematung di balik jendela sambil melihat Roy yang berada di luar yang hendak pergi dari rumahku, dari kejauhan ia melambai-lambaikan tangannya kepadaku, kemudian ia berlalu dengan motor Ninja kesayangannya. Setelah cukup lama Roy pergi, Aku putuskan untuk berbaring di ranjang tidurku, mengingat perkataan Roy tadi, Aku langsung mengecek Handphoneku yang tergeletak di lantai, setelah ku lempar. Ternyata, Handphoneku mati, mungkin karena ku lempar terlalu keras. Ku tekan tombol “On” di Hand Phoneku, Aku cek apakah ada telpon masuk yang tak terjawab. Ternyata benar, Roy menelponku 10 kali.

Astaga, Roy juga mengirim pesan di BBMannya “Karin sayang, maafkan Aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai-sampai Kau ku abaikan, maafkan Aku, sayang. Maaf” berkali-kali ia mengirim pesan padaku dengan kata-kata yang sama, Hand Phoneku kembali bergetar, ku buka pesan yang tertera di layar Hand Phoneku, ternyata Roy yang mengirim pesan padaku, Aku terkejut dengan pesan ia kali ini. Sungguh, Aku kecewa padanya. “Karin sayang, maafkan Aku yang telah membuatmu gelisah, bila kau tak mau memaafkanku, Aku rela kau putuskan cinta kita. Memang, ku akui Eliana adalah kekasih keduaku di tempat Aku berkerja. Sudah ku lakukan berbagi cara untuk menghapus rasa cinta ini pada Eliana, namun nyatanya tak bisa. Karin sayang, Aku memang pendusta besar, Aku memang lelaki yang tak pantas kau cintai, tak pantas untuk wanita berhati mulia sepertimu. Baiklah, Aku rela kau meninggalkanku, tetapi ku mohon maafkan Aku, Karin. Selamat tinggal, Karin. Jaga dirimu baik-baik…” Begitulah pesan yang Aku terima dari Roy, kekasihku. Dengan cepat Aku membalas pesan darinya, ku tumpahkan perasaanku saat ini di pesan itu, ku katakan Aku sangat kecewa padanya, Aku marah, Aku… Aku tidak bisa memaafkannya, hatiku sudah terlanjur sakit olehnya…

Aku masih menunggu balasan pesan darinya, Aku berbaring di ranjang tidurku dengan di temani Handphone di sampingku. Sudah 2 jam Aku menunggu balasan darinya, namun tak ada jawaban. Aku kembali mengecek Handphoneku. Berkali-kali hal itu ku lakukan. Secara tidak sengaja foto kami berdua yang berada di atas laci mejaku terjatuh begitu saja. “Ada apa? Ada apa ini? Mengapa, mengapa fotoku dengan Roy pecah begitu saja?” bisik hati kecilku kebingungan, kemudian Aku mengecek Handphoneku kembali, ternyata ada 1 panggilan tak terjawab. “Kekasihku, Roy” Apa? Roy menelponku, tidak! Secepatnya Aku harus menelpon balik Roy, akan ku katakan Aku mau memaafkannya, Aku tak jadi ingin memutuskannya. Aku tekan tombol Handphoneku, lalu Aku dengarkan suara yang berada disana. Hening. Setelah cukup lama Aku menunggu, akhirnya ada suara yang tak ku kenali sebelumnya. Ya ampun! Yang mengangkat telponku ternyata Polisi, ada apa ini?
Air mataku mengalir begitu cepat. Tubuhku bergetar. Aku, terkejut mendengar pernyataan telpon dari Polisi tadi. Handphoneku jatuh ke lantai “Aku, Aku tidak percaya, tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Roy, Roy masih hidup!! Ia tadi kesini, pasti Polisi itu bohong!! Iya, pasti dia bohong!!” Aku menangis, Aku menjerit, sukmaku terasa hilang. Lenyap. Aku bagaikan bunga yang akan layu apabila tidak ada air, aku bagaikan ombak yang tak pasti akan terhenti di mana. “Berarti pertanda tadi itu benar…” Bisik relung hati kecilku lagi.

Dengan cepat Aku bergegas keluar rumah untuk memastikan kebenaran yang Polisi tadi katakan, dimana Polisi menemukan korban kecelakaan itu, Mamah sempat melarangku untuk keluar rumah, tetapi seakan tak perduli Aku langsung saja berlalu meninggalkannya, ku ambil kunci mobil yang tergeletak di laci lemari Mamah, lalu Aku langsung berangkat menuju TKP dimana Polisi itu menemukan jasad Roy. Dengan cepat Aku injak gas mobil yang ku kendarai saat ini dengan laju melebihi rata-rata orang berkendara, sampai-sampai Aku hampir saja menabrak Trotoar.

Dari kejauhan, Aku melihat banyak gerombolan orang yang beramai-ramai melihat seoramg lelaki yang berada di garis Polisi itu, Aku coba mendekat, dengan sedikit berlari “Ya Allah, apa yang Aku lihat ini sungguh kah? Roy, bangun Roy Aku mohon bangun. Maafkan Aku yang telah melukai hatimu, Roy ku mohon bangun, kita mulai hubungan ini dengan kejujuran Roy, tapi ku mohon bangun, bangun Roy!!” Aku terus menangisi jasad laki-laki yang berada didepanku ini, ku coba membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipinya. “Ku mohon bangun, Roy… bangun, maafkan sikapku, maaf…” semua penyesalanku ku tumpahkan dalam butir-butir air bening yang terus terlints di kedua pipiku, berkali-kali Aku mencoba membangunkannya. Nyatanya tak bisa? Kini, hanyalah penyesalan yang berlarut-larut yang Aku rasa kan.

Kini Roy telah tiada, maaf kan Aku Roy, kini ku telah sadar seseorang lebih berarti apabila ia telah jauh meninggalkan kita.
Maaf kan Aku, selamat tinggal Roy… Selamat tinggal kenangan, selamat tinggal masa lalu. Kini Aku telah jauh lebih sendiri tanpamu, Tanpa pelukmu. Dan, tanpa kasih sayangmu.
Ingin sekalin Aku mengulang waktu, saat pertama kali Aku mengenalimu, saat Aku tau kita mempunyai rasa yang sama, saat kau menyatkan cinta padaku. Tetapi ku sadar, semua tinggal kenangan. Maafkan keegoisanku, Roy. Aku, akan selalu mencintaimu, dalam ke abadian…

Cerpen Karangan: Syifa Fauzia

Huft, gak kerasa yah ini kiriman cerpen gue yang ke-4, gue gak tau deh bagus apa kagak? Ya, lu bisa menilai sendirilah cerpen gue kali ini bagus apa kagak, hehehe sebenarnya cerpen yang ini sudah gue bikin sinopsisnya dari jauh-jauh hari, tapi baru sempet gue ketik. Maklum, orang sibuk beginilah :D

Oya, bagi kalian yang punya BB Invite gue yuks. Ini pinnya 314DB5BD gue gak sombong kok, pasti gue terima deh jadi teman BBMan gue, hahaha pede abis gue:D sudah ah, jadi curhat gue.

Sekian, dan terima kasih:)

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Sedih Cerpen Penyesalan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply