Tuhan, Aku Menyesal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 17 September 2015

Kisah ini berawal saat aku duduk di bangku kelas satu SMP. Namaku Aliya, salah satu siswi di kelas tujuh A yang polos dan sederhana. Yang malu-malu dan penakut. Aliya yang berbeda dari murid lainnya. Yang susah bergaul dan lebih senang berdiam diri. Memangnya kalau aku dekat dengan mereka, apa yang akan kami bicarakan? Membicarakan kehidupan orang lain? Tidak, itu sama sekali bukan urusanku.

Aku kira, tak akan ada yang menyukai wanita yang terkesan cupu sepertiku. Tapi ternyata aku salah. Dua bola mata itu selalu menatapku dalam diam. Menatapku lekat di sela-sela pelajaran. Aku yang tidak pernah sadar, selalu mengacuhkannya. Lagi pula, itu bukan urusanku. Dia yang melihatku, dengan matanya pula. Selagi dia tidak menggangguku, ku rasa tidak ada masalah. Itu haknya.

“Al, ada yang cari kamu.” ucap salah seorang temanku. Bahkan kami sudah berteman dua bulan, tapi aku tetap tidak tahu satu per satu nama teman-temanku di kelas ini.
“Siapa?” tanyaku dingin.
“Andre. Dia menunggumu di perpustakaan.”
“Andre? Mau apa dia?”
Dia mengangkat bahunya.

Entah kenapa, rasa penasaranku memaksa untuk menemuinya di perpustakaan. Padahal selama ini, aku tidak pernah sudi melakukan hal bodoh seperti ini contohnya. Dia yang memiliki kepentingan, seharusnya dia yang menemuiku. Bukan aku yang menemuinya. Tapi untuk yang satu ini, aku harus datang.
“Ada apa?” suaraku masih tetap ku buat sedingin mungkin.
“Eh, duduklah.” Andre tersenyum ke arahku dan meletakkan buku bacaannya di meja. “Vira sudah menyampaikan pesanku, ya?”
“Kalau dia tidak menyampaikannya, aku pasti tidak berdiri di depanmu saat ini.” suaraku kembali ketus. “Cepat katakan, ada hal penting apa sampai aku harus menghampirimu dan menghabiskan waktu istirahatku yang berharga ini.”
“Mmm, kau bisa duduk terlebih dahulu.”

Aku menghela napas kesal. Tapi untuk kali kedua, aku menurut. Sial! Dia memakai hipnotis apa sampai-sampai aku patuh begini?
“Katakan!”
“Aku menyukaimu sejak awal. Aku tidak peduli bagaimana pun sikapmu selama ini. Aku menyukaimu apa adanya, tulus dan berharap kau juga bisa menyukaiku.” akunya. “Aku tidak tahu, kau menyukai laki-laki romantis atau tidak, tapi hanya ini yang bisa aku berikan.” dia menyerahkan bunga mawar putih di hadapanku. Memangnya aku bodoh? Ini kan bunga mawar yang tumbuh di taman sekolah. Dasar laki-laki tidak punya modal!
“Hanya itu?”
Dia mengangguk. “Kau mau, kan?”
Aku mengernyitkan dahi dan berjalan pergi. Pers*tan dengan perasaannya. Siapa yang peduli? Aku tidak pernah mau menodai masa-masa sekolahku dengan “cinta”. Siapa pun yang menyatakan perasaannya padaku, akan aku diamkan. Ya, seperti yang aku lakukan pada Andre baru saja.

“Aku menyukaimu. Kau mau menjadi kekasihku?” ini kali kedua dalam satu minggu, teman kelasku sendiri memintaku menjadi kekasihnya.

Pertama, Andre. Dan kedua, Alvian. Dua hari yang lalu, akhirnya aku menerima Andre setelah dia mengucapkan hal itu empat kali, dan itu tentu saja membuatku muak! Alhasil, aku harus menerimanya daripada telingaku terganggu mendengar dia menyatakan perasaannya terus menerus. Dan sekarang? Alvian? Dia bodoh atau bagaimana sih? Sudah tahu aku sedang menjalin hubungan dengan Andre, kenapa sekarang menyatakan perasaannya juga?

Aku menghela napas kesal. Mereka hanya bisa menganggu! Tidak bisa membiarkanku tenang sebentar saja.
“Ya.” ucapku sembari berjalan pergi.
Ya, aku menerima Alvian sebagai kekasihku. Dan hal yang harus aku lakukan selanjutnya adalah bertemu dengan Andre. Aku harus menjelaskan beberapa hal.
“Ndre.” sudah bisa ku tebak, laki-laki hobi membaca seperti Andre pasti berada di perpustakaan.
“Eh, Aliya. Ada apa?”
“Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini.”
“Apa?” dia tersentak kaget dan berdiri dari kursinya. “Kenapa? Maksudku, bahkan tadi kita masih baik-baik saja. Kenapa sekarang begini? Ada apa, Al?”
“Aku bosan. Sudahlah, aku harus pergi.” aku meninggalkannya tanpa ba-bi-bu lagi.

Sekarang, kekasihku hanya Alvian. Menerima karena terpaksa, tentunya. Setelah beberapa hari berlalu, aku kembali duduk di taman berdua dengan Alvian. Sejak aku menerima Alvian, hubungan Andre dan Alvian mulai renggang. Mereka yang awalnya bersahabat, kini mulai bermusuhan. Aku jadi tidak enak sendiri, karena aku, mereka jadi seperti itu.
“Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini.” ucapku pada Alvian, seperti yang aku ucapkan pada Andre, dulu.
“Kenapa, Aliya? Apa aku melakukan kesalahan?”
“Tidak, aku yang melakukan kesalahan. Aku sudah bosan. Kau cari saja wanita yang lebih baik dariku. Permisi.”
“Aliya!!!” teriak Alvian, tapi aku berusaha untuk tidak mendengarnya.

Sejak saat itu, hubungan kami bertiga tidak harmonis lagi. Kami tidak saling menyapa dan keadaan kelas tidak lagi membuatku nyaman. Aku yang dulunya cuek-cuek saja dengan keadaan kelasku, mendadak menjadi malas. Malas melihat muka Andre dan Alvian yang saling menatap dengan pandangan mematikan. Karena aku tahu, akulah yang menyebabkan mereka seperti itu.

Istirahat pertama, aku duduk di depan kelas. Dan tiba-tiba, kedua mataku menatap lurus ke depan. Pemandangan yang entah kenapa membuatku ingin meneteskan air mata saat itu juga; Andre sedang bersama seorang wanita. Dulu, Andre yang selalu menyapa dan mengatakan hal-hal manis, kini telah berpaling pada wanita lain. Sama halnya dengan Alvian. Saat ini, dia sedang berjalan ke arah kantin dengan Vira. Mereka, yang dulunya mengejar-ngejarku kini berhenti dan memilih berpaling? Dadaku terasa sesak dan aku hanya bisa menelan ludah.

Setelah bel berbunyi, aku melihat pemandangan yang kembali membuatku kaget. Andre dan Alvian sudah akrab seperti dulu. Aku berjalan ke arah mereka dan mereka menatapku lekat.
“Kalian sudah seperti dulu lagi?”
“Kami memang bersahabat sejak dulu, kan? Hanya saja, ada seseorang yang tidak menghargai kami dan membuat segalanya menjadi rumit. Sekarang, kami sudah menemukan apa yang kami cari.”

Aku menghela napas pelan. Mereka menyindirku, aku tahu itu. “Kalian sudah bahagia sekarang.”
“Tentu saja.” sahut Andre. “Aku sudah menemukan wanita yang bisa menghargai dan mencintaiku dengan tulus. Tidak menyebalkan dan jual mahal seperti wanita yang sebelum ini ku miliki.”
“Benar!” Alvian ikut bersuara. “Aku juga sudah menemukan wanita seperti yang kau perintahkan. Jauh lebih baik dan yang pasti, dia mengerti bagaimana caranya menghargai seseorang.”

Aku mengangguk dan berputar. Air mataku menetes begitu saja. Mereka, dua orang sahabat yang dulunya mencintaiku dan berlomba mendapatkan aku, kini tidak lagi seperti dulu. Mereka sudah menemukan seseorang lain. Dan kini, aku tahu artinya menyesal. Aku tahu artinya kehilangan dan rasa sakit saat aku juga mengalami hal yang pernah mereka alami dulu, saat aku memutuskan hubungan itu secara sepihak.

Cerpen Karangan: Anadya Alyasavitri
Blog: www.anadyaalyasavitri.blogspot.com
Facebook: Anadya Alyasavitri
Follow my twitter : @Anadyaal

Cerpen Tuhan, Aku Menyesal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cukupkah Kata Maafku ini?

Oleh:
“karena kamu yang aku tunggu..” kata itu menjadi kata yang paling berkesan yang pernah aku dengar. Bisa dibayangkan bagaimana tersanjungnya hati seorang cewek kalau dapet pujian seperti itu dari

Bunga Keabadian Untuk Adri

Oleh:
Jam telah menunjukkan pukul 20.00, namun Rida masih duduk termenung di halte depan fakultasnya, Fakultas Ekonomi. Sudah 1 setengah jam Rida disana menunggu Adri -sang kekasih- yang berjanji akan

Hati Yang Bergejolak

Oleh:
Praaakk.. suara pecah piring itu terdengar lagi. Entah pecah yang ke berapa kalinya. Mungkin kalau seperti ini terus, piring di dapur bisa habis. Terdengar suara bentakan Bapak pada Ibu,

Buku Yang Tertinggal

Oleh:
Sendok di tanganku belum sempat aku dorong mengantarkan sesuap nasi menuju ke mulutku, ketika tiba-tiba pintu ruang tamu tempat aku tinggal diketok dari luar. Bergegas aku menuju pintu, kulihat

Kupu Kupu Musim Semi

Oleh:
Hari ini seperti biasa. Semua berjalan begitu saja. Aku menemukan diriku terlelap di meja, bersama tumpukan buku-buku tebal yang berada di depan mukaku. Suara gemericik air hujan yang semakin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *