Untuk Mangsaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 4 January 2017

Saya diperintahkan oleh atasan saya untuk membunuh seseorang, dan saya akan mendapatkan uang yang sangat banyak. Dengan pekerjaan yang saya embani ini, dapat dikatakan saya adalah seorang pembunuh bayaran.

Sekarang saya berdiri di sini mengawasi seorang wanita dengan rambut yang tidak begitu panjang diikat di belakang, memakai baju kaos seperti ingin menunjukan selok tubuhnya, membawa tas carrier dan memakai celana gunung membuat saya berkesimpulan bahwa sepertinya kali ini target saya adalah seorang traveller atau pendaki gunung.

Dari orang-orang yang telah saya bunuh atas perintah atasan saya, baru kali ini saya ditugaskan untuk membunuh seorang wanita. Tetapi saya tidak begitu memikirkannya, lagi pula yang penting adalah hadiahnya. Memang sudah rezeki saya, wanita itu ternyata sedang berjalan ke arah saya. Saya siap-siap untuk menculik wanita ini secara halus dan membawanya ke tempat sepi lalu menikamnya dengan belati yang telah saya siapkan di pinggang saya.

Disaat wanita itu cukup dekat, sekilas saya berfikir kenapa tidak saya langsung bunuh saja wanita ini? Walaupun ini tempat terbuka, tetapi tempat ini sepi. Dengan hasrat ingin membunuh dan belati yang haus dengan darah, hati saya langsung menghasut, “Sekarang saatnya!”
Tetapi dia keseleo menabrak saya dan terjatuh.
“Aduh, maaf,” kata wanita itu.
Sial, kesempatan yang berharga itu sirna, karena kejadian yang diluar skenario itu saya mengurungkan niat untuk menikamnya. Tetapi jika dipikir kembali walaupun tempat ini sepi, bagaimana jika ada seseorang melihat saya membunuh wanita ini? Saya harus lebih berhati-hati, Saya akan mencari saat yang tepat untuk membunuhnya.
“Tidak apa-apa.” Saya membantu wanita mungil itu untuk berdiri.
“Terima kasih, perkenalkan saya Verra. Oh iya sebagai tanda terimakasih, bagaimana jika saya traktir makan?”
Dengan senyuman dan kepalanya yang agak dimiringkan, terlihat Verra sangat ingin mengajak saya makan. Pikir saya Verra sedikit berlebihan, tetapi memang sebagai traveller pasti dia sendirian dan membutuhkan seorang kenalan. Kasian sekali Verra ingin kenal dengan saya, orang yang akan membunuhnya. Tapi berhubung perut saya sedikit memberontak, saya menerima ajakannya, toh lagipula banyak waktu untuk membunuh wanita ini.
“Oh boleh, nama saya Mike,” Begitu balasku. Tentu saja itu nama samaran yang aku kenalkan ke dia.

Akhirnya saya diajak ke restoran seafood. Kita memesan pesanannya masing-masing. Cita rasa makanan seafood di restoran ini cukup kuat karena kebanyakan menu-menu berkuahnya menggunakan angciu. Saya memilih untuk memesan rajungan saus tiram, sedangkan Verra hanya memesan udang goreng.
Di tengah-tengah saya sedang asik menyantap hidangan yang lezat ini tiba-tiba Verra melontarkan satu kalimat,
“Aku merantau kesini karena ingin mencari kerja.”
Mendengar hal itu membuat saya refleks bertanya, walaupun sebetulnya saya tidak begitu peduli,
“Maksudmu?”
Wajah Verra menunduk melanjutkan ceritanya,
“Keluarga saya sedang mengalami kesusahan akibat ayahku yang meninggalkan kami. Makanya sebagai anak yang tertua, saya sekarang menjadi tulang punggung keluarga.”
Verra terus bercerita tentang keluarganya. Saya hanya mengangguk-ngangguk menanggapinya, sesekali saya melihat ke arah mata Verra yang berkaca-kaca, kadang dia tersenyum jika menceritakan kenangannya bersama keluarganya. Tetapi tunggu dulu, jika diperhatikan secara seksama wanita mungil ini memiliki senyum yang manis, dan entah saya salah lihat atau tidak matanya terdapat cela, kulit wajah Verra juga berwarna putih, padahal ia tidak sedang memakai makeup. Wajah cantiknya itu alami. Untuk seukuran orang mungil nan manis itu kuat juga dia merantau dan membawa tas carrier.

Setelah kita selesai menyantap hidangan dan Verra membayar bill, kita beranjak ke luar restoran. Di sepanjang jalan dengan cerewet Verra terus membuka pembicaraan, tentang pekerjaan saya apa, atau alamat asal saya di mana dan lain sebagainya. Sepertinya Verra sudah nyaman dengan saya. Tiba-tiba kita sudah berada di tempat sepi, tanpa disadari ternyata kita berjalan tanpa arah, dasar Verra. Tapi bukannya ini kesempatan lagi? Langsung terbesit ingin membunuh Verra, ketika saya ingin membalikan badan untuk membunuhnya, tiba-tiba Verra loncat-loncat antusias ke hadapan saya.
“Mike mike mike, kita pergi ke bar yuk minum-minum!” Mata Verra terlihat berbinar-binar.
Ini Verra badannya mungil dan menggendong tas carrier yang cukup besar masih sempatnya dia loncat-loncat girang, kuat banget. Ahh lagi-lagi saya mengurungkan niat untuk membunuhnya, entah kenapa saya jadi ingin menuruti kemauannya terlebih dahulu. Mungkin karena mendengar curhatan dia di restoran tadi? Saya tidak begitu mengerti.
“Tadi kita melewati bar,” lanjut Verra
“Oh iya? Boleh deh yuk,” balas saya.

Lagi, kita sampai ke tempat bar, Verra langsung memesan minuman.
“Bos, vodkanya satu,” Celetuk Verra ke bartender.
Aw, vodka? Yakin tuh? Itu minuman yang memiliki kadar alkohol yang cukup tinggi, kira-kira 40%! Yakin nih cewek beli begituan? Salah pesan kali, pesan wine maksudnya yang hanya kisaran 8% hingga 15% kadar alkoholnya.
“Ver, kamu yakin beli vodka bukan wine?” tanya saya sedikit ragu.
“iya dong! Ehh kamu beli vodka juga ya?” dengan mantap Verra meyakinkan saya.
“Ehh, tungg…”
“Bos vodkanya satu lagi ya.” Verra bahkan menyerobot tidak mendengarkan saya untuk berpendapat.
Bartender akhirnya menyuguhkan kami 2 gelas minuman berkadar 40% itu. Ya, sebetulnya saya tidak begitu masalah, hanya heran saja dengan Verra ini, kuat juga. Sambil kita minum-minum, kita pun berbincang-bincang seperti biasa. Lama-lama wajah Verra memerah, lucu juga melihat orang mungil yang sedang mabuk. Sekarang Verra memiliki muka yang tidak karuan, entah dia sedang kesal atau menangis menceritakan kepergian ayahnya yang entah kemana.

Kita pun hingga larut malam bercengkrama di bar, saya meresapi cerita-cerita Verra tentang dirinya dan perjalanan rantauannya, kadang kita saling tertawa, bercanda dan bahkan saling curhat. Saya entah kenapa menjadi terbiasa berada di dekat Verra, rasanya begitu nyaman ada orang yang nyambung dengan saya. Padahal saya seorang pembunuh bayaran.

Kita pun selesai, lalu pergi meninggalkan bar. Ketika Verra sedang menyeberang jalan, tiba-tiba dari arah kanan terdapat mobil sedang melaju dengan sangat kencang.
“Awas Verra!” teriak saya sambil reflek menarik Verra untuk menepi kembali. “WOII, KAU GILA YA?? GAK LIAT ADA ORANG MENYEBRANG?!” saya meneriaki mobil yang hampir menghantam Verra itu.
Mobil itu terus melaju seolah menghiraukan teriakan saya.
“Terima kasih Mike, sungguh kamu telah menyelamatkan nyawa saya, hampir saja saya ketabrak.”
“Eh, tidak apa-apa,” balas saya
Eh, apa yang telah saya lakukan? Kenapa saya malah menolong orang ini? Tetapi sejujurnya memang saya ingin menolongnya. Verra telah memberikan saya kenyamanan dan kehangatan. Baru kali ini saya merasakan kasih sayang dari seseorang. Jika kita bersama, wanita mungil ini selalu menunjukan keceriaannya, di sisi lain juga ia terlihat sangat rapuh dan innocence. Bagaimana saya tega untuk membunuh wanita ini? Bahkan saya ingin melindunginya. Saya sudah tidak peduli lagi dengan hadiah dari kepala wanita ini.

“Verr, sepertinya kita membutuhkan tempat istirahat, kepala saya juga sudah terasa berat, disana ada tempat peristirahatan,” saya membujuk Verra
“Boleh,” jawab Verra singkat sambil mengangguk.

Setelah kita memesan kamar, lalu masuk ke dalam kamar. Kita mempersiapkan diri untuk tidur. Saya memberitahu penempatan tidur untuk kita berdua,
“Verr kamu tidur di kasur yang kanan, dan saya tidur di kasur yang ki..”
JLEBB! Sebuah belati tembus di dada saya dari belakang.
“Aaaaaahh hmppp..” Verra menahan teriakan saya.
“Kamu tidak akan tidur di kasur kiri, hei Jordan, kamu akan tidur di sana selamanya,” Verra berbisik di telinga saya dan menunjukan carriernya. “’Mike’? Kamu terlihat bodoh sekali ketika memperkenalkan nama kamu di hadapan saya, dan parahnya kau benar-benar hanyut di dalam rencana saya. Ahahaha lucu sekali! Terima kasih ‘Mike’, kau membuat saya menjadi kaya.”
Apa maksudnya? Ia tahu nama asli saya darimana? Jadi dari awal carriernya itu kosong dan untuk kuburan saya? Pantas saja ia serasa ringan membawanya. Mengajak saya makan seafood dan minum di bar agar saya mabuk dan tidak berfikir jernih? Mengajak dia ke penginapan jangan-jangan sudah bagian dari rencananya? Ia memang berniat membunuh saya di ruangan yang sepi! Dia seorang pembunuh bayaran juga!
Ahh, sudah terlambat. Saya terkecoh. Selamat tinggal dunia.

Keesokan paginya Verra dengan carriernya keluar dari penginapan sendirian.

Cerpen Karangan: Pradipta Alamsah Reksaputra
Blog: pradiptaar.wordpress.com

Cerpen Untuk Mangsaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan 5 Orang Anak

Oleh:
Di sebuah daerah bernama desa Mori-mori yang dikelilingi sungai-sungai panjang nan luas dan daratan yang hanya separuhnya hiduplah sekelompok anak yang berteman. Mereka adalah Adi, Dodi, Nina dan Roni.

Pembunuhan Berantai

Oleh:
Perkenalkan namaku Farah ainun nissa biasa di panggil Rara hari ini adalah hari pertamaku di Perguruan tinggi Sunny Hiill. Aku mempunyai empat teman yang akrab denganku sejak kelas 1

Karena Payung Baru

Oleh:
“Teman-teman!” Aulia memanggil kedua temanya, Radita dan Jasmine. “Apa?” jawab kedua temannya. “Lihat ini!” kata Aulia sambil membuka sebuah payung. Payung tersebut berwarna ungu muda, dihiasi gambar kupu-kupu berwarna

Surat Tersimpan

Oleh:
“Entah karena terbiasa atau aku memang menyukainya, padahal dulu perasaan istimewa ini tak ada untuk dirinya” gumam dalam hati Aryan yang melamun di gerbang kampus. “Kamu melamun..?” Aryan hanya

Penyesalan Terlambat

Oleh:
Pertemuan singkat itu mengawali kisah kasihku di sekolah. Pertemuan yang akhirnya merubahku menjadi sosok wanita yang tak punya moral. Merubah semua kehidupanku. Kehadirannya di hidupku seakan menghipnotisku untuk mengikuti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *